
Sudah sebulan berlalu semenjak kami berkunjung ke rumah Kak Mea, Ibu masih saja terlihat murung dan khawatir.
"Ibu kenapa murung terus, Bu? Adik lihat Ibu juga kurang konsentrasi dalam menjalankan usaha Ibu." tanyaku saat melihat Ibu sedang termenung di kios.
"Ibu kepikiran terus sama Kakakmu, Dik. Bagaimana keadaannya sekarang? Sedang apa? Semua keinginannya dituruti apa tidak sama suaminya? Banyak hal yang Ibu fikirkan, Dik. Apa lagi orang yang sedang ngidam pasti pingin ini pingin itu." jawab Ibu.
"Apa mau Adik teleponkan Bang Rafli supaya Ibu bisa ngomong sama Kak Mea?"
"Jangan Dik, nanti Ibu malah mengganggu Abangmu kerja."
"Tidak sekarang, Bu. Nanti malam saja. Kalau malam Abang sudah ada di rumah."
"Tapi kalau ada Abangmu pasti Kakak tidak mau cerita yang jujur sama Ibu."
"Kalau itu Adik tidak tau, Bu. Ibu Khusnudzon saja, Bu. Sekalian nanti Ibu ngomong juga sama Bang Rafli, nasehatin kalau perlu, Bu. Hehe."
"Iya sudah kalau begitu, nanti malam telepon mereka ya."
"Baik, Bu."
Setelah itu aku lihat Ibu mulai bersemangat kembali menjalankan aktivitasnya dan melayani pembeli.
Semenjak Kak Mea menikah, Ibu yang selalu memasak untuk makan kami. Aku kepingin sih belajar masak, tapi ya bisanya cuma masak sambal ikan teri sama rebus daun singkong. Sedih aku tuh, sudah gadis gini masih tidak bisa masakin makanan yang enak-enak buat Ibu.
Kalau kepingin makan ikan, ayam atau daging pasti Ibu yang akan mengolahnya menjadi makanan yang sangat sedap. Aku hanya menikmati hasilnya saja tanpa tau proses masaknya seperti apa.
Hari pun kian berlalu hingga jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Adzan Ashar sudah berkumandang 10 menit yang lalu. Telah aku selesaikan kewajibanku sebagai seorang Hamba.
Saat keluar kamar aku lihat Ibu sedang memasak di dapur.
"Hari ini Ibu masak apa, Bu?" tanyaku pelan karena takut membuat Ibu kaget.
"Masak lauk kesukaan Adik." jawab Ibu.
"Yang benar, Bu?" tanyaku serius.
"Iya benar. Nih lihat saja sendiri. Ibu masak sayur asam ikan kepala campur terong bulat." jawab Ibu.
"Waaaahhh, Adik jadi tidak sabar ingin makan Bu, hehe." ucapku sambil tersenyum penuh semangat.
Aku memang suka banget sama lauk yang satu ini. Kalau makan mah pasti bakalan nambah nambah. Apa lagi yang masak Ibu.
Kalau aku yang masak mungkin tidak akan termakan, rasanya pasti jadi aneh. Huffftt!!
__ADS_1
Setelah selesai sholat Isya, Ibu memintaku untuk coba menelepon nomor Bang Rafli. Terdengar bunyi tutt tutt tutt berkali-kali hingga akhirnya ada yang menyahut dari kejauhan sana.
"Assalamu'alaikum." ucapku.
"Wa'alaikumussalam." sahut Bang Rafli.
"Bang, Ibu mau bicara sama Kak Mea."
"Owh, sebentar, Abang panggilkan."
"Iya, Bang." ucapku.
"Halo, Assalamu'alaikum." setelah menunggu beberapa menit akhirnya terdengar suara Kak Mea dari sebrang sana.
"Wa'alaikumussalam. Kak, Ibu mau bicara." ucapku lalu menyerahkan telepon genggamku pada Ibu. Aku juga mengaktifkan speaker phone agar aku bisa mendengar obrolan mereka.
Saat Ibu asik mengobrol dengan Kak Mea, aku bergegas pergi ke dapur untuk mengambil nasi dan lauk, aku lapar.
Aku mendengarkan Ibu dan Kak Mea mengobrol sambil menyantap makan malamku dengan lahap. Mana mungkin tidak lahap, makan pakai lauk favorite.
"Mea sehat kan?" tanya Ibu.
"Alhamdulillah sehat, Bu."
"Alhamdulillah sehat juga, Bu. Mea dan Bang Rafli kemaren sudah check ke dokter. Ada di kasih Vitamin juga, Bu. Jadi Ibu tidak perlu khawatir."
"Owh syukurlah kalau begitu. Sudah ngidam belum, Nak?"
"Sudah, Bu. Kemaren Mea sempat ngidam kepingin makan sate ayam bumbu padang jam satu malam."
"Ma syaa Allah, jam satu malam. Lalu dibelikan tidak?"
"Dibelikan sama Bang Rafli, di cari sampe ketemu yang jual. Tapi pas satenya sudah di depan Mea, Mea cuma makan satu tusuk saja sudah tidak selera lagi. Hehe." ucap Kak Mea sambil tertawa pelan.
"Tidak dihaniskan?"
"Mea habiskan, Bu. Sayang kalau tidak habis, apalagi belinya jauh, malam-malam pula."
"Iya. Biasa itu kalau ngidam, tidak di beli kepingin, sudah di beli malah sudah tidak kepingin lagi, hehe." jawab Ibu sambil tertawa kecil.
"Adik lagi apa, Bu?" tanya Kak Mea.
"Lagi makan, sudah nambah dia." ucap Ibu.
__ADS_1
"Tumben, biasanya susah mau makan."
"Adik makan pake lauk sayur asam ikan kepala ini, Kak." sahutku.
"Owh, enak lha. Pantesan bisa nambah."
"Heheheh, Iya." jawabku masih sambil melahap makananku.
"Ibu sudah makan?" tanya Kak Mea.
"Sudah, tadi Ibu makan lebih dulu. Gantian sama Adik jaga kios." jelas Ibu.
"Owh, iya ya. Bu, sudah dulu ya, Bu. Tidak terasa sudah satu jam ngobrol sama Ibu. Kapan-kapan kita ngobrol lagi."
"Iya, Nak. Mea jaga kesehatannya ya. In syaa Allah ada waktu nanti Ibu sama Adik main lagi ke sana."
"Iya, Bu. Ibu sama Adik juga jaga kesehatan ya di sana. Assalamu'alaikum." ucap Kak Mea mengakhiri obrolan.
"Iya. Wa'alaikumussalam." sahut Ibu lalu menutup telepon.
"Sekarang perasaan Ibu bagaimana, Bu? Sudah lega karena sudah bicara sama Kak Mea?" tanyaku pada Ibu.
"Alhamdulillah sudah. Semoga saja Kakakmu benar-benar baik-baik saja di sana." jawab Ibu.
"In syaa Allah, Bu." sahutku.
Setelah berbicara langsung dengan Kak Mea, kemurungan di wajah Ibu mulai sirna. Sepertinya Ibu benar-benar sudah lega karena sudah bicara dengan Kak Mea. Semoga setelah ini fikiran buruk Ibu bisa berkurang agar Ibu juga bisa lebih semangat menjalani hari-harinya dan aktivitasnya.
"Bu, sudah pukul 10 tuh, pembeli juga sudah sepi. Ayo kita tutup kiosnya." pintaku.
"Owh iya, sudah malam ternyata. Ayo, Ibu juga sudah lelah. Alhamdulillah hari ini banyak pembeli, uang juga sudah cukup untuk belanja besok." jawab Ibu.
Kemudian kamipun beranjak dari tempat duduk dan menuju kios. Pelan-pelan kami bereskan semuanya.
Setiap pagi sehabis Sholat Subuh, Ibu mandi dan berangkat ke pajak pagi untuk membeli sayur-sayuran dan di jual lagi di rumah.
Sementara Ibu masih ke pajak, akulah yang akan stand by di rumah untuk menjaga kios. Jadi, mulai dari subuh sampai malam kami tidak tidur lagi. Kecuali kalau ngantuk, kadang-kadang aku dan Ibu gantian untuk tidur siang.
Alhamdulillah rezeki dari Allah tidak putus-putus untuk kami. Kami sangat bersyukur karena masih di beri kesehatan dan masih bisa terus berjualan di rumah.
Meskipun terkadang ada saja yang berhutang, tapi uangnya masih tetap cukup untuk dijadikan modal belanja sayuran dan juga belanja di grosir.
Memang terkadang aku lihat Ibu pusing memutar uang yang ada, tapi Alhamdulillah Ibu selalu mendapat jalan keluar. Allah akan selalu ada.
__ADS_1