
Di sebuah ruang bawah tanah, Malik beserta para orang kepercayaan dan petinggi dari berbagai penjuru dunia sedang merencanakan sesuatu yang penting menurut mereka. Sebuah rencana tersusun rapi untuk berhasil dalam menjalankan misi. Ayah Argani terkenal sebagai orang yang sangat berpengaruh di negaranya, bahkan memperdaya hukum sudah menjadi keahliannya sehingga kepolisian tunduk pada kendalinya.
Ketika sedang memaparkan gagasannya, tiba-tiba Starla datang dengan wajah penuh kemarahan. Wajah Malik langsung berubah, merasa menantunya sudah melebihi batas. Meskipun selama ini ia memberikan kebebasan pada Starla untuk masuk dan keluar dari tempat itu, namun kali ini ia telah melampauinya.
Pertemuan pun diakhiri oleh Malik dan ia meminta Starla untuk menunggunya sebentar. Setelah semua orang pergi, hanya tersisa Malik dan satu asistennya. "Untuk apa kau datang kemari? Tidakkah kau bisa menungguku di rumah? Apakah yang ingin kamu bicarakan terlalu penting sehingga kamu tidak sabar menunggu sampai sore?" tanya Malik dengan nada bicara yang menekankan, dan matanya menatap tajam. Namun ia ingat bahwa Starla bukanlah anak kelas menengah, ayahnya sangat berpengaruh di dunia bisnis yang mereka jalankan. Maka Malik menahan emosinya meskipun merasa sangat marah pada menantunya.
"Tahu kan ibu mertuamu seperti apa? Ketika sesuatu perlu dibicarakan, hanya ada satu akses yang bisa dibuat, yaitu melalui mu. Mereka tidak pernah datang ke tempat kerjamu atau masuk ke dalam ruangan ini, apalagi sampai mengganggumu seperti tadi," ujar Malik.
"Aku tidak mengganggunya, Pa. Aku hanya ingin menekankan bahwa esok hari, Argani akan menikah dengan perempuan itu dan jika perempuan itu masuk ke rumah kita, saat itu juga aku akan keluar dari rumahmu. Aku tidak ingin dihina oleh keluarga Alfi. Bagaimana mereka nanti akan menghina aku?" jawab Starla. Ia tidak ingin Farwa masuk ke dalam keluarga suaminya karena masih mempertahankan perbedaan status sosial, bahwa orang kelas bawah tidak pantas untuk masuk ke dalam keluarga Malik yang kaya raya.
"Jika kamu pergi dari rumah itu, jangan harap kamu bisa kembali. Dan aku sudah berbicara dengan ayahmu tentang hal ini. Pikirkan baik-baik sebelum bertindak jika tidak ingin menyesal nantinya," kata Malik dengan sombongnya, berdiri di depan Ambar.
__ADS_1
"Ayahku tidak akan membiarkan perempuan itu merusak nama baik kami. Dan satu hal yang perlu kamu ingat, Adnan sangat mencintaiku. Bagaimana jika aku pergi dari rumah dengan menggagalkan pernikahan Argani dengan perempuan miskin itu? Bagaimana reaksi Adnan apabila kamu tidak bisa mencegahku untuk pergi dari rumahmu?" jawab Starla. Ia sangat tidak suka gadis biasa masuk ke dalam rumah mertuanya. Ia takut disaingi oleh Farwa, padahal ia memiliki segalanya tanpa harus menjadi ratu di rumah Malik.
"Sekarang pulanglah, suamimu pasti menunggu. Jangan membuatku marah nantinya. Tentang pernikahan mereka, saya sudah memberikan restu jadi tidak ada yang bisa mengubah keputusan itu. Kamu harus menerima kenyataan bahwa Farwa akan menjadi iparmu, suka atau tidak, itu sudah pasti," kata Malik sambil menyuruh menantunya untuk segera pulang.
Starla merasa diperlakukan tidak adil oleh mertuanya, padahal suaminya sudah patuh pada semua aturan yang diberikan olehnya. Mengapa ayah selalu membela Argani bahkan padahal anak itu suka membangkang dan selalu membuat ibunya menangis dengan semua tingkah lakunya.
...****************...
Di tempat lain, sebuah keluarga sederhana sedang meratapi kesedihan mereka karena merasa dunia tidak adil terhadap hidup mereka, padahal sebelum kenal dengan Argani, keluarga mereka merasa sangat damai dan bahagia dengan semua kesederhanaan yang mereka miliki. Meskipun sedang duduk bersama, mereka terlihat seperti pikirannya sedang berjalan ke arah yang berbeda. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Ibu akan memohon padanya agar tetap bisa bertemu denganmu setiap yang ibu inginkan. Mana mungkin ibu bisa jauh dari anak-anak yang selama ini tidak pernah terpisah," jawab Zulaikha dengan raut wajah yang sangat sedih. Padahal hari ini Farwa akan menikah, namun tidak ada sedikit pun kebahagiaan yang terlihat di wajah mereka, ada hanya kesedihan dan ketakutan.
__ADS_1
"Kakak... masih ada waktu untuk kita kabur dari pernikahan ini. Aku tidak mau kakak berada dalam penjara cintanya," kata Daisy sambil menatap wajah Farwa dengan tajam.
"Tidak ada gunanya kita melarikan diri. Dengan hitungan menit pasti keberadaan kita sudah ditemukan. Mungkin ini satu-satunya cara untuk mengakhiri semuanya. Yang dia inginkan dariku, setelah tercapai kalian semua akan terbebas dan hidup tenang tanpa ancaman darinya. Doakan semoga semuanya baik-baik saja dan terhindar dari orang-orang jahat. Cukup dia saja yang jahat terhadap keluarga kita," ujar Farwa.
Setelah itu ia ingin pergi ke kamarnya, namun terdengar suara pintu diketuk. Farwa kemudian berjalan perlahan untuk membuka pintu dan mendapati beberapa orang dengan peralatan yang mereka bawa.
"Maaf, ada kepentingan apa?" tanya Farwa pada orang yang berdiri di hadapannya.
"Kami datang atas perintah Tuan Argani untuk mempercantikmu untuk acara pernikahan nantinya," jawab penata rias yang diutus oleh Argani untuk datang ke rumah Farwa.
Akhirnya Farwa tidak bisa berkata apa-apa selain mempersilakan orang itu untuk segera masuk. Waktu menuju acara pernikahan sudah semakin dekat. Setelah berada di dalam, Zulaikha pun bertanya siapa yang datang. Farwa lalu menjelaskan semuanya pada sang ibu dan akhirnya Zulaikha mengerti.
__ADS_1
Karena waktu yang mereka miliki tidak banyak, penata rias mengajak Farwa untuk segera memulainya. Mereka sudah berada di dalam kamar dan sudah bersiap untuk memulai pekerjaan para penata rias yang diutus oleh Argani. Farwa sudah pasrah dengan keadaan ini, mau dibuat apa pun ia akan menerimanya.
"Nyonya Anda sangat beruntung bisa menikah dengan Tuan Argani, dia sangat kaya raya. Banyak perempuan di luar sana berlomba untuk mendapatkan hatinya, akan tetapi Tuan ganteng itu tidak pernah meliriknya sedikit pun. Dan ternyata calon istrinya lebih cantik dari mereka yang kecantikannya itu palsu, sedangkan Anda, Nyonya, cantiknya dari hari ke hari aura Anda sangat bersinar. Pantas saja Tuan Argani terpikat oleh Anda," kata penata rias itu sambil melakukan pekerjaannya. Akan tetapi, Farwa tidak menjawab apapun. Ia hanya terdiam tanpa kata, dan heran dengan semua orang. Mengapa mengidolakan seorang yang sangat arogan dan kejam seperti Argani, sedangkan ia sangat membenci lakilaki itu.