Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Season 2: eps. 24.


__ADS_3

“Apa mungkin memang bukan Arumi? Itu sebabnya perubahan sikapnya sangat dahsyat.” Ucap Amir didalam hatinya.


“Hey, kamu sedang memikirkan apa?” Tanya Nayya dan membuyarkan lamunan Amir.


“Kalau memang dia bukan Arumi. Lalu dimana Arumi?” Amir balik bertanya.


“Aku juga tidak tahu. Bagaimana aku bisa tahu?” Nayya mulai terlihat khawatir.


“Iya, bagaimana kita bisa tahu?” Amir lebih khawatir lagi.


“Bang Amir, perasaanku jadi tidak enak.”


“Apalagi Abang.”


Keduanya terlihat sangat gelisah.


- Flashback Selesai-


Rizky menganggukkan kepalanya setelah Amir selesai bercerita.


“Selama ini aku merasa sifatnya sangat berbeda. Tapi aku selalu berpikir mungkin inilah sifat aslinya. Bahkan masalah ranjang…”


“Hah?” Rizky kaget dan penasaran.


“Awalnya dia tidak mengizinkan aku menyentuhnya. Lalu lama kelamaan aku yang tidak ingin menyentuhnya. Jujur saja aku katakan, aku ilfil dengannya.” Ucap Amir pelan.


“Jadi selama ini kalian tidak pernah berhubungan?”


“Tidak, Bang.” Jawab Amir. “Aku pasti akan sangat bersyukur jika dia memang bukan Arumi. Tapi bagaimana caranya mengganti dirinya dengan Arumi?”


Keduanya kemudian berfikir tentang kemungkinan-kemungkinan yang mungkin saja bisa terjadi.


“Apa Arumi memiliki saudara?” Tanya Rizky.


“Ada, Bang. Dia memiliki seorang Kakak bernama Arini. Dia menyebutnya Kak Arin.” Jawab Amir. “Tapi sampai sekarang aku belum pernah bertemu dengan Kakaknya itu.” Lanjutnya.


“Hmm. Arini dan Arumi. Nama ini sangat mirip. Apa mungkin mereka berdua saudara kembar?” Rizky membelalakkan kedua bola matanya.


Amir tak kalah kaget mendengar ucapan Rizky itu.


“Bang, jika memang mereka kembar. Tentu saja sangat mudah baginya mengganti Arumi dengan dirinya.” Ucap Amir. “Lalu, apa yang tejadi dengan Arumi?” Amir terlihat sangat khawatir.


“Pasti dia sudah melakukan sesuatu pada Arumi.” Rizky berpendapat.


“Bang, jangan membuatku jadi lebih khawatir.”


“Kamu tenang saja. Abang pasti akan menyelidiki masalah ini.” Rizky menenangkan hati Amir. “Untuk saat ini, kamu harus bisa berpura-pura tidak mencurigainya.” Pinta Rizky. “Dan jangan ceritakan hal ini pada siapapun, termasuk Kakakmu.”


“Baik, Bang. Aku pasti akan melakukan seperti yang Abang katakan.”


Rizky mengangguk.


Setelah itu, Rizky menghubungi seorang detektif. Detektif kepercayaannya.


“Halo, Arthur.”


“Halo. Ada apa Rizky?”


“Aku punya satu kasus yang perlu kamu selidiki.”


“Oh ya? Kasus apa itu?”


“Begini detailnya….”


Rizky menceritakannya secara detail pada Arthur. Ia bahkan memberikan foto dan alamat kontrakan Arumi pada Arthur.


“Baiklah, aku akan mulai menyelidikinya besok. Jika ada berita apapun, aku pasti akan memberi informasi padamu.”

__ADS_1


“Baiklah, aku sangat berterima kasih atas bantuanmu.”


“Tidak masalah, ini memang pekerjaanku. Haha.” Ucap Arthur sambil tertawa.


Setelah itu panggilan berakhir.


“Bang, aku jadi malas kembali ke kamar.” Ucap Amir.


“Tidak boleh seperti itu, saat ini dia masih istrimu.” Ucap Rizky. “Sudah mau masuk waktu Ashar. Kembalilah ke kamarmu.” Pintanya.


“Baik, Bang.” Sahut Amir.


***


Waktu berlalu begitu cepat, akhirnya Hulya harus pulang ke Arab untuk melanjutkan kuliahnya.


Didalam mobil, tak henti-hentinya air mata Hulya mengalir.


Alisya juga sama, ia menangis bersama putrinya.


“Bandara sudah dekat, apa tidak mau merapikan diri?” Sidik mengingatkan Alisya dan Hulya.


“Abi, apa tidak merasa sedih berpisah denganku?” Tanya Hulya.


“Tentu saja sedih.” Jawab Sidik. “Tapi sedih apa harus diluahkan dengan tangisan?”


Hulya tidak menjawab.


Terlihat Alisya merapikan jilbabnya dan mengusap air matanya.


Begitu juga dengan Hulya, ia mengusap air matanya menggunakan tissue lalu membetulkan cadarnya..


“Hahahaa.” Sidik tertawa.


“Abi, kenapa tertawa? Abi pasti mentertawakan aku. Benarkan?” Hulya curiga.


Hulya mengambil kaca kecil yang berada di handbagnya.


“Huaaaaaa. Kenapa jadi begini???” Hulya merasa malu melihat keadaannya sendiri. “Ummiiiii.” Hulya merengek pada Ibunya.


“Hahahaaa.” Sidik tertawa lagi.


“Puuffftttt.” Alisya menahan tawa melihat reaksi putrinya. “Tidak lama lagi pasti akan kering.” Ucap Alisya kemudian.


Karena air matanya, cadar Hulya menjadi basah. Tapi ia tidak bisa menggantinya, karena semua cadarnya berada didalam koper, dan sudah pasti dalam keadaan kusut.


“Tapi aku malu, Mi.” Ucap Hulya.


“In syaa Allah tidak akan lama.” Pujuk Alisya.


Sidik memarkirkan mobilnya. Lalu mereka bertiga turun.


Disana Zayn dan Zara sudah menunggu sedari tadi.


“Kalian sudah sampai duluan. Sudah lama?” Tanya Sidik.


“Sekitar lima menit, Abi. Tidak lama.” Jawab Zayn.


Setelah itu Zayn menemani Hulya mengurus boarding pass dan check in.


“Masih ada satu jam.” Ucap Zayn.


“Hmm, bagaimana kalau kita duduk-duduk dulu sambil minum kopi?” Sidik mengusulkan.


“Aku setuju.” Sahut Zara.


“Ciyee yang Coffee addict langsung setuju.” Goda Hulya.

__ADS_1


“Hehe.” Zara cengengesan.


Kemudian mereka mencari tempat untuk minum kopi bersama.


“Hulya, berapa hari lagi kamu akan mulai tahun ajaran baru?” Tanya Zayn.


“Sekitar tiga hari lagi, Bang. Tapi aku tidak yakin. Nanti setelah sampai disana aku akan bertanya dengan temanku.” Jawab Hulya.


“Kalau Zara?” Tanya Zayn lagi.


“Aku akan mulai tahun ajaran baru juga tiga hari lagi. Hari senin.” Jawab Zara.


“Owh. Baiklah.” Sahut Zayn.


Setelah itu Zayn menatap ponselnya karena ada pesan masuk.


“Ayo diminum kopinya, nanti dingin.” Ucap Alisya.


“Iya.” Sahut Sidik.


Mereka mulai menikmati kopi mereka masing-masing sambil sesekali mengobrol.


Zara memperhatikan Zayn yang sangat fokus pada ponselnya. Jiwa keponya meronta-ronta. Ingin sekali rasanya ia bertanya, pesan dari siapa itu? Tapi ia masih menahan dirinya.


“Mungkinkah dari wanita yang ia cintai?” Pikirnya. “Lalu, apakah aku ini orang ke tiga?”


Zara menunduk lalu menyeruput kopinya lagi hingga tak bersisa.


“Aku permisi mau ke toliet.” Ucap Zara.


“Aku ikut, Kak.” Ucap Hulya.


“Ayo.” Ajak Zara.


Mereka berdua berjalan beriringan menuju toilet.


“Kak, apa yang sedang Kakak pikirkan?” Tanya Hulya setelah mereka sampai di toilet.


“Tidak ada.” Jawab Zara dengan tenang.


“Jangan bohongi aku. Aku tadi melihat Kakak menatap ponsel Bang Zayn, setelah itu Kakak menjadi seperti ini.” Ucap Hulya.


“Oh, begitu ya. Hmmmm. Aku hanya sedang penasaran, dengan siapa Zayn berkirim pesan?”


“Kalau Kakak sangat ingin tahu, kenapa tidak langsung bertanya?”


“Aku masih tidak memiliki posisi dihatinya, aku merasa tidak pantas untuk bertanya padanya.”


“Hmmm.” Hulya menghela nafas sembari mengelus bahu Zara.


“Aku mau masuk ke toilet, kamu?” Tanya Zara.


“Iya, aku juga.” Jawab Hulya.


Setelah selesai. Mereka kembali ke tempat minum kopi.


Hulya melirik jam yang melingkar dipergelangan tangannya.


“Abi, kurang dua puluh menit lagi. Sepertinya aku sudah harus masuk.” Ucap Hulya.


“Oh, baiklah.” Sahut Sidik lalu beranjak dari tempat duduknya.


Mereka semua mengantarkan Hulya ke pintu masuk. Hulya pun berpamitan dengan Abi, Ummi, Bang Zayn dan juga Kakak Iparnya.


“Ingat ya sayang, setelah sampai disana kamu harus segera memberi kabar pada Ummi dan Abi.” Ucap Alisya mengingatkan.


“In syaa Allah, Ummi.” Jawab Hulya sembari mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2