
Keesokan harinya.
Seperti bisa dan kebanyakan para istri kalau pagi sudah pasti di sibukkan dengan rutinitas pada umumnya, sekarang Argani selalu bangun pagi.
Tidak seperti masih tinggal di rumah orang tuanya, Farwa sudah menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Meskipun Farwa belum bisa menerima Argani, akan tetapi ia tetap melakukan perannya sebagai istri.
Sebab ia juga orang yang mempunyai keyakinan bahwa semua yang terjadi pada diri manusia itu atas kehendak-Nya, mau menolak atau berontak pun tidak ada gunanya sebab semua itu sudah di gariskan oleh sang kuasa.
Sarapan sudah selesai, Argani sudah rapi ia ada panggilan wawancara.
"Boleh kah aku pergi ke rumah orang tua ku? " tanya Farwa terhadap suaminya, walau bagaimana pun seorang istri pergi ke mana pun harus mendapatkan ijin dari suaminya.
"Aku akan mengantarkan mu" jawab Argani.
"Tapi kan ada wawancara, nanti kalau telat bagaimana? "
"Jarak dari tempat Ayah tidak terlalu jauh, masih ada banyak waktu. Jika mau kita pergi sekarang! " ajak Argani terhadap sang istri.
"Baiklah, terimakasih sudah mau mengantar ku"
"Itu kewajiban ku, memastikan mu dalam keadaan baik, aku tidak akan mempercayakan mu terhadap orang lain, apa lagi membiarkan mu pergi sendiri" jawab Argani sambil menatap lekat wajah sang istri.
Terkadang ada rasa bersalah yang di rasakan Argani ketika melihat wajah sang istri bersedih, ia menyadari bahwa yang di lakukan nya pada keluarga Farwa sangat lah jahat. Akan tetapi ia juga sangat mencintai Farwa, maka dengan cara seperti inilah ia bisa mendapatkan Farwa meskipun tidak dengan hatinya. Dan ia selalu berharap bahwa suatu saat Farwa akan mencitai nya.
"Baiklah" jawab Farwa sambil melangkahkan kaki untuk segera keluar dari rumah.
Sedangkan Argani berjalan terlebih dahulu.
Argani mengambil kendaraan yang akan mengantarkan mereka pergi, Faklan sudah membiarkan Argani menggunakan kendaraan itu. Sebab ia sudah tidak membutuhkan nya lagi, jadi lebih baik di pakai oleh Argani.
Akhirnya Argani dan Farwa akan segera pergi ke rumah orang tuanya, setelah berada di luar.
Argani sudah siap untuk melajukan kendaraan nya, akan tetapi Farwa ragu untuk naik.
"Apa kamu bisa mengendarai motor? " tanya Farwa.
"Dulu aku punya sepeda motor, karena sering balapan liar dan pernah kecelakaan. Setelah itu nggak di perbolehkan lagi mengendarai motor" jawab Argani.
"Kalau begitu, aku naik taxi saja"
"Aku tidak punya cukup uang untuk membayar taxi, jadi mari aku antar! " kata Argani.
"Setelah sampai di sana, aku minta ibu untuk membayar nya" jawab Farwa.
"Selama kamu menjadi istri ku, maka. Jangan pernah menerima bantuan dari keluarga mu, sebab kamu itu sudah menjadi tanggungjawab ku. Bukan mereka lagi" ucap Argani sambil menatap lekat wajah sang istri.
"Baiklah kita naik motor saja, tapi hati-hati! aku tidak terbiasa di bawa ngebut" jawab Farwa sambil berjalan perlahan, lalu naik ke atas motor.
Akan tetapi Farwa ragu untuk pegangan.
"Pegangan! " perintah Argani terhadap sang istri.
Akan tetapi Farwa ragu untuk berpegangan, hingga pada akhirnya Argani meraih tangan Farwa agar memegang pinggang nya. Ini semua demi keselamatan nya.
__ADS_1
Argani melajukan kendaraan nya dengan kecepatan sedang, ia merasa sangat bahagia ketika tidak ada jarak di antara mereka. Apalagi tangan Farwa melingkar di pinggang nya.
Waktu bergulir begitu cepat, kendaraan yang membawa mereka sudah sampai di rumah orang tua Farwa.
Tapi Argani merasa malu untuk bertemu dengan orang tua Farwa.
Farwa sudah turun dari kendaraan itu lalu ia akan melangkah kan kaki, akan tetapi Argani masih duduk di atas kendaraan.
"Apa nggak mau ikut masuk? " tanya Farwa terhadap suaminya.
"Boleh kah aku ikut? "
"Ayok cepetan! " ajak Farwa untuk segera masuk ke dalam rumah.
Akhirnya mereka berdua masuk dan ternyata orang tua Farwa sedang berada di ruang tengah.
Betapa bahagianya kedua orang tua Farwa saat melihat keadaan putrinya baik-baik saja.
"Apa kabar, Ayah, ibu? " tanya Farwa sambil duduk di samping sang ibu.
"Yang harusnya bertanya itu kami, bagaimana keadaan mu pada saat ini. Bahagia kah di sana! " tanya Zulaikha terhadap sang putri.
" Aku bahagia ko, Bu jangan khawatir dia memperlakukan ku dengan baik" jawab Farwa sambil mengusap air mata yang sudah keluar tanpa minta ijin terlebih dahulu, akan tetapi ia tersenyum di kala berhadapan dengan sang Ibu.
Farwa tidak mau terlihat sedih di hadapan sang ibu yang baru yang baru saja pulang dari rumah sakit, keadaan nya masih terlihat sang lemah.
"Kamu jangan berpura-pura bahagia di hadapan ibu, sebab aku tahu apa yang kamu rasakan"
Seketika Zulaikha kaget dengan perkataan Farwa.
"Pindah" ucap Zulaikha dengan nada bicara yang kaget.
"Sekarang kami tinggal di rumah sewa, ibu jangan khawatir aku bahagia meskipun tinggal di rumah sewa" jawab Farwa dengan nada bicara yang lembut, dengan bibir tersenyum.
"Ada masalah apa? sehingga kalian berdua pergi. Jangan ada yang di tutupi lagi, aku ini ibu mu"
"Nggak apa-apa Bu, hanya saja kami ingin hidup mandiri tanpa menjadi beban orang tua" Argani menjawab pertanyaan sang Ibu mertua.
Mskipun pertanyaan itu bukan di tunjukkan untuk dirinya.
"Sudah lah, Bu... jangan khawatir kami ingin memulai nya dari awal"
"Aku harap kalian tidak berbohong" jawab Zulaikha.
Mahad hanya diam saja menyaksikan interaksi antara ibu dan anak, sebetulnya ia juga banyak pertanyaan untuk sang putri akan tetapi lebih memilih diam.
Akhirnya Farwa mengalihkan perhatian sang Ibu dengan menanyakan keberadaan sang adik.
Argani pun sudah di persilakan untuk duduk, dan laki-laki itu berhadapan dengan mahad sang ayah mertua yang diam saja diam saja dari.
"Daisy ke mana Bu?apakah dia sudah berangkat bekerja?" Farwa mencari keberadaan sang adik, ia juga sudah rindu sekali terhadap sang adik.
"Dia ada di kamarnya, katanya kerja sore" jawab sang Ibu.
__ADS_1
"Baiklah, aku ke kamar dulu sudah rindu sekali terhadap nya. Ada beberapa barang juga yang akan ku bawa ke sana! " ucap Farwa.
Setelah berkata seperti itu, akhirnya Farwa pergi meninggalkan kedua orang tuanya. Termasuk juga suaminya.
Setelah Farwa meninggal nya, Argani memberanikan diri untuk berbicara.
"Aku minta Maaf, telah membuat kalian menderita. Jika Ayah dan Ibu ingin aku menceraikan Farwa maka, aku akan mengabulkan nya. Sekarang aku hidup berada dalam penyesalan, mungkin kata Maaf dan rasa sesal yang ku rasakan tidak akan pernah mengubah apapun" ucap Argani dengan nada bicara yang lembut sambil menunduk.
"Jika aku memberikan mu hukuman apa rasa bersalah atau penderitaan kami akan lupa begitu saja? atau aku meminta mu mencerahkan Farwa, semua nya tidak akan merubah kenyataan" tanya Mahad terhadap Argani.
"Meskipun rasa bersalah ini tidak hilang akan tetapi aku sedikit lega karena aku sudah menerima hukum dari Ayah, aku juga sudah siap kehilangan Farwa" jawab Argani.
"Soal hukum itu bukan lah tugas manusia, akan tetapi ada Tuhan yang akan memberikan pertanggungjawaban dari apa yang telah kamu lakukan. Jika baik maka hasilnya akan baik pula, akan tetapi sebaliknya. Jadi di sini saya tidak ada hak untuk menghukum siapa pun" jawab Mahad.
"Aku tersiksa dengan rasa bersalah ini, bahkan hanya untuk menatap wajah Ayah dan Ibu pun rasanya aku tidak sanggup, mengingat dosa yang pernah aku lakukan terhadap kalian semua" kata Argani.
"Aku tidak ingin membahas apapun yang telah terjadi di masa lalu, mulai sekarang belajar lah untuk menjadi pribadi yang lebih baik" ucap Mahad dengan nada bicara yang lembut.
"Aku akan berusaha menjadi yang lebih baik, Maaf atas apa yang telah aku lakukan di masa, lalu! " kata Argani dengan raut wajah penuh permohonan.
"Aku sudah memafkan mu" jawab Mahad.
Zulaikha yang menyaksikan itu hanya diam saja.
Setelah beberapa saat mereka diam, dan Argani juga akan datang ke sebuah perusahaan, karena ada wawancara.
"Ayah, Ibu, aku pergi terlebih dahulu. Nanti sore aku jemput Farwa lagi" kata Argani.
Setelah berbicara seperti itu, Argani langsung pergi ke luar dari rumah.
Argani sudah tidak terlihat lagi, tinggi Zulaikha dan Mahad yang masih dudyk. Akan tetapi mereka hanya saling dian.
"Apa kamu benar sudah melupakan apa yang dia lakukan terhadap keluarga kita? " tanya Zulaikha terhadap sang suami.
"Aku tidak melupakan semua itu, akan tetapi lebih tepatnya sudah ikhlas dengan apa yang terjadi di dalam kehidupan kita. Dan selalu berharap bahwa akan ada kebahagiaan untuk kita setelah ini, jika aku harus bilang. Maka aku mempunyai hutang budi terhadap nya, dia sudah memberikan biaya pengobatan mu. Sehingga kamu sekarang masih berada di samping ku dan kamu masih bisa melihat kedua putri kita" kata Mahad sambil menatap lekat wajah sang istri.
Mahad melihat ada kebaikan di dalam diri Argani hanya saja selama ini. Argani di besarkan di lingkungan seperti itu, sehingga tidak terlihat sifat baiknya.
"Apa Ayah bilang? biaya operasi dari Argani, kenapa kalian mau menerima nya" Farwa kaget mendengar itu semua.
Sebab ia tidak mengetahui hal ini, yang Farwa ketahui biaya pengobatan sang ibu adalah uang dari Bi Dewi.
"Maafin Ayah, Nak! " jawab Mahad sambil menunduk.
"Aku tidak mau mempunyai hutang budi sama dia" kata Farwa dengan nada bicara yang lembut.
Bagaimana jika orang tua Argani sampai tahu bahwa Zulaikha di obati dengan menggunakan uang mereka, sudah pasti mereka mengatakan bahwa semua ini adalah sebuah strategi untuk menjebak Argani.
"Ayah, Minta maaf! "
Akhirnya mereka semua diam, tanpa ada satu orang pun yang berkata.
Di saat suasana hening ada seorang yang datang.
__ADS_1