Gadis Manis Penakluk Hati Tuan Kejam.

Gadis Manis Penakluk Hati Tuan Kejam.
Bab 61


__ADS_3

Sepasang suami istri sudah berada di rumah mereka, Farwa sudah mempersiapkan untuk makan malam.


Sedangkan Argani menunggu sang istri sambil membaca surat kabar, sebab mereka belum memiliki televisi untuk melihat kabar terbaru yang ada di negara ini.


Jalan satu-satunya untuk tidak kehilangan kabar yaitu dengan membeli media cetak.


Tanpa di duga ternyata berita Argani di coret dari hak waris menjadi tranding di minggu ini.


Setelah membaca kabar itu, Argani hanya tersenyum.


Argani tidak pernah terpikir akan menjadi rakyat biasa tanpa di bebankan oleh nama baik dan reputasi.


Sekarang ia lebih tenang dan tidak ada beban, ia sekarang benar-benar merasakan hidup normal.


Parwa menghampiri Argani yang masih menatap surat kabar yang di pegangnya.


"Ada apa? " tanya Farwa terhadap sang suami, sambil duduk di sofa yang ada di sana.


Argani tidak menjawab apapun, laki-laki itu hanya tersebut tipis sambil menatap lekat wajah Farwa.


Sekarang hanya Farwa alasan dia untuk tetap bertahan dalam keadaan apapun.


Setelah cukup lama Argani diam, akhirnya ia pun menjawab sambil menghela nafas panjang.


"Bukan apa-apa nggak usah di pikirin. Kita fokus saja untuk masa depan kita" jawab Argani sambil meraih tangan sang istri.


Farwa mengambil surat kabar tersebut, berapa terkejut saat melihat berita itu.


"Pasti kamu sedih gara-gara ini kan? " tanya Farwa sambil menujuk berita yang tertulis di surat kabar itu.


"Aku bersedih bukan karena itu, hanya saja. Ternyata mereka lebih sayang harta dan tahta di banding anaknya sendiri, sekarang aku tidak memiliki apapun selain kamu" kata Argani.


"Terus bagaimana dengan Mama, apakah dia tahu akan hal ini? " tanya Farwa terhadap sang suami.


"Meskipun Mama tahu, dia nggak akan pernah bisa mengubah niat Papa"


"Yang sabar yah, pasti kita bisa melewati ini semua"


"Justru aku sangat berterima kasih dengan semua ini, jadi sekarang aku bisa merasakan kehidupan normal seperti orang pada umumnya" ucap Argani.


Memang sekarang Argani berasa lebih tenang dan damai meskipun dalam kesederhanaan.


"Baiklah, makan malam sudah siap"


Akhirnya mereka berdua menyesuaikan ritual malam sebelum tidur yaitu mengisi perut.


Meskipun mau tidur kita tetap butuh energi.


Waktu bergulir begitu cepat, tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.


Argani dan Farwa sudah berada di kamar masing-masing, akan tetapi kedua nya tidak bisa memejamkan mata.


Mungkin Argani tidak bisa tidur karena ruangan terasa panas, laki-laki ini tidak bisa tidur dalam keadaan ruangan sangat panas.


Padahal ia hanya menggunakan boxer dan kaos oblong, akan tetapi rasa panas itu semakin menguasai nya.


Tanpa mereka duga hujan pun datang, dan listrik pun tertidur sebab ini sudah malam.


Hujan yang du sertai angin sudah berhasil membuat Farwa sangat ketakutan, ia langsung bangkit dari tempat tidur.

__ADS_1


Untuk mencari alat bantu penerangan, dengan menggunakan senter ponsel ia pergi ke dapur untuk mencari lilin.


Akan tetapi Argani masih santai berada di dalam kegelapan, ia tidak perduli dengan hujan dan listrik padam.


Farwa sudah berada di dapur, akan tetapi saat berada di dapur ada petir yang begitu kencang yang membuat Farwa gemetaran ketakutan.


Dengan penuh rasa takut Farwa melangkah kan kakinya untuk segera masuk ke dalam kamar, akan tetapi ia tidak pergi ke kamarnya melainkan ke kamar Argani.


Farwa mengetuk pintu kamar itu.


"Mas... boleh kah aku masuk, aku sangat takut dalam kegelapan seperti ini apalagi di sertai hujan dan petir! " kata Farwa yang masih berdiri di depan pintu kamar, ia berbicara dengan suara yang lembut.


Argani yang mendengar suara istrinya di depan pintu, langsung bangkit lalu berjalan perlahan untuk membuka pintu.


"Masuk lah, ayok! " ajak Argani terhadap sang istri.


Akhirnya Farwa pun masuk ke dalam kamar yang di tempati Argani.


Lalu Argani mempersilakan istri nya untuk naik ke atas tempat tidur.


"Tidurlah ini sudah malam, bedok kan kita mesti bekerja kamu butuh istirahat" Argani mempersilakan istrinya untuk tidur.


"Tapi aku takut" jawab Farwa.


"Nggak perlu takut, ada aku bersama mu. Ayok tidur lah"


Farwa naik ke atas tempat tidur, di sini tidak ada tempat lagi selain ranjang yang ukuran nya sempit jika di gunakan berdua.


Mereka berdua sudah berada di atas tempat tidur yang ukuran nya sempit, Mereka berbaring dengan posisi saling memunggungi.


"Nggak perlu khawatir, tidur lah! " ucap Argani dengan suara lembut nya.


Sekarang Argani tidak pernah meninggikan suara, dan ini juga pertama kalinya Farwa datang menemui Argani dengan suka rela.


Farwa sudah tidak takut lagi berada di kamar yang sama.


Farwa pun merasa aman saat berada di dekat Argani, perlahan ia menutup matanya.


Akhirnya mereka berdua tidur di kasur yang sama.


Di tempat lain.


Malik baru keluar dari ruang kerja nya.


Semenjak Argani pergi dari rumah ini, ia sering berada di ruang kerja. Bahkan Malik sudah tidak memperdulikan permintaan sang istri untuk membawa pulang Argani.


Entah apa yang di lakukan nya di ruang bawah tanah, dengan perlahan ia melangkahkan kakinya untuk segera masuk ke dalam kamar.


Setelah berada di dalam Malik langsung duduk di samping sang istri.


"Untuk apa kamu terus memegang photonya dia nggak ada gunanya toh sekarang dia bukan bagian dari anggota keluarga ini lagi, maafkan aku yang tidak mengabulkan apa yang menjadi keinginan mu. Suatu saat pasti kamu juga tahu, alasan aku melakukan ini" Malik terus berbicara.


Sedangkan Ambar tidak menjawab apapun, sebab wanita itu menutup mata.


Akhirnya Malik mengambil photo yang di pegang oleh Ambar dan ternyata malah jatuh dari tanggan Ambar sehingga kaca dari bingkai photo tersebut pecah.


Malik pun kaget lalu memanggil nama sang istri.


"Ambar... apa kamu tidur? "

__ADS_1


Malik memanggil nama sang istri sambil menepuk pipinya, akan tetapi tidak ada respon apapun dari sang istri.


Seketika Malik panik ketika tahu bahwa Ambar dalam keadaan pingsan, Malik langsung berteriak memanggil Adnan.


Hingga pada akhir nya putra sulung pun datang menghampiri mereka.


"Ada apa Pa...? Mama kenapa ini" tanya Adnan terhadap sang Ayah yang sedang menggenggam tangan Ambar.


Adnan sangat kaget melihat keadaan sang Mama seperti itu.


"Cepat panggil ambulan, Mama mu pingsan harus segera di bawa ke rumah sakit" perintah sang Papa dengan raut wajah yang panik.


Adnan langsung menghubungi ambulan.


Setelah menunggu beberapa saat akhirnya ambulan datang, dengan gerakan cepat Adnan langsung mengendong sang Mama untuk segera di bawa ke rumah sakit menggunakan kendaraan rumah sakit itu.


Dengan setia Malik duduk di samping sang istri sambil terus mengenggam nya.


Kendaraan melaju dengan kecepatan tinggi, membelah meramaikan kota.


Perjalanan mereka sudah cukup lama hingga sudah sampai di tempat yang di tuju.


Pihak rumah sakit langsung menangani Ambar, pemeriksaan pun sudah di lakukan.


Ketegangan pun di rasakan oleh Malik, begitu juga dengan Adnan.


Selama pemeriksaan ia terus khawatir.


Setelah berepa saat salah satu perawat keluar dari ruang Unit gawat darurat.


"Keluarga Nyonya Ambar di tunggu di ruang dokter? " panggil perawat itu.


Akhirnya Malik pun berdiri begitu juga dengan Adnan.


"Saya suami nya sus, bagaimana keadaan istri saya? " tanya Malik terhadap suster.


"Nanti dokter yang akan menjelaskan nya, mari...! " ajak suster itu untuk segera menemui dokter yang menangani Ambar pada saat ini.


Setelah beberapa saat mereka sudah berada di ruang dokter.


Malik dan Adnan di persilakan untuk duduk di tempat yang sudah di sediakan.


"Bagaimana keadaan istri saya, dok? " tanya Malik terhadap dokter yang ada di hadapan nya pada saat ini.


"Keadaan istri anda sangat keritis, seperti nya ada masalah dengan jantung nya. Kita melakukan beberapa pemeriksaan dan hasilnya besok baru keluar, jika sudah selesai pemeriksaan dan hasil nya memang ada masalah dengan jantung nya Nyonya Ambar kita akan segera melakukan tindakan operasi" dokter menjelaskan apa yang terjadi dengan Ambar pada saat ini.


"Lakukan apapun yang terbaik untuk istri saya" jawab Malik.


"Kami akan berusaha semaksimal mungkin, dan untuk saat ini Nyonya Ambar akan di pindah ke ruang ICU, sebab ia harus mendapatkan pengawasan yang ketat dari pihak kami" kata dokter.


"Kami serahkan semuanya pada tim kesehatan,yang terpenting demi kebaikan istri saya" jawab Malik dengan raut wajah yang sangat sedih.


Adnan yang berada di samping sang Papa juga ikut merasakan kesedihan sama seperti sang Papa.


"Baiklah kita tunggu sampai besok perkembangan nya, Tuan bisa melihat nya di ruang ICU tapi bergantian" kata dokter.


"Ya sudah dok, kalau begitu kami permisi dulu"


"Jangan berhenti mendoakan nya karena hanya kuasa Tuhan yang bisa mengubah segala nya" ucap dokter sambil menatap lekat wajah Malik yang terlihat sangat sedih.

__ADS_1


Akhirnya Malik dan Adnan keluar dari ruangan dokter.


Dengan langkah yang lesu.


__ADS_2