
Waktu bergulir begitu cepat, kendaraan yang membawa mereka sudah sampai di tempat tujuan. Meskipun menggunakan angkutan umum tapi mereka tetap santai, sopir nya pun sangat ramah dan mau di ajak ke manapun yang penting bayaran sesuai.
Mau tiap hari mengantar jemput mereka juga tidak masalah, itu suatu keberkahan bagi sopir angkutan tersebut.
Akhirnya mereka turun dari kendaraan tersebut, lalu berjalan dengan perlahan untuk segera masuk ke dalam tempat tersebut.
Tempat ini adalah salah satu galeri kerajinan masyarakat sekitar, jadi bagi para wisatawan yang datang ke kota ini bisa membeli oleh-oleh di sini.
Banyak sekali aneka makan khas lokal, banyak juga hasil kerajinan masyarakat di jual di sini. Daisy sangat suka berburu kuliner atau kerajinan yang di ciptakan oleh masyarakat sekitar, dengan membeli produk nya itu sudah membantu mereka.
"Ternyata tempat nya bagus, ramai pengunjung juga. Baru pertama kali loh datang ke tempat ini" kata Farwa, dan ternyata tempat nya sangat ramai dan produk yang di jual juga bagus-bagus, dari pakaian alat rumah tangga bahkan aksesoris juga. Semua nya produk lokal yang di buat oleh tangan masyarakat setempat. Terkenal juga di tempat ini makan khas nya juga enak, semua jenis olahan ikan juga tersedia.
"Lagian kakak sih, suka nya di rumah terus. Sekali-sekali lah keluar rumah melihat apa yang terjadi di luar, betapa indahnya dunia ini kan" kata Daisy sambil tersenyum tipis.
"Pernah aku ke pasar malam, bersama Radit dan Argani juga" jawab Farwa sambil terus melihat apa yang dijual di sana.
"Eh Radit siapa? jangan bilang itu calon Ayah sambung nya Argani? " tanya Daisy.
"Itu Loh yang sering antar sayuran tiap pagi, nggak ada niat untuk menikah lagi. Cukup satu kali seumur hidup" jawab Farwa.
"Kenapa seperti itu, kakak masih muda jadi wajar lah menikah lagi"
"Walaupun nggak menikah lagi, aku sudah punya anak jadi nggak perlu lagi menikah" jawab Farwa.
"Suatu saat anak juga akan menikah dan hidup bersama keluarga nya, dan yang menemani kita sampai tua hanya pasangan. Menikah lagi bukan hanya soal ranjang atau anak, lebih tepatnya mencari teman hidup"
"Sudah lah, ngapain membahas hal seperti ini di sini" Faklan menimpali ucapan kedua perempuan yang ada di hadapan nya pada saat ini.
Akhirnya mereka melanjutkan pencarian nya, entah apa yang di cari oleh Daisy. Setelah beberapa saat akhirnya mereka berhenti di sebuah tempat yang menjual makan khas daerah dengan nama makan yang unik.
Mereka duduk di tempat yang sudah di sediakan dengan pemandangan langsung ke hamparan laut, hal ini sangat bagus untuk di nikmati sambil ngopi atau minum teh.
Sambil menunggu pesanan, tidak lupa mereka mengabadikan nya.
"Sayang aku ke toilet dulu ya? " Faklan berpamitan terhadap sang istri.
Setelah kepergian sang suami, tinggal lah mereka berdua.
Daisy ingin membagikan photo kegiatan hari ini, akan tetapi ia kaget dengan postingan Alfi. Fhoto dirinya dan Marwan dan beberapa orang yang tidak di kenal, dengan caption Bahagia rasanya bertemu dengan keluarga setelah lama terpisah.
"Kak, ini apa maksudnya Alfi. Dia orang tunya atau siapa? " tanya Daisy terhadap sang kakak.
"Aku nggak tahu, tapi yang jelas itu bukan orang tua Alfi. Sebab orang tuanya pernah datang ke rumah tuan Malik dan aku tahu" jawab Farwa.
"Terus ini siapa, atau jangan-jangan Marwan anak pungut" kata Daisy heran.
"Anak pungut dari mana? Dari dulu rumah kita dekat dengan Marwan dan usia dia sama aku jarang nya dekat, masa iya anak pungut. Ngaco kamu" jawab Farwa.
__ADS_1
"Ya bisa saja, anak nya Bi Sayu meninggal terus Paman mengambil bagi dari panti asuhan atau menculiknya. Kan kita nggak tahu"
"Itu hanya terjadi di film-film, nggak ada dunia nyata. Kurangin nonton drakor nya, biar nggak terlalu halu" kata Farwa sambil mentoyor kepala sang adik.
"Yah kan bisa saja, mana kita tahu pas melahirkan dia itu seperti apa? Buktinya beda sifatnya juga sama Paman" Daisy masih perasaan dengan apa yang di lihat nya barusan.
"Habiskan tuh makanan, jangan di biarkan seperti itu. Nggak baik! mereka yang di luar sana ingin makan makanan yang enak" kata Farwa sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Astaga, kak. Aku nungguin Faklan dulu, masa istri makan ninggalin suaminya. Kata ibu harus nungguin suami" jawab Daisy sambil tersenyum tipis.
"Terserah kamu, lah. Aku habisin nanti"
"Itu lebih bagus kalau, kakak menghabiskan semua nya. Jadi yang jualan mendapatkan untung banyak"
"Ada aja jawaban kamu"
Di tempat lain.
Faklan dengan buru-buru akan masuk ke toilet, akan tetapi ia menabrak seseorang yang baru saja keluar hingga kacamata orang tersebut terjatuh.
Faklan membantu mengambilnya, dan ternyata orang tersebut adalah orang yang sangat di kenalnya.
"Kau, kenapa ada di sini? " tanya Faklan terhadap orang tersebut.
"Sekarang aku tinggal di kota ini, dan menjalankan bisnis di sini" jawab orang tersebut.
"Mertua ku tinggal di kota ini, jadi kami mengunjungi nya. Terus istri saya ingin menguji tempat ini, jadi kita mampir ke sini dulu sebelum kembali ke kota B besok" jawab Faklan.
"Jadi kamu hanya sebentar di sini, mampir lah ke rumah ku tapi jauh sih dari sini. Butuh perjalanan sekitar satu jam"
"Iya, nanti kapan-kapan. Kalau pas libur lama dan nggak memepet seperti sekarang ini. Oh iya, aku pikir pindah ke luar negeri dan ternyata tinggal di kota kecil. Memanggilnya kenapa dengan kota? terus perusahaan siapa yang mengendalikan di sana? " tanya Faklan lagi.
"Ya kan ada orang yang bisa di percaya, kalau memang ada hal penting yang mengharuskan ada tanda tangan ku ya mereka datang menemui ku. Sebetulnya nggak ada yang sulit untuk saat ini, terkadang manusia yang membuat ribet nya"
"Iya juga sih, dua tahun nggak ada kabar. Malah bertemu di tempat seperti ini. Ada apa dengan mu sehingga menutup di dari lingkungan, bahkan sama aku saja tidak memberi tahukan apapun" kata Faklan.
"Terlalu banyak kesakitan di kota itu dan, ingin melupakan yang berhubungan dengan itu semua"
"Termasuk juga dengan tidak memberi ku kabar, atau memang Kakak sudah tidak menganggap ku? bahwa pernah dekat dengan kalian"
"Bukan seperti itu? aku tidak ingin membebankan ke siapa pun tetang kehidupan ku. Lebih baik tinggal di kota dengan orang asing, mungkin itu akan lebih baik. Kamu tahu sendiri kan bagaimana keluarga ku"
"Apa salahnya berbagi dengan ku, bukan kah selama ini kita dekat lalu apa yang menghalangi kita sekarang? "
"Nggak ada, nanti kalau sudah waktunya kamu akan aku beritahu. Sekarang datang ke tempat ini sama istri kamu kan?"
"Iya, dia sekarang lagi di depan sama kakak ipar"
__ADS_1
"Aku permisi dulu! silakan lanjutkan" kata orang tersebut sambil menepuk bahu Faklan.
Faklan pun hanya menatap laki-laki yang baru saja di temui nya, sampai tidak terlihat lagi. Barulah setelah itu, ia masuk ke dalam toilet.
Setelah beberapa saat akhirnya Faklan sudah selesai dengan aktifitas nya, lalu ia kembali menemui istri dan kakak ipar yang sedang menunggu kedatangannya.
Faklan langsung duduk di kursi yang berhadapan dengan sang istri.
"Darimana aja sih? ko lama banget" tanya Daisy sambil cemberut.
"Di belakang ngantri jadi lama deh" dusta Faklan.
Ia tidak mau cerita yang sesungguhnya, sudah pasti Daisy akan banyak bertanya. Lebih baik diam dan nanti juga akan ia beritahu tapi nyari waktu yang tepat.
"Sudah lah, cepetan makan! " kata Farwa sambil menatap wajah sang adik.
"Iya deh"
Akhirnya mereka diam sambil menikmati makan yang ada di hadapan mereka, Farwa dengan lahap nya menyantap makanan tersebut padahal baru pertama kalinya. Dan ternyata di luar dugaan, makanan khas daerah juga tidak kalah enaknya dengan makan luar yang selalu menjadi tren anak muda jaman sekarang.
Setelah cukup lama, makanan sudah habis tinggal menyisakan piring kotor.
Mereka memutuskan untuk melanjutkan berkeliling dan mencari apa yang mereka mau, Farwa sangat tertarik dengan peralatan dapur dengan bahan dasar kayu ada juga dari bambu dan limbah akan tetapi sudah di poles dan menjadi karya seni yang luar biasa dan menghasilkan nilai jual yang luar biasa.
Farwa dan Daisy membeli banyak barang yang di jual di tempat ini, setelah puas berkeliling akhirnya mereka memutuskan untuk pulang.
Karena hari juga sudah semakin sore, sedangkan besok juga Faklan dan Daisy harus sudah kembali ke kota. Sebab mereka hanya punya waktu sebentar, andaikan punya banyak waktu bersama keluarga dan kumpul lagi seperti waktu dulu. Mungkin itu sangat menyenangkan, akan tetapi untuk saat ini mereka belum bisa untuk berkumpul.
Waktu bergulir begitu cepat, mereka sudah sampai di rumah.
Kedatangan mereka di sambut oleh anak kecil yang selalu mereka rindukan.
Argani berlari ke arah sang ibu dengan penuh semangat, seharian ia di tinggal sang ibu.
Rasanya sangat rindu, ia langsung memeluk sang ibu.
"Jagoan ibu, maaf yah di tinggal seharian" kata Farwa sambil mencium pipi sang anak bertubi-tubi.
"Ibu darimana sih, kenapa nggak ngajakin aku. Padahal ingin main di tempat itu, seperti waktu bersama om Adit" kata Argani dengan nada bicara khas anak kecil.
"Iya, nanti kita pergi lagi. Tadi pas ibu pergi kan lagi tidur, nanti marah lagi sama ibu kalau tidurnya di ganggu" kata Farwa sambil tersenyum menatap wajah anak kecil yang sudah menjadi kekuatan nya selama ini.
"Iya, deh. Tapi nanti aku mau ajak om Adit lagi pergi ke sanah, tapi nggak boleh ikut ibu. Mau berdua saja, nggak seru kalau ibu ikut pasti ngajakin pulang terus" kata Argani dengan suara khasnya.
Akhirnya mereka semua masuk ke dalam rumah, dan membersihkan diri.
Begitu juga dengan Farwa, ia masuk ke dalam kamar. Setelah sampai di kamar, ia langsung menjatuhkan tubuh nya di atas tempat tidur sambil menatap langit-langit.
__ADS_1
Seketika ia teringat akan sosok orang yang sangat di cintai nya" andaikan kamu masih berada di dekatku pada saat ini" batin Farwa.