
Saat Rizky pulang kerja, Aura memberitahunya bahwa ia sudah mendapatkan ART baru yang akan bekerja bersama Bi Sumi.
“Oh ya? Dari mana asalnya?” Tanya Rizky.
“Ermm.. Aura kurang tau sih, Bang. Aura belum bertanya secara detail.” Jawab Aura. “In syaa Allah besok saudara Bi Sumi akan datang. Abang bisa bantu Aura untuk bertanya.” Lanjutnya.
“Ok. Besok Abang libur, jadi bisa stay dirumah seharian.” Ucap Rizky. “Oh ya, Zara ada dimana?”
“Sepertinya ada didalam kamarnya. Aura akan melihatnya.”
Rizky menganggukkan kepalanya.
Setelah selesai bersih-bersih. Rizky menunggu Zara dan Aura diruang tamu sambil menonton televisi.
Tidak lama kemudian keduanya muncul dan lagsung duduk disebelahnya.
“Ayah, Ibu tadi bilang ada sesuatu yang ingin Ayah bicarakan. Hal apa itu?” Tanya Zara.
“Mungkinkah Ayah tau kedatangan bang Arfa terakhir kali? Lalu Ayah ingin memberitahu Ibu tentang hal itu.” Zara menerka-nerka didalam hatinya.
“Benar.” Jawab Rizky. Ia mematikan televisi dan mulai memasang wajah serius.
Zara terlihat tegang.
“Ini tentang Zayn.” Lanjut Rizky.
“Bang Zayn?” Tanya Zara kaget. “Sudah lama Bang Zayn tidak berkunjung ke sini. Apa hari ini dia datang?”
“Tidak, Zayn tidak datang. Hanya Paman Sidik dan Bibi Alisya yang datang berkunjung.” Jawab Aura.
“Oh, begitu.”
“Sebenarnya Zayn bukan anak kandung Paman dan Bibi.” Ucap Rizky.
“Lalu?” Tanya Zara yang penasaran.
“Ayah akan menceritakannya.”
Zara dan Aura mendengarkan dengan seksama.
***
Flashback.
Alisya mulai merasakan kontraksi, Sidik bergegas membawanya ke rumah sakit. Dalam perjalanan ke rumah sakit, sesekali Alisya berteriak karena kesakitan. Hal itu membuat Sidik cemas dan kurang berhati-hati dalam mengemudi.
“Sayang, bertahanlah. Tidak lama lagi kita akan sampai.” Sidik coba menenangkan Alisya.
“Sa-kit!” Ucap Alisya merintih.
Ckiiiiiiitttttt!!!!
Sidik rem mobil mendadak.
“Aaarghh!!” Alisya berteriak. “Maaf, Bang. Aku membuatmu terlalu khawatir.” Alisya menyalahkan dirinya sendiri.
“Tidak, sayang. Bukan itu.” Ucap Sidik. Keringat dingin mulai mengalir. “Sepertinya Abang menabrak sesuatu.” Lanjutnya. Jantungnya berdegup kencang.
Ia memberanikan diri keluar dari mobil dan mencari-cari. Apakah yang ia tabrak tadi?
__ADS_1
Tiba-tiba saja kerumunan massa datang menghampirinya.
Sidik menjadi lebih panik, takut kalau-kalau ia akan digebuki massa.
“Hey, kamu harus bertanggung jawab. Anak ini sekarat!” Teriak seorang pria.
“Sa-saya pasti akan bertanggung jawab, Bang.” Jawab Sidik gugup. “Qodarullah, saya sedang dalam perjalanan ke rumah sakit, istri saya akan segera melahirkan.” Lanjutnya.
Mendengar pernyataan Sidik, mereka tak pikir panjang lagi. Seorang Pria membantu Sidik membawa anak laki-laki itu masuk ke dalam mobilnya.
Mereka khawatir jika istri Sidik melahirkan di mobil, juga khawatir keaadan anak itu bertambah parah.
Tanpa mereka sadari ada dua orang pria yang sudah mengawasi mereka sejak tadi.
“Bagaimana ini? Anak itu sudah dibawa pergi.” Ucap pria yang mengawasi Sidik dari kejauhan.
“Tidak apa. Kamu sendiri juga mendengarnya bukan? Anak itu sekarat. Kita hanya bisa berharap dia segera tiada.” Jawab temannya.
Sesampainya Sidik dirumah sakit. Alisya langsung dibawa ke dalam ruang bersalin. Sedangkan Sidik menunggu diluar.
Sementara itu, anak laki-laki yang tidak sengaja tertabrak oleh Sidik, masuk ke ruang UGD. Pria yang membantunya menunggu diluar ruangan.
“Hooaaaakkkkk!!!!”
Satu jam berlalu akhirnya terdengar suara tangisan bayi.
“Alhamdulillah.” Sidik merasa lega karena istrinya sudah melahirkan.
Seorang dokter wanita keluar.
“Selamat ya, Pak. Anaknya sehat dan sempurna. Berjenis kelamin perempuan.” Ucap Dokter Irene.
“Boleh. Silahkan, Pak.” Sahut Dokter Irene.
“Terima kasih, Dok.”
Sidik segera masuk ke dalam ruangan itu, ia lihat istrinya yang pucat karena kehabisan banyak darah.
Alisya hampir tertidur, ia merasa sangat lelah.
Melihat Sidik datang. Alisya berusaha tersenyum.
Sidik menghampiri istrinya yang baru selesai berjuang, lalu mencium keningnya dengan lembut.
“Dimana anak kita?” Tanya Sidik karena sedari tadi ia tidak melihat kelibat putrinya.
“Masih dibersihkan perawat.” Jawab Alisya dengan suaranya yang terdengar lemah.
Sidik mengangguk dan tersenyum.
Ia tidak berkata apa-apa lagi agar Alisya juga bisa istirahat.
Tidak lama kemudian perawat datang mendorong tempat tidur bayi yang didalamnya adalah putri mereka berdua.
Dengan wajah bahagia Sidik menggendong putrinya lalu mengumandangkan Adzan ditelinganya.
Dilihatnya putrinya menggeliat manja mendengar Abinya mengumandangkan Adzan.
“Bagaimana dengan anak laki-laki tadi, Bang?” Tanya Alisya setelah Sidik selesai mengumandangkan Adzan.
__ADS_1
Sidik meletakkan Hulya disebelah Alisya.
“Abang belum melihatnya.” Jawab Sidik. “Sayang istirahatlah dengan Hulya. Abang akan pergi melihatnya.” Lanjutnya.
Alisya mengangguk. Lalu Sidik pergi menuju ruangan Anak laki-laki tersebut.
“Bagaimana keadaannya, Pak?” Tanya Sidik pada seorang pria paruh baya.
“Dokter belum keluar.” Jawabnya. “Apa saya sudah boleh pergi? Saya masih ada urusan.” Lanjutnya.
“Baik, Pak. Terima kasih atas bantuannya.” Ucap Sidik sambil menyerahkan beberapa lembar uang pada pria paruh baya tersebut.
“Tidak usah, Nak. Tidak perlu.” Ucap Pria itu menolak.
“Tidak apa-apa, Pak. Bapak pasti butuh uang untuk biaya tranportasi.” Ucap Sidik sambil tersenyum.
Akhirnya Bapak tersebutpun menerima uang yang diberikan Sidik.
Sidik duduk di kursi menunggu Dokter keluar.
Setelah setengah jam berlalu akhirnya pintu UGD terbuka juga.
Sidik langsung berdiri dan menghampiri Dokter.
“Bagaimana keadaannya, Dok?” Tanyanya.
“Oprasi berhasil dan pasien juga sudah melewati masa kritis.” Ucap Dokter Arya.
“Alhamdulillah.” Ucap Sidik.
Kemudian beberapa perawat keluar dari ruang UGD mendorong termpat tidur anak laki-laki itu dan memindahkannya ke ruangan yang baru.
Sidik mengikuti mereka dari belakang. Ia juga meminta agar ruangannya tidak jauh dari ruangan istrinya.
Sidik meninggalkan ruangan anak laki-laki itu dan kembali keruangan istri dan anaknya.
Ia membuka pintu dengan perlahan dan dilihatnya mereka berdua sedang tertidur lelap.
Sidik berdiri disamping tempat tidur dan memandangi wajah Alisya yang masih pucat. Dipandanginya juga wajah putrinya yang masih merah.
Ia mengambil gawainya lalu memesan makanan online untuknya dan juga untuk Alisya. Ia khawatir jika nanti Alisya tidak suka makanan rumah sakit.
Beberapa menit kemudian perawat masuk dan memberitahunya bahwa anak laki-laki diruangan sebelah sudah siuman.
“Tuan, Anak Anda sudah siuman.” Ucap perawat tersebut.
“Oh, terima kasih. Sebentar lagi saya akan kesana melihatnya.” Sahut Sidik.
Perawat itu mengangguk lalu pamit keluar.
Setelah selesai memesan makanan secara online, Sidik bergegas pergi keruangan sebelah untuk menjenguk anak itu dan sekaligus meminta maaf karena sudah menabraknya dan juga membahayakan nyawanya.
Sidik memasuki ruangan.
“Om. Om yang membawaku kesini?” Tanyanya.
“Iya, maafkan Om karena sudah menabrakmu, Nak.” Jawab Sidik.
“Tidak apa-apa, Om. Aku justru sangat berterima kasih pada Om karena sudah menabrakku.” Ucapnya.
__ADS_1
“A-apa??” Sidik kaget mendengarnya. Baru kali ini ia bertemu dengan orang yang senang ditabrak.