Gadis Manis Penakluk Hati Tuan Kejam.

Gadis Manis Penakluk Hati Tuan Kejam.
Bab 63


__ADS_3

Di tempat lain.


Alfi dan Starla sedang menunggu seseorang yang akan bekerja sama dengan mereka.


Mereka sudah menunggu cukup lama sehingga Starla merasa bosan, ia juga berpamitan terhadap suaminya hanya sebentar.


Sebab ia meninggalkan ibu mertua nya yang sedang terbaring sakit, sang suami pun mengijinkan yang penting jangan terlalu lama.


Sudah satu jam menunggu, akan tetapi orang tesebut belum datang juga.


Starla sudah mulai gelisah, karena ia juga takut terhadap suaminya jika harus telat datang.


"Kemana sih orang itu, mengapa lama sekali. Kalau masih lama biarkan aku pulang saja, nggak enak meninggalkan Mama dalam keadaan sakit seperti itu" kata Starla terhadap Alfi.


"Ngomong nya sih sebentar lagi, mungkin jalan nya macet makanya terlambat untuk datang" jawab Alfi.


"Ya sudah aku tunggu lima belas menit lagi, kalau belum sampai juga. Maka perempuan ini batal, kita atur waktu lagi untuk membicarakan hal ini. Sebab ini kesempatan ku untuk membuktikan pada mertua ku, bahwa hanya aku yang pantas menjadi menantu di keluarga Malik" ucap Starla.


"Tentunya aku juga calon menantu idaman " jawab Alfi.


Di saat mereka sedang berbicara, dengan rasa kesal terhadap orang yang mereka tunggu.


Akhirnya terdengar suara laki-laki yang mereka tunggu cukup lama.


"Maaf terlambat! "


"Maaf katamu, aku sudah menunggu lebih dari satu jam. Kamu pikir siapa sehingga berani membiarkan aku menunggu mu" kata Starla dengan nada bicara tinggi.


"Sudah, jangan marah" jawab Alfi sambil menatap wajah Starla.


"Silakan duduk! " Alfi pun mempersilakan orang tersebut untuk duduk di kursi yang berhadapan dengan mereka.


"Katakan apa yang membuat kalian ingin bertemu dengan ku, bukanlah aku musuh keluarga Malik. Aku pernah menembak Argani hampir mati, apa kalian ingin aku menembak nya lagi? " tanya Marwan terhadap dua perempuan yang berada di hadapan nya pada saat ini.


"Aku ingin kamu terus dekati Farwa, agar Argani tidak nyaman dengan kedekatan kalian. Kalau perlu buat lah sesuatu di mana kamu dan Farwa seperti selingkuh, agar Argani langsung mencerahkan perempuan itu. Aku akan membuat mu bertemu dengan Farwa setiap hari, sehingga kalian mempunyai waktu untuk bersama sepanjang hari. Aku akan memberikan imbalan yang cukup menjanjikan untuk itu, kamu bisa bekerja di perusahaan yang terkenal di kota ini dan bisa bertemu Farwa setiap saat. Kamu sangat mencintai nya bukan? " Alfi menjelaskan semuanya.


Bahwa mereka ingin bekerja sama dengan Marwan untuk memisahkan Argani dengan Farwa.


"Selain bekerja di tempat itu, apa keuntungan lain yang aku dapat kan? " tanya Marwan terhadap dua perempuan yang sedang berbicara dengan nya.


"Keuntungan lainnya ya kamu bisa bersama Farwa" kata Starla dengan judes.


"Kalau aku tidak mau bagaimana, soalnya kerjasama ini kurang menguntungkan. Pergi ke kantor setiap hari harus menggunakan mobil akan tetapi aku tidak memiliki itu, kalau menggunakan sepedah motor aku malas kena sinar matahari atau hujan. Lagian itu juga salah satu cara untuk menarik perhatian Farwa" jawab Marwan.


"Dasar matre, belum juga berhasil dengan tugas kamu sudah meminta pasilitas" Starla mengepalkan tangannya, ia kesal dengan jawaban Marwan.


"Ya sudah kalau tidak mau, lagian aku juga tidak tertarik bekerja sama dengan kalian" jawab Marwan lalu ia bangkit dari duduknya dengan tujuan akan pergi meninggalkan mereka.


Akan tetapi Alfi menghentikan nya.


"Tenang dulu, silakan duduk kembali! " kata Alfi mempersilakan Marwan untuk duduk kembali.

__ADS_1


"Ok"


Akhirnya Malwar pun duduk kembali.


"Aku akan memberikan apa yang kamu mau, lusa kamu harus segera datang ke perusahaan itu untuk melamar pekerjaan. Dan aku sudah mengatur semuanya, kendaraan akan aku berikan setelah kamu bekerja di kantor itu" Alfi menyetujui apa yang di inginkan Malwar.


"Selain kendaraan aku juga ingin uang untuk membeli bahan bakar dan uang makan, sebab itu semua sangat di butuh kan" Marwan menambah lagi syarat nya.


"Astaga, mengapa banyak sekali permintaan nya. Kamu itu mau bekerja sama atau memeras kami" jawab Starla.


"Ya sudah aku akan memberikan apa yang kamu mau, akan tetapi kamu harus bisa membuat Argani membenci Farwa atas kedekatan kalian" Alfi menyetujui apa yang menjadi keinginan Marwan.


"Nah begitu dong, kalian kan yang butuh aku. Sudah seharusnya memenuhi apa yang menjadi keinginan ku" jawab Marwan.


"Ok kalau begitu kita sepakat ya, kerja sama di mulai" kata Alfi mengajak Marwan bersalaman.


"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu" kata Marwan sambil bangkit dari duduknya, lalu pergi begitu saja meninggalkan tempat itu.


Setelah Marwan pergi tinggal mereka berdua, Starla merasa kesal dengan Alfi. Menyetujui syarat yang di berikan oleh Malwar begitu saja.


"Kamu gila atau apa, segampang itu menyetujui syarat yang di berikannya" kata Starla sambil menatap tajam Alfi.


"Shut, jangan berisik... Uang kita banget, nggak akan bangkrut hanya untuk membelikan nya mobil"


"Tapi aku tidak setuju" kata Starla.


"Sudah lah, mari kita pulang...aku juga ingin menemani ibu mertua ku yang sedang sakit" ucap Alfi sambil bangkit dari duduknya.


Ia mengajak Starla untuk segera pergi dari tempat ini.


Operasi Ambar sudah selesai di lakukan, akan tetapi perempuan itu belum sadar kan diri.


Hal itu membuat Malik dan Adnan semakin khawatir dengan keadaan nya pada saat ini.


Kedua nya masih duduk di bangku yang ada di depan ruangan.


"Pa...lebih baik pulang dulu, biarkan aku yang menjaga Mama. Kalau Papa ikut sakit bagaimana, pasti Mama juga sedih melihat Papa seperti ini! " kata Adnan sambil menatap lekat wajah sang Papa yang terlihat begitu khawatir.


"Apa katamu, pulang... Bagaimana bisa aku membiarkan nya tinggal di sini sendirian dalam kesakitan sedangkan aku di rumah" jawab Malik.


"Bukan seperti itu, Pa.. Aku tidak ingin Papa sakit" kata Adnan dengan nada bicara yang lembutkan.


Di saat Malik dan Adnan saling diam.


Datanglah Starla dan Alfi, lalu Starla duduk di samping sang mertua.


Ia juga sudah memasang wajah sedihnya di hadapan suami dan mertua.


"Pa... Makan dulu yah, aku bawakan makan kesukaan Papa! " kata Starla sambil menyerahkan kotak yang berisi makanan.


"Aku tidak lapar, simpan saja" jawab Malik sambil bangkit dari duduknya lalu ia pergi meninggalkan anak dan menantunya yang berada di ruang tunggu.

__ADS_1


Malik masuk ke dalam ruangan di mana sang istri belum sadarkan diri, alat-alat media menempel di tubuh Ambar.


Hanya suara monitor yang berbunyi di samping sang istri, Malik menatap lekat wajah istri dengan kesedihan.


Ia tidak membayangkan sebelum nya jika hal ini akan terjadi pada istrinya.


Lalu ia duduk di kursi yang ada di sisi ranjang sang istri, di tataplah wajah pucat itu.


"Aku pikir selama ini aku orang yang kuat dan tidak pernah menangis dan menundukkan kepala di hadapan siapa pun, hari ini kamu sudah berhasil membuat ku menangis. Dan Aku juga menunduk pada Tuhan itu semua ku lakukan demi kesembuhan mu, bagaimana bisa aku tanpa kamu, selama tiga puluh tahun kita melewati nya bersama. Ayolah bangun, jangan hukum aku dengan cara seperti ini" kata Malik sambil terus menatap wajah istrinya.


Ia rasanya enggan untuk beranjak dari sisi sang istri, berapa sayang nya Malik terhadap Ambar.


Di saat ia masih setia menunggu sang istri tiba-tiba ada perawat yang datang menghampiri nya.


"Tuan, di tunggu di ruang dokter sekarang, ada hal yang perlu di bicarakan" kata seorang perawat terhadap Malik.


"Baiklah terimakasih, Aku akan segera pergi ke sana? "


Akhirnya perawat itu pergi meninggalkan Malik.


Setelah perawat itu pergi, lalu ia bangkit dari duduknya lalu keluar dari ruangan sang istri untuk segera ke ruang dokter.


Di luar ada Adnan, melihat sang Papa keluar ia langsung bangkit dan bertanya terhadap sang Papa.


"Pa... bagaimana keadaan Mama? " tanya Adnan.


"Masih seperti biasa" jawab Malik singkat.


Lalu pergi begitu saja meninggal kan Adnan, akan tetapi Adnan langsung mengikuti sang Ayah untuk segera pergi menemui dokter.


Setelah beberapa saat akhirnya Malik sudah berada di ruang dokter, mereka duduk berhadapan dengan dokter yang sedang memegang sebuah kertas.


"Apa ada masalah dengan perkembangan istri saya? " tanya Malik terhadap Dokter yang berada di hadapan nya pada saat ini.


"Keadaan Nyonya Ambar masih keritis, kita liat dalam waktu dua puluh empat jam. Jika setelah itu stabil maka kemungkinan besar akan sembuh" jawab dokter.


Di saat mereka sedang berbicara ponsel terus berdering.


Malik yang terganggu dengan dering ponsel, ia langsung mengambil dari saku terus di serahkan terhadap Adnan yang duduk di samping nya.


"Ini ponsel Mama mu, liat siapa yang menghubungi terus menerus! " kata Malik sambil menyerahkan ponsel itu tanpa di liat terlebih dahulu.


Betapa terkejut nya Adnan saat menatap layar ponsel dan nama Argani yang tertera di sana.


Akan tetapi Adnan tidak berani menjawab di hadapan sang Papa, akhirnya ia panggilan pun tidak di jawab.


Hanya nada dering yang di ubah ke senyap, sehingga tidak menimbulkan suara.


Tiba-tiba pintu ruangan terbuka.


"Dok, keadaan Pasien semakin kritis" kata perawat itu.

__ADS_1


Betapa terkejutnya dokter dan Orang yang ada di ruangan tersebut.


Tanpa berkata apapun terhadap Malik, dokter lngsung keluar dari ruangan dengan berlari untuk segera menuju ruangan Ambar.


__ADS_2