Gadis Manis Penakluk Hati Tuan Kejam.

Gadis Manis Penakluk Hati Tuan Kejam.
Bab 62


__ADS_3

Setelah beberapa saat, Malik sudah berada di ruangan sang istri di rawat.


Alat-alat medis menempel di tubuh Ambar.


Malik menatap lekat wajah Ambar yang terlihat sangat pucat.


"Bukalah matamu sebentar saja, jangan tidur terlalu lama. Kamu tahu kan bahwa aku tidak bisa melakukan apapun jika tanpa mu, jangan hukum aku dengan cara seperti ini"


Malik merasakan apa yang di rasa sang istri, sebab ini pertama kalinya Ambar sakit sampai tak sadarkan diri.


Adnan meminta agar sang Papa untuk menunggu nya di rumah saja, biarkan ia yang menjaga sang Mama.


Akan tetapi Malik tidak ingin beranjak sedikit pun dari sang istri.


"Aku yakin kamu pasti bisa melewati ini semua" Malik terus berbicara terhadap sang istri.


Meskipun tidak ada respon apapun dari Ambar, ia terus mengajak nya untuk bicara.


Waktu bergulir begitu cepat, sepanjang malam Malik terus berada di samping sang istri.


Di sini terlihat sisi lain dari Malik, bahwa laki-laki yang sudah tidak lagi muda.


Ia sangat menyayangi istrinya, akan tetapi Malik juga tidak menyadari bahwa yang terjadi pada Ambar saat ini adalah ulahnya sendiri.


Andaikan Malik bisa menerima kehadiran Farwa di keluarganya, maka semua ini tidak akan terjadi.


Malik yang dulu tidak takut apapun, kali ini ia merasakan ketakutan dan memohon terhadap dokter agar bisa menyembuhkan istri.


Akan tetapi dokter juga manusia hanya mampu berusaha yang menyembuhkan itu kehendak Tuhan.


Kali ini Malik seperti kehilangan belahan jiwanya saat melihat sang istri dalam kesakitan.


Pagi hari


Malik masih setia duduk di samping sang istri, bahkan ia tidak sedikit pun memejamkan matanya.


"Ayolah bangun... jangan hukum aku dengan cara ini, jika kamu tidak mau bangun maka aku tidak akan pernah beranjak sedikit pun dari sisi kamu" ucap Malik.


Terdengar samar-samar suara Malik di telinga Ambar, sehingga perempuan itu perlahan membuka matanya.


"A-argani, sayang jangan tinggalin Mama! " kata Ambar dengan suara lemah tak berdaya.


Seketika Malik langsung bangun, dan mendekat ke arah wajah sang istri.


Ia ingin mendengar istri berbicara lebih jelas.


"Kamu sudah sadar, syukur lah, apa yang sakit? " tanya Malik terhadap sang istri.


"A-argani, pangil dia aku ingin bertemu dengan nya! " Ambar meminta Malik agar bisa bertemu dengan sang putra yang sangat ia rindukan.


"Iya, nanti dia akan datang ke tempat ini. Adnan sudah menghubungi nya. Kamu semangat untuk sembuh yah" dusta Malik.


Ia memberi harapan palsu terhadap sang istri, padahal sama sekali ia tidak memberikan kabar apapun terhadap Argani.


"A-a-argani, tolong lah Malik cepat panggil dia. Mungkin ini permintaan terakhir ku, setelah ini aku tidak ingin meminta apapun selain bertemu dengan nya" Ambar menita suaminya agar segera memanggil Argani.


Ia berbicara dengan sura yang sudah tidak terdengar jelas.

__ADS_1


"Ia, dia sedang dalam perjalanan sebentar lagi akan datang " Malik masih berbohong terhadap Ambar.


Padahal tidak ada satu orang pun yang memberi kabar terhadap Argani tentang kesehatan Ambar.


Ambar terus memanggil nama anaknya, setelah beberapa kali Ambar memanggil nama Argani.


Ia menutup matanya kembali, dan Malik langsung memanggil tim kesehatan.


Ia takut sesuatu lebih buruk terhadap sang istri, tim dokter pun terlihat sangat panik.


Akhirnya setelah beberapa saat di periksa, Ambar segera di bawa ke ruang operasi.


Keadaan nya sudah semakin parah hasil tes lanjutan juga sudah keluar dan Ambar sudah di nyatakan ada masalah di jantung nya dan kemungkinan untuk sembuh juga sangat tipis.


Malik pun menyetujui Ambar untuk di operasi meskipun kemungkinan nya sangat tipis, ia sangat yakin bahwa istri akan sembuh.


Sebab bagi Malik uang bisa membeli segalanya termasuk juga dengan nyawa.


Setelah Ambar di bawa ke ruang operasi, mereka berdua juga mengikutinya.


Ayah dan anak itu duduk di depan ruang operasi dengan hati yang di penuhi rasa takut, ia takut hal buruk terjadi pada sang Mama.


Starla juga duduk di samping sang suami, akan tetapi ia mempunyai urusan lain sehingga mengharuskan nya untuk pergi meninggalkan suami dan mertua nya.


"Aku pergi hanya sebentar, setelah semuanya selesai Aku akan cepat kembali" ucap Starla sambil menatap lekat wajah sang suami.


"Pergi saja" jawab Adnan, ia tidak perduli istrinya mau pergi ke mana.


Untuk saat ini pikiran nya hanya satu yaitu kesembuhan sang Mama.


Setelah berbicara seperti itu, Starla langsung berjalan perlahan untuk segera pergi dari rumah sakit dan menuju tempat yang sudah di janjikan bersama rekan nya yang lain.


Adnan dan Malik masih duduk di depan ruangan dengan penuh kekhawatiran.


...****************...


Di tempat lain.


Argani terlihat lebih segar, setelah membersihkan tubuh nya.


Malam pertama tidur bersama Farwa membuat hati Argani merasakan kebahagiaan yang luar biasa.


Meskipun tidak terjadi apapun, bagi Argani sudah bisa tidur bersama tanpa di paksa juga itu sudah menunjukkan bahwa hati Farwa sudah mulai terbuka untuk nya.


Seperti biasa ibu rumah tangga selalu di sibukan dengan pekerjaan rumah dan rutinitas harian.


Farwa juga sudah menyiapkan sarapan untuk sang suami, dan semua keperluan nya sudah tersedia.


Seketika pikiran Argani teringat sama sang Mama, laki-laki ini menatap makanan yang ada di hadapan nya.


Ia terus teringat akan seorang perempuan yang telah melahirkan nya.


"Kenapa di liatin seperti itu, apa rasanya tidak enak? " tanya Farwa terhadap sang suami.


"Ti-tidak seperti itu" jawab Argani gugup.


"Lantas mengapa tidak memakannya"

__ADS_1


"Kenapa yah, aku kepikiran Mama terus. Apa terjadi sesuatu sama dia, perasaan ku nggak enak banget sejak bangun tidur" akhirnya Argani bercerita tentang apa yang ada di hatinya.


"Coba hubungi dulu Mama, masih ada kan! Nomor ponsel nya" kata Farwa.


"Iya, masih kan waktu itu yang di jual hanya ponsel tidak dengan nomor nya. Jadi semua nya masih aman" jawab Argani.


"Ya sudah, habiskan dulu makan nya. Setelah itu coba hubungi Mama! " kata Farwa.


Akhirnya Argani menuruti apa yang di katakan sang istri, meskipun ia tidak selera untuk sarapan.


Argani tetap memakannya ia juga harus, berangkat berangkat kerja.


Setelah selesai semuanya.


Argani mengambil ponselnya, lalu mengusap layar ponsel nya untuk segera menghubungi sang Mama. Akan tetapi tidak ada jawaban dari nomor tesebut, Argani terus mengulang panggilan nya.


Tetap tidak ada jawaban dari nomor sang Mama.


"Tidak di jawab" kata Argani sambil menatap lekat wajah sang istri yang memperhatikan nya.


"Mungkin lagi sibuk, ini kan masih pagi. Biasanya kan Mama sibuk di dapur saat pagi" jawab Farwa menenangkan sang suami agar tidak gelisah seperti itu.


"Semoga saja"


Akhirnya mereka berdua sudah tidak membahas soal ke khawatirkan Argani terhadap sang Mama.


Kedua nya sudah siap untuk segera pergi ke tempat kerja.


Waktu bergulir begitu cepat.


Terlalu singkat jika di gunakan untuk hal yang tidak penting.


Argani sudah menghentikan kendaraan nya di depan gedung perusahaan, dan Farwa pun turun dari kendaraan yang mengantarkan mereka.


"Semangat bekerja, jika sudah waktunya pulang jangan lupa hubungi! " kata Argani sambil tersenyum menatap sang istri.


"Iya, kamu juga hati-hati! " pesan Farwa terhadap sang suami.


Argani melanjutkan perjalanan nya untuk segera sampai di tempat nya bekerja.


Sepanjang perjalanan ia terus kepikiran sang Mama, mengapa kali ini ia terus teringat perempuan itu.


"Ma... ada apa? sehingga pikiran ku terjuju padamu terus, semoga baik-baik saja" Argani terus berbicara dalam batin.


Setelah menempuh perjalanan yang lumayan lama, akhirnya sudah sampai di tempat yang di tuju.


Ia sudah menghentikan kendaraan nya di area parkir.


Setelah itu, Argani langsung masuk ke dalam gedung dan akan memulai bekerja di hari kedua di tempat ini.


Argani belum terlalu paham dalam hal pekerjaan yang di lakukan nya pada saat ini, akan tetapi ia berusaha untuk menjadi karyawan baik.


Hari ke dua ia bekerja, di tempat ini.


Setelah beberapa saat Argani sudah berada di ruangan di mana ia menghabiskan sepanjang harinya di tempat ini, ia langsung mulai bekerja.


Padahal waktu belum menunjukkan untuk memulai pekerjaan, akan tetapi tidak ada salahnya ia memulai lebih awal mungkin itu lebih baik.

__ADS_1


__ADS_2