
"Astaga sayang... kamu ini bikin aku khawatir aja, darimana sih? " tanya Argani terhadap sang istri.
"Dari dapur ambil minum" jawab Farwa sambil melangkahkan kaki suntuk segera masuk ke dalam kamar.
"Kan tinggal panggil pelayanan, nggak perlu kamu yang harus pergi ke dapur. Untuk apa bayar mereka mahal kalau nggak bekerja, lain kali tinggal pencet tombol itu pasti pelayanan akan datang ke kamar" kata Argani, sambil menunjuk ke arah sudut ruangan di mana ada tombol kecil. Itu alat untuk memanggil pelayan untuk datang ke kamar ini.
"Iya, nanti. Lain kali aku akan panggil mereka, lagian belum tahu apapun tentang rumah ini. Maklum di rumah ku tidak ada pelayan jadi nggak ngerti " jawab Farwa lalu duduk di sofa.
"Ayok istirahat jangan duduk di situ! " kata Argani sambil menatap lekat wajah Farwa.
"Iya ini juga mau istirahat" jawab Farwa sambil merebahkan tubuhnya di atas sofa.
"Hai apa-apaan, kenapa tidur di sana! itu tempat tidur luas mengapa harus di atas sofa. Bangun! pindah ke atas kasur" perintah Argani terhadap sang istri.
"Aku nggak mau, tidur satu ranjang dengan kamu" jawab Farwa tanpa melihat sedikit pun ke arah Farwa.
"Baiklah kalau kamu mau tetap tidur di sana, berarti besok tidak ada acara untuk pergi ke rumah sakit mengunjungi ibu mu" ancam Argani terhadap Farwa.
Akhirnya Farwa bangun lalu berjalan perlahan untuk segera naik ke atas tempat tidur.
Setelah berada di atas tempat tidur perempuan itu langsung berbaring, tujuan nya ingin mengistirahatkan tubuh nya.
"Bagus, tidur lah sayang... aku akan ganti baju terlebih dahulu! " ucap Argani sambil pergi melangkah untuk segera pergi ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.
Waktu bergulir begitu cepat, Argani sudah selesai dengan semua aktivitas nya.
Ia naik ke atas tempat tidur, lalu menatap lekat wajah sang istri " mengapa wajah mu begitu membuat ku teduh dan damai, tidak salah aku memilih mu menjadi pendamping ku" Argani berkata dalam batin sambil menatap lekat wajah sang istri.
Argani terus menatap wajah perempuan yang sudah membuat dirinya tergila-gila, hingga akhirnya ia masuk ke dalam dunia mimpi.
...****************...
Di tempat lain.
__ADS_1
Dua wanita sedang duduk di salah satu kafe yang terkenal di kota ini.
Mereka berdua sedang membuat rencana untuk membuat Farwa celaka, walau bagaimana caranya yang terpenting bagi mereka Farwa jauh dari kehidupan Argani dan keluarga nya.
"Kakak ada rencana apa untuk menyingkirkan perempuan sial itu? " tanya Alfi terhadap Starla.
"Nanti pas kita pikiran lagi, untuk saat ini belum ada rencana apapun. Saya masih kesal terhadap Adnan, kenapa dia sebagai laki-laki tidak ada tegas-tegasnya. Di perlakuan seperti anak tiri juga diam saja, aku nggak terima ini semua" ucap Starla sambil mengepalkan tangan nya.
"Makanya kita harus secepatnya menyingkirkan perempuan itu agar kehidupan kita kembali normal, gara-gara perempuan miskin masuk ke dalam hidup Argani semuanya jadi berantakan seperti ini. Andaikan dia tidak datang pasti aku sudah bertunangan dengan Argani, semua ini gara-gara dia. Secepatnya kita harus menyingkirkan perempuan itu, apa aku yang harus bertindak" kata Alfi.
"Papa kemarin bilang biar dia yang mengatur semuanya, kita tunggu hasilnya saja" jawab Starla.
"Tapi kita juga tidak bisa mengandalkan Om Malik, dia juga pasti sudah di pengaruhi perempuan itu" kata Alfi.
"Saya sangat yakin bahwa Papa sangat tidak suka dengan kehadiran perempuan sial di rumah. Terlihat jelas dengan raut wajahnya saat pertama kali Argani membawa Farwa ke rumah. Akan tetap Mama seperti nya suka dengan perempuan itu, hanya saja dia takut sama Papa" ucap Starla.
"Kalau memang om tidak suka, kenapa dia belum bertindak jua? "
"Mungkin sedang merencanakan sesuatu yang kita tidak tahu" jawab Starla.
"Malas pulang ke rumah itu, mual liat perempuan sampah ada di rumah" kata Starla dengan raut wajah yang tidak suka dengan kehadiran Farwa di rumah itu.
"Ya terus mau bagai, di sini sampai pagi? aku sih ogah mening pulang " kata Alfi.
"Tapi aku malas pulang"
"Pulang saja Yuk, aku ikut nginap lah di rumah sana" kata Alfi
"Bener kamu mau nginap di rumah? " tanya Starla.
"Ayolah sekarang kita pulang, sebelum Om Malik Murka, biar terlihat seperti menantu idaman di hadapan dia" kata Alfi sambil bangkit dari duduknya, ia mengajak Starla untuk segera pulang. Tidak ada gunanya juga duduk sampai pagi di tempat ini, toh tidak akan mengubah kenyataan, lebih baik pulang dan tidur dengan nyaman.
"Baiklah"
__ADS_1
Akhirnya Starla ikut berjalan keluar mengikuti Alfi, mungkin pulang ke rumah juga lebih baik.
Mungkin apa yang di katakan oleh mertuanya memang benar, lebih baik tunggu saja hasil nya biar mereka yang mengurus nya.
Tetap saja Starla belum bisa tenang kalau masih melihat perempuan itu ada di rumah, rasanya sedak dada Starla kalau harus satu rumah dengan orang yang sangat tidak di sukai.
Akhirnya kedua perempuan itu sudah berada di dalam kendaraan yang sama, kali ini Alfi akan menginap di kediaman Malik. Ini juga bukan pertama kalinya ia menginap, sebab antara Alfi dan Starla masih ada hubungan darah yaitu saudara sepupu.
Waktu bergulir begitu cepat.
Alfi sudah berhasil menghentikan kendaraan nya tepat dengan sempurna, ia mengajak Starla untuk keluar dari kendaraan itu.
"Ayolah jangan seperti ini, bisa nggak kamu Kak belajar dewasa. Meskipun tidak suka sama orang nggak harus lah dengan cara seperti ini, musuh terbesar adalah orang terdekat. Kalau kita ingin menghancurkan Farwa kita harus menjadi temannya terlebih dahulu. Walaupun aku juga belum busa melakukan itu" ucap Alfi dengan raut wajah yang sangat sedih.
"Susah untuk bersikap seperti itu"
"Ayok kita masuk! " ajak Alfi.
Akhirnya mereka berdua masuk ke dalam rumah, kedua perempuan melangkah dengan perlahan.
Setelah beberapa saat mereka sudah berada di dalam rumah lalu Alfi menjatuhkan tubuhnya di atas sofa.
"Langsung masuk ke kamar mu saja, lagian ini sudah malam Argani juga sudah tidur pasti. Nggak ada gunanya juga nungguin di situ" kata Starla sambil melangkahkan kakinya untuk segera masuk ke kamarnya.
"Iya, aku masuk tapi tunggu sebentar lagi yah. Pengen rebahan dulu di sini, nggak ada yang larang kan! "
"Serah kamu dah"
Setelah kepergian Starla, Alfi masih merendahkan tubuhnya di atas sofa yang ada di ruangan ini.
Memang Alfi juga punya kamar pribadi di rumah ini, mungkin mereka menganggap karena Alfi juga saudara dari Starla makanya memperlakukan nya seperti keluarga sendiri. Apalagi dengan rencana perjodohan itu, semakin leluasa Alfi datang ke rumah ini.
Di saat Alfi mulai memejamkan matanya terdengar suara seseorang yang membuat nya terbangun.
__ADS_1
"Astaga, ngapain kamu ada di sini? Nggak tahu malu" kata orang tersebut dengan suara yang tinggi.