
Keesokan harinya.
Farwa sudah diperbolehkan untuk pulang dari rumah sakit, sebab menurut dokter Kondisinya sudah lebih baik.
Hanya saja perlu istirahat yang cukup dan menjaga pola makannya, Argani merasa sangat bahagia Ketika istrinya diperbolehkan untuk pulang.
Farwa meminta Argani agar mengizinkan ia bertemu sang Ibu terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah, akan tetapi Argani juga belum mengiyakan apa yang menjadi permintaan sang istri itu.
Farwa pun tidak berkata apa-apa lagi selain mengatakan keinginannya untuk bertemu sang Ibu, setelah semuanya selesai mereka sudah siap untuk pulang ke rumah.
Argani berjalan terlebih dahulu untuk menyelesaikan administrasinya, sedangkan Farwa masih menunggunya.
Setelah beberapa saat semuanya sudah selesai dan Argani mengajak farwa untuk segera pulang.
Akan tetapi perempuan itu tidak beranjak sedikitpun dari duduknya.
"Ayo cepat kita pulang mau ngapain lagi di tempat ini, aku sudah tidak nyaman ada di sini di sini tempat orang-orang sakit tidak baik berlama-lama di tempat ini" ucap Argani dengan nada bicara yang sinis.
"Aku mohon izinkan bertemu dengan Ibu sebentar saja! biar aku melihat keadaannya ibu saat ini" kata Farwa dengan nada bicara penuh permohonan.
"Harus berapa kali aku berkata sama kamu kalau aku tidak boleh ya tidak boleh, Kamu itu ngerti atau tidak sih" jawab Argani dengan tatapan mata yang sangat tajam.
"Aku mohon untuk kali ini saja, biarkan aku bertemu dengan ibu" ucap Farwa dengan raut wajah yang sangat sedih.
Melihat Farwa sedih seperti itu Argani tidak tega melihat nya.
" Baiklah aku akan mengizinkanmu kali ini bertemu dengan ibumu Tetapi kamu harus memenuhi apa yang menjadi keinginanku" kata Argani sambil mengajak Farwa untuk menuju ruangan di mana ibunya dirawat.
Dngan langkah perlahan Farwa mengikuti Argani dari belakang, setelah beberapa saat akhirnya mereka sudah berada di depan ruangan di mana Zulaikha dirawat.
Dengan perlahan Farwa membuka pintu ruangan itu, setelah terbuka pintu ruang.
Betapa terkejutnya ia melihat sang ibu belum sadarkan diri, dan beberapa alat menempel di tubuhnya. Tanpa terasa air matanya sudah mengalir begitu saja ketika melihat keadaan sang ibu saat ini.
"Ibu..." kata Farwa dengan nada yang sangat lirih.
Mahad yang ada di ruangan itu melirik ke arah sumber suara, ia melirik ke arah sumber suara.
Betapa terkejutnya ketika melihat sang putri yang sangat ia rindukannya berdiri di hadapannya pada saat ini.
Ia tidak menyangka bahwa hari ini ia akan bertemu dengan Farwa yang sangat ia rindukan itu.
Farwa pun mendekat ke arah sang Ibu lalu ditatapnya lekat-lekat wajah pucat itu, air matanya terus mengalir tanpa bisa dihentika.
Mahad yang melihat Farwa seperti itu ia mendekat lalu merangkul bahu Sang Putri.
"Doakan ibumu semoga baik-baik saja, Ayah yakin ibumu wanita yang sangat kuat pasti dia bisa melewatinya" ucap Mahad sambil mengusap punggung Farwa dengan lembut, akan tetapi Malah semakin tidak kuat menahan tangis, akhirnya ia menangis di dalam dekapan sang ayah.
__ADS_1
Argani yang menyaksikan itu ia juga merasa sangat sedih melihat istrinya juga ikut sedih.
Akan tetapi egonya sangat tinggi, ia belum bisa membiarkan Farwa berbahagia dengan keluarganya, padahal Argani bisa menarik hati Farwa ketika ia bersikap tidak terlalu keras seperti ini.
" Apakah ibu baik-baik saja, Ayah?" tanya Farwa sambil menatap lekat wajah sang ayah.
"Ibumu harus segera dioperasi, akan tetapi Ayah belum punya cukup uang untuk membiayai itu semua. Jika tidak segera dilakukan operasi maka akibatnya akan fatal" kata Mahad sambil menatap wajah Zulaika yang masih belum sadarkan diri.
"Andai saja aku punya banyak uang, pastinya sudah memberikannya untuk Ayah. Agar ibu bisa sembuh" jawab Farwa dengan raut wajah yang sangat sedih.
"Ayah sudah menghubungi Bibimu, nanti siang dia akan datang kemari. Mungkin sebagian uang ada sama dia, kita akan mencari biaya tambahan untuk biaya operasi ibumu. Mungkin Ayah akan menjual mobil dan perhiasan milik ibumu, yang penting dia bisa sembuh"
" Ayah juga bisa jual perhiasan yang pernah ayah kasih untukku, barang itu masih tersimpan rapi di dalam lemari pakaianku. Mungkin itu bisa menambah nya" ucap Farwa, bahwa ia juga punya perhiasan yang dulu pernah di belikan oleh sang Ayah.
"Tidak perlu sayang...Ayah akan mencarinya terlebih dahulu atau meminjamnya kepada sahabat Ayah agar bisa mendapatkan uang itu" ucap Mahad.
Setelah cukup lama mereka berbicara tentang biaya pengobatan Zulaikha.
Akhirnya Arganipun mengajak Farwa untuk segera pulang.
"kamu sudah cukup lama berada di tempat ini, sudah saatnya kita pulang sekarang juga! " ajak Argani terhadap Farwa.
Farwa pun menatap wajah sang Ayah, dengan raut wajah yang sangat sedih. Jujur ia belum ingin meninggalkan sang ibu yang masih terbaring lemah di atas berangkar itu.
Akan tetapi Mahad memberikan isyarat terhadap Farwa untuk mengikuti apa yang dikatakan oleh Argani.
"Aku sudah memberikanmu banyak waktu untukmu di ruangan ini, lagi pulang ngapain juga kamu berlama-lama di tempat ini toh tidak bisa berbicara dengan ibumu. Nanti besok kita akan kembali lagi ke sini, sekarang waktunya kita pulang kamu juga butuh istirahat. Kalau semuanya berada di tempat ini bisa bisa sakit, jangan lupa kamu juga Ayah Mertuaku yang sangat baik kamu butuh istirahat. Tenangkan hati dan pikiranmu jangan sampai kalian semua sakit, nanti istriku sangat sedih ketika melihat kalian semua sakit" ucap Argani dengan nada bicara penuh penekanan.
"Pulang lah nak, apa yang dikatakan suamimu itu benar. Lagi pula kamu juga baru sembuh lebih baik istirahat terlebih dahulu, lagipula dia kan sudah bilang besok akan kembali ke tempat ini. Turuti apa yang dikatakan suamimu, tidak boleh menentang dia, walau bagaimanapun dia adalah suamimu saat ini yang perlu di patuhi" ucap Mahad terhadap sang putri yang sangat ia cintainya.
"Baiklah Ayah jaga dirimu baik-baik, jika Ibu sudah sadarkan diri, jangan lupa kabari aku ya. Semoga dia tidak berbohong akan kembali mengantarkan ku ke tempat ini besok" jawab Farwa sambil menatap ke arah Arganik.
"Hei Kapan aku berbohong, andai saja kamu bisa memperlakukanku dengan baik maka aku akan menuruti semua keinginanmu" jawab Argani.
"Baiklah Ayah aku permisi terlebih dahulu"ucap Farwa.
" Ayah mertua jaga diri baik-baik, kami pulang dulu " ucap Argani.
Akan tetapi perkataan Argani terdengar seperti mengejek bagi Farwa dan Mahad.
Stelah berbicara seperti Farwa langsung melangkahkan kakinya pergi keluar dari ruangan itu, meskipun dalam hatinya ia tidak ingin meninggalkan sang ibu.
Ia ingin selalu berada di dekat keluarganya, dalam keadaan apapun.
Akan tetapi sekarang keadaannya sudah berubah tidak seperti dulu lagi sekarang ia sudah memiliki suami jadi Sudah sepantasnya ia mengikuti apa yang dikatakan suaminya.
Stelah beberapa saat mereka berjalan keluar dari ruangan di mana sang Ibu dirawat, akhirnya mereka sudah sampai di tempat parkir.
__ADS_1
Faklan sudah menunggu mereka di sana, laki-laki yang berstatus sahabat dari suaminya itu selalu setia menemani Argani kemanapun pergi bahkan di rumah sakit saja ia menemaninya.
Setelah beberapa saat mereka sudah berada di tempat parkir, terlihat laki-laki itu sedang menunggu kedatangan mereka.
"Sini gua yang bawa aja mobilnya! " Argani meminta kunci mobil terhadap faklan.
Akhirnya Fakan memberikan kunci itu, dan pada akhirnya Arga nih yang mengendarai mobil tersebut.
Farwa duduk di samping sang suami yang sedang mengendarai, sepanjang perjalanan Argani terus tersenyum.
Sebab ia merasakan kebahagiaan yang sangat luar biasa, tak henti-hentinya ia tersenyum.
Setelah cukup lama di perjalanan akhirnya Argani berhenti di sebuah tempat, di mana ini adalah restoran terkenal di kota ini.
"Kenapa berhenti di tempat ini? kan masih jauh sampai di rumah? " tanya Faklan.
"Ayok turun, kita makan dulu di tempat ini... enak loh makanan nya, ayok sayang turun dulu! " ajak Argani sambil tersenyum menatap sang istri. Akan tetapi Farwa tidak merespon apapun apa yang di katakan suaminya.
"Yuk kakak ipar kita makan dulu! " Faklan pun mengajak Farwa untuk turun terlebih dahulu.
"Aku tidak lapar" jawab Farwa.
"Kak, lebih baik ikuti apa yang di katakan suami mu jika ingin dia bersikap baik terhadap dirimu" kata Faklan.
Akhirnya Farwa turun dari kendaraan lalu berjalan mengikuti sang suami untuk masuk ke dalam restoran yang sangat mewah itu, ini pertama kalinya Farwa masuk ke tempat ini. Sebab selama hidupnya ia hanya menikmati masakan sang ibu, bahkan ke kampus saja ia membawa bekal dari rumah.
Setelah beberapa saat mereka sudah berada di dalam dan memesan menu makanan yang tersedia di sini, Farwa sama sekali tidak tertarik untuk menikmati makan nya. Ia masih kepikiran dengan keadaan sang ibu, bagaimana bisa ia bisa makan dengan anak. Sedangkan sang ibu sedang berjuang melawan maut, pikiran nya masih fokus terhadap kesehatan ibunya.
Akhirnya makan yang di pesan sudah tersaji.
"Ayok makan lah, ini sangat enak! " kata Argani sambil menyuapkan makan ke mulutnya.
Faklan juga tanpa berkata Apapun ia menikmati nya, akan tetapi Farwa hanya menatap makanan yang ada di hadapan nya pada saat ini.
Argani menghentikan makannya lalu menatap lekat wajah sang istri.
"Makan jangan di liatin saja, bagaimana kalau sakit lagi bikin repot semua orang. Terus buang-buang uang ku saja untuk biaya pengobatan mu" kata Argani dengan nada bicara penuh penekanan.
Farwa merasa kesal dengan apa yang di ucapkan oleh Argani.
"Aku tidak meminta mu untuk membawa ku ke rumah sakit, jadi itu salah mu kenapa juga harus di bawa ke sana. Lagi pula aku tidak mau di obati lebih baik mati daripada harus hidup bersama orang seperti kamu! " jawab Farwa.
"Bisa diam tidak? ini kita lagi makan nggak baik loh, kalian nikmati makan nya. Tidak ada gunanya juga kalian pada keras kepala, lebih baik ada yang mengalah salah satu di antara kalian toh itu juga demi kebaikan kalian berdua. Mengalah bukan berarti kalah, itu juga tidak membuat kita menjadi lemah" kata Faklan.
Akhirnya Farwa dan Argani diam, mereka tidak berkata apapun.
Di saat mereka saling diam ada seseorang yang datang lalu berkata.
__ADS_1
"Perempuan seperti dia tidak pantas berada di tempat ini, nggak pantas! " kata orang tersebut dengan nada bicara penuh penekanan.