
Keesokan harinya.
Rahmat sudah bersiap untuk mengantarkan sayuran ke tempat Farwa karena itu kebiasaan setiap harinya memang mereka berjualan seperti itu. Akan mengantarkan pesanan minimal belanja lima ratus ribu, di bawah itu mereka tidak akan mengantarkan nya. Ini juga salah satu strategi bisnis yang mereka jalani, saat ini persaingan semakin ketat. Makanya kita harus tunjukkan kelebihan dari usaha yang kita miliki bukan dengan cara menjatuhkan orang lain untuk menjadi pengusaha sukes.
Radit di kenal sebagai seorang pengusaha baru di kota ini, akan tetapi begitu sukses meskipun hanya menjadi agen sembako dan sayuran dari petani yang ada di daerah sini.
Radit memanfaatkan potensi yang ada di sini sehingga menjadi kadang bisnis untuk nya, dan itu sangat menguntungkan.
Rahmat sudah menyiapkan belanjaan untuk di masukan ke dalam mobil yang biasa di pakai membawa sayuran, ia bekerja dengan Radit baru satu tahu.
Radit juga termasuk orang baru di kota ini, Radit datang ke kota ini memulai usaha dengan membeli sayuran dari semua petani yang ada di sekitar lalu di jual di pasar dan ia juga mempunyai toko sembako dan sayur-sayuran.
Tanpa ada yang tahu keluarga Radit, mereka hanya tahu bahwa Radit hanya tinggal sendiri. Setiap ada yang bertanya soal keluarga Radit me jawab ia sudah menikah dan punya anak, akan tetapi belum pernah sekalipun keluarga datang ke tempat ini.
Radit mempunyai beberapa orang yang membantu pekerjaan nya, termasuk juga Rahmat. Selain sopir ia juga termasuk orang yang di percaya oleh Radit soal keuangan di toko, terkadang Radit juga pergi tanpa pamit dan mereka tidak tahu bos nya pergi ke mana.
Rahmat sudah berada di dalam kendaraan dan sudah menyalakan kendaraan nya, tiba-tiba di hentikan oleh sang bos.
"Kamu mau pergi ke mana? " tanya Radit dengan tatapan mata tajam.
"Astaga bos, bikin saya kaget saja. Bagaimana kalau tertabrak, nanti saya di penjara gara-gara telah menghilangkan nyawa seseorang akibat lalai dalam berkendara" Rahmat kaget karena tiba-tiba Radit berdiri tepat di depan kendaraan yang sudah siap untuk melaju kencang.
Radit pun mendekati Rahmat " Lebay kamu, saya tanya kamu mau pergi ke mana? "
"Kenapa harus bertanya, ini kan sudah menjadi pekerjaan saya setiap hari mengantarkan sayuran" jawab Rahmat.
"Turun kamu! mulai hari ini saya yang akan mengantarkan sayuran ke rumah Farwa. Mana dua orang yang saya minta kemarin? " tanya Radit.
"Saya sudah mencari nya tapi tidak ada, terus sudah datang ke agency yang bos katakan dan lagi kosong juga"
"Panggil si Yeyen sama Yayan biar dia ikut bersama saya dan pindah bekerja! " Radit meminta Rahmat untuk memanggil dua orang yang bekerja di toko miliknya.
"Bos itu tidak bisa! karyawan kita hanya sedikit kalau di kurang dua tambah sedikit, semakin keteran saja kalau lagi rame"
"Kan masih ada yang lain, di sini yang menjadi bos saya atau kamu? " tanya Radit dengan tatapan mata tajam.
"Ya situ sih bosnya" jawab Rahmat sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ya sudah panggil mereka sekarang, ikut bersama ku ke sana! "
"Iya, tunggu sebentar"
Akhirnya Rahmat pun pergi untuk memanggil karyawan yang bernama Yeyen dan Yayan.
Setelah beberapa saat, akhirnya mereka datang juga.
"Ada apa bos memanggil kami? " tanya dua orang yang berada di hadapan Radit pada saat ini.
"Mulai hari ini kalian nggak perlu bekerja lagi di sini"
"Maksudnya? kami di pecat" jawab mereka secara bersamaan.
"Tunggu dulu, saya belum selesai bicara"
"Iya, Bos"
"Jadi mulai sekarang kalian akan bekerja di rumah makan milik Farwa, yang setiap hari kita antar sayuran. Nah kalian berdua akan bekerja di sana, tapi jangan khawatir saya akan memberikan lebih nya dari gaji di sana. Dan kontrakan kalian juga saya yang bayar nggak perlu mikirin itu, karena di tempat kalian yang lama itu jauh makannya pindah tempat ke yang lebih dekat dengan tempat bekerja kalian" kata Radit.
"Kenapa bisa begitu bos, kalau begitu biar aku saja yang kerja di tempat nya ibu Farwa biar mendapatkan gaji tambahan" Rahmat menyela pembicaraan mereka.
"Itu tidak berlaku untuk kamu" jawab Radit sambil mentoyor kepala Rahmat.
"Sakit bos" ucap Rahmat sambil mengusap kepada yang di toyor.
"Ayok cepat masuk! dan perlu kamu ingat, mulai hari ini yang akan mengantarkan sayuran ke sana itu saya" kata Radit.
__ADS_1
"Ya udah terserah bos, saja yang penting bagi saya mah gaji lancar dan mendapatkan bonus itu sudah cukup. Hati-hati di jalan, jangan sampai kepentok janda cantik pemilik rumah makan" kata Rahmat sambil pergi meninggalkan Radit yang sudah siap untuk pergi.
"Nanti kalian berdua di sana kerja yang bener, jangan sampai bikin saya malu" kata Radit.
"Iya, Bos. Kita bekerja di tempat siapa sih? " tanya Yeyen.
"Udah nggak usah banyak tanya, ikuti saja apa kata saya. Jangan bilang sama mereka bahwa saya memberikan gaji tambahan atau bayarin kontrakan kalian! "
"Tapi bos, kalau harus pindah kan ribet. Banyak barang-barang di kontrakan sana! bagaimana saya pindahan nya"
"Nggak perlu mikirin itu, biar menjadi urusan si Rahmat" jawab Radit sambil melajukan kendaraan nya.
Kendaraan melaju dengan kecepatan tinggi, jarak yang mereka tempuh tidak terlalu jauh.
Akhirnya kendaraan sudah berhenti tempat di depan ruko yang mereka tuju, terlihat seorang perempuan yang masih muda sedang menggendong anak kecil.
Radit dan kedua orang yang akan bekerja di tempat ini pun turun, lalu mereka membongkar sayuran dan di bawa masuk di sana sudah di sambut oleh sang pemesan barang tersebut.
Farwa sambil menggoyang Argani yang berada di gendongan, entah kenapa anak kecil ini rewel dari tadi pagi. Padahal sebelum nya tidak pernah seperti ini.
"Selamat pagi bu? ini belanjaan yang kemarin di pesan dan dua orang ini yang akan bekerja di sini! " kata Radit sambil tersenyum menatap wajah cantik ibu muda yang berada di hadapan nya pada saat ini.
"Iya terimakasih banyak, kalau begitu silakan duduk dulu! " Farwa mempersilakan mereka untuk duduk di tempat yang tersedia di sana.
Akhirnya mereka duduk, Argani kecil pun masih tetap rewel.
Radit yang tertarik dengan anak kecil itu memberanikan diri untuk memenangkan nya.
"Ibu, kalau boleh. Saya ingin menggendong nya siapa tahu dia tenang"
Farwa kaget mendengar Radit berkata seperti itu, mereka juga baru bertemu dua kali. Farwa yang tidak suka anak nya bersama orang asing, tidak langsung menjawab nya. Ia terus membuat Argani tenang dengan caranya.
"Saya nggak akan ngapa-ngapain dia ko, saya cuma ingin membantu ibu" kata Radit dengan nada bicara penuh permohonan.
"Tapi anak saya tidak pernah bersama orang lain"
Tanpa Farwa sangka, dan ternyata Argani kecil mau di gendong oleh Radit.
"Hai jagoan, kenapa rewel apakah kamu merasa bosa di kurang terus di rumah? " Radit bertanya terhadap anak kecil yang di gendongnya pada saat ini.
Argani kecil pun mengangguk, ia sebetulnya bosan terus berada di dalam rumah. Setiap hari hanya bermain dengan sang ibu atau kakek neneknya. Sebagai anak kecil Argani juga ingin bermain di luar dan mempunyai teman sebaya, akan tetapi Farwa menutup diri dari lingkungan sekitar. Ia tidak membiarkan Argani untuk bermain di luar dengan alasan keselamatan yang di jaga.
"Seperti nya dia bosan terus berada di dalam rumah, boleh kah aku membawa nya bermain sebentar di sebelah sana! " kata Radit sambil menunjuk ke salah satu tempat yang rada luas, sebetulnya itu tempat parkir.
Tanpa Radit duga, Farwa pun memberikan ijin.
Argani kecil baru berumur 14 bulan, akan tetapi anak itu mempunyai kecerdasan yang lumayan. Bicaranya sudah lancar dan berjalan nya juga, hanya saja masih Asi karena Farwa ingin memberikan nya sampai usia dua tahun.
Radit pun membawa Argani untuk bermain di tempat parkir, entah kebetulan atau sengaja ternyata di mobil ada beberapa bola dan Radit mengajak anak kecil itu bermain bola.
Anak kecil yang tidak pernah bermain di luar ruangan akhirnya sekarang bisa main itu terlihat dari ekspresi wajah Argani, kegiatan dua laki-laki itu sangat bahagia seperti seorang ayah dan anak laki-laki nya.
Entah mengapa hati Radit juga selalu ingin dekat dengan anak ini padahal baru bertemu hari ini, tapi seperti ada energi yang menarik nya untuk mendekat.
Farwa ternyata memperhatikan nya dari jauh, tanpa di sadari ia tersenyum menatap dua orang yang sedang bermain.
"Sekarang anak kita sudah bisa bermain bola, tapi sayang sekali itu bukan dengan Ayahnya. Aku harap kamu juga tenang di surga, do'akan kami agar selalu sehat dan kuat menerima kehidupan ini. Dia laki-laki tapi terkadang cengeng seperti aku" batin Farwa sambil terus menatap dua orang yang sedang asik bermain.
Radit pun tersadar bahwa Farwa memperhatikan nya.
"Jagoan, kita sudahi bermainnya yah. Nanti di lanjut besok, om ada pekerjaan" kata Radit sambil mensejajarkan tubuh nya.
"Yah, Aku masih mau bermain. Nggak suka aku sama ibu, dia terus mengurung ku " kata Argani dengan raut wajah kecewanya.
"Sayang jangan cemberut seperti itu, om janji besok akan mengajak bermain lagi. Hari ini cukup sampai di sini, om juga harus bekerja oh iya nanti besok om bawakan mainan lagi untuk mu" kata Radit sambil mengusap lembut kepala Argani kecil itu.
__ADS_1
"Beneran om, yang ini boleh untuk ku" jawab Argani dengan suara khas anak kecil.
"Iya, jagoan itu untuk mu. Ayok sekarang kita menemui ibu mu, tuh sudah menunggu" kata Radit sambil meraih tangan Argani lalu di ajak menemui Farwa yang berdiri tidak jauh dari mereka.
Setelah beberapa saat mereka sudah berdiri di hadapan Farwa.
"Terimakasih yah sudah membuat dia ceria dan mau bermain, padahal tadi pagi rewel terus " kata Farwa dengan senyuman di bibirnya.
"Astaga ini lagi kenapa malah tersenyum, kan hatiku jadi loncat-lonat" batin Radit sambil memegang dadanya.
"Pak Radit kenapa diam, ada yang salah kah dengan perkataan saya! "
Seketika Radit tersadar" Eh iya Bu, maaf saya harus pulang. Ok jagoan, om pulang dulu yah" kata Radit sambil menatap wajah anak kecil yang menggemaskan itu.
"Iya, om. Besok datang lagi ya ke sini" anak kecil itu belum rela kalau harus di tinggal oleh Radit.
Meskipun baru bertemu akan tetapi terlihat sangat akrab.
"Nggak minum kopi dulu? " tanya Farwa.
"Nggak perlu, eh tapi kalau maksa boleh juga" jawab Radit tertawa kecil.
Farwa yang mendengar perkataan itu jadi ikut tertawa, padahal Farwa hanya menawarkan bukan memaksa.
"Baiklah, silakan duduk dulu saya akan membuatkan kopi nya! " kata Farwa mempersilakan Radit untuk duduk.
Farwa meninggal Radit dan Argani yang masih duduk dan anak kecil itu merasa nyaman saat berdekatan dengan Radit.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, akhirnya Farwa datang dengan membawa secangkir kopi.
Dan meletakkan di hadapan Radit, Radit memang suka kopi buatan Farwa rasanya enak tidak seperti kopi pada umumnya.
"Oh iya, nanti tanggal dua puluh saya pesan nasi kotaknya yah Bu nggak banyak ko hanya seratus porsi tapi kalau bisa sama kue nya juga, saya males nyari tempat lain jadi sekalian pesan di sini" kata Radit.
"Banyak amat Pak, menang nya untuk acara apa?"
"Hanya ingin berbagai bersama anak-anak panti sekalian sedekahan untuk mengingat ibu ku meninggal pada tanggal itu" jawab Radit dengan raut wajah yang sedih.
"Ko tanggal meninggal nya seperti dengan mama Ambar ya, kebetulan sekali. Semoga Mama tenang, di alam sana" batin Farwa.
"Bagaimana bu? apakah bisa sekalian dengan kue nya? " tanya Radit.
"Semoga bisa"
"Baiklah, kalau begitu DP nya saya transfer aja yah atau mau cash aja? " tanya Radit terhadap Farwa.
"Terserah maunya bagaimana"
"Ya sudah nanti besok kalau begitu sekalian antar sayuran, sekarang nggak bawa uang. Oh iya Terimakasih kopi nya, pamit pulang sekarang" kata Radit sambil bangkit dari duduknya lalu, berjalan perlahan untuk meninggalkan Farwa dan Argani junior yang masih duduk.
Setelah kepergian Radit, Argani pun masih diam tanpa mengajak sang ibu untuk berbicara.
"Hai kenapa wajah mu murung, bukankah tadi biasa saja? atau mau minum Asi? " tanya Farwa.
Argani tidak menjawab nya, ia hanya tertunduk dengan raut wajah yang sedih.
"Ada apa? bicaralah, bagaimana ibu tahu kalau kamu diam seperti ini! " tanya Farwa.
"Ayah kapan pulang, ibu bilang nanti kalau aku sudah gede. Sekarang aku sudah bisa main bola kenapa belum pulang juga? " tanya Argani kecil.
"Sayang, kan masih ada ibu sama kakek dan juga nenek. Nanti juga dia pulang ko, sekarang masih berada di langit" jawab Farwa sambil tersenyum menatap lekat wajah sang putra.
Jika di pikir, anak yang belum genap dua tahun itu belum berfikir ke arah sana. Akan tetapi beda lagi dengan Argani yang mempunyai kelebihan dari anak seusia nya.
"Bu aku lelah ingin tidur" kata Argani kecil dengan raut wajah yang sedih.
__ADS_1
"Iya, ayok kita cuci kaki dulu... kotor itu, muka nya jangan di tekuk seperti itu lah" kata Farwa sambil mengajak sang Putera untuk segera menuju kamar mandi untuk segera membersihkan kakinya setelah bermain diuar rumah.