
Satu jam kemudian…
Terlihat sekelibat para bapak petani yang berdatangan menghampiri Rizky dan Ibu-Ibu petani.
“Maafkan kami, Nak. Kami tidak berhasil menemukan istrimu.” Ucap salah seorang petani dengan perasaan bersalah.
“Apa? Bagaimana bisa?” Rizky terlihat sangat sedih, khawatir dan merasa sangat menyesal. Karena kecerobohannya, kini istrinya menghilang.
“Istri saya pasti masih ada disekitar situ, Pak.” Ucap Rizky dengan penuh keyakinan. “Saya mohon, Pak. Tolong cari istri saya sampai ketemu. Saya janji akan memberikan imbalan yang setimpal untuk bapak-bapak semua.” Rizky mengatupkan kedua tangannya memelas dan memohon pada orang tua yang ada didahapannya. Air matanya pun mulai mengalir lagi.
“Baiklah, Nak. Kami akan mencoba untuk mencarinya lagi.” Jawab salah seorang Bapak yang merasa Iba melihat Rizky.
Kemudian si Bapak meminta seorang temannya untuk melaporkan hal tersebut kepada Polisi setempat.
Setelah Polisi dan Tim Sar ikut andil dalam mencari Aura, Rizky meyakinkan dirinya bahwa istrinya pasti akan segera ketemu.
“Ky, ayo kita obati dulu tanganmu.” Ajak Sidik yang sudah dari tadi menemani Rizky menunggu hasil pencarian Aura.
“Tidak, Sid. Rasa sakit ditangan saya ini tidak seberapa jika dibandingkan dengan luka dihati saya. Apa kamu tau? Saya yang menyuruh dia untuk melompat. Bahkan saya sempat berteriak memaksanya untuk lompat. Padahal dia sudah membritahu saya kalau dia merasa takut untuk lompat.” Rizky mengucapkan kata demi kata dengan air mata yang berlinangan. Dia sungguh merasa menyesal atas pemikirannya tadi, masih terbayang jelas dimatanya bagaimana raut wajah Aura yang merasa takut untuk melompat. Semakin ia mengingatnya, semakin sesak dadanya.
“Iya, aku mengerti. Tapi kamu juga harus sembuh, harus sehat, agar kamu juga bisa turun tangan untuk mancari istrimu.” Ucap Sidik menasehati. “Oh ya, apa keluargamu sudah mengetahui hal ini?” Tanyanya kemudian.
“Belum, saya tidak berani memberitahukan hal ini pada mereka.” Sahut Rizky pelan, suaranya pun sangat serak karena terus-terusan menangis dan menyesali perbuatannya. Ia tidak peduli jika sekarang ia bersikap seperti anak kecil yang cengeng.
“Hari sudah semakin larut, Ky. Kamu juga butuh istirahat. Sebaiknya kita segera kembali ke puncak saja, beristirahat dan makan. Agar kamu sehat dan tenagamu juga bisa segera pulih.” Ajak Sidik lagi yang sudah berulang kali melihat jam ditangannya.
Kali ini Rizky menurut, ia berpesan pada salah seorang petugas polisi agar segera mengabarinya jika sudah menemukan istrinya.
Rizky dan Sidik masuk ke dalam mobil yang dibawa oleh Sidik dan istrinya. Sedangkan mobil Rizky sudah di bawa ke bengkel terdekat yang walaupun dikatakan tempat terdekat tapi jaraknya lumayan jauh dari tempat kejadian.
Sidik memperhatikan Rizky dari kaca, ia sangat kasihan melihat temannya seperti itu. Ia tau betul seberapa dalam perasaannya terhadap Aura. Lalu sekarang terjadi sesuatu pada Aura dan itu juga Rizkylah penyebabnya.
Sesampainya di Villa, Sidik menunjukkan kamar Rizky dan juga Sidik membawakan baju ganti untuk Rizky.
__ADS_1
“Kalian kalau sudah lapar, makanlah duluan. Saya ingin menjama’ sholat yang sudah saya tinggalkan.” Ucap Rizky.
“Tidak apa-apa, kami akan menunggumu. Lagi pula aku dan istriku juga mau bersih-bersih terlebih dulu dan sholat Isya.” Sahut Sidik.
Rizky mengangguk lalu masuk ke dalam kamar sembari membawa baju ganti ditangan kirinya. Karena tangan kanannya sakit, mungkin terkilir.
Setelah Rizky selesai mengerjakan semuanya, ia keluar kamar dan mendapati Sidik serta Alisya sedang duduk mengobrol dan terlihat sangat mesra. Hal itu kembali membuat dadanya sebak, mengingat keadaan istrinya yang ntah bagaimana.
“Sid, apa kamu tau tukang urut disekitar sini? Sepertinya tangan kanan saya terkilir.” Tanya Rizky mengagetkan sepasang suami istri itu.
“Oh, Ky.” Sidik menoleh ke arah suara tersebut berasal. “Saya akan tanya kepada penjaga Villa.” Lanjutnya lalu beranjak dari tempat duduknya.
“Saya akan siapkan makan malamnya.” Ucap Alisya yang kemudian bergegas pergi ke dapur.
Rizky melihat di sofa ada barang bawaannya bersama Aura. Ia meraih handbag milik istrinya lalu memeriksa ponselnya. Dilihatnya sudah ada puluhan panggilan tak terjawab dari Ibu Aura.
Rizky bingung, “Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus menelepon Ibu?” Tanyanya pada dirinya sendiri.
Beberapa menit kemudian, ia memberanikan diri untuk menelepon Ummi dan memberitahu mereka tentang musibah yang menimpa dirinya dan istrinya.
“Ada apa, Nak?” Tanya Ummi.
“Ummi…” Rizky bingung bagaimana harus mengatakannya.
“Katakan pada Ummi, Nak. Mengapa kamu menangis?” Ummi sudah merasa sangat penasaran.
“Aura, Mi…” lagi-lagi kalimatnya menggantung.
“Aura kenapa?” Tanya Ummi lagi.
“Aura hi..hil..lang, Mi.” Sahut Rizky terbata. Dan tangisannya pecah. Layaknya seorang anak kecil yang sedang mengadu pada Ibunya.
“Apa? Aura hilang? Kenapa bisa?” Ummi melontarkan begitu banyak pertanyaan. “Astaghfirullah.” Lalu ntah mengapa tiba-tiba Ummi kaget.
__ADS_1
Rizky hanya mendengarkan riuhnya diseberang sana tanpa tau apa yang sedang terjadi. Rizky masih terus menangis tanpa henti.
“Nak, kamu tenangkan dirimu. Sharelok ke Ummi tempat kamu menginap, besok pagi Ummi dan Abi akan menyusulmu ke sana.” Pinta Ummi. “Bu Ayu sekarang sedang pingsan karena mendengar putrinya hilang, kami haru segera membawanya ke rumah sakit.” Lanjut Ummi.
“Baik, Mi.” Ucap Rizky lalu panggilan terputus setelah keduanya menutup percakapan dengan salam.
Setelah itu Rizky langsung meng-share location villa tempat dia menginap bersama temannya.
***
Diperjalanan menuju rumash sakit.
Abi duduk di sebelah Pak Ujang yang sedang menyetir mobil, sementara Ummi dan Jihan bersama Bu Ayu dibelakang.
Sesampainya di rumah sakit, Pak Ujang meminta perawat untuk mengambil kursi roda dan segera membawanya ke kamar VIP.
Pak Ujang, Abi, Ummi dan Jihan diminta menunggu diluar oleh perawat.
Beberapa menit kemudian Dokter Wahyu keluar.
“Bagaimana keadaan besan saya, Dok?” Tanya Ummi.
“Bu Ayu sangat shock, tekanan darahnya rendah. Sebaiknya beliau dibiarkan menginap disini malam ini. Kita lihat besok pagi bagaimana perkembangannya.” Jawab Dokter Wahyu.
“Baik. Terima kasih, Dok.” Sahut Abi.
Lalu Dokter Wahyu berpamitan dan meninggalkan mereka ber-empat.
“Mi, sebaiknya kita pulang saja. Besok pagi kita harus segera pergi melihat keadaan Rizky di puncak.” Ajak Abi.
Ummi menganggukkan kepalanya. Sebenarnya ia merasa tak enak hati meninggalkan besannya.
“Jihan sebaiknya tinggal di sini saja menemani Bu Ayu. Kalau ada apa-apa langsung telepon ke rumah.” Pesan Abi pada Jihan.
__ADS_1
“Baik, Tuan.” Sahut Jihan.
Setelah itu Abi dan Ummi pulang bersama Pak Ujang.