
Di sebuah ruangan
"Stop... jangan berikan alasan apapun, bawa pergi wanita itu dari rumah ini! mau di taruh di mana muka Mama kalau mereka semua sampai tahu, kamu menikah dengan perempuan kelas bawah. Pasti dia yang sudah menjebak kamu kan! " kata sang Mama, sungguh ia tidak menyangka bahwa hal ini akan terjadi.
"Ma... harus berapa kali aku bilang, bahwa Farwa tidak bersalah. Aku sangat mencintai nya, bahkan dia tidak ingin menikah dengan ku, dan akulah yang sudah memaksa nya untuk menikah terus ikut ke rumah ini" Argani tidak terima jika Mamanya menyalahkan Farwa atas semua ini.
"Jangan terus membela nya, orang seperti mereka sudah pasti menempuh jalur kotor agar bisa tercapai semua keinginan nya...Mama sudah tahu yang ada di otak mereka hanya kedudukan dan kemewahan. Pasti kamu sudah di manfaatkan oleh mereka" kata sang Mama sambil menatap tajam Wajah Argani.
"Ma... hentikan semua ini, Farwa bukan orang seperti itu. Sekarang dia sudah menjadi bagian dari keluarga ini, sudah sepantasnya Mama bisa menerima kehadiran nya di rumah ini. Walau bagaimana pun dia istri ku yaitu menantu Mama" jawab Argani.
"Tidak akan pernah bisa Mama melakukan itu, apalagi Papamu, dia sangat menjunjung tinggi bartabat dan kehormatan selama ini, mengapa kamu menghancurkannya. Dia bukan kelas kita, tidak sepantasnya dia ada di sini, suruh dia pergi dari sini..." kata sang Mama dengan nada bicara yang sudah di kuasai amarah.
"Ma... mengapa tega berkata seperti itu, Farwa istri ku berarti dia kelas ku... jangan pernah berkata seperti itu lagi aku tidak suka, jika Mama meminta Farwa untuk pergi. Maka, aku juga akan ikut pergi bersama nya. Atau Mama sudah tidak mau aku ada di rumah ini, baiklah aku pergi sekarang bersama nya" kata Argani dengan raut wajah yang serius.
" Jangan bercanda! yang Mama inginkan dia yang pergi bukan kamu... "
"Ma... sadar nggak ngomong, jika Mama menginginkan Farwa pergi sudah pasti aku juga akan pergi, karena dia itu istri ku sudah kewajiban ku menjaganya. Baiklah aku akan pergi dari rumah ini sekarang juga... !" ancam Argani terhadap sang Mama, ia yakin bahwa Mamanya tidak akan pernah membiarkan ia meninggalkan rumah ini.
"Hentikan, jangan pergi dari rumah ini... Mama mohon, tetap tinggal di sini! " kata sang Mama yang mulai melemah nada bicara nya.
"Jika Mama menginginkan aku tetap di rumah ini, maka. Terimalah Farwa di rumah ini sebagai menantu mu... pergi dan temui dia, aku mohon" kata Argani dengan nada bicara penuh permohonan.
"Baiklah, demi kamu... Mama lakukan ini agar anak Mama tidak pergi dari rumah ini"
"Ma... terimakasih banyak yah, sekarang temui Farwa ajak dia bicara" kata Argani sambil memeluk sang Mama.
__ADS_1
"Iya, Mama akan temui dia sekarang... "
"Ya sudah, aku ke dapur dulu ambil makan untuk nya" kata Argani, setelah berkata seperti itu lalu ia melangkahkan kakinya dengan perlahan untuk segera pergi ke dapur dan mengambil makanan.
Akhirnya, Ambar pun pergi untuk segera menuju kamar dan menemui Farwa.
Setelah beberapa saat akhirnya Ambar sudah berdiri di anbang pintu kamar Argani, ia masih berdiri dan belum masuk.
"Boleh kah saya masuk ke kamar ini? " tanya Ambar terhadap Farwa, yang sedang berdiri menatap ke luar jendela.
"Mengapa harus minta ijin terhadap ku, ini rumah mu bebas melakukan apapun. Sedangkan aku di rumah ini hanya sebuah tahanan yang tidak akan pernah di perlakuan dengan baik" jawab Farwa dengan tatapan mata yang kosong.
Ambar pun melangkahkan kakinya dengan perlahan, lalu berdiri di samping Farwa.
"Apa kakimu tidak merasakan pegal berdiri terus, kita duduk yuk! lebih baik kita bicara sambil duduk yah" Ambar mengajak Farwa untuk duduk.
Setelah duduk saling berhadapan, Ambar memulai pembicaraan.
"Entah harus memulai nya dari mana, entah apa yang sudah kamu lakukan sehingga anak saya bisa menentang kedua orang tua nya. Selama ini Argani tidak pernah menentang kami, dia di kenal sebagai anak yang nurut. Entah kenapa, kali ini dia menjadi anak pembangkang. Bahkan tidak mendengarkan apa yang di katakan kedua orang tuanya, saya mohon tolong tinggal kan anak saya! " kata Ambar dengan nada bicara penuh permohonan.
"Jika saya bisa pergi dari anak mu Nyonya, maka. Akan saya lakukan itu... akan tetapi, sejauh apapun saya berusaha untuk menjauh darinya tetap saja dia menemukan ku. Jangan pernah berfikir bahwa saya yang menginginkan ini, tanya anak mu. Atas dasar apa saya mau menikah dengan nya, kalau saja bukan karena nyawa keluarga ku. Maka tidak akan pernah mau menjadi istri dari anak mu" jawab Farwa dengan nada bicara yang pelan, tapi penuh dengan penekanan.
Sungguh ia ingin sekali berteriak sambil menangis, akan tetapi untuk saat ini ia sudah tidak mampu lagi untuk menangis. Terlalu banyak kesakitan sehingga untuk menagis saja sudah tidak kuasa, hanya bisa pasrah menerima keadaan seperti ini.
Di saat mereka saling diam, Ambar pun bingung harus berkata apalagi.
__ADS_1
Datanglah Argani dengan membawa nampan yang berisi makanan.
"Sayang... aku bawa makanan untuk mu" kata Argani sambil menyimpan nampan itu di atas meja lalu ia duduk di samping sang Mama.
Setelah beberapa saat, tidak ada yang berbicara.
Argani bertanya terhadap sang Mama " kenapa diam, apa aku mengangunya?" tanya Argani sambil menatap lekat wajah sang Mama.
"Tidak...! silakan kalian lanjutkan, Mama akan pergi sudah selesai ko bicara nya" kata Ambar sambil tersenyum, dan itu pun terpaksa agar sang anak tidak mencurigai apa yang telah mereka bicarakan.
"Baiklah, terimakasih banyak ya Ma.. "
" Iya, Mama pergi dulu" kata Ambar sambil bangkit dari duduknya lalu pergi meninggalkan Farwa dan Argani yang masih duduk.
Setelah Ambar pergi, Agani menatap lekat wajah Farwa yang terlihat sangat pucat sekali.
"Itu makanan sudah siap, makan lah nanti setelah itu kamu bersih kan diri dan aku akan pergi ke luar sekaligus membeli semua keperluan mu" kata Argani sambil menunjuk meja di mana makanan sudah tersaji, akan tetapi tidak sedikit pun Farwa melirik nya.
Perencanaan itu masih diam tanpa mengeluarkan suaranya.
"Ayolah jangan diam saja, apa kamu marah sayang...? " tanya Argani sambil menatap wajah Farwa dengan penuh cinta.
"Apa aku punya hak untuk marah terhadap mu....! "
"Tentu saja kamu punya hak atas itu, kamu itu istri ku katakan apa yang membuat mu marah kepada ku" jawab Argani, ia berbicara dengan nada bicara yang lembut.
__ADS_1
Farwa seperti menemukan sosok lain dari diri Argani, semenjak datang ke rumah ini sikap nya berubah.
Setelah berkata seperti itu, akhirnya Argani pergi meninggalkan Farwa sendiri di dalam kamar.