
Waktu bergulir begitu cepat, Argani sudah berhasil menjentikkan kendaraan nya.
Dengan perlahan Farwa membuka kunci gerbang terlebih dahulu, lalu setelah itu mereka masuk ke dalam rumah.
Setelah beberapa saat mereka sudah berada di dalam rumah.
"Apa kamu ingin kembali sama Marwan? " tanya Argani tiba-tiba.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu, jika aku menjawab iya. Apa kamu akan mengabulkan permintaan ku! " jawab Farwa.
"Kalau memang kamu mau kembali sama dia, aku ikhlas melepaskan mu. Sekarang aku sangat sadar bahwa selama ini aku sangat bersalah" kata Argani dengan nada bicara yang lembut.
Argani yang sekarang sudah tidak menggunakan kata-kata kasar lagi.
"Jika aku kembali sama Marwan akan merubah semuanya, dan bisa mengembalikan kehidupan ku yang telah kau hancurkan. Tidak kan! jadi tidak ada gunanya juga aku kembali ke masa lalu, sebab aku sekarang hidup di masa kin dan menata masa depan" jawab Farwa.
Ia tidak menyangka bahwa Argani akan berkata seperti itu.
"Aku minta maaf atas apa yang telah ku lakukan di masa lalu, dan sekarang sudah siap menerima balasan atas apa yang telah ku perbuat pada kalian semua" jawab Argani.
"Soal membalas perbuatan manusia terhadap manusia lainnya atas kesalahan, tu tugasnya sang Maha Kuasa, jadi aku tidak ada hak untuk itu melakukan itu" kata Farwa.
Argani pun terdiam, begitu juga dengan Farwa.
Setelah beberapa saat mereka terdiam, akhirnya Farwa pun memulai pembicaraan lagi.
__ADS_1
"Di kantor Paman ada lowongan pekerjaan tapi itu untuk perempuan, apa boleh aku bekerja? " tanya Farwa terhadap suaminya dengan penuh keraguan. Ia memberanikan diri untuk mengatakan hal ini apapun jawaban dari Argani.
"Aku tidak ada hak melarang mu, sebab saat ini belum bisa mencukupi semua kebutuhan mu" jawab Argani dengan raut wajah yang sendu.
"Justru kamu memiliki hak atas diriku makanya aku meminta ijin, walaupun aku menikah dengan mu secara paksa. Akan tetapi di mata hukum dan Agama aku ini seorang istri yang harus patuh dengan apa yang di katakan suaminya" jawab Farwa.
Ia menegaskan bahwa sudah sepantasnya seorang istri menurut terhadap suaminya.
"Aku mengijinkan nya " jawab Argani.
"Baiklah, aku akan memberi tau Paman bahwa aku sudah mendapatkan ijin dari mu"
"Iya"
"Kalau begitu aku permisi dulu" kata Farwa.
Di tempat lain.
Ambar duduk melamun sambil memeluk photo Argani, ia tidak pernah menyangka bahwa hal ini akan terjadi.
Ia akan merasakan kesedihan akibat jauh dari sang anak, apalagi sekarang Argani sudah di hapus oleh Malik bahwa Argani bukan bagian dari keluarga nya lagi.
Ambar sangat terpukul dengan keadaan seperti ini.
Setelah pulang mengunjungi Argani, ia tidak pernah keluar dari kamar.
__ADS_1
Bahkan hanya untuk makan ataupun minum ia tidak pernah keluar.
Starla sudah beberapa kali membujuk nya, sama sekali Ambar tidak menghiraukan nya.
Bahkan saat ini Ambar sudah tidak memperdulikan Malik.
Hari-hari nya di habisin untuk melamun sambil memeluk photo sang anak, rasa kehilangan telah membuat Amabar melupakan hal lain.
Adnan datang menghampiri sang Mama yang masih duduk sambil memeluk photo Argani dengan tatapan mata kosong.
"Ma... jangan seperti ini, aku juga anak mu. Bukan hanya Argani, biarkan dia seperti itu. Nanti juga akan kembali, Mama makan ya" kata Adnan sambil sambil menatap lekat wajah sang Mama yang terlihat sudah pucat.
Ambar tidak menjawab apapun, perempuan yang sudah tidak lagi muda. Akan tetapi masih terlihat sangat cantik, kali ini wajahnya terlihat pucat seperti tidak ada darahnya.
Adnan telah melakukan berbagai cara agar sang Mama tidak seperti ini lagi, akan tetapi sama sekali Ambar tidak memperdulikan apa yang ada di dekatnya.
Adnan merasakan kesakitan yang di rasakan sang Mama pada saat ini, sebab ia juga pernah merasakan kehilangan seorang anak.
Beda nya Ambar masih bisa melihat Argani meskipun itu hanya dari jauh akan tetapi Adnan sudah tidak bisa lagi.
Setelah cukup lama Argani berada di kamar sang Mama, namun tidak ada hasil yang di dapatkan.
"Kalau Mama belum mau makan, nggak apa-apa. Aku pamit dulu ya, Ma... ini sudah malam. Jangan lupa istirahat" kata Adnan, ia berkata sambil mengusap air mata yang mengalir di unjung mata sang Mama.
Setelah itu, Adnan melangkahkan kakinya untuk segera pergi dari kamarnya.
__ADS_1
Walaupun sampai pagi ia membujuk sang Mama tidak akan pernah mendapatkan hasil, lebih baik ia, memberikan waktu terhadap sang Mama untuk menikmati apa yang di inginkan nya.