
Argani dengan gerakan cepat langsung membawa sang istri ke Rumah sakit, ia takut terjadi sesuatu dengan Farwa.
Sepanjang jalan ia merasa panik, dengan keadaan Farwa pada saat ini. Ia tidak menyangka bahwa akan terjadi hal seperti ini.
"Sayang ayolah bangu, aku janji setelah ini akan membawa mu ke rumah orang tuamu. Tapi bangun lah jangan hukum aku dengan cara seperti ini" Argani berkata dengan nada bicara penuh penyesalan, sungguh ia tidak menyangka bahwa sang istri sampai nekad tidak menyentuh makan beberapa hari.
Waktu bergulir begitu cepat, Argani sudah sampai di rumah sakit. Langsung membawa Farwa masuk ke ruang Unit gawat darurat, setelah berada di dalam Ia langsung memanggil petugas kesehatan untuk segera memeriksa keadaan istrinya. Dokter sedang memeriksa keadaan Farwa dan infus sudah di pasang ke tangan nya, tujuan nya agar memiliki tenaga. Farwa pingsan karena tidak ada makan yang masuk ke dalam perutnya, walau bagaimana pun tubuh butuh nutrisi agar tetap kuat.
"Dokter bagaimana keadaan istri saya? Apakah baik-baik saja" tanya Argani terhadap dokter yang memeriksakan keadaan Farwa.
"Istri anda memiliki riwayat darah rendah, jika merasa pusing atau tidak memperdulikan asupan makanan maka akan terjadi hal seperti ini. Apakah dia beberapa hari ini tidak makan? " tanya Dokter.
"Ia dia tidak mau makan, saya harus bagaimana agar dia cepat seperti semula"
"Sebentar lagi istri anda siuman, nanti tolong di janga asupan makanan nya yah! " pesan dokter terhadap Argani.
"Iya, Dokter terimakasih banyak"
"Jaga dia baik-baik" ucap dokter sambil mengusap bahu Argani.
Setelah cukup lama dokter memeriksa keadaan Farwa, dan mereka kembali ke tempat mereka.
Tinggal lah Argani yang sedang menunggu Farwa sadar, ia terus menggenggam tangan sang istri.
"Sayang... Ayolah sembuh jangan seperti ini" Argani berkata sambil menatap lekat wajah Farwa dengan penuh cinta.
Setelah beberapa saat, dengan perlahan Farwa membuka mata. Ia melirik ke kanan dan kiri, lalu memegang kepala nya yang masih pusing.
"Aku di mana? " kata Farwa dengan nada bicara yang lemah.
Betapa terkejutnya Argani melihat sang istri sudah sadarkan diri.
"Sayang, kamu sekarang di rumah sakit... Tadi pingsan tolong jangan banyak gerak dulu yah" kata Argani yang tidak mau melepaskan tanggan Farwa.
"Lepasin tangan mu, itu sakit ada infusnya" ucap Farwa sambil menarik tangan yang di pegang terys sama Argani.
"Iya, maaf... Makan yah aku suapin" kata Argani.
Farwa menyelengkan kepala, ia tidak mau makan.
"Ayolah sayang... Makan yah nanti kalau kamu sudah sembuh kita ke rumah Ayah" bujuk Argani.
Farwa tidak menjawab apapun ia hanya menatap lurus ke depan dengan cairan bening yang mulai mengalir dari ujung mata.
Argani tidak bisa berkata apapun melihat sang istri sedih seperti itu, ia berfikir sejenak apa ia terlalu jahat sampai merenggut kebahagiaan Farwa bersama orang tua nya. Akan tetapi ia juga sangat mencintai Farwa tidak mau jauh dari perempuan yang sudah sah menjadi istrinya.
Waktu bergulir begitu cepat, akhirnya Farwa sudah di pindah ke ruang rawat inap.
Sebab Farwa butuh istirahat untuk beberapa hari di rumah sakit.
Setelah berada di dalam ruang rawat inap, Argani masih setia duduk di samping Farwa ia tidak mau sedikit pun beranjak dari perempuan itu.
"Makan yah, sebentar lagi Faklan datang membawa makanan kesukaan mu" ucap Argani sambil tersenyum menatap wajah sang istri yang terlihat sangat pucat.
__ADS_1
Akhirnya pintu ruangan terbuka, dan ternyata itu Faklan dengan membawa paper bag di tangan nya.
Laki-laki itu berjalan perlahan mendekat ke arah ranjang pasien.
"Apa kabar kakak ipar? " tanya Faklan sambil tersenyum lalu meletakkan paper bag yang di bawanya di atas nakas.
"Baik" jawab Farwa dengan singkat.
Akhirnya Arangi menyiapkan makan ke mulut Farwa, perempuan itu menerima setiap setiap makan yang di berikan oleh suaminya. Rasa canggung pun di rasakan oleh Farwa, apalagi Faklan terus memperhatikan nya.
Di tempat lain.
Zulaikha tiba-tiba jatuh pingsan, mungkin terlalu banyak beban pikiran yang di rasakan nya. Sehingga perempuan ini tidak bisa mengontrol asupan makan, Mahad kaget dengan keadaan seperti ini ia langsung memanggil dokter. Kebetulan dokter itu rumah nya berdampingan, tidak perlu waktu yang sangat lama akhirnya dokter sudah sarang untuk memeriksa keadaan Zulaikha.
Setelah beberapa saat Zulaikha di periksa dan dokter menyadarkan agar segera di bawa ke rumah sakit untuk melakukan tindakan operasi, seba ada masalah dengan jantung nya. Jika tidak segera di tangani maka akibatnya akan fatal.
Mahad segera memanggil ambulance, untuk segera membawa sang istri ke rumah sakit. setelah menunggu beberapa saat akhirnya Ambulance pun datang, dan mereka semua segera bergegas untuk menuju rumah sakit.
Begitu juga dengan dokter yang memeriksa keadaan Zulaikha ia ikut menemani ke rumah sakit.
Waktu bergulir begitu cepat, Ambulance sudah berhenti tepat di depan ruang unit gawat darurat. Karena ini pasien sudah di ketahui oleh pihak rumah sakit, maka langsung di sambut kedatangan nya oleh beberapa orang perawat yang sedang bertugas pada hari ini.
Zulaikha sudah di periksa keadaan nya oleh tenaga kesehatan, dan beberapa alat juga sudah di pasang ke tubuh Zulaikha. Perempuan itu masih belum sadarkan diri, entah sampai kapan akan seperti ini.
Daisy dan Mahad masih menunggu hasil pemeriksaan dokter, mereka sangat khawatir dengan apa yang terjadi. Daisy terlihat sangat sedih begitu juga dengan Mahad.
Setelah beberapa saat, seorang perwat memanggil keluarga Zulaikha. Lalu Mahad mengikuti perawat itu untuk segera bertemu dengan dokter yang sedang menangani sang istri.
Mahad sudah duduk di kursi sambil menghadap dokter.
"Apa tidak ada cara lain, dok? " tanya Mahad.
"Ini jalan terbaik untuk kesembuhan istri bapak, kami akan segera melakukan tindakan itu jika keluarga menyetujui nya"
"Ingin sekali istri saya sembuh, tapi biaya untuk operasi tidak sedikit. Sedangkan untuk saat ini kami tidak memiliki cukup uang untuk itu" jawab Mahad dengan raut wajah yang sangat sedih.
"Tapi itu jalan satu-satunya"
"Baiklah, saya akan usahakan secepatnya agar istri saya segera di operasi. Atau operasi saja dulu nanti akan saya lunasi" Mahad berkata dengan nada bicara penuh permohonan.
"Tidak bisa, Pak. Kita lakukan operasi jika pasien sudah membayar tujuh puluh lima persen dari total biaya keseluruhan. Ini sudah prosedur rumah sakit, saya tidak bisa melakukan apapun"
"Baiklah kalau begitu, saya permisi terlebih dahulu" Mahad keluar dari ruangan tersebut, dengan langkah gontai.
Ia tidak tahu harus melakukan apa untuk kesembuhan sang istri, sedangkan untuk saat ini ia tidak memiliki cukup uang untuk biaya pengobatan.
Ia berjalan dengan perlahan, setelah beberapa saat ia sudah sampai di mana putri bungsunya sedang duduk menunggu sang ibu di depan ruangan.
"Apa yang harus kita lakukan, ibu harus secepatnya di operasi. Sedangkan Ayah tidak memiliki uang yang cukup, sekarang kita harus apa? " kata Mahad dengan nada bicara penuh kesedihan.
"Coba Ayah bicara sama Bibi, siapa tahu mereka bisa bantu"
"Uang sebanyak itu tidak mudah untuk di dapatkan dalam waktu dekat" jawab Mahad.
__ADS_1
"Ayah belum makan, kan! Tunggu sebentar aku cari dulu ya"
Mahad tidak menjawab perkataan Daisy, untuk saat ini ia tidak ingin melakukan apapun.
Daisy pun pergi meninggalkan sang Ayah desa tujuan ingin mencari sesuatu untuk di makan oleh sang Ayah.
Tanpa di sengaja ia melihat Argani sedang duduk di luar bersama Faklan, lalu Daisy mendekat ke arah dua laki-laki yang sedang duduk.
"Kalian sedang apa di sini? " tanya Daisy terhadap Farwa.
"Kamu juga ngapain di sini, ini sudah malam perempuan tidak boleh keluyuran" kata Argani sambil menatap lekat wajah adik iparnya.
"Aku di sini sedang menunggu ibu, tadi pingsan lalu di rawat. Apa boleh aku bertemu dengan kakak sebentar saja, aku mohon" kata Daisy dengan nada bicara penuh permodalan.
"Farwa sedang istirahat, dia juga ada di sini tadi siang pingsan" jawab Argani.
"A-apaa... Kakak juga sakit, pasti kamu telah menyakiti nya... Dasar laki-laki jahat tidak punya hati" kata Daisy sambil menangis, ia bisa merasakan apa yang di rasakan oleh sang Kakak.
"Hai, apa-apaan, bisa pelan kan suara mu! ini rumah sakit harus menjaga kenyamanannya. Aku sangat mencintai Kakak mu, mana bisa aku menyakiti nya. Dia nya saja tidak sayang pada diri sendiri" kata Argani tanpa merasa bersalah sedikit pun.
"Sekarang katakan, di mana Kakak ku? "
"Sudah di bilang dari tadi, dia sedang istirahat besok saja! " kata Argani.
"Biarkan dia bertemu dengan kakaknya, mari aku antar! " kata Takkan sambil mengajak Daisy untuk segera menuju ruangan di mana Farwa di rawat.
Argani tidak bisa berkata apapun selain membiarkan Daisy bersama Faklan masuk ke dalam kamar, hingga pada akhirnya ia pun mengikuti mereka untuk segera masuk.
Daisy langsung membuka pintu kamar, terlihat dengan jelas sang Kakak sedang tebaring lemah. Ia berhambur langsung memeluk Farwa.
"Kakak.... " Daisy berkata sambil menangis.
Farwa yang kaget dengan mendengar suara sang adik, bahkan ia mengira ini hanyalah sebuah mimpi.
"Tuhan jangan cepat berlalu mimpi ini, agar aku terus bisa memeluk nya" kata Farwa dengan nada bicara yang lemah.
" Kakak, ini aku bukan mimpi " kata Daisy sambil menatap wajah Farwa.
"Ini kenyataan... sungguh" jawab Farwa sambil menangis, ia tidak menyangka bisa bertemu lagi dengan sang adik.
"Iya, Kak... ini aku. Bagaimana bisa Kakak sampai sakit seperti ini? "
"Aku nggak sakit, hanya saja butuh istirahat. Oh iya kamu ngapain ada di sini? " tanya Farwa sambil menatap lekat wajaha adik kesayangan nya.
"I-ibu... Kak, dia sekarang ada di rumah sakit ini" kata Daisy dengan ragu, ia tidak mau menambah beban pikiran sang Kakak.
"Maksud kamu, Ibu sakit"
"Iya" Daisy pun mengangguk.
"Aku ingin bertemu ibu sekarang" kata Farwa sambil bangun, dan berusaha untuk turun dan melepas infus di tangannya.
Akan tetapi satu bentakan dari Argani sudah mampus menyurutkan niat nya untuk bertemu dengan sang ibu.
__ADS_1
"Sekarang kamu pergi dari ruangan ini! " perintah Argani terhadap Daisy.
Akhirnya Daisy pun berjalan dengan perlahan untuk meninggalkan sang Kakak, meskipun itu sangat berat.