Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Season 2: eps. 22


__ADS_3

Zara mengambil empat buah gelas dari lemari lalu menuang bubuk kopi.


Setelah itu ia memasak air.


“Ada yang bisa saya bantu Nona Muda?” Tanya Rini.


“Tidak ada Kak Rini. Aku hanya membuat kopi, tidak susah.” Jawab Zara dengan lembut.


“Baiklah, Nona Muda.” Kemudian Rini undur diri.


Sambil menunggu air mendidih, Zara termenung.


“Aku merasa bingung dengan sikap Tante Arumi hari ini. Tidak biasa-biasanya dia begitu baik. Dia bahkan berinisiatif mebuatkan kopi. Tapi kenapa hanya membuatkan kopi untuk Bang Zayn?”


“Apa mungkin Tante Arumi menyukai, Bang Zayn? Atau mungkin saja sebenarnya Tante Arumi tidak menyukai Om Amir, tapi har-t-a?”


“Astaghfirullah, pikiranku traveling ke mana ini? Aiisshh sudahlah.”


Setelah air mendidih, Zara menuangkan air ke dalam gelas.


Zara kembali ke depan dengan membawa kopi empat gelas. Zara membagikan kopi untuk Ibu, Ayah dan Zayn.


“Wah, terima kasih sayang.” Ucap Aura dan Rizky serentak.


“Terima kasih.” Ucap Zayn.


“Sama-sama.” Sahut Zara.


Zara kembali duduk disebelah Ibunya. Karena akan meminum kopi, ia membuka cadarnya.


Karena yang ada didalam rumah semua adalah keluarganya.


Amir dan Arumi keluar dari kamar, lalu menghampiri mereka berempat.


“Bujubunengg, Zara cantik banget.” Arumi kaget. Setelah tinggal dirumah ini selama satu bulan lebih, Ini pertama kalinya ia melihat wajah Zara. “Ternyata aku kalah cantik darinya. Kenapa yang tampan cuma buat yang cantik saja? Yang kurang cantik sepertiku apa tidak boleh mendapatkan yang tampan juga?” Arumi terus mengoceh didalam hatinya.


“Kalian minum kopi?” Tiba-tiba Arumi teringat tentang kopinya yang ditolak tadi.


“Iya. Kamu mau?” Aura menawarkan.


“Tidak.” Jawab Arumi singkat. Lalu Arumi pergi ke kamarnya setelah mencium punggung tangan Amir.


“Kamu sudah mau berangkat ke kantor?” Tanya Rizky pada Amir.


“Iya, Bang. Aku permisi. Assalamu’alaikum.” Ucap Amir.


Semua yang ada diruang tengah menjawab salam Amir.


“Zayn, berapa malam lagi kamu dan Zara akan menginap dirumah ini?” Tanya Rizky.


“In syaa Allah dua malam lagi, Paman.”


“Setelah itu?” Tanya Aura.


“Setelah itu aku dan Zara akan menginap beberapa malah di rumah Abi dan Ummi.”


“Setelah itu?” Kali ini Zara yang bertanya karena penasaran.


“Setelah itu kita akan tinggal di apartment. Aku sudah memiliki apartmentku sendiri. Tidak jauh dari rumah sakit.” Jawab Zayn.


“Oh, begitu.” Zara mengangguk.

__ADS_1


“Hmm, memang sebaiknya seperti itu. Agar kalian berdua bisa membina rumah tangga kalian sendiri dengan baik tanpa adanya campur tangan dari kami para orang tua ini.” Ucap Rizky.


“Iya, Paman. Aku juga berpikir demikian.” Sahut Zayn.


Zara menatap Ibunya.


“Ada apa sayang?” Tanya Aura pada Zara.


“Apa Ibu akan sering datang mengunjungiku?” Tanya Zara.


“In syaa Allah.” Jawab Aura lalu mengecup dahi Zara.


Zara tersenyum.


Malam hari, Arumi dan Amir akan berangkat ke rumah rentenir tempat Arin meminjam uang.


“Mana alamatnya?” Tanya Amir.


Kemudian Arumi menyerahkan ponselnya. Disana tertulis alamat rumah sang rentenir.


“Ayo berangkat.” Ajak Amir.


Mereka berdua keluar dari kamar dan langsung menuju mobil.


Arumi sengaja memakai jilbab besar dan memakai kaca mata agar rentenir itu tidak mengenali wajahnya.


Tidak berapa lama kemudian, mereka sampai ditujuan.


Arumi merasa takut masuk ke dalam rumah rentenir tersebut karena banyak pengawal yang berbadan besar.


“Silahkan.” Ucap seorang pengawal.


Amir mengangguk. Sedangkan Arumi terus saja menggandeng tangan Amir.


“Benar, Pak.” Jawab Arumi gugup.


“Pak. Pak apa? Aku bukan Bapakmu. Panggil aku Boss.”


“Ma-maaf, Boss.” Ucap Arumi.


“Boss, kedatangan kami ke sini untuk melunasi hutang-hutang seorang wanita yang bernama Arin.” Amir to the point karena ia merasakan ketakutan Arumi. “Semakin cepat selesai maka akan semakin cepat pergi.” Pikirnya.


“Oh, Arin.” Boss menganggukkan kepalanya. “Hutangnya tujuh ratus juta.” Lanjutnya.


“Apa?” Arumi sangat kaget mendengar jumlahnya.


“Kenapa? Kamu tidak percaya? Aku punya catatannya. Kalian bisa melihatnya.” Ucap Boss lalu menyuruh pengawal memberikan catatan pada Amir.


Amir memeriksa catatan tersebut dengan seksama. Disana tertulis jumlah pinjaman sebesar lima ratus juta. Ditambah dengan bunga dan denda keterlambatan pembayaran. Semuanya berjumlah tujuh ratus empat puluh lima (745) juta rupiah. Sudah dicicil sebanyak tiga kali. Sisanya tujuh ratus juta.


Amir menutup buku lalu mengambil satu lembar cek. Ia menulis angka di cek tersebut sesuai dengan jumlah hutang Arin.


Kemudian Amir menyerahkan buku catatan beserta cek yang sudah ia tanda tangani.


“Bagus, sangat bagus. Hahahaa.” Boss tertawa bahagia.


“Hutang-hutang Arin sudah lunas. Sekarang kami undur diri.” Ucap Amir.


“Baiklah. Antar mereka keluar.” Ucap Boss pada pengawalnya.


“Baik, Boss.” Sahut pengawalnya.

__ADS_1


“Permisi.” Ucap Amir pada Boss.


Boss mengangguk sambil tertawa kecil.


Arumi merasa lega karena urusannya di rumah itu sudah selesai.


Amir dan Arumi kembali pulang ke rumah.


***


Setelah dua malam berlalu.


Zara mengemasi barang-barang yang akan dia bawa ke rumah barunya.


“Sebanyak ini?” Zayn membelalakkan kedua bola matanya.


“Iya. Dua koper besar ini berisi pakaianku. Satu koper berisi barang-barangku seperti tas, sepatu dan printilan wanita yang tidak dimiliki pria. Satu tas besar ini berisi buku-buku. Beberapa hari lagi aku akan mulai tahun jaran baru.” Zara menjelaskan secara detail.


“Hufffttt. Memang tidak mudah menjadi wanita.” Ucap Zayn. Ia membawa kopernya yang berukuran sedang dan koper Zara yang berukuran besar.


Zara menatap koper milik Zayn dan membandingkannya dengan koper miliknya yang berukuran besar.


“Iya ya, aku baru sadar. Memang tidak mudah menjadi wanita.” Zara setuju dengan apa yang dikatakan Zayn tadi.


Lalu dia menyusul Zayn sembari membawa dua koper miliknya.


Setelah Zayn memasukkan koper-koper ke dalam mobil, ia kembali ke kamar untuk mengambil tas Zara yang berisi buku-buku.


“Sudah dibawa semua?” Tanya Rizky pada Aura.


“Sudah, Ayah.” Jawab Zara.


“Kalau begitu kita berangkat sekarang.” Ucap Rizky.


“Iya.” Sahut Zara dan Zayn serentak.


Zayn mengendarai mobilnya sendiri bersama Zara. Sedangkan Rizky dan Aura juga mengendarai mobil mereka sendiri.


Selama dalam perjalanan Zara dan Zayn tidak mengucapkan sepatah katapun.


Perjalanan selama setengah jam mereka lalui hanya dengan berdiam diri.


Sesampainya di rumah Sidik, mereka disambut dengan hangat.


Zara dan Hulya terlihat sangat bahagia bertemu kembali setelah sekian lama berpisah.


“Kak Zara, bagaimana rasanya menjadi pengantin?” Tanya Hulya.


“Hah? Biasa saja.” Jawab Zara.


“Benarkah?”


“Iya.” Jawab Zara.


Merasa tidak puas dengan jawaban Zara, Hulya pergi bertanya pada Abangnya.


“Bang Zayn, bagaimana rasanya menjadi pengantin?”


“Hah? Kenapa anak kecil sepertimu bertanya tentang hal itu?” Zayn balik bertanya.


“Apa? Aku anak kecil? Aku hanya lebih muda satu tahun dari Kak Zara.”

__ADS_1


“Suatu hari nanti kamu pasti akan mengetahuinya saat kamu menjadi seorang pengantin.” Ucap Zayn.


“Hmm. Baiklah.” Hulya menganggukkan kepalanya.


__ADS_2