
Di rumah Takkan, kebetulan bu Ratih juga belum pulang.
Meskipun Faklan mesih seperti itu, akan tetapi Daisy selalu berbuat baik terhadap sang mertua dan ia selalu meminta maaf atas sikap suaminya.
Ratih sangat beruntung mempunyai menantu seperti Daisy, ia meminta waktu terhadap Ratih untuk bisa meyakinkan suami nya agar mau tes DNA untuk menghilangkan keraguan nya.
Sebetulnya dalam hati kecilnya, Faklan sangat merindukan sosok seorang ibu yang sangat ia rindukan. Akan tetapi ia masih belum menerima kenyataan, bahwa ini kehidupan yang sesungguhnya. Ini lah hidup yang harus di jalani dan menerima setiap kehendak yang sudah di gariskan oleh sang kuasa.
"Ma... ini sudah malam, lebih baik istirahat dulu. Biar aku yang bujuk Faklan agar dia mau melakukan nya, oh iya apakah Mayang tahu kalau mama datang ke sini? " tanya Daisy terhadap sang mertua, karena ia belum sempat bertanya akan hal itu.
"Tahu, mungkin lusa dia juga akan menyusul katanya ada pekerjaan juga di kota ini bersama bos nya. Jadi mau mampir dulu ke sini"
"Syukur lah, kalau memang dia tahu. Ayok! aku antar ke kamar dulu" Daisy mengajak ibu mertua nya, untuk segera menuju kamar.
Agar segera beristirahat, terlihat dengan jelas dari wajahnya bahwa perempuan yang sudah tidak lagi muda kelelahan.
Akhirnya bu Ratih bangkit dari duduknya, lalu berjalan untuk segera menuju kamar yang sudah di siapkan oleh menantu nya.
Meskipun rumah ini tidak seperti rumah milik nya, akan tetapi bagi Ratih sangat bahagia bisa berada di tempat ini.
Ia sangat bersyukur bahwa mempunyai seorang putra seperti Faklan, bisa berdiri di atas kakinya sendiri.
"Kalau ada apa-apa jangan sungkan panggil aku ya, Ma... dan kamar ku di sebelah" kata Daisy terhadap ibu mertua nya.
"Iya, terimakasih banyak. Sudah mau menerima Mama di rumah ini, semoga setelah ini Faklan juga mau menerima keadaan ini" jawab Ratih dengan nada bicara yang sedih.
"Iya, Ma... pasti Faklan juga nerima hanya saja butuh waktu, Mama yang sabar ya! "
"Iya, ya sudah... kamu juga istirahat. Pasti sudah menunggu mu, cepat pergilah! " perintah Ratih terhadap menantunya untuk segera keluar kamarnya.
__ADS_1
Akhirnya Daisy pun berjalan dengan perlahan untuk segera meninggalkan sang mertua di dalam kamar.
Setelah beberapa saat, ia sudah berada di depan pintu kamar. Lalu dengan perlahan ia memutar gagang pintu, terlihat dengan jelas seorang pria sedang duduk di atas tempat tidur sambil memainkan ponsel nya.
Faklan jenuh berada di dalam kamar sendiri, karena menunggu istrinya terlalu lama bersama sang Mama.
"Belum tidur, mas...? " tanya Daisy sambil duduk di samping sang suami, lalu di tatap wajah suaminya.
"Nunguin kamu, lama... ngapain aja sih" jawab Faklan judes.
"Kasian, Mama sendirian Lagian ini baru pertama kali mama datang ke rumah kita, sudah seharusnya kita memperlakukan nya dengan baik. Ibu kita yang harus di sayangi dan di hormati" kata Daisy dengan nada bicara pelan.
"Belum tentu juga dia ibu ku, belum ada bukti yang akurat bahwa aku ini anaknya"
"Kalau begitu, boleh kah aku meminta sesuatu terhadap kamu. Mas....? " tanya Daisy sambil tersenyum menatap lekat wajah suaminya, ia berbicara sangat hati-hati. Agar suaminya bisa mengerti dan memahami apa maksudnya yang di bicarakan oleh Daisy.
"Mau minta apa? "
Faklan pun selalu merasakan kedamaian saat menatap wajah perempuan yang ada di hadapan nya.
"Aku belum siap, untuk melakukan itu"
"Apa yang membuat mu belum siap? " tanya Daisy lagi dengan tatapan penuh cinta.
"Belum siap menerima resiko dari semua itu, bagaimana nantinya kalau aku bukan anak bu Ratih. "
"Kalau pun kamu bukan anak bu Ratih, semua itu tidak akan mengubah rasa cinta ku untuk mu. Jadi jangan pernah mengkhawatirkan apa yang belum terjadi, saat nya kamu mencari kebenaran tentang kehidupan mu yang sesungguhnya, mungkin sudah saat nya kamu kembali terhadap keluarga yang seharusnya tinggal bersama sejak dulu. Aku sangat yakin bahwa kamu memang benar anak nya bu Ratih, sebab ada kemiripan sari kalian berdua" Daisy berkata sambil terus mengelus tangan suaminya.
"Tapi... "
__ADS_1
"Mau yah, kamu melakukan tes itu. Demi aku! " kata Daisy dengan tatapan mata penuh permohonan.
Faklan tidak bisa menolak permintaan sang istri, sebetulnya ia juga ingin membuktikan akan tetapi ia belum siap menerima hasil nya nanti.
"Aku siap melakukan itu, demi kamu"
"Terimakasih y, mas... " ucap Daisy sambil memeluk sang suami.
Akhirnya kesepakatan pun sudah di dapatkan, pasti Bu Ratih akan senang jika mendapatkan kabar seperti ini.
Setelah cukup lama mereka berpelukan, akhirnya Daisy pun mengajak sang suami untuk tertidur. Karena waktu juga sudah semakin larut, mereka juga tidak terbiasa untuk tidur laut.
Daisy juga perempuan yang belum bisa untuk bangun pagi, dan kebiasaan itu belum bisa ia hilangkan padahal saat ini ia sudah memiliki suami yang harus di urus atau di siapkan sarapan nya ketika mau berangkat bekerja. Ini malah kebalik, Faklan lah yang selalu menyiapkan sarapan untuk sang istri setiap pagi.
Akan tetapi tidak masalah bagi Faklan, melakukan itu karena ia senang bisa melakukan nya.
*****
Di rumah yang sangat mewah, terlihat sepasang suami istri sedang duduk di atas tempat tidur. Mereka sama sekali belum bisa memejamkan matanya entah mengapa.
Farwa tidak bisa tidur karena di luar hujan dan angin kencang, karena Farwa takut sekali dengan hujan apalagi di sertai petir.
"Kenapa belum tidur? ini sudah malam, tidur lah! " kata Radit sambil menatap sang istri yang masih duduk sambil memeluk bantal.
"Takut... " jawab Farwa dengan suara lirih, sungguh ia sangat takut jika hujan seperti ini.
"Kenapa harus takut, kan ada aku bersama mu. Ayok tidur lah! " kata Radit sambil merapikan bantal dan mempersilakan Farwa untuk berbaring, akan tetapi dirinya masih dalam keadaan duduk.
Farwa sudah berbaring, sekarang ia memeluk kaki Radit karena laki-laki itu masih dalam keadaan duduk.
__ADS_1
"Tidur lah, ada aku bersama mu! " kata Radit sambil mengelus kepala sang istri, ia akan berusaha sekuat hati agar mampu membandingkan sang istri bagaimana pun caranya, hanya saja ia belum bisa menceritakan apa yang terjadi pada dirinya. Setelah cukup lama, akhirnya Farwa pun sudah masuk ke alam bawah sadar nya.
"Andaikan kamu tahu, apa yang terjadi pada ku saat ini. Apakah kamu masih mau mempertahankan ku sebagai suami kamu, aku ini laki-laki yang mempunyai kekurangan bahkan untuk nemberimu nafkah batin pun aku tak mampu" batin Radit sambil menatap wajah Farwa yang sudah tertidur.