Gadis Manis Penakluk Hati Tuan Kejam.

Gadis Manis Penakluk Hati Tuan Kejam.
Bab 107


__ADS_3

Mahad dan Hadi masih berada di sebuah ruangan, mereka masih membicarakan tentang apa yang terjadi di masa lalu. Sehingga ia memiliki ide untuk membuat laporan palsu atas meninggalnya Argani.


"Apa pada saat itu kamu memikirkan akibatnya dengan apa yng di lakukan, sekarang kamu tahu kan bahwa Argani tidak mampu mengingat apapun yang berhubungan dengan masa lalunya. Apakah kamu tidak kasihan dengan nya? " tanya Mahad sambil menatap lekat wajah Hadi, yang terlihat menyesal dengan apa yang telah di lakukan nya.


"Pada saat itu, aku hanya berfikir bagaimana caranya menyelamatkan Farwa dari kejahatan Papa dan itu cara satu-satunya dan aku juga tidak pernah berfikir bahwa Papa akan mengakhiri hidupnya setelah itu. Pada saat itu aku sempat berfikir akan mengakhiri semua nya, akan tetapi aku tidak siap dengan kemarahan Argani makanya aku terus melanjutkan rencana itu sampai sekarang" jawab Hadi.


"Jika hal ini tidak terbongkar, apakah kamu tidak akan pernah mengakhiri semua? pernah berfikir nggak bahwa ada anak kecil yang sangat merindukan sosok ayah? "


"Aku tahu salah, bahkan kalian tidak ada hak untuk memaafkan saya" jawab Hadi dengan nada bicara penuh permohonan.


"Antara memaafkan atau tidak! itu bukan urusan saya, sebab setiap perbuatan buruk akan mendapatkan balas nya. Jika kamu ingin memperbaiki nya, maka minta maaflah terhadap Farwa dan Argani karena di sini korban nya itu mereka! " kata Mahad dengan nada bicara pelan.


"Aku akan meminta maaf terhadap mereka dan membuat mereka bersama lagi, tapi nanti setelah anak mereka keluar dari rumah sakit. Aku minta maaf, Paman? " kata Hadi untuk yang kesekian kalinya.


"Sudah lah, saya ucapkan terimakasih banyak kamu telah mau bercerita dan jujur dengan semua yang terjadi di masa lalu. Tapi saya kecewa dengan apa yang kamu lakukan, semoga Farwa dan Argani mampu memaafkan mu dan menganggap ini semua bagian dari takdir Tuhan yang harus mereka terima. Sudah terlalu lama saya di sini, saat nya pamit undur diri. Pasti mereka juga khawatir dengan menghilang nya saya tiba-tiba" kata Mahad.


"Iya, Paman. Biar saya yang mengantarkan nya untuk pulang sekaligus mau minta maaf sama semuanya, telah membawa Paman ke tempat ini" jawab Hadi.


"Nggak perlu, biar saya pulang sendiri saja. Takut ada pekerjaan, jadi biarkan saya pulang sendiri! " setelah berbicara seperti itu, Mahad langsung bangkit dari duduknya lalu melangkahkan kakinya dengan perlahan untuk keluar dari sebuah ruangan yang baru saja di liatnya.


Setelah kepergian, Mahad. Hadi menarik nafas panjang, ia sadar bahwa ini semua adalah kesalahan nya. Akan tetapi meskipun ia menyesali semua waktu tidak bisa di ulang kembali.


Ia terus merenung dengan apa yang telah di perbuatannya, ia bangkit dari duduknya lalu berjalan perlahan untuk mendekat ke arah gambar yang menempel di dinding. Di sana terlihat photo kelurga mereka di saat masih utuh.


"Ma, Pak, maafkan aku yang telah melakukan ini semua. Andaikan Mama masih hidup waktu itu mungkin aku juga tidak tersesat seperti ini, bahkan kematian Papa juga itu akibat dari kesalahan ku. Sungguh pada saat itu hanya ingin melindungi Farwa dan bayinya dari dari kejahatan Papa. Maaf, Ma... aku belum bisa menjadi anak yang membanggakan orang tua" batin Hadi sambil menatap gambar yang ada di hadapan nya, tanpa terasa air mata sudah memenuhi pelupuk matanya.


Setelah cukup lama Hadi terus berdiri sambil menatap gambar tersebut, ia melangkah kan kakinya untuk keluar dari ruangan tersebut.


Ia ingin datang ke rumah sakit di mana Argani kecil di rawat.


Hadi langsung masuk ke dalam kendaraan nya, lalu ia menyala kan mesin kendaraan dan menginjak gas dengan perlahan. Sepanjang perjalanan ia terus merenung dengan apa yang terjadi ke dalam keluarga mereka, apakah ini sebuah takdir atau ini balasan dari kejahatan yang di lakukan Papa mereka di waktu dulu. Apakah setelah ini kehidupan mereka akan lebih baik atau malah semakin hancur.


Di rumah sakit.


Farwa dan Radit sedang duduk di bangku yang ada di samping ranjang Argani kecil, mereka terus menatap wajah pucat anak tersebut.

__ADS_1


Setelah cukup lama mereka saling diam, akhirnya Farwa membuka suara.


"Lebih baik kamu pulang terlebih dahulu, terimakasih sudah membantu ku menjaga nya di sini" kata Farwa sambil tersenyum tipis.


"Aku akan menemani kalian di sini sampai, Argani pulang" jawab Radit.


Di saat mereka sedang berbicara, tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Dan ternyata orang tersebut adalah Zulaikha, dengan membawa bebrapa kantong di tangannya.


Lalu perempuan yang sudah tidak lagi muda melangkah kan kaki untuk mendekat kerah dua orang yang sedang duduk, dan orang tersebut Farwa dan Radit. Mungkin dari pagi Farwa belum makan apapun makanya Zulaikha mempunyai ide untuk membawa makan ke rumah sakit, sebab Zulaikha tadi pulang terlebih dahulu untuk mengambil barang-barang milik Argani kecil.


"Ini ibu bawa Makan, kalian makan dulu. Biar ibu yang jaga dia, jangan khawatir!" kata Zulaikha sambil menatap kedua nya secara bergantian.


Radit memberikan ruang perawatan VVIP untuk Argani kecil, meskipun awalnya Farwa menolak akan tetapi ketika Radit berkata bahwa yang di lakukan nya itu demi kenyamanan Argani kecil. Barulah Farwa mau menerima bantuan dari Radit.


Farwa membawa makan tersebut lalu duduk di salah satu tempat yang tersedia di ruangan tersebut, kebetulan ruangan nya juga sangat mewah dan lengkap Fasilitas nya.


Farwa duduk berhadapan dengan Radit, lalu Farwa menyiapkan makanan yang di bawa oleh sang ibu.


"Ayok, makan dulu! dari pagi kan kamu terus di sini, dan aku juga tidak mau nantinya kamu sakit" kata Farwa sambil mengisi piring Radit.


Farwa pun merapikan kembali peralatan yang telah di gunakan, semuanya sudah rapi kembali dan Argani kecil juga sudah terbangun dari tidurnya.


Radit mendekat ke arah Argani kecil sambil tersenyum " Hai jagoan ternyata sudah bangun, mau makan apa? apakah sekarang sudah merasa lebih baik? " tanya Radit dengan nada bicara yang pelan, ia tersenyum penuh kebahagiaan menatap wajah anak kecil itu yang sudah terlihat lebih baik.


"Aku sudah sehat, dan aku juga sangat kuat. Oh iya boleh kah aku memanggil mu Ayah? " kata Argani kecil dengan nada bicara penuh permohonan.


Permintaan Argani kecil pun terdengar oleh Farwa, lalu perempuan itu mendekat ke arah sang putra.


"Sayang jangan berkata seperti itu, panggil saja Om mungkin itu lebih baik. Nanti anaknya om Radit marah sama kamu! " kata Farwa sambil mengusap lembut kepala sang putra.


"Nggak apa-apa kok, biarkan dia memanggil ku dengan apa yang dia mau" jawab Radit sambil tersenyum.


"Bener, om. Eh Ayah... terimakasih banyak" jawab Argani kecil dengan nada bicara khas anak kecil.


Persetujuan dari Radit sudah membuat Argani kecil merasa sangat bahagia, akan tetapi Farwa tidak rela jika sang putra memanggil orang lain dengan sebutan Ayah.

__ADS_1


Akhirnya mereka semua saling diam, begitu juga dengan Zulaikha yang menyaksikan itu semua itu hanya terdiam.


Di tempat lain.


Bu Ratih mengajak Marwan untuk datang ke kantor dan memperkenalkan pada seluruh karyawan, bahwa Marwan lah pewaris dari perusahaan ini. Sebab dia adalah satu-satunya anak laki-laki di keluarga ini.


Mereka sudah berada ada di ruang meeting, dan Ratih dengan bangga nya mengatakan pada mereka semua bahwa anak nya sangat baik dan pastinya mampu memimpin perusahaan dengan baik.


"Baiklah semua, ini anak laki-laki yang selama ini saya cari dan sekarang sudah hadir kembali di kelurga kami. Dan mulai sekarang dia atasan kalian" kata Ratih sambil tersenyum menatap Marwan yang sedang berdiri gagah menyapa para karyawan. Di sini Marwan terlihat seperti orang baik, ia pintar sekali membalikkan keadaan bahkan ia pinter sekali berdrama.


"Perkenalkan nama saya Marwan, dan saya akan memimpin perusahaan ini ke depan nya, mohon bimbingan nya dari kalian semua! " kata Marwan sambil tersenyum, ia melakukan itu demi menutupi keburukannya.


Marwan ingin di pandang baik oleh seluruh karyawan, dan semua orang berbisik membicarakan Marwan ada yang memuji dan ada juga yang janggal dengan ini semua.


Semuanya menyambut hangat kedatangan putra dari pemilik perusahaan, setelah cukup lama perkenalan pun sudah selesai. Satu jam telah berlalu mereka ngobrol bersama pewaris dari perusahaan yang mereka naungi sekarang.


Semua orang keluar dari ruangan meeting, sedangkan Marwan di persilakan untuk melihat ruangan yang akan di tempat inya.


Setelah beberapa saat mereka sudah berada di dalam ruangan " sayang, semoga kamu betah yah. Ini ruangan, jika kamu kurang suka dengan desain nya tinggal di ganti saja" kata Ratih sambil tersenyum tipis sambil menatap lekat wajah Marwan.


"Aku suka, ko. Ma... mana mungkin aku nggak suka dengan desain yang Mama buat untuk keindahan ruangan ini" jawab Marwan, ia menunjukkan bahwa dirinya anak yang baik.


"Terimakasih ya sayang, sudah mau menerima Mama di dalam hidup kamu, dan maafkan juga atas apa yang terjadi di masa lalu, sehingga kamu hidup dalam kesusahan" kata Ratih dengan nada bicara penuh penyesalan.


"Nggak apa-apa, Ma...itu semua sudah berlalu. Kita lupakan masa lalu dan memulai hal yang baru, semoga kedepan nya keluarga kita hidup tenang dan bahagia. Pokoknya aku sayang Mama dalam keadaan apapun"


"Pokoknya terimakasih banyak, memang kamu anak yang sangat baik. Ya sudah kalau begitu, Mama pulang terlebih dahulu mau ngajak istri mu belanja ke luar sekaligus mengenal lingkungan di kota ini" kata Ratih sambil tersenyum tipis.


"Iya, Ma... Hati-hati di jalan, aku juga akan mempelajari ini terlebih dahulu setelah itu akan pulang cepat" jawab Marwan.


Setelah berbicara seperti itu Ratih pun melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruangan tersebut.


Ketika Ratih sudah pergi dan meninggalkan Marwan di ruangan tersebut.


"Akhirnya aku menjadi orang kaya tanpa harus bekerja keras, memang kalau sudah menjadi takdir tidak akan ke mana. Dan aku akan membalas perlakuan mereka yang pernah merendahkan ku karena orang miskin, pasti kalian akan merasakan apa yang aku rasakan. Dan untuk mu Farwa pasti kamu juga mau menjadi istri ku setelah tahu bahwa aku telah menjadi orang kaya, eh tapi belum sah secara hukum bahwa aku pemilik perusahaan ini. Harus secepatnya membujuk wanita tua itu agar segera menyerahkan surat-surat penting yang berhubungan dengan perusahaan dan aset lainnya. Dan aku juga harus secepat mungkin mengusir Mayang agar tidak mengganggu rencana saya" batin Marwan.

__ADS_1


__ADS_2