Gadis Manis Penakluk Hati Tuan Kejam.

Gadis Manis Penakluk Hati Tuan Kejam.
Bab 105


__ADS_3

"Kakak! " panggil Farwa dengan air mata yang sudah tidak mampu lagi ia tahan.


Hadi melirik ke arah Farwa, lalu ia salah tingkah.


"Maaf, apakah kita pernah bertemu sebelum nya? " tanya hadi dengan nada bicara gerogi.


"Sudah lah, kak. Tidak ada gunanya lagi berbohong dan bersembunyi di balik ini semu. Sekarang sudah terbongkar kebenarannya, kalian tega! " jawab Farwa dengan air mata mengalir begitu deras.


Hadi hanya terdiam, ia bingung harus berbicara apa soal apa yang di katakan oleh perempuan yang ada di hadapan nya.


"Bukan di sembunyikan tapi memang saya tidak mengerti dengan apa yang kamu katakan, saya datang ke tempat ini karena mengira Radit lah yang mengalami kecelakaan" jawab Hadi.


"Mau sampai kapan, Kak. Membohongi ku, jika memang kalian tidak ada hubungannya dengan ku maka bersumpah demi nama Argani kecil" kata Farwa dengan air mata terus mengalir.


"Apa-apaan ini" Hadi kesal dengan kelakuan Farwa yang terus memaksanya untuk mengatakan sesuatu.


"Sudah lah, bangun jangan seperti itu. Nanti orang mengira saya sudah apa-apain kamu lagi" Hadi tidak nyaman dengan Farwa yang terus memohon seperti itu.


"Bisa nggak sih tenang! di sana dia sedang berjuang bukan nya kamu mendoakan nya sebagai ibu dari dia malah banyak drama" Radit kesal sekali dengan Farwa, bahkan di dalam hatinya ia terus menyalahkan Farwa atas kejadian ini.


Akhirnya Farwa pun terdiam tidak berbicara apapun lagi sambil menangis sesegukan, saat ini semua orang menyalahkan nya dengan apa yang terhadap terhadap Argani.


Memang betul itu semua akibat kelalaian nya, tidak bisa membedakan mana yang nyata atau halusinasi.


Hadi mengajak Radit untuk pulang, akan tetapi ia tidak mau. Terpaksa Hadi meninggalkan Radit tetap berada di rumah sakit meskipun ia tidak setuju akan hal ini.


Kedua orang tua Farwa juga hanya terdiam, entah mereka harus berbuat apa haruskah curiga dengan Radit dan orang yang baru saja di lihatnya.


Jika di perhatikan memang orang itu seperti Adnan, akan tetapi mengapa sekarang sudah terlihat sangat tua rambutnya juga sudah di penuhi dengan uban.


Mahad berusaha untuk mengingat nama yang pernah hadir di dalam kehidupan mereka, akhirnya ia pergi ke luar untuk mengejar Hadi.


Setelah beberapa saat akhirnya Hadi masih berada di tempat parkir, lalu Mahad manggil nya.


Seketika Hadi menghentikan langkah nya dan melihat ke arah Mahad yang sedang berjalan mendekat ke arah nya.


"Tuan Hadi Adnan Wijaya, itukan nama mu sedangkan Ayahmu bernama Malik Wijaya dan kamu mempunyai adik laki-laki yang bernama Raditya Argani Mulya Wijaya dan Ibu kalian bernama Ambar. Benarkan apa yang aku katakan! " kata Mahad dengan nada bicara penuh penekanan.

__ADS_1


"Maksud Paman apa yah? " tanya Hadi.


"Sudah lah, nggak perlu bersembunyi lagi dari semua ini. Kamu lihat kan akibat dari semua ini sekarang Argani kecil yang menjadi korban nya, itu keponakan mu. Aku tidak akan menyalahkan mu dengan apa yang kamu lakukan setidaknya kamu cerita alasan di balik ini semua, dan kenapa Argani sampai tidak ingat jati dirinya sendiri? " tanya Mahad dengan nada bicara pelan.


Hadi bingung harus menjawab apa, apakah ini waktunya untuk mengatakan apa yang terjadi di masa lalu.


"Aku belum mengerti apa yang di maksud oleh paman, ini lagi membicarakan siapa sih"


"Aku tahu kamu itu sangat menyayangi adik mu, dan kamu juga harus tahu bahwa aku juga sangat menyayangi putri ku mungkin bagi kalian itu semua tidak penting karena kami hanyalah orang biasa yang tidak ada gunanya di mata kalian, setidaknya kamu lihat anak kecil yang telah Farwa lahirkan dia itu sangat membutuhkan sosok ayah. Bukan aku tidak bisa untuk membesarkan nya, akan tetapi dia juga harus tahu ayah nya dan silsilah dari keluarga nya. Pasti kamu juga tahu kan bahwa Farwa hampir gila, pada usia kehamilan nya dia tidak perduli apapun yang dia pikiran hanyalah penyesalan karena Argani meninggal itu karena menyelamatkan nya. Sudah cukup kalian menyiksa jiwa Farwa, ayolah katakan yang sebenarnya sebelum banyak korban dari keegoisan mu" kata Hadi dengan nada bicara pelan namun hal ini membuat Hadi berpikir bahwa yang di katakan Mahad itu ada benarnya.


Sebab di dalam masalah ini, bukan hanya Argani dan Farwa yang menjadi korban melainkan anak kecil yang tidak berdosa juga ikut menanggung semua akibatnya. Akan tetapi ia juga bingung harus memulainya dari mana, sebab terlalu banyak yang harus di ceritakan.


"Aku akan menjelaskan nya tapi tidak di sini! ayok ikut bersama mu sekarang! " Hadi mengajak Mahad untuk ikut bersama nya.


"Baiklah"


Akhirnya mereka berdua pergi ke suatu tempat, yang menurut Hadi itu sangat tepat untuk menceritakan apa yang terjadi di masa lalu. Kedua nya sudah berada di dalam kendaraan, Hadi melajukan kendaraan nya dengan kecepatan sedang. Selama di perjalanan mereka saling diam, tidak ada percakapan di antara mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.


Mahad terus berfikir apa tujuan Hadi sampai melakukan ini, apakah memang yang di lakukan nya untuk menjauhkan Argani dari Farwa karena mereka tidak pernah setuju dengan pernikahan keduanya, jika itu semua benar maka Hadi orang yang sangat jahat yang tidak bisa di maafkan. Karena telah memisahkan anak dengan orang tuanya, Argani kecil seharusnya mendapatkan kasih sayang dari seorang Ayah. Bahkan dia lahir ke dunia tanpa sosok seorang Ayah.


Waktu bergulir begitu cepat, satu jam telah berlalu.


Hadi mempersilakan Mahad untuk mengikuti nya masuk ke dalam rumah yang mewah, setelah beberapa saat keduanya sudah berada di salah satu ruangan yang ada di rumah tersebut.


Mahad melihat ke sekeliling ruangan tersebut, dan ternyata di sana banyak terpasang photo keluarga mereka bahkan photo Argani kecil pun ada di sana dari sejak lahir sampai usia saat ini. Mahad hanya terdiam dengan apa yang di lihat nya, ternyata selama ini mereka terus mengawasi Farwa dan keluarga dan apa tujuan nya, kenapa juga Radit tidak ingat apapun seolah orang asing bagi mereka apa yang terjadi sebenarnya.


"Silakan duduk! " Hadi mempersilahkan Mahad untuk duduk di salah satu sofa yang ada di ruangan tersebut.


Ruangan ini sangat rahasia, bahkan Radit pun tidak mengetahui akan hal ini.


Sengaja Hadi buat agar ia bisa menatap wajah keponakan nya dengan puas tanpa ada banyak pertanyaan dari Radit nantinya, jadi lebih baik ia menyembunyikan semua nya dari Radit.


Sekarang ia akan menceritakan semuanya terhadap Mahad, mungkin ini semua sudah waktunya. Ia juga tidak mau menjadi orang yang sangat egois dengan terus melakukan ini.


Di rumah sakit.


Ruang operasi terbuka, salah satu perawatan meminta keluarga untuk mengecek golongan darah mereka karena Argani kecil membutuhkan pendonor karena terlalu banyak darah yang di keluar kan.

__ADS_1


Setelah bertanya pada beberapa orang yang berada di sana tidak ada yang cocok, akhirnya Radit buka suara bahwa ia memiliki golongan darah yang sama dengan Argani kecil.


Akhirnya Radit mengikuti perwat untuk masuk ke salah satu ruangan untuk melakukan tranfusi darah.


Radit sudah siap mendonorkan dasarnya untuk seorang anak kecil yang ia juga tidak tahu siapa anak tersebut, akan tetapi jiwanya seperti terikat dengan anak tersebut.


Setelah kepergian Radit, suasana di luar masih cemas soalnya mereka belum juga mengetahui kabar dari Argani.


"Bu.. bagaimana keadaan nya sekarang? " tanya Farwa terhadap sang ibu, sungguh ia tidak bisa memafkan dirinya sendiri jika sesuatu terjadi terhadap Argani kecil.


"Kamu berdoa untuk keselamatan nya, ibu yakin dia anak yang kuat pasti mampu melewati ini semua" jawab Zulaikha sambil menggenggam tangan Farwa dengan erat.


Sungguh cobaan datang bertubi-tubi, entah kapan mereka akan mendapatkan kebahagiaan. Terlalu banyak penderitaan dan air mata yang mereka keluarkan setiap harinya, dan setelah ini semoga ada kebahagiaan yang menghampiri mereka.


Akhirnya Farwa pun bersandar di bahu sang ibu, sebab hanya dia lah yang mampu membuat hati Farwa merasakan sedikit ketenangan.


Kabar kecelakaan Argani pun sudah sampai ke telinga, Faklan dan Daisy, akhirnya mereka juga berniat akan datang ke rumah sakit meskipun sudah di larang. Akan tetapi mereka tidak memperdulikan nya, bagi mereka tidak ada yang lebih penting selain keluarga.


Faklan tidak akan merasakan ketenangan sebelum melihat secara langsung keadaan keponakan nya seperti apa, perjalanan yang mereka tempuh juga tidak terlalu lama jika menggunakan pesawat jadi bisa pulang pergi juga dalam waktu satu hari.


Waktu bergulir begitu cepat, Argani kecil sudah di pindah ke ruang perawatan. Keadaan nya sudah melewati masa kritis, Farwa dan Zulaikha juga sudah berada di ruangan tersebut dan terus menatap wajah anak kecil yang masih menutup mata dan banyak jahitan di kepala nya. Sungguh membuat hati Farwa seperti di iris, di saat mereka saling diam datanglah seorang perawat yang memanggilnya untuk ke ruangan dokter ada hal yang perlu di bicarakan.


Farwa pun bangkit dari duduknya" Bu nitip Argani aku pergi sebentar! " kata Farwa, ia tidak rela meninggalkan nya walau hanya sesaat. Ia juga akan belajar dari kesalahan bahwa setelah ini akan belajar lebih baik dan bertanggungjawab dengan putranya.


"Iya, dia juga cucu ku nggak mungkin juga di tinggal" jawab Zulaikha.


Akhirnya Farwa pun melangkahkan kakinya untuk segera menuju ruangan dokter yang telah di katakan oleh perawat tadi.


Setelah berada di luar ruangan, ternyata Radit masih menunggu di luar ruangan.


"Mau pergi ke mana? " tanya Radit sambil menatap lekat wajah Farwa, yang terlihat sangat pucat dan matanya sembab karena terus menangis.


"Dokter memanggil, katanya ada yang mau di bicarakan" jawab Farwa.


"Aku ikut" kata Radit sambil bangkit dari duduknya lalu berjalan beriringan untuk segera masuk ke dalam ruangan dokter.


Setelah beberapa saat mereka sudah berada di dalam ruangan, duduk berhadapan dengan seorang dokter yang sudah tidak lagi muda akan tetapi masih terlihat sangat gagah.

__ADS_1


Dokter pun menjelaskan bahwa tidak ada yang perlu di khawatir kan, hasil pemeriksaan nya juga baik. Argani kecil anak yang kuat dan melewati masa sulit seperti ini, dan dokter juga menyarankan agar di rawat di klinik ini untuk bebrapa hari ke depan.


Dan Farwa pun menyetujui apa yang di sarankan oleh dokter, setelah selesai berbicara dengan dokter. Akhirnya Farwa dan Radit pun keluar dari ruangan mereka akan menuju tempat administrasi terlebih dahulu karena mereka belum menyelesaikan nya.


__ADS_2