
Farwa sudah keluar dari gedung perkantoran, seperti biasa ia akan menunggu suaminya untuk menjemput.
Ia duduk di bangku sambil menikmati indah nya waktu sore sambil melihat hiruk pikuk jalanan, dia mana orang-orang sudah mulai kembali dari pekerjaan nya.
Farwa sangat menikmati itu semua, hari juga sudah hampir gelap akan tetapi suaminya tidak kunjung datang.
Ia berusaha untuk menghubungi nya, akan tetapi panggilan tidak di jawab oleh sang suami.
"Ada apa sebenarnya, mengapa tidak menjawab panggilan telepon ku? " batin Farwa
Ia terus berusaha untuk menghubungi nya akan tetapi tidak ada jawaban sedikit pun.
Farwa sudah mulai gelisah perasaan nya sudah tidak karuan, rasa khawatir juga sudah mulai melanda.
Ia bangkit dari duduknya lalu, berjalan mondar-mandir.
Setelah cukup lama akhirnya Farwa memutuskan untuk pulang dengan menggunakan angkutan umum, meskipun untuk sampai di rumah harus naik angkutan umum ganti dua kali sebab tidak ada yang sejalur.
Akhirnya Farwa sudah berada di dalam angkutan umum, meskipun ini bukan yang pertama kali nya Ia naik angkutan umum.
Akan tetapi kali ini Farwa merasakan ketidaknyamanannya, entah mengapa.
Apa karena ia sudah terbiasa dengan Argani setiap hari.
Sepanjang perjalanan Farwa terus memikirkan sang suami, mengapa tidak menjawab panggilan nya.
Antara marah dan kecewa bercampur menjadi satu.
Perjalanan yang di lalui oleh Farwa terlalu rumit sehingga harus naik turun kendaraan untuk segera sampai di rumah.
Waktu bergulir begitu cepat, Farwa sudah turun dari kendaraan yang akan mengantarkan nya sampai depan rumah.
Farwa langsung melangkah kan kakinya untuk segera masuk ke dalam rumah.
Keadaan rumah masih terlihat gelap.
Setelah sampai di dalam, Farwa langsung menyalakan lampu sebab keadaan sudah gelap pertanda hari sudah semakin sore dan sebentar lagi senja akan tergantikan oleh gelapnya malam.
"Aku pikir dia lupa menjemput ku dan sudah di rumah, kenapa di rumah juga tidak ada" Farwa berbicara sendiri sambil menyalakan semua lampu yang ada di rumah.
Setelah lampu menyala, ia pergi ke kamarnya untuk menyimpan tas nya terlebih dahulu.
Seperti biasanya jika pulang dari kantor, Farwa selalu menyiapkan untuk makan malam mereka berdua.
Sebab ia harus menyiapkan makan sendiri karena tidak memiliki asisten rumah tangga yang bekerja di rumah ini.
__ADS_1
Di tempat lain.
Argani belum mampu untuk melanjutkan perjalanan nya, meskipun hari sudah gelap ia duduk di pinggir jalan dengan air mata yang terus mengalir.
Rasanya tubuh nya seperti tidak ada tulangnya meskipun itu hanya untuk mengendarai sepeda motor.
Sudah satu jam Argani duduk di pinggir jalan, akhirnya ia teringat akan sang istri yang belum di jemput.
Di saat ia mengingat Farwa maka kekuatan untuk berdiri pun ia punya, akhirnya Argani mengusap air matanya lalu naik ke atas motor yang berada di hadapan nya.
Kendaraan itulah yang menjadi saksi kesedihan Argani pada saat ini.
Setelah berada di atas kendaraan, ia langsung menyala kannya dan menarik gas dengan kencang.
Tujuan utama Argani yaitu menjemput Farwa di kantor, dengan kecepatan tinggi Argani melajukan kendaraan nya.
Waktu bergulir begitu cepat, perjalanan yang di lalui oleh Argani tidak membutuhkan waktu yang lama.
Akhirnya Argani sudah sampai di depan gedung perkantoran, ia langsung mencari keberadaan sang istri. Akan tetapi ia tidak menemukan sang istri, Argani pun bertanya pada seseorang yang berada di sana.
Tidak ada seorang pun yang mengetahui nya, keberadaan Farwa untuk saat ini.
Argani pun melanjutkan perjalanan nya, ia berfikir bahwa sang istri sudah berada di rumah.
Sepanjang perjalanan pikiran nya kembali tertuju pada sang Mama, sungguh ia tidak menyangka bahwa peretemuan nya waktu itu bersama sang Mama itu adalah yang terakhir kali nya.
Waktu bergulir begitu cepat, Argani sudah menghentikan kendaraan nya di halaman rumah.
Dengan langkah gontainya ia segera menuju pintu masuk baru akan membuka pintu, akan tetapi pintu itu sudah terbuka.
Dan ternyata itu adalah Farwa dengan tatapan yang tajam, sungguh emosi yang ada di dalam hatinya belum mereda.
Ia sangat kesal terhadap kelakuan Argani pada hari ini.
Akan tetapi Argani tidak menghiraukan Farwa yang berada di hadapan nya pada saat ini, ia melewati nya begitu saja.
Setidaknya ia lega sebab Farwa sudah pulang ke rumah dalam keadaan baik-baik saja.
Farwa yang melihat suaminya seperti itu dan tidak menghiraukan nya, Argani melangkahkan kakinya dengan perlahan lalu duduk di sofa yang ada di ruang tengah lalu duduk di sana dengan raut wajahnya yang sedih serta airmatanya terus mengalir.
Farwa yang melihat itu semakin tidak mengerti apa yang terjadi.
"Kamu itu kenapa sih? aku sudah menunggu mu terlalu lama sehingga hari sudah semakin gelap, panggilan telepon juga kamu abaikan. Sebenarnya apa yang terjadi dengan mu, datang dengan keadaan yang sangat kacau seperti ini" kata Farwa dengan sedikit emosi, ia kesal dengan kelakuan Argani yang mengabaikan panggilan nya.
Argani tidak menjawab apapun, malah semakin sesegukan ia menangis.
__ADS_1
Ketika di hadapan Farwa rasanya ingin sekali Argani meluapkan kesedihan nya di hadapan perempuan yang sangat di cintainya.
Farwa yang melihat itu semakin kebingungan dengan apa yang terjadi pada suaminya.
Akhirnya Farwa duduk di samping Argani lalu ia merangkul bahu sang suami.
"Apa yang terjadi sehingga kamu menjadi seperti ini? " tanya Farwa dengan suara lembut nya.
Rasa marah dan emosi ia redam, karena melihat keadaan suami seperti itu.
"Ma-mama" kata Argani sambil terus menangis.
"Iya, kenapa dengan Mama? " tanya Farwa lagi sambil membawa Argani ke dalam pelukan nya.
Rasanya nyaman itu di dapatkan Argani saat berada di dalam dekapan sang istri, rasanya sama seperti berada di dalam pelukan sang Mama.
Sama-sama memberi kenyamanan dan ketenangan.
Setelah beberapa saat akhirnya Argani menjawab pertanyaan sang istri
"Mama sekarang sudah pergi meninggalkan aku untuk selamanya" kata Argani dengan nada bicara yang terbata-bata.
Seketika Farwa kaget dengan jawaban yang di berikan oleh sang suami.
"Bagaimana bisa, apakah Mama sakit atau bagaimana lalu kenapa kamu di sini? " rentetan pertanyaan itu keluar dari bibir sang istri.
"Aku sudah ke sana, akan tetapi Papa tidak mengijinkan aku untuk melihat Mama untuk yang terakhir kali nya. Aku di usir di perlakuan seperti pencuri di seret ke luar seperti seorang penjahat" jawab Argani masih dengan suara berat karena menangis.
Farwa sangat kaget mendengar penjelasan dari suaminya, mengapa ada orang tua seperti Malik.
"Yang sabar, do'akan saja bahwa Mama akan bahagia di syurga. Karena cepat atau lambat kita juga akan menyusul nya, kita juga nggak tahu kapan dan waktunya ajal datang menjemput kita. Kita anggap bahwa semua ini cobaan bagi kita untuk menguji seberapa besar rasa ikhlas yang kita miliki dalam menerima setiap kehendak sang kuasa" kata Farwa dengan nada bicara yang lembut sambil terus mengelus bahu sang suami.
Rasa nyaman itu Argani dapatkan dari elusan tangan dan pelukan sang istri sehingga ia merasakan ketenangan tidak seperti tadi.
"Sekarang aku sudah tidak memiliki apapun" kata Argani sambil mengurangi pelukan sang istri, sehingga ada jarak di antara mereka. Argani menatap lekat wajah sang istri yang menciptakan kedamaian.
"Ada aku bersama mu, jangan khawatir! bagaimana bisa aku membiarkan mu begitu saja, setelah apa yang kamu korbankan untuk ku. Aku akan selalu menyertai mu dalam keadaan apapun, sekarang kita mulai dari awal menatap masa depan bersama" kata Farwa.
Sekarang Farwa sudah mulai membuka hatinya untuk Argani, setelah banyak pengorbanan yang di lakukan Argani untuk nya.
"Terimakasih banyak" jawab Argani, sekarang ia punya alasan untuk tetap bertahan dengan apa yang terhadap pada saat ini.
"Ya sudah, sekarang bersihkan dulu tubuh mu, lalu setelah itu makan. Aku nggak mau kalau kamu sampai sakit" kata Farwa terhadap sang suami.
Akhirnya Argani menurut apa yang di katakan sang istri.
__ADS_1
Argani bangkit dari duduknya lalu berjalan perlahan untuk segera pergi ke kamar dan membersihkan tubuh nya.
Di ruang tengah masih ada Farwa yang terus berfikir, mengapa ada manusia mempunyai hati seperti Malik.