
Dona bergegas meninggalkan rumah Rizky dan langsung naik taxi. Dona langsung pergi ke rumah Lucy, ia merasa sudah tidak sabar untuk bergossip dengan sahabatnya itu.
Sesampainya di depan pagar rumah Lucy, Dona turun dari taxi.
Sekuriti menghampiri pintu gerbang dan membukakannya untuk Dona.
“Terima kasih, Pak.” Ucap Dona pada sekuriti tersebut.
“Sama-sama Non Dona.” Sahut Pak sekuriti.
Tokk...Tokk... Tokk... Dona mengetuk pintu.
Lalu pintu dibukakan oleh Bi Minah si tukang latah. Saat melihat Bi Minah di depan pintu, Dona selalu ingin iseng menjahili Bi Minah.
“Halo, Bi!” Ucap Dona berteriak dan memukul bahu Bi Minah.
“A halo halo halo.” Bi Minah kaget dan memutar-mutar badannya. “Astaghfirullah.” Ucap Bi Minah sambil mengelus dadanya berkali-kali.
“Hahahaha.” Dona tertawa lepas. Ia merasa puas.
“Non Dona suka banget ngagetin Bibi. Jantung Bibi sudah tidak kuat, Non.” Ucap Bi Minah yang masih mengelus dada.
“Hahaha. Maaf, Bi. Habisnya Bibi lucu sih kalau latah.” Ucap Dona sambil tertawa dan mencubit kedua pipi Bi Minah.
Bi Minah hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Lucy mana, Bi?” Tanya Dona. Dia baru ingat tujuannya datang ke rumah itu.
“Ada di kamar, Non. Sudah beberapa hari ini Non Lucy betah banget mengurung dirinya di dalam kamar.” Jawab Bi Minah.
“Oh ya? Aneh banget.” Dona sedikit kaget.
“Iya, memang aneh. Non Dona lihat saja sendiri di kamarnya. Ayo Bibi antar.” Ajak Bi Minah.
“Iya, Bi.” Sahut Dona.
Tokk...Tokk... Tokk... Bi Minah mengetuk pintu kamar Lucy.
“Non Lucy.” Panggil Bi Minah.
“Saya sudah pesan sama Bibi, jangan ganggu saya!!” Lucy teriak dari dalam kamarnya.
Bamn!! Sesuatu mengenai pintu.
“Astaghfirullah.” Bi Minah kaget. “Tuh kan, Non. Non Lucy tidak mau di ganggu.” Sambung Bi Minah.
“Cy, ini aku Dona.” Teriak Dona agar Lucy mendengarnya.
Tidak ada jawabab apa-apa dari dalam.
Lalu tiba-tiba pintu kamar di buka.
“Ayo masuk.” Lucy menarik tangan Dona.
Setelah Dona masuk ke dalam kamar, Lucy langsung menutup dan mengunci pintu kamarnya.
“Kamu kenapa? Acak-acakan begini seperti orang gila?” Dona sangat heran dan kasihan melihat keadaan Lucy sahabat baiknya itu.
__ADS_1
“Aku setres.” Jawab Lucy. “Atau mungkin depresi.” Lanjutnya dengan suara yang lemah.
Lucy membanting tubuhnya di atas kasur. Dona duduk disampingnya.
“Kita sudah dua hari tidak bertemu. Kamu malah jadi seperti ini. Apa yang terjadi?” Tanya Dona.
Lucy hanya diam. Wajahnya menghadap langit-langit kamar, tapi tatapannya kosong.
“Aku di paksa menikah, Na.” Jawab Lucy setelah beberapa saat suasana menjadi hening.
“APA??? Oh my God.” Teriak Dona histeris. Dia bahkan spontan beranjak dari tempat duduknya.
Lucy menatap Dona tanpa ekspresi apapun diwajahnya.
“Di paksa menikah dengan siapa?” Tanya Dona dengan lembut dan kembali duduk di sisi Lucy.
“Anton.” Jawabnya pelan.
“Bagaimana ceritanya?” Tanya Dona yang sangat penasaran.
Flashback...
Anton mengunjungi perusahaan Papa Lucy. Selain Anton memiliki saham 30% diperusahaan Papa Lucy, Papa Lucy juga pernah meminjam modal kepada Perusahaan Anton. Hingga saat ini uang modal tersebut belum juga dikembalikan oleh perusahaan Papa Lucy.
“Sudah lama kita tidak bertemu. Bagaimana kabar Anda Tuan Anton.” Ucap Pak Bram Papa Lucy sambil berjabat tangan dengan Anton. “Silahkan duduk, Tuan.” Lanjutnya.
“Saya baik-baik saja dan Saya juga merasa senang bisa bertemu lagi dengan Anda Pak Bram.” Ucap Anton sambil tersenyum.
Pak Bram membalas senyum Anton.
Lalu masuklah seorang office boy membawakan dua gelas kopi untuk Anton dan Pak Bram.
“Terima kasih, Pak.” Sahut Anton.
“Oh ya, mengenai modal yang pernah saya pinjam pada Tuan Anton. Saya minta maaf karena hingga saat ini perusahaan saya belum mampu untuk membayarnya.” Ucap Pak Bram tanpa menatap wajah Anton, karena Pak Bram merasa bersalah dan malu.
“Tidak masalah. Saya bisa menganggap perusahaan Pak Bram tidak pernah memiliki hutang dengan perusahaan saya.” Ucap Anton dengan tenang.
“Benarkah?” Pak Bram kaget dan langsung menatap wajah Anton.
“Iya, tapi tidak ada yang gratis. Saya punya satu syarat.” Jawab Anton.
“Ap..apakah syaratnya?” Tanya Pak Bram dengan gugup. Dia khawatir kalau syarat yang diajukan oleh Anton sangat berat dan merugikannya.
“Lucy Angelina Rose adalah putri tunggal Bapak, benar? Tanya Anton.
“Iya, Tuan. Benar.” Jawab Pak Bram.
“Saya menyukai putri Bapak. Saya mau Bapak menjodohkan dia dengan saya.” Pinta Anton terang-terangan pada Papa Lucy.
“Tapi, apakah saya akan menjadi orang tua yang tega menjual anak saya hanya karena belum sanggup membayar hutang?” Pak Bram merasa sedih. Ia tidak tega menggadaikan kebahagiaan putri tunggalnya hanya karena kesalahan yang ia perbuat.
“Tentu saja tidak, anggap saja saya sedang mengemis pada Bapak. Saya sudah mencoba segala cara untuk mendekatinya, tapi dia menolak saya. Dia lebih memilih Rizky, pria yang sudah menikah.” Ucap Anton. “Pilihan ada di tangan Bapak. Apakah Bapak mau dia terus-terusan mengganggu rumah tangga Rizky? Atau menjodohkannya dengan saya lalu hutang perusahaan Bapak saya anggap lunas?” Sambungnya.
Pak Bram tidak menjawab. Dia terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.
“Bagaimana, Pak?” Tanya Anton yang tidak sabar menunggu keputusan Pak Bram.
__ADS_1
“Baiklah, saya akan menjodohkan putri saya dengan Tuan Anton. Nanti malam saya akan langsung menyampaikan hal ini pada Lucy.” Jawab Pak Bram.
“Ok. Saya tunggu kabar selanjutnya.” Ucap Anton lalu dia beranjak dari tempat duduknya. “Kalau begitu saya permisi.” Lanjutnya dan berjabat tangan dengan Pak Bram.
“Baik, Tuan. Terima kasih karena sudah meluangkan waktu untuk mengunjungi perusahaan saya.” Sahut Pak Bram.
Anton menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
Flashback selesai...
“Begitulah ceritanya, Na. Hiks hikss.” Lucy menceritakan hal itu sambil menangis.
“Aduhh, tidak sangka Anton nekat melakukan cara keji seperti ini untuk mendapatkanmu.” Ucap Dona yang simpati pada Lucy.
Dona memeluk Lucy dan membiarkan Lucy menangis dalam pelukannya.
“Apa ini karma untukku? Hikss.” Tanya Lucy.
“Sudahlah, Cy. Jangan berfikir terlalu jauh.” Dona coba menenangkan Lucy.
Setelah beberapa lama menangis, mata Lucy menjadi merah dan sembab.
“Sebenarnya tadi aku datang ke sini ingin menyampaikan sesuatu padamu. Tapi melihat keadaanmu yang sepeti ini, aku jadi lupa.” Ucap Dona setelah melihat Lucy mulai tenang.
“Hal apa?” Tanya Lucy dengan suaranya yang serak karena baru siap menangis.
“Aura keguguran.” Jawab Dona.
“Oh ya?” Tanya Lucy pelan.
“Iya, kamu kenapa tidak kaget? Apa kamu sudah tau?” Tanya Dona.
“Tidak, aku belum tau. Kenapa bisa keguguran?” Tanya Lucy.
“Aku juga tidak tau pasti, tadi aku tidak tanya dengan detail pada Tante. Tapi sepertinya ada yang sengaja membuatnya keguguran.” Jawab Dona. “Tapi, kalau seandainya aku tau siapa yang menyebabkan Aura keguguran, aku pasti akan mencakar-cakar wajahnya.” Lanjutnya dengan emosi.
“Oh ya? Kenapa?” Lucy heran.
“Kita boleh-boleh saja tidak suka pada Aura, boleh-boleh saja jika ingin menyiksanya. Tapi bayi yang ada di dalam perutnya tidak berdosa, biar bagaimanapun juga dia adalah keponakanku.” Jawab Dona.
Lucy hanya diam, tidak tau mau mengatakan apa lagi. Lalu dia memutuskan untuk pergi mandi.
“Aku mau pergi mandi sebentar. Setelah itu kamu temani aku makan di restoran.” Ucap Lucy.
“Hamba siap melayani Tuan Putri, hehe.” Ucap Dona menghibur Lucy.
“Hahah, apaan sih.” Ucap Lucy.
“Kalau memang terpaksa lebih baik tidak usah tertawa. Haha.” Ucap Dona mentertawakan Lucy.
“Terpaksa?” Tanya Lucy yang tidak mengerti.
“Iya, tadi suara ketawa kamu itu, tertawa tapi sepertinya terpaksa.” Jawab Dona menjelaskan.
“Oh, itu. Whatever, hehe.” Lucy cengengesan.
Lucy masuk ke dalam kamar mandi sedangkan Dona menunggu sambil santai-santai di atas kasur.
__ADS_1
Dia tidak menyangka bahwa Lucy akan mengalami hal seperti ini. Padahal dulunya dia adalah anak yang paling di sayang dan di manja oleh kedua orang tuanya.
Apapun yang ia inginkan pasti ia dapatkan, kecuali Rizky.