Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Season 2: eps 46.


__ADS_3

Pagi hari.


Amir, Arumi, Arini, Aura dan Rizky berkumpul di ruang tamu setelah selesai sarapan pagi.


“Arini. Aku jatuhkan talak padamu. Mulai saat ini, kamu bukan lagi istriku.” Ucap Amir dengan tegas.


Arini hanya diam, tapi yang pasti ia merasa sangat marah menerima kenyataan ini.


“Sekarang kamu boleh pergi dari rumah ini.” Lanjut Amir.


“Masa-masa indah menjadi Nyonya sudah berakhir. Bahkan aku merasa malas untuk memelas pada Arumi. Aku sungguh sangat kesal hingga menatap wajahnya saja aku tidak mau.” Gumam Arini didalam hatinya sembari meremas bajunya.


Arini beranjak dari tempat duduknya tanpa mengatakan sepatah katapun lalu pergi ke kamar untuk mengemasi barang-barang miliknya.


Setelah selesai, ia keluar dari kamar membawa sebuah koper dan sebuah tas berukuran besar. Ia pergi dari rumah Rizky juga tanpa mengatakan sepatah katapun.


Sementara yang lainnya hanya melihat ia pergi tanpa ada yang mengantarkannya hingga gerbang.


Arini memanggil taxi lalu pergi mencari kontrakan yang baru.


“Untung saja aku masih memiliki uang direkeningku. Jadi aku tidak akan hidup dijalanan.” Ucap Arini.


Sementara itu di rumah Rizky.


“Aku…” Ucapan Arumi terputus. Ia terlihat gelisah.


“Ada apa?” Tanya Amir.


“Aku tidak tega membiarkan Kak Arin pergi. Bagaimana jika ia sudah tidak memiliki uang? Atau bagaimana jika ia tidak memiliki tempat tinggal?”


“Arumi…. Dia bukan anak kecil lagi. Dia pasti bisa mengurus dirinya sendiri. Lagi pula seingatku beberapa hari yang lalu aku sudah mengirim uang ke rekeningnya.” Amir coba menenangkan Arumi.


“Baguslah kalau begitu.” Sahut Arumi dan menghela nafas lega.


Amir mengangguk sembari tersenyum.


“Bang, kapan kami bisa menikah?” Tanya Amir pada Rizky.


“Besok kita berdua bisa pergi ke kantor urusan agama untuk langsung bertanya.” Jawab Rizky.


“Baiklah.” Sahut Amir.


Amir dan Rizky berpamitan pada Arumi dan Aura. Mereka berdua akan pergi bekerja.


“Arumi, apa kamu mau pergi bersamaku?” Tanya Aura.


“Kemana, Kak?” Arumi balik bertanya.


“Membeli ponsel baru.” Jawab Aura bersemangat.


“Tapi Bang Amir….”


“Nanti aku yang akan bicara padanya. Kita berdua akan pergi keluar untuk jalan-jalan sehingga dia tidak perlu membelikan ponsel untukmu. Lagi pula aku juga sudah lama tidak pergi jalan.” Ucap Aura.


“Baiklah, Kak.” Arumi menurut.


“Ayo kita pergi siap-siap.” Ajak Aura.


Arumi pun mengangguk.


Saat tiba didalam kamarnya, Aura menelepon Rizky.


“Assalamu’alaikum, ada apa Aura sayang? Baru ditinggal sebentar sudah rindu dengan Abang? Hehe.” Goda Rizky.

__ADS_1


“Wa’alaikumussalam. Haha.” Sahut Aura yang sedang tertawa mendengar ocehah Rizky.


“Ada apa sayang?” Tanya Rizky lagi.


“Aura ingin pergi keluar bersama Arumi. Boleh?”


“Tentu saja boleh.” Sahut Rizky.


“Nanti tolong Abang sampaikan pada Amir, Aura dan Arumi akan pergi sekalian ingin membeli ponsel baru untuk Arumi.”


“Ok. Sayang.”


Setelah mengucapkan salam, panggilan berakhir.


Aura mengganti pakaian lalu memakai jilbabnya yang labuh. Ia meraih handbag diatas nakas lalu pergi ke ruang tamu.


Ia tidak melihat sosok Arumi disana, lalu ia pergi ke dapur mencari Rini.


“Rini.” Sapa Aura.


Rini pun menoleh.


“Ayo ikut pergi.” Ajak Aura.


“Ke mana, Nyah?”


“Jalan-jalan.” Sahut Aura sumringah.


“Baik, Nyah.” Rini mengangguk lalu pergi ke kamar untuk berganti pakaian. Rini pun terlihat sangat bersemangat.


Sementara itu, Aura duduk di ruang tamu bersama Arumi.


Tidak lama kemudian Rini muncul bersama Bi Sumi.


“Hati-hati dijalan. Jangan menyusahkan Nyonya Muda.” Pesan Bi Sumi pada Rini.


“Bi, apa ada sesuatu yang Bi Sumi inginkan?” Tanya Aura.


“Kenapa, Nyonya?”


“Nanti bisa sekalian saya belikan.”


“Oh, tidak usah repot-repot. Bibi tidak ingin apapun.” Sahut Bi Sumi.


“Baiklah.” Aura tersenyum.


Mereka berdua berangkat ke Mall terdekat bersama Pak Ujang.


Lebih kurang dua puluh menit perjalanan mereka sudah tiba di tujuan.


“Pak Ujang kembali saja ke rumah, Pak. Kasihan Bi Sumi ditinggal sendiri.” Ucap Aura. “Nanti kalau sudah mau pulang saya akan menghubungi Bapak.” Lanjutnya dengan sopan.


“Baik, Nyah.” Sahut Pak Ujang.


Mereka bertiga masuk ke dalam Mall.


“Rini, jika ada sesuatu yang kamu inginkan jangan sungkan untuk memintanya pada saya.” Ucap Aura pada Rini.


“Tapi, Nyah.” Rini merasa tidak enak.


“Tidak apa-apa. Hanya sesekali saja. Dan tidak akan saya potong dari gaji kamu. Hehe.” Ucap Aura cengengesan.


Rini menganggukkan kepalanya dengan semangat.

__ADS_1


Arumi ikut tertawa.


“Kak Aura sangat baik. Aku kagum padanya.” Ucap Arumi didalam hatinya.


“Nah, itu toko ponsel. Ayo kita pergi untuk melihat-lihat.” Ajak Aura.


Arumi dan Rini mengikuti langkah kaki Aura menuju Toko ponsel.


Ketinganya menatap ponsel yang berjejer didalam toko tersebut.


Aura yang hanya ingin menemani Arumi membeli juga terlihat asik memperhatikan berbagai type ponsel.


Berbeda dengan Arumi yang terpaku menatap sebuah ponsel.


“Hmm, type yang lebih tinggi sudah rilis lagi. Aku bahkan belum bisa membeli type keluaran sebelumnya.” Ucap Arumi didalam harinya.


Aura tersenyum melihat Arumi yang terpaku menatap sebuah ponsel keluaran terbaru dari merk yang terkenal.


“Kamu mau yang ini?” Tanya Aura menghampiri Arumi.


“Ah?” Arumi kaget dan tersadar dari lamunannya. “Tidak, kak. A-aku, aku hanya melihat-lihat saja.” Jawab Arumi sedikit gugup.


Aura mengangguk. Lalu memanggil seseorang.


“Kami mau yang ini.” Ucap Aura pada seorang pria sembari menunjuk ponsel yang ada didahadapan Arumi.


“Baik.” Sahut pria tersebut.


“Ta-tapi, kak.” Arumi menjadi canggung.


“Tidak apa-apa.” Aura tersenyum sembari memegang bahu Arumi.


“Ini sangat mahal.” Ucap Arumi pelan.


“Tidak apa-apa. Tidak perlu sungkan. Yang terpenting kamu suka.” Aura menenangkan Arumi.


“Apa sebaiknya kita batalkan saja lalu mencari yang lain?” Arumi masih merasa tidak enak.


“Tidak apa-apa. Ini sudah yang ke-tiga kalinya aku mengucapkan tidak apa-apa.” Ucap Aura.


“Sudah jadi empat kali, Nyah.” Timpal Rini lalu spontan menutup mulutnya.


“Ahahaa.” Aura tetawa kecil.


“Haha.” Arumi ikut tertawa. Bahagia iya, terharu juga iya.


“Rini juga mau ponsel baru?” Tanya Aura.


“Apakah boleh, Nyah?” Kini kedua mata Rini yang terlihat berkaca-kaca.


“Tentu saja boleh. Siapa yang berani melarang?”


Rini spontan memeluk Aura.


“Nyah, dulu tinggalnya dilangit ya? Kapan tuan Rizky mencuri selendang Nyonya?”


“Hah? Apa maksudnya?” Aura tampak heran karena tidak mengerti.


“Itu lho, cerita jaka tarub yang mencuri selendang bidadari.” Rini menjelaskan.


Aura mengernyitkan dahinya.


Rini menepuk dahinya karena Aura masih belum paham juga.

__ADS_1


“Jadi maksudnya Rini begini, Kak Aura itu apakah dulu tinggal dilangit? Kak Aura baik dan cantik seperti Bidadari. Sedangkan Tuan Muda Rizky sebagai Jaka Tarub yang mencuri selendang Bidadari lalu menikahinya.” Arumi menjelaskan sangat detail.


“Oh begitu. Ma syaa Allah, lamban sekali aku memahaminya. Hahahaa.” Aura tertawa dan tersipu.


__ADS_2