Gadis Manis Penakluk Hati Tuan Kejam.

Gadis Manis Penakluk Hati Tuan Kejam.
Bab 119


__ADS_3

Satu Minggu telah berlalu, hari di lalui seperti biasa.


Radit dan Farwa semakin hari semakin dekat, akan tetapi laki-laki itu belum berani untuk menyentuh perempuan yang berstatus sebagai istri dan ibu dari anaknya.


Meskipun mereka tidur di dalam kamar yang sama, akan tetapi Radit selalu tidur di atas sofa.


"Mas... sampai kapan kamu akan terus seperti ini? aku ini istri mu, sudah seharusnya kita tidur di atas kasur yang sama tidak seperti ini! " kata Farwa sambil menatap nanar wajah suami, yang sudah bersiap akan tidur di atas sofa.


"Kan tempat tidur nya kecil, aku takut Argani terganggu dengan kehadiran ku di sana" dusta Radit, padahal alasan yang sesungguhnya bukan lah itu.


Radit selalu berfikir jika ia tidur berdampingan dengan Farwa, takut tidak bisa mengendalikan hasrat nya sedangkan ia tidak mampu mengingat saat mereka menikah. Radit takut akan melakukan dosa jika suatu saat nanti ada fakta lain yang tidak di ketahui nya, bukan Radit yang meragukan Farwa akan tetapi ia juga mempunyai ketakutan akan yang ia juga tidak mengerti akan hal itu.


"Ya sudah kalau begitu, besok kita ganti tempat tidur nya dengan yang lebih besar. Lagian nggak nyaman juga jika harus tidur di sofa terus" jawab Farwa dengan rasa kecewa yang ada di dalam hatinya.


"Iya, nggak apa-apa. Tidurlah, ini sudah malam! " kata Radit.


Akhirnya Farwa pun naik ke atas tempat tidur, dan meninggalkan Radit yang sudah memposisikan tubuh nya di atas sofa.


Waktu bergulir begitu cepat, Radit sudah tertidur pulas meskipun di atas sofa. Beda lagi dengan Farwa, ia gelisah sehingga tidak bisa memejamkan mata. Pikiran nya berkelana ke mana-mana. Padahal jam sudah menunjuk ke angka dua dini hari, akan tetapi Farwa sama sekali belum bisa memejamkan matanya.


Farwa bangkit, lalu turun dengan perlahan dari atas tempat tidur lalu berjalan mendekat ke arah jendela. Ia buka dengan pelan agar tidak menimbulkan suara.


Setelah jendela terbuka ia hirup udara segar yang terasa dingin, dengan harapan bisa membuat pikiran nya sedikit tenang. Sebab ia terus gelisah dan tidak bisa menekankan mata, sesekali ia melirik ke arah Radit yang tertidur dengan pulas.


Setelah cukup lama Farwa berdiri di depan jendela, udara malam pun sudah terasa dingin di kulit dan berhasil menembus pakaian yang di kenakan nya.


Dengan perlahan Farwa melangkah kan kakinya untuk segera naik ke atas tempat tidur, akan tetapi entah apa yang menghalangi nya sehingga kakinya tersandung dan jatuh menimpa Radit yang sedang tertidur pulas.

__ADS_1


Radit merasa kaget tiba-tiba ada beban berat yang menimpa tubuh nya.


Seketika ia membuka mata, betapa terkejut nya saat mata di bukan dan yang pertama di lihat nya itu wajah Farwa.


Wajah mereka sudah tidak ada jarak lagi, sehingga bisa merasakan hembusan nafas masing-masing. Radit pun seperti tertarik oleh magnet, sehingga terus mendekatkan wajahnya sehingga saling menempel.


Tanpa di duga dan di rencana kan, Radit langsung ******* bibir Farwa dan kedua nya larut dalam ciuman tersebut.


Setelah cukup lama mereka saling bertukar saliva, akhirnya Radit tersadar dan mengakhiri nya.


"Maaf! " kata Radit sambil mengusap bibir nya.


Seketika Farwa langsung bangun, dan terjadilah kecanggungan di antara mereka.


Radit pun pura-pura memejamkan mata, akan tetapi hatinya bergemuruh seperti ada rasa yang tak biasa. Selama ini ia sangat menghormati perempuan tapi mengapa ia tidak bisa menahan nya hasratnya saat dekat dengan Farwa, ia merasa sangat malu jika harus menatap wajah perempuan itu. Padahal jika melakukan hal yang lebih dari itu juga mereka tidak melanggar hukum dan norma agama, sebab mereka juga sepasang suami-istri yang sah di mata hukum dan agama.


Akhirnya mereka berdua pun tertidur dalam keadaan terpisah.


Keesokan harinya.


Radit mengajak Farwa untuk datang ke tempat di mana mereka janji dengan Adnan, sebab ada hal yang perlu di bicarakan.


"Ada apa sih mas.. Kenapa aku harus ikut, itukan urusan mu dengan kakak jadi nggak perlu ikut" kata Farwa sambil duduk di sisi tempat tidur, sedangkan Argani kecil sedang bermain.


Radit yang sedang mengenakan pakaian, seketika menghentikan kegiatan nya.


"Kenapa bicara seperti itu, bukanlah kamu itu istri ku jadi sudah seharusnya ikut kemana pun aku pergi. Kak Adnan itu keluarga ku satu-satunya, jadi sudah sepantasnya kita menganggap nya sebagai pengganti orang tua" jawab Radit sambil mendekat ke arah Farwa lalu duduk di samping sang istri.

__ADS_1


"Tapi ada hal penting apa sih sehingga aku harus ikut" kata Farwa sambil cemberut, ia tidak mau pergi ke manapun. Hatinya sedang tidak baik-baik saja.


Sekarang ia bisa dekat dengan Radit akan tetapi hati laki-laki itu belum bisa menerima dirinya, dia ada di tempat ini hanya sebagai orang yang di anggap suami oleh Farwa. Radit belum bisa menerima kehadiran Farwa sepenuh nya, sebagai seorang istri dan memberikan haknya.


"Ayok buruan, ganti baju apa perlu aku membantu mu untuk berganti pakaian" kata Radit sambil menatap Farwa.


"Iya, aku ganti baju sekarang" jawab Farwa sambil bangkit dari duduknya, lalu berjalan perlahan untuk segera menuju tempat di mana pakaian nya di simpan.


Radit dengan setia duduk menunggu sang istri berganti pakaian, sambil memainkan ponsel nya.


Setelah beberapa saat akhirnya Farwa telah selesai dengan aktifitas nya, Radit pun terpana dengan kecantikan sang istri. Ia menatap perempuan itu dari ujung kepala hingga ujung kaki, dan rasa bergejolak di dada mulai bergemuruh. Entah itu apa namanya, selama ini Radit tidak pernah merasakan hal ini jika berdekatan dengan perempuan lain. Entah mengapa saat dekat dengan Farwa, ada rasa yang tidak bisa di artikan. Radit seketika terdiam, setelah beberapa saat akhirnya ia mampu menetralkan perasaannya dan mengajak Farwa untuk segera turun dan segera menemui putra mereka yang sudah turun terlebih dahulu.


Karena anak kecil itu memang tidak bisa diam, maunya main di luar. Untung saja ada sang kakek yang selalu menuruti semua keinginan cucunya.


Mereka berdua turun, setelah bebrapa saat sampai lah di lantai bawah di mana Argani kecil sedang bermain bersama Yeyen.


"Yen, saya pergi dulu...oh Iya Ibu ke mana? " Farwa bertanya terhadap Yeyen karena tidak melihat sang ibu.


"Ibu tadi pamit ke toilet sebentar, dia bilang perutnya sakit" jawab Yeyen.


"Sakit perut! " Farwa kaget dengan jawaban Yeyen.


"Kata ibu, mungkin salah makan"


"Bilang sama ibu, kalau masih sakit tolong kamu antar pergi ke dokter yah! " kata Farwa sambil menatap lekat wajah Yeyen.


"Iya, Bu... "

__ADS_1


Akhirnya Radit dan Farwa berjalan untuk segera pergi, sedangkan Argani kecil sudah lebih dulu berlari untuk segera masuk ke dalam kendaraan yang akan mereka tumpangi


__ADS_2