Gadis Manis Penakluk Hati Tuan Kejam.

Gadis Manis Penakluk Hati Tuan Kejam.
Bab 69


__ADS_3

"Ternyata kamu sudah di rumah mengapa tidak menjemput ku? " tanya Farwa terhadap sang suami dengan rasa kecewa yang ada di hatinya.


"Saya datang untuk menjemput mu, akan tetapi kamu bersama orang lain lalu masuk ke dalam mobil, apalah daya ku yang datang menjemput mu hanya dengan menggunakan motor itu juga hasil pinjam" jawab Argani, lalu ia duduk sambil menatap wajah sang istri.


"Aku ikut bersama nya karena terlalu lama menunggu mu, bagi seorang istri tempat ternyaman itu saat bersama suami aku tidak perduli kamu datang menjemput ku menggunakan apa. Aku merasa tidak aman saat bersama orang lain" jawab Farwa.


"Aku pikir kamu senang naik mobil, makanya aku tidak punya keberanian untuk menemui mu" kata Argani.


"Lain kali jangan seperti itu, aku tidak suka! " jawab Farwa, setelah berbicara seperti itu. Ia langsung pergi ke kamarnya meniggalkan Argani yang masih duduk di ruang tengah.


Akan tetapi Argani merasa belum cukup berbicara nya, ia juga bangkit dari duduknya lalu menyusul istrinya ke dalam kamar.


Setelah kejadian malam di mana Farwa takut akan suara petir saat hujan, mereka selalu tidur bersama.


"Kenapa si Marwan ada di kantor kamu? " tanya Argani.


Ia duduk di atas tempat tidur sambil menatap istri yang masih berdiri dan hendak mengambil handuk, ingin membersihkan tubuh nya.


Akan tetapi hal itu ia hentikan saat mendengar suaminya bertanya, lalu ia duduk di samping suaminya.


"Sekarang dia sudah bergabung di perusahaan itu, aku juga tidak tahu tiba-tiba pas jam istirahat bertemu dengan nya. Katanya baru mulai bekerja hari ini" jawab Farwa dengan jujur.


"Apakah kamu merasa senang saat berada bersama nya? bukan kah dia itu pernah menjadi pacar kamu!" Argani berkata sambil menatap lekat wajah Farwa.


"Mengapa bertahanya seperti itu? memang dulu aku mencintainya, akan tetapi sekarang aku sudah menjadi istri mu. Apakah pantas seorang istri mencitai laki-laki lain yang bukan suaminya? " jawab Farwa dengan nada bicara perlahan.


"Siapa tahu kamu merasa bahagia saat bersama nya, sebab selama ini aku belum bisa membuat mu bahagia. Jujur aku cemburu saat melihat mu bersama orang lain, dan hampir saja aku kehilangan akal sehat" kata Argani.


"Apapun keadaan suaminya pada saat ini, seorang perempuan yang sudah menikah. Mereka akan merasa aman saat bersama suaminya bukan orang lain" jawab Farwa dengan nada bicara penuh penekanan.


"Terimakasih, telah menerima ku apa adanya, saat ini yang ku punya hanya kamu" ucap Argani sambil meraih tangan sang istri lalu di genggam erat.


"Nggak perlu berterimakasih, sudah kewajiban ku sebagai seorang istri" jawab Farwa.


Argani merasa bangga memiliki istri seperti Farwa, meskipun mereka menikah dengan cara paksa.


Akan tetapi Farwa selalu membuat Argani merasa di hargai dan di anggap oleh perempuan yang sudah ia paksa menjadi istrinya.


Argani sangat bersyukur bisa bersama Farwa pada saat ini, sekarang ia faham betul arti kehidupan yang sesungguhnya.


Hidup normal layaknya orang lain, Argani memulai semuanya dari awal.


Dengan penuh keyakinan bahwa akan ada kebahagiaan bersama Farwa di lengkapi dengan buah hati mereka nantinya.

__ADS_1


Waktu bergulir begitu cepat, semua orang sudah melakukan aktifitas malam yaitu tertidur.


Tidur untuk mengistirahatkan tubuh setelah seharian bekerja, dan biar semangat esok hari untuk melanjutkan pekerjaan.


Farwa pun sudah masuk ke dunia mimpi, ia merasa nyaman saat tidur di dekat sang suami. Ia merasa di lindungi, beda lagi dengan Argani. Sama sekali ia belum bisa memejamkan matanya entah mengapa.


Ia terus menatap wajah Farwa, rasa takut mulai menguasai dirinya, takut akan kehilangan nya. Sekarang ia masih sanggup bertahan melanjutkan hidup saat kehilangan sang Mama perempuan yang di cintai nya, apakah ia akan sanggup jika harus kehilangan Farwa.


Sebab Argani sangat yakin bahwa sang Papa tidak akan membiarkan Argani dan Farwa hidup dalam kebahagiaan, sudah pasti akan melakukan berbagai cara untuk menghancurkan kehidupan nya.


Argani meraih tangan Farwa, lalu di kecup dengan perlahan setelah itu di tatap wajah perempuan yang terlihat lelah akan tetapi berusaha untuk tetap tersenyum di hadapan suaminya.


"Aku tahu saat ini kamu tidak bahagia dengan pernikahan ini, tapi kamu juga berusaha untuk tetap tersenyum di hadapan orang banyak. Yang paling salut aku terhadap kamu ketika orang tuamu bertanya apakah kamu bahgia hidup bersama ku? tanpa ku duga kamu menjawab nya bahagia padahal sama sekali kamu tidak bahagia. Aku berjanji sampai nafas terakhir ku akan menjaga mu dari orang-orang yang akan mencelakai mu" kata Argani dalam batin.


Setelah cukup lama Argani menatap wajah sang istri, tanpa terasa ia sudah masuk ke dalam dunia mimpi dengan tangan menggenggam kuat tangan Farwa.


Waktu terlalu singkat jika di gunakan untuk hal yang tidak penting.


Keesokan harinya.


Seperti biasa, Farwa akan bangun terlebih dahulu akan tetapi ia sangat kaget saat membuka mata dan ternyata posisi nya sangat dekat dengan Argani bahkan tidak ada jarak di antara mereka.


Argani memeluk Farwa dan Farwa sangat heran dengan dirinya, mengapa begitu nyaman saat berada di dalam dekapan sang suami. Ia merasakan ketenangan yang selama ini tidak pernah ia rasakan.


Akan tetapi ia malu jika Argani bangun dan saat ini ia pasrah ketika di peluk suaminya, dengan perlahan ia mengangkat tangan suaminya agar menjauh dari tubuhnya. Akan tetapi usaha nya gagal, Argani malah semakin erat mendekap tubuhnya.


"Mas...lepasin tangan nya, ini sudah subuh aku mau bangun! " kata Farwa dengan nada yang pelan.


"Nanti dulu aku masih ngantuk" jawab Argani dengan suara seraknya, bahkan ia bicara pun tanpa membuka mata. Tangan masih berada di pinggang Farwa ia tidak membiarkan perempuan itu lepas dari delapan nya.


Akhirnya Farwa pun pasrah dengan apa yang di lakukan suaminya, lagi pula ia juga merasa nyaman saat di perlakuan seperti itu dan karena rasa nyaman itu Farwa pun tertidur kembali.


Mereka berdua saling mendapatkan kenyamanan sehingga tertidur pulas.


Pagi hari.


Terdengar suara samar-samar ponsel Farwa berdering hingga berulang kali, sambil merem Farwa meraih ponsel yang di simpan di atas nakas.


Ia juga tidak bisa bergerak bebas karena Argani tidak mau lepas.


Farwa mengusap layar tersebut dan menjawab panggilan tersebut.


"Iya hallo untuk apa sih telepon jam segini masih ngantuk? " tanya Farwa terhadap sang penelepon.

__ADS_1


"Ini ibu Nak, kamu bilang masih pagi! ini sudah jam tujuh mengapa belum bangun memangnya nggak bekerja kalian berdua" kata sang ibu.


Ambar pun merasa heran mengapa Farwa bisa telat bangun seperti ini.


"Apa ibu bilang jam tujuh" jawab Farwa dengan kagetnya.


Seketika ia mengabaikan ponsel nya, dan bangun dengan cepat.


Argani merasa kaget saat Farwa menjauh kan tubuhnya dari sang istri yang sedang di peluknya.


"Mas... cepat bangun ini sudah jam tujuh, kita bisa terlambat datang ke kantor! " kata Farwa sambil turun dari atas tempat tidur lalu lari ke dalam kamar mandi.


Argani pun tidak kalah terkejut nya saat mendengar Farwa berkata bahwa sudah jam tujuh.


Argani pun langsung bangun dan turun dengan cepat dari atas tempat tidur.


Lalu menyusul Farwa untuk mandi.


"Buka pintunya kita mandinya bareng, bisa telat kalau aku harus nunguin kamu! " kata Argani sambil mengetuk pintu kamar mandi.


"Nggak mau, tunggu saja dulu aku mandi nggak lama" jawab Farwa.


Akhirnya Argani pun pasrah, ia berdiri di depan pintu sambil menunggu istri nya untuk keluar dari dalam kamar mandi. Argani juga sangat berharap bahwa sang istri hanya sebentar berada di dalam.


...****************...


Di tempat lain.


"Bu bagaimana apa kata anak kita? " tanya Mahad terhadap sang istri, mereka ngobrol sambil menikmati sarapan pagi.


"Belum sempat bicara, katanya baru bangun? " jawab Zulaikha.


"Apakah itu artinya anak kita sudah bahagia dengan pernikahan nya, bukan kah selama ini Farwa tidak pernah telat bangun. Dia kan bukan Daisy yang selalu telat bangun" kata Mahad sambil menatap wajah putri bungsu nya.


"Semoga saja Farwa bahagia dengan pernikahan nya, seperti yang dia katakan pada kita tempo lalu"


"Semoga saja"


Di saat mereka sedang menikmati sarapan terdengar suara pintu di ketika.


"Siapa yang datang? " tanya Mahad.


"Mana aku tahu kan belum melihat nya" jawab Zulaikha.

__ADS_1


Akhirnya Zulaikha bangkit dari duduknya lalu berjalan perlahan untuk segera membuka pintu.


Setelah sampai di pintu depan ia langsung membuka nya, berapa terkejut nya saat mengetahui orang yang berdiri di hadapan nya pada saat ini.


__ADS_2