
Waktu bergulir cepat, Radit sudah sampai di depan rumah mewah. Ia melangkah kan kakinya dengan cepat untuk segera masuk ke dalam rumah, seperti biasa ia langsung masuk ke sebuah ruangan yang selalu menjadi tempat mereka untuk membicarakan sesuatu.
Setelah beberapa saat, Radit sudah berada di dalam ruangan lalu menjatuhkan tubuhnya di atas sofa yang ada di ruangan tersebut.
Hadi, sang kakak sedang duduk santai menikmati secangkir teh manis.
"Kak, apa maksudnya bertemu dengan nya? " tanya Radit terhadap sang Kakak.
"Pas tadi di tempat nya Fatimah, aku baru saja mau ke luar dia datang. Tapi seperti nya dia melihat ku makannya aku buru-buru keluar, agar tidak berpapasan dengan nya. Bisa ribet masalah nya kalau sampai bertemu dengan nya" jawab Hadi sambil menatap lekat wajah sang adik.
"Bisa nggak sih, kalau keluar itu jangan menunjukkan wajah asli mu. Walaupun tidak seperti aku, setidaknya mengubah sedikit penampilan mu"
"Ini penampilan ku sudah berubah, bahkan terlihat seperti kakek-kakek dengan rambut yang di penuhi uban. Dan tongkat ini, seolah aku seorang lansia yang sudah penyakitan ke mana-mana harus bawa tongkat itu" jawab Hadi.
"Sekarang kita harus lebih hati-hati, soalnya dia sudah mulai curiga. Jangan sampai dia mengetahui di saat semuanya belum siap" kata Radit sambil menarik nafas panjang.
"Kak, pembangunan hotel itu akan menghabiskan waktu berapa lama? " tanya Radit sambil me lirik ke arah sang kakak.
"Mungkin butuh waktu satu tahun, atau bahkan lebih. Tergantung para pekerja, kalau memang mereka cekatan biasanya selesai sebelum satu tahun"
"Aku ingin acara peresmian hotel sekaligus ulang tahun ku di adakan di sana dan anak-anak dari panti juga" kata Radit.
"Seperti nya kalau pas ulang tahun mu sudah selesai, dan kamu jangan sering-sering datang ke rumah ini dan menggunakan mobil mewah. Mulai besok kamu kembali ke aktifitas di toko sembako bersama mereka setiap hari, mungkin itu akan lebih baik tanpa ada yang curiga. Sepertinya karyawan toko juga sudah mulai curiga, jadi cari jalan aman saja" kata Hadi.
"Mulai saat ini dan beberapa hari ke depan aku nggak akan pulang ke rumah ini, dan kamu juga jangan panggil-panggil aku lagi. Kita hidup masing-masing saja, oh iya bagaimana kabar nya Mayang seperti nya dia suka sama kakak. Tapi aku sih setuju, mau sampai kapan Kakak sendiri seperti ini" kata Radit sambil menatap lekat wajah sang kakak yang sudah mulai keriput, karena jarak usia mereka juga lumayan jauh.
Banyak orang juga yang berkata bahwa Radit itu anaknya Hadi, padahal mereka itu kakak adik.
"Mayang itu perempuan yang sangat cantik, pintar dan pekerja keras masih gadis pula, bagaimana bisa dia mau di ajak nikah sama duda karatan macam aku" jawab Hadi.
"Kan belum mencoba nya, mana tahu perasaan orang itu seperti apa. Berusaha sedikit untuk kebagian mu, nggak mungkin juga Kakak akan terus hidup sendiri " kata Radit.
"Iya, akan tetapi aku takut akan gagal lagi. Aku sempat berfikir bahwa perempuan itu sama saja, nggak akan ada yang seperti ibu yang menyayangi kita tanpa pamrih" jawab Hadi.
Seketika ia teringat akan sang Ibu, sekarang ia hanya tinggal berdua bersama sang adik. Tidak ada lagi anggota keluarga mereka.
"Nggak ada salahnya juga mencoba, bagaimana tahu sifat seseorang kalau kita dekat saja nggak. Sifat asli terlihat itu karena kita sering bersama, semoga dia orang yang tepat untuk mendampingi Kakak. Kalau menurut ku, Mayang itu orang yang baik dan bukan sifat dia kalau ingin harta. Lagian keluarga nya juga punya banyak perusahaan kenapa dia mau bekerja di kantor kamu, kalau orang bukan pekerja keras sudah pasti lebih memilih bekerja di tempat orang tuanya dan mempunyai jabatan tinggi. Ini bekerja dengan mu hanya sebagai karyawan biasa, sebagai pengawas lapangan lagi. Kalau di pikir gaji sama kerja kerasnya nggak seimbang"
"Halah kamu itu tahu apa, urus saja kehidupan kamu yang bener. Sudah kamu pulang sana, nanti si Rahmat nyariin terus banyak tanya lagi! "
"Sudah kalau begitu aku pulang, awas kalau keluar dengan wajah aslimu! " ancam Radit.
"Mana bisa aku ketemu sama bu Fatimah dengan wajah seperti kamu, dia kenal aku juga dari waktu aku masih di kandungan ibu. Yang ada dia kaget jika datang dengan wajah yang berbeda" jawab Hadi.
Akhirnya Radit pun memutuskan untuk segera pulang ke rumah kontrakan milik nya, yang tidak jauh dari toko sembako.
Untuk sampai di sana, ia membutuhkan waktu yang lumayan lama.
Radit pulang dengan menggunakan motor yang sudah tua, akan tetapi kendaraan itu yang selalu mengingatkan nya terhadap kehidupan di masa lalu.
Radit menikmati perjalanan di malam hari, angin malam sudah mampu menembus hingga ke tulang. Akan tetapi itu tidak membuat Radit merasakan kedinginan. Sepanjang perjalanan ia terus berfikir, apakah rencana yang sudah tersusun akan berjalan dengan lancar atau tidak.
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan lama, akhirnya ia sudah sampai di rumah kontrakan miliknya.
"Ngapain kamu ada di sini? " tanya Radit terhadap rahmat.
"Mau nganterin kunci toko" jawab Rahmat dengan santainya.
"Kenapa harus di anterin, biasanya juga di pegang sama kamu. Bikin kerjaan aja, bukan nya langsung pulang istirahat malah di sini nungguin orang nggak tahu kapan pulang nya. Bagaimana kalau saya nggak pulang? mau duduk di situ sampai pagi" Radit kesal dengan kehadiran Rahmat di rumah nya.
"Gini, bos. Malam ini saya akan pulang kampung karena ibu saya sakit. Jadi besok ijin libur kerja makanya ini nganterin kunci toko sama mobil" kata Rahmat sambil menyerah kan kunci tersebut.
__ADS_1
"Terus kamu pulang naik apa? kalau mau bawa saja mobil itu, biar kamu nggak nunggu angkutan umum jadi kamu bisa cepat sampai di rumah"
"Nggak perlu, bos. Nanti besok mengantarkan sayuran pakai apa kalau motor itu susah mesti mondar-mandir nggak bisa sekaligus, biarkan saya naik angkutan umum saja' jawab Rahmat.
Padahal tujuan Radit yaitu, kalau Rahmat pulang dengan membawa Mobil pasti tidak akan lama di kampung.
Kalau seperti ini pasti akan lama dan ia juga nggak sanggup ngurusin toko, apalagi di tambah pekerjaan yang lain.
Bisa-bisa dia ubanan mendadak.
" Pakai saja, nggak apa-apa repot dan mesti bolak-balik antar pesanan kan mereka di bayar dan itu pekerjaan mereka. Kalau perlu nambah karyawan lagi agar nggak keteteran kalau lagi rame" kata Radit.
"Baiklah, kalau bos maksa saya akan membawa mobil ini untuk di gunakan pulang kampung. Saya akan janji secepatnya akan segera kembali kalau keadaan ibu sudah lebih baik" jawab Rahmat.
Radit bersorak gembira di dalam hatinya.
"Ya sudah cepat berangkat! " perintah Radit.
"Terimakasih, Bos sudah meminjamkan mobil nya"
"Sama-sama, lagian kamu juga sudah banyak membantu jadi sudah sewajarnya kita saling"
Rahmat pun sudah masuk ke dalam kendaraan, lalu ia menyalakan mesinnya dan menginjak gas dengan perlahan.
Kendaraan pun melaju dengan kecepatan sedang, Radit masih berdiri di halaman rumah sambil menatap kendaraan yang dibawa oleh Rahmat.
Kendaraan pun sudah mulai menjauh, hingga pada akhirnya kendaraan itu sudah hilang dari pandangannya.
Setelah itu ia langsung melangkahkan kakinya untuk segera masuk ke dalam rumah.
Beberapa saat ia sudah berada di dalam rumah dan ia langsung masuk ke dalam kamar dengan tujuan ingin segera membersihkan tubuhnya.
Setelah selesai dengan semuanya, ia langsung naik ke atas tempat tidur lalu merebahkan tubuh nya. Dengan tujuan ia ingin tertidur dan melupakan sejenak masalah yang ada di dalam hidup nya, terlalu berat masalah yang di hadapi nya pada saat ini.
Tanpa terasa akhirnya Radit pun sudah tertidur, ia sudah mulai masuk ke alam mimpi.
...****************...
Di tempat lain.
"Sayang, aku kangen sama ibu dan Ayah. Sudah sejak lama belum pernah bertemu lagi dengan nya, besok kan akhir pekan bagaimana kalau kita ke sana! " kata Daisy dengan raut wajah yang sedih.
Sungguh ia sangat merindukan kehadiran orang-orang yang sangat ia cintai, apalagi Daisy termasuk orang yang manja.
Setelah menikah dengan Faklan, Daisy langsung ikut bersama suami.
"Apa nggak bisa akhir bulan saja! ini masih banyak pekerjaan yang harus di selesai kan, kita nggak bisa leluasa kalau pergi besok. Pasti lusa juga harus sudah kembali, nanti kamu capek lagi" jawab Faklan dengan nada bicara yang lembut.
"Kamu nggak sayang lagi sama aku" kata Daisy sambil menangis tersendu-sendu.
"Bukan seperti itu, justru aku sayang sama kamu takut kamu nya lelah jika hanya sebentar. Waktu kita di habiskan di perjalanan, kalau akhir bulan kita punya banyak waktu untuk berkumpul di sana" Faklan berkata sambil membawa sang istri ke dalam pelukan nya, di usap rambut nya dengan pelan.
Hal itu sudah membuat Daisy sangat nyaman berada di pelukan sang suami, seorang laki-laki yang sangat penyabar.
Daisy jauh banget sifat nya dari Farwa.
Daisy sususah bangun tidur, sedangkan Farwa selalu bangun tidur tepat waktu. Bahkan sarapan tiap pagi yang menyiapkan nya itu sang suami, akan tetapi bagi Faklan tidak masalah. Yang penting ia ada waktu untuk melakukan itu semua.
"Tapi aku kangen mereka, nggak bisa kalau harus menunggu akhir bulan"
"Kan bisa melakukan panggilan video, itu juga sama aja. Aku janji akhir bulan kita akan pergi ke sana dalam waktu yang lama di sana"
__ADS_1
"Aku nggak mau, pokoknya besok aku ingin bertemu sama ibu" rengek Daisy.
Faklan juga tidak bisa berbuat apapun, sebab ia sudah tahu sifat sang istri seperti apa. Kalau tidak di turuti keinginan nya pastinya akan ngambek dengan waktu yang sangat lama, sedangkan Faklan tidak bisa kalau sampai istrinya ngambek. Sudah pasti ia akan tidur di luar, sedangkan ia tidak akan bisa tidur tanpa memeluk sang istri.
"Ya sudah kalau begitu, kemasi barang-barang mu. Tapi jangan terlalu banyak, sebab kita di sana cuma sehari malam nya sudah pulang lagi ke kota ini! " kata Faklan sambil tersenyum menatap lekat wajah sang istri.
"Benar, sayang? jadi kita berangkat besok atau malam ini? " tanya Daisy dengan antusias nya.
"Kita berangkat jam tiga pagi, kemas barang yang penting saja. Setelah itu cepat istirahat, jangan sampai kamu kelelahan nantinya"
"Iya, sayang. Terimakasih banyak" kata Daisy.
Setelah itu, ia mencium pipi sang Suami bertubi-tubi.
Akhirnya Daisy turun dari atas tempat tidur, lalu ia menyiapkan apa yang akan di bawanya ke rumah orang tuanya, Daisy sudah sangat rindu dengan mereka semua.
Baginya tidak puas jika hanya menatap wajah mereka dari layar ponsel.
Untung saja ia memiliki suami pengertian dan baik, andaikan suami nya bukan Faklan entah akan menjadi seperti apa rumah tangga mereka.
Ternyata Faklan sudah menutupi kekurangan Daisy, sehingga menjadi kan keluarga yang tetap rukun. Meskipun terkadang banyak drama, di dalam rumah tangga mereka.
...****************...
Keesokan harinya.
Seperti biasa Radit akan datang ke toko ketika sudah siang, akan tetapi hari ini ia harus berangkat ketika masih pagi.
Ingin rasanya ia menutup toko, akan tetapi ia juga harus mengantar sayuran ke tempat Farwa.
Ia meminta orang yang bekerja agar segera menyiapkan pesanan Farwa, seba ia akan mengantarkan sebentar lagi. Sekarang ia mempunyai banyak tugas, ia juga harus selalu stay di toko. Akan tetapi untuk mengantarkan pesanan ke rumah Farwa ia akan melakukan nya sendiri.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya selesai sudah mereka menyiapkan barang pesanan Farwa.
Kini saatnya Radit mengantarkan pesanan ke rumah Farwa, sekalian juga ia mengobati rasa kangennya terhadap Farwa.
Ia memberikan kepercayaan, toko di jaga oleh mereka. Padahal yang mengantarkan nya juga nggak perlu Radit , kan masih ada banyak karyawan yang lain. Mengapa bos harus turun tangan.
Radit pun membawa barang belanjaan yang akan di antarkan dengan menggunakan kendaraan miliknya.
Sepanjang perjalanan Radit menikmati nya, waktu yang di butuhkan tidak terlalu lama.
Akhirnya Radit sudah sampai di tempat yang di tuju, kehadiran nya sudah di sambut oleh Yayan dan Yeyen.
"Terimakasih banyak Yah, tolong kasih sama ibu Farwa ini nota belanja nya. Itu ada kurang sepuluh ribu rupiah dari uang yng kemarin" kata Radit terhadap pelayanan yang duduk saja.
"Iya, bos. Saya akan segera sampai kan, oh iya silakan duduk dulu sambil menunggu ibu! " kata Yeyen, mempersilakan Radit untuk duduk di kursi yang sudah di sediakan.
Akan tetapi lelaki itu lebih memilih berdiri di depan motor, sambil melihat ke sekelilingnya.
Setelah beberapa saat, Farwa pun sudah kembali dan meminta Radit untuk duduk terlebih dahulu.
"Kenapa masih berdiri di situ? Ayok sini ngopi dulu! " Farwa mengajak Radit untuk duduk terlebih dahulu dan menikmati kopi buatan nya.
Radit sangat suka kopi buatan Farwa, akhirnya laki-laki itu mengikuti Farwa untuk duduk di salah satu kursi yang tidak jauh dari tempat Radit memarkirkan kendaraan nya.
Akhirnya keduanya pun ngobrol dengan serius, ternyata mereka sudah menghabiskan waktu yang sangat lama.
Radit pun berpamitan untuk segera pulang, Farwa begitu kaget saat ia menyadari motor yang di bawa oleh Radit mirip sekali dengan motor yang suka ia gunakan bersama Argani di saat mereka masih bersama.
Radit sudah menyalakan kendaraan nya, ia baru saja akan menarik gas akan tetapi jalan nya terhalang oleh kendaraan yang berhenti tepat di hadapan nya.
__ADS_1
Betapa terkejut nya Farwa ataupun Radit saat melihat orang yang datang.