
Fatwa dan Radit sudah sampai di rumah, Farwa langsung masuk tanpa menunggu Radit terlebih dahulu.
Radit langsung menyusul sangat istri sambil membawa kantong belanjaan yayang berisi mainan.
Dengan langkah cepat, ia masuk ke dalam rumah sedangkan di dalam sudah di sambut oleh jagoan kecil yang selalu menanti kedatangan sangat Ayah.
"Ayah... " teriak anak kecil sambil berlari ke arah seorang dewasa yang baru saja masuk.
Radit tersenyum penuh kebahagiaan, ketika datang ke rumah di sambut oleh jagoan kecilnya.
"Jagoan ayah, ini yang kamu minta. Suka tidak! " kata Radit sambil menyerahkan mainan yang baru saja di belinya.
Anak kecil itu langsung mengambil nya dengan penuh kebahagiaan, karena permainan itu sesuai dengan keinginan nya.
"Terimakasih, Ayah... mau kah nemenin main? " tanya Argani kecil dengan nada bicara penuh permohonan.
"Baiklah, kita bermain bersama! " jawab Radit sambil mengajak anak kecil yang mempunyai kecerdasan di atas rata-rata, untuk segera pergi ke ruangan di mana tempat tersebut khusus untuk bermain dan berbagai jenis permainan sudah tersedia di sana. Walaupun semuanya sudah ada, akan tetapi Argani kecil selalu meminta yang baru dengan model yang berbeda. Memang itulah anak kecil cepat sekali bosan dalam segala hal, termasuk juga permainan.
Dua laki-laki beda usia itu, sudah berada di sebuah ruangan dan mereka bermain bersama. Terpancar senyum kebahagiaan dari dua orang itu, sesekali mereka tertawa lepas seperti tidak ada beban. Argani kecil merasakan kasih sayang seorang Ayah yang sesungguhnya, selama ini ia hanya di temani sang Kakek. Tapi sekarang impian nya menjadi kenyataan ada sosok laki-laki dewasa yang di panggil Ayah olehnya.
Waktu bergulir begitu cepat, sekarang saatnya Argani kecil pun tidur siang.
Sang nenek sudah menginginkan nya, bahwa sekarang sudah waktunya untuk istirahat.
__ADS_1
Akhirnya Radit pun kembali ke kamarnya, sejak tadi ia belum melihat Farwa. Biasanya perempuan itu suka menghampiri mereka, jika sedang bermain. Entah mengapa, kali ini tidak datang menemuinya.
Dengan perlahan Radit melangkah kan kakinya untuk segera menuju kamar.
Setelah beberapa saat, Radit pun sudah sampai di depan pintu kamar lalu memutar gagang pintu dengan perlahan.
Terlihat dengan jelas, seorang perempuan sedang merapikan pakaian dan juga mengganti seprai. Entah mengapa Farwa ingin menggantinya, padahal baru tadi malam ia ganti.
Mungkin karena ia merasa jenuh dan mengalahkan pikiran negatif nya ke hal yang positif, ia menyibukkan diri dengan pekerjaan rumah.
"Kenapa di ganti lagi? bukankah tadi malam baru di ganti? " tanya Radit sambil mendekat ke arah Farwa, yang tidak memperdulikan kehadiran dirinya.
"Pengen saja, nggak suka dengan warna seperti ini" jawab Farwa tanpa melirik sedikit pun ke arah suaminya.
"Aku minta maaf! " kata Radit, ia tahu betul bahwa hati Farwa sedang tidak baik-baik saja.
"Untuk semuanya" jawab Radit sambil menatap lekat wajah Farwa yang terlihat penuh dengan kekesalan.
"Nggak perlu minta maaf, ini semua salah ku. Terlalu berharap terhadap kamu mas, bahwa hubungan kita akan lebih baik setelah tiga tahun terpisah tapi nyatanya. Kamu tidak mengharapkan kehadiran ku" jawab Farwa dengan nada bicara sedikit gemetaran karena menahan tangis.
"Bukan maksud untuk menyinggung perasaan mu, sungguh aku minta maaf. Janji nggak akan mengulangi nya, dan aku juga pernah berkata cintai aku yang sekarang bukan yang dulu. Karena aku tidak bisa untuk kembali ke masa itu, jangan kan untuk mengingat yang lain bahkan diri saya sendiri pun tidak tahu. Harusnya kamu mengerti akan hal itu" Radit berkata sambil menatap lekat wajah Farwa, lalu meraih tangan nya yang sedang merapikan bantal setelah di ganti sarung nya.
Farwa tidak menjawab perkataan Radit, ia hanya terdiam.
__ADS_1
Farwa juga berfikir, mungkin ia juga terlalu egois menginginkan Radit seperti dulu yang sangat mencintai nya.
Sekarang pun ia tidak tahu apa yang di rasakan Radit, sehingga belum siap untuk menyentuh dirinya. Apakah tidak ada cinta di hati laki-laki itu, atau ada perempuan lain. Atau ada alasan lain, yang belum bisa Radit ceritakan terhadap Farwa.
"Aku ke kamar Argani dulu! " kata Farwa sambil melepaskan tangan Radit yang menggenggam tangan nya.
Akhirnya Radit pun melepaskan nya, setelah itu Farwa berjalan perlahan keluar kamar. Sedangkan Radit menatap punggung sang istri yang mulai menjauh.
Setelah kepergian Farwa, Radit pun mengacak rambut nya dengan kasar. Sungguh ia juga tersiksa dengan keadaan seperti ini, tapi Radit juga belum sanggup untuk cerita terhadap siapa pun. Setelah itu ia bangkit dari duduknya lalu pergi ke luar kamar, mungkin yang bisa membuat dirinya tenang atau bisa juga di ajak bicara yaitu Rahmat. Sudah beberapa hari juga ia tidak mengunjungi toko sembako milik nya, saat ini ia fokus ke perencanaan pembangunan gedung untuk rumah makan Farwa.
Setelah sampai di lantai bawah, ia mencari keberadaan Farwa untuk berpamitan terlebih dahulu. Ia takut kesalah fahaman terjadi lagi.
Hingga akhir ia, melihat Farwa baru saja keluar dari kamar Argani. Lalu ia mendekati nya sambil berkata " aku pergi ke toko dulu, apa kamu menginginkan sesuatu? biar aku beli nanti pas pulang nya. Nggak lama ko, cuma sudah lama saja tidak melihat keadaan mereka " kata Radit sambil menatap sang istri.
"Kenapa nggak tadi saja, sekalian biar nggak capek bolak-balik" jawab Farwa.
"Kalau kamu nggak mengijinkan, ya aku nggak pergi"
"Bukan seperti itu, ini juga sudah sore sedangkan di luar juga gelap seperti mau hujan. Dan aku nggak mau terjadi sesuatu dengan mu" jawab Farwa.
Radit berfikir sejenak, memang betul apa yang di katakan Farwa itu Bahwa cuaca sedang tidak baik-baik saja, apakah ia tidak usah pergi karena sang istri melarang nya.
"Baiklah kalau begitu, aku nggak jadi pergi" jawab Radit.
__ADS_1
Ia sangat yakin bahwa feeling seorang istri terkadang sangat kuat dan ia tahu bahwa akan terjadi sesuatu yang tidak di inginkan, seperti waktu dulu. Ketika Farwa menolak untuk periksa ke rumah sakit, andaikan pada saat itu Radit mendengarkan Farwa mungkin saat itu mereka tidak akan mendapatkan musibah sehingga membuat Radit tertembak dan membuat mereka terpisah.
Radit pun meninggalkan Farwa begitu saja, ia langsung melangkahkan kakinya untuk segera menuju ruangan yang biasa ia gunakan untuk mengerjakan sesuatu. Lebih tepatnya tempat persembunyian, karena Radit bukan lah seorang pekerja kantoran jadi bukan untuk melakukan pekerjaan. Terkadang ia hanya tidur menghabiskan harinya di ruangan tersebut, yang sangat sepi dan sunyi sehingga membuat Radit tenang berada di ruangan tersebut.