
Hari terus berganti hari dan bulan pun berganti bulan. Kami tidak pernah lagi mendengar kabar buruk dari Kak Mea tentang Bang Rafli dan juga Ibu mertuanya. Ntah Kak Mea yang menutupi keburukan mereka atau mungkin mereka sudah merubah sikapnya pada Kak Mea.
Hingga suatu hari saat Ibu mengajakku main ke rumah Mertua Kak Mea untuk menanyakan acara tujuh bulanan kehamilan Kak Mea.
"Acara tujuh bulanan nanti buat di rumah Ibu saja ya, Nak. Ibu ada ikut wirit di sana, nanti Ibu bisa berunding sama ketua untuk minta giliran Ibu di percepat." pujuk Ibu.
Kak Mea menganggukkan kepalanya. Tapi setelah itu dia malah terlihat bingung.
"Tapi Mea tanya sama Bang Rafli dulu ya, Bu. Kalau diizinkan nanti Mea kabari Ibu." ucap Kak Mea.
"Iya, mudah-mudahan diizinkan ya, Nak. Apa lagi ini cucu pertama Ibu, Ibu pingin dia di do'akan yang baik-baik. Makanya Ibu pingin buat acara tujuh bulanan buat Mea." ucap Ibu.
"Nggak usahlah. Acara tujuh bulanannya buat di sini saja. Kami juga punya uang untuk buat acara itu." sahut Ibu Mertua Kak Mea secara tiba-tiba, membuat kami bertiga kaget.
"Saya cuma ngasi saran, Kak." ucap Ibu pada Ibu Mertua Kak Mea.
"Iya, tidak salah saran kamu. Tapi nanti apa kata orang-orang kalau acara tujuh bulanan saja harus di buat di rumah kamu, tempatnya juga jauh. Lagi pula kehamilan Mea sudah masuk 7 bulan, perutnya sudah besat. Apa tidak kasihan kalau menempuh perjalan jauh." ucap Ibu Mertua Kak Mea panjang lebar dengan nada yang tidak menyenangkan.
Ntah dia beneran peduli pada Kak Mea atau hanya takut malu dan khawatir dengan omongan tetangganya. Niat Ibu kami baik, kenapa malah dipojokkan seperti itu.
Aku, Ibu dan Kak Mea hanya terdiam mendengar omongannya.
"Tapi nanti tanya saja sama Rafli, kalau Rafli mengizinkan buat acara di sana, saya tidak bisa melarang." ucapnya lagi.
"Iya, Kak. Kalau tidak mau buat di sana juga tidak apa-apa. Saya tidak memaksa." sahut Ibu perlahan.
Kemudian Ibu Mertua Kak Mea berlalu pergi meninggalkan kami.
"Bicaranya kasar sekali ya, Bu." ucapku.
"Husstt... Jangan bicara seperti itu, tidak enak nanti kalau dia dengar." ucap Ibu.
"Biarin, memang kenyataannya begitu." jawabku ketus.
"Iya, tapi biarlah, Dik. Jangan dibicarakan lagi. Diamkan saja." ucap Kak Mea.
"Kakak kenapa bisa betah tinggal sama monster begitu?" tanyaku.
"Astaghfirullah." sahut Ibu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar ucapanku barusan. "Ibu tidak ngajarin begitu ya." sambungnya.
"Keceplosan, Bu. Mirip sih. Hehe." jawabku sambil cengengesan.
__ADS_1
Ibu dan Kak Mea ikut tertawa kecil.
"Nanti kalau Mea sudah berunding sama Rafli, kabarin Ibu ya. Ibu sama Adik mau pulang." ucap Ibu.
"Iya, Bu. Hati-hati di jalan ya, Bu." jawab Kak Mea.
Setelah itu aku dan Ibu pamitan sama Kak Mea. Mau pamitan juga sama Ibu Mertuanya, tapi tidak ketemu orangnya, mungkin tandang ke rumah saudara atau tetangganya.
***
Sudut pandang Mea.
"Bang, tadi Ibu sama Aura datang ke sini." ucapku pada Bang Rafli.
"Oh ya, ngapain?" tanyanya.
"Ibu mau lihat keadaan Mea sekalian ada yang ditanyakan sama Ibu."
"Tanya hal apa?" tanyanya lagi.
"Ibu mau buat acara tujuh bulanan di kampung, itupun kalau Abang setuju." jelasku.
"Owh begitu. Nanti Abang tanya dulu pendapat Mama ya." sahutnya.
"Ma, Mama sudah tau belum kalau Ibu Mea mau buat acara tujuh bulanan Mea di kampung?" tanya Bang Rafli.
"Sudah, tadi Mama dengar obrolan mereka." sahut Mama.
"Lalu menurut Mama bagaimana?"
"Kenapa harus jauh-jauh buat di sana, di sini juga bisa. Memangnya dia kira kita tidak punya uang untuk buat acara tujuh bulanan doank."
"Jangan ngegas donk Ma, maksud Ibu pasti baik."
"Baik apanya, paling mau buat kita malu. Supaya orang-orang mengira Mama tidak peduli dengan Menantu Mama."
Sakit sekali hatiku mendengar ucapannya, Ibuku di pojokkan seperti itu oleh besannya. Hampir hilang rasa hormatku padanya, tapi tetap aku pertahankan karena dia adalah Ibu dari suamiku, wanita yang sudah melahirkan suamiku.
Suamiku sebenarnya orang yang sangat baik, jauh berbeda dengan Mamanya. Tapi Bang Rafli selalu menuruti apapun kehendak Mamanya, baik burukpun tidak di hiraukannya. Oleh karena itu, Mama jadi sesuka hatinya mengatur Bang Rafli.
Terkadang aku kesal padanya, dia anak laki-laki yang sudah sangat dewasa. Tapi masih saja tidak bisa tegas dan tidak bisa mengambil keputusan sendiri dalam hidupnya. Apa-apa selalu tanya sama Mama, selalu mengiyakan ucapan Mamanya.
__ADS_1
Aku tahu, dalam agama Islam memang orang tua nomor satu bagi suami, sedangkan istri nomor dua. Tapi tolong bedakan mana baik buruknya. Tidak perlu mengikuti omongan orang tua jika itu tidak sesuai dengan syari'at.
"Kamu sudah dengar sendiri Mama bilang apa?" tanya Bang Rafli padaku, sekaligus membuyarkan lamunanku.
"Iya, Mea dengar kata-kata yang menghina Ibu." ucapku pelan.
"Mama tidak bermaksud menghina, jangan di masukkan ke dalam hati ya, sayang."
"Memangnya ada apa sih, Bang? Kelihatannya Mama tidak suka pada Ibu. Ibu ada buat salah apa sama Mama?"
"Tidak ada, mungkin itu hanya perasaan kamu saja."
Begitulah, Bang Rafli selalu membela Mama. Kalau sudah begitu akupun tidak mau membahasnya lagi, aku tisak mau nanti malah jadi ribut sama suami sendiri.
"Mea pinjam HP Abang ya, mau menelepon Ibu." ucapku.
"Mau ngapain?" tanyanya.
"Mau memberi tau kalau acara tujuh bulanannya buat di sini saja." jelasku.
"Owh ya sudah, ini." ucapnya sambil menyodorkan ponselnya.
Aku meraih ponsel tersebut dan langsung menghubungi Ibu.
"Assalamu'alaikum, Bu." ucapku setelah Ibu menjawab panggilan dariku.
"Wa'alaikumussalam, Nak." sahut Ibu.
"Bu, kata Bang Rafli buat acara tujuh bulanannya di sini saja, Bu. Khawatir nanti kandungan Mea kenapa-kenapa kalau ke sana, karena perjalanan cukup jauh. Apa lagi kalau naik sepeda motor kurang aman, Bu." ucapku panjang lebar coba menjelaskan pada Ibu. Itu hanya alasanku saja supaya Ibu tidak berkecil hati karena keinginannya tidak bisa aku turuti. Padahal kami bisa mengendarai mobil supaya aman.
"Owh begitu, iya juga ya. Bahaya juga kalau perjalanan jauh cuma naik sepeda motor. Apa lagi kalau hamil 7 bulan itu janinnya muda. Ya sudah, buat di sana saja tidak apa-apa. Yang penting kamu dan calon bayinya sehat-sehat terus." ucap Ibu.
Aku hampir meneteskan air mata, Ibuku sebaik ini tapi di hina oleh Mama.
"Iya, Bu. Ibu beneran tidak apa-apakan kalau tidak jadi di sana?" tanyaku lagi untuk memastikan.
"Iya, Nak. Ibu tidak apa-apa." jawab Ibu.
"Alhamdulillah, kalau begitu Mea tutup teleponnya ya, Bu. Assalamu'alaikum."
"Iya, Nak. Wa'alaikumussalam." jawab Ibu. Kemudian aku mengakhiri panggilan.
__ADS_1
Alhamdulillah Ibu tidak marah, akhirnya aku bisa merasa lega.
Semoga suatu hari nanti sikap Mama bisa baik padaku, terutama pada Ibu. Semoga semua fikiran jeleknya bisa berubah menjadi fikiran positif. Aamiin ya Allah.