
"Kau....! " kata Argani dengan raut wajah yang sangat kaget.
Betapa terkejutnya, saat melihat orang yang sekarang sudah berdiri di hadapan nya. Baru saja emosinya mereda datang lagi orang yang suka memancing amarah nya, Starla dan Alfi tifak beda jauh. Mereka dua orang yang memiliki sifat yang sama.
"Owhh ternyata kalian ada di sini juga, nggak pantas dia makan di tempat ini" kata Starla dengan nada bicara sinisnya.
"Karena tidak pantas makanya, kami akan segera pulang... silakan nikmati makan makamnya semoga menyenangkan...tempat ini memang di khususkan untuk orang kaya seperti mu, mana bisa orang seperti ku membayar makan yang sangat mahal, mungkin hasil kerja ku selama sepuluh tahun saja nggak akan bisa membayarnya" sarkas Argani, ia sengaja berbicara seperti itu.
Farwa dan Faklan diam saja tanpa memberikan komentar apapun, sebab Faklan juga sadar diri bahwa ia tidak sekaya Argani. Bahkan ia juga sadar diri, jika saja ia tidak kenal dengan Argani dan memberikan nya pekerjaan yang layak. Mungkin tidak akan bisa menikmati kemewahan yang sekarang ia nikmati. Akan tetapi Faklan juga orang yang pandai menabung, selama bekerja bersama Argani ia sudah mampu membeli rumah.
"Ayok kita pulang sekarang, sayang... kita orang miskin kata mereka juga nggak pantas! " Argani mengajak Farwa untuk segera pulang, akhirnya mereka semua masuk ke dalam kendaraan. Meninggal Starla yang masih berdiri, ia tidak menyangka bahwa Argani akan berbicara seperti itu.
Starla yang mendengar Argani berkata seperti itu merasa kesal, ia tidak mampu memancing emosi Argani pada saat ini. Starla mengepalkan tangannya dengan sorot mata tajam, melihat ke arah Argani yang sudah masuk ke dalam kendaraan nya.
Setelah ini Starla langsung masuk ke dalam gedung sambil menghentakkan kakinya, sungguh ia yang merasa jengkel sendiri dengan pemandangan yang baru saja di liatnya.
Setelah berada di dalam kendaraan, Argani menyalakan kendaraan nya lalu menginjak gas dengan perlahan. Kali ini ia mengendarai mobil dengan kecepatan sedang ia tidak ingin membuat sang istri merasakan ketakutan akibat kendaraan yang di tumpangi melaju dengan kecepatan tinggi.
"Bisa antarkan aku pulang terlebih dahulu? kebetulan rumah kita kan satu arah, repot jika harus bolak-bakik. Lagu Kakak ipar belum pernah kan mampir ke rumah ku" kata Faklan terhadap Argani, lalu melirik ke arah Farwa.
Dan perempuan itu hanya tersenyum tipis, sudah terlalu pusing dengan drama yang di saksikan nya hari ini.
"Baiklah" jawab Argani dengan santainya.
Waktu bergulir begitu cepat, Akhirnya kendaraan yang mereka tumpangi sudah sampai di depan rumah yang sangat sederhana.
"Terimakasih banyak, sudah mengantarku pulang. Kakak ipar mau mampir terlebih dahulu! " ajak Faklan terhadap Farwa.
__ADS_1
"Iya, terimakasih banyak lain kali saja. Ini sudah malam ingin segera cepat istirahat" jawab Farwa dengan nada bicara lembut nya.
"Baiklah, aku permisi. Hati-hati jangan ngebut bawa mobilnya, kasian Kakak ipar nanti jantungan" ucap Faklan sambil nenepuk bahu Argani.
"Tenang, aku akan sangat hati-hati menjalankan kendaraan nya"
Setelah Faklan keluar, akhirnya Argani melajukan kendaraan nya dengan perlahan.
Waktu bergulir begitu cepat, Argani dan Farwa sudah sampai di rumah. Ia turun terlebih dahulu lalu membuka pintu sampai dan mempersilakan sang istri untuk segera turun. Lalu mereka berdua berjalan perlahan masuk ke dalam rumah.
Setelah sampai di dalam ada sang Mama sedang duduk di ruang tengah, kebetulan untuk masuk ke kamar harus melewati ruangan tersebut.
"Ke kamar saja dulu nanti aku nyusul! " ucap Argani terhadap sang istri.
Farwa tanpa berkata apapun, ia terus melangkahkan kakinya untuk segera masuk ke dalam kamar.
"Mama lagi ngapain ko duduk sendirian, emng nya Papa belum pulang? " tanya Argani terhadap sang Mama.
"Mama pikir kamu sudah lupa untuk pulang" jawab Argani.
"Ma... Farwa sakit dia baru di perbolehkan pulang oleh dokter, tadi malam terpaksa harus di rawat" kata Argani memberi tahu sang Mama agar tidak salah paham dengan apa yang terjadi.
"Pasti perempuan itu sengaja agar mendapatkan perhatian dari kamu, iya kan! "
"Nggak begitu, Mama... benar Farwa sakit tahu sendiri Mama juga bahwa Farwa sempat pingsan juga" Argani tetap membela sang istri.
"Sudah lah memang sekarang kamu sudah tidak ada waktu lagi untuk Mama"
__ADS_1
"Nggak seperti itu juga, Ma... oh iya tadi aku ketemu dengan Alfi dia berkata kalau orang ingin mengetahui bahwa aku sudah menikah dan mengumumkan pada dunia bahwa Farwa itu istriku. Maka kita harus mengadakan resepsi pernikahan, biar mereka tidak menganggap ku kumpul kebo bersama Farwa" kata Argani sambil menatap lekat wajah sang Mama.
"Jangan gila kamu, mana setuju Papa mu mengadakan resepsi seperti itu. Itu sama saja menjatuhkan harga diri di hadapan semua orang"
"Ma... aku ingin dunia mengenal Farwa bahwa dia itu istri ku yang paling aku sayang. Mama ngerti kan! "
"Pokoknya Mama tidak setuju apa yang kamu mau, sudah pasti Papamu juga tidak akan pernah setuju dengan permintaan mu" jawab sang Mama.
"Ayolah, Ma... ini permintaan terakhir ku, setelah ini aku tidak meminta apapun lagi. Aku hanya ingin mereka semua tahu bahwa Farwa itu istriku, tidak ingin satu orang pun berkata buruk tentang nya" kata Argani dengan nada bicara penuh permohonan.
"Pusing Mama dengan permintaan mu, bagaimana nanti membujuk Ayah mu untuk setuju dengan hal ini. Sulit sekali untuk mendapatkan ijin darinya"
"Mama pasti bisa, Aku yakin... pokoknya sayang banget sama Mama" kata Argani merayu sang Mama.
"Sudah lah pergi sana, Mama mau istirahat. Papa mu juga entah kapan pulang nya, pas tadi di telepon juga bilang nya masih banyak pekerjaan" jawab sang Mama.
"Ya sudah, kalau begitu Aku pergi ke kamar dulu. Jangan lupa Mama juga istirahat yah" kata Argani terhadap sang Mama.
Setelah berkata seperti itu, Argani langsung pergi meninggalkan sang Mama, yang masih berada di ruang tengah.
Setelah beberapa saat Argani sudah berada di dalam kamar, ia mencari keberadaan sang istri yang tidak terlihat. Ia cari di kamar mandi dan di sana juga tidak di temukan.
"Sayang...kamu di mana? " Argani terus manggil nama sang istri, akan tetapi tidak ada jawban sedikit puk dari sang istri.
Argani pergi ke luar kamar untuk melihat sang isrti ada atau tidak di balkon, biasa perempuan itu suka duduk di sana sambil menatap indah nya malam yang di terangi sinar bulan, setelah berada di luar ternyata tidak ada di sana.
Argani akan segera turun dan mencari keberadaan sang istri, baru akan melangkahkan kaki terlihat seseorang sedang berdiri di ambang pintu.
__ADS_1