
Satu minggu sudah berlalu. Hari ini aku akan pergi menghadiri pesta pernikahan Icha dan Bang Abdul.
Sudah sepuluh tahun lebih aku tidak melihat Bang Abdul. Aku jadi merasa sedikit penasaran, seperti apa penampilannya sekarang?
Ting!! Ada pesan masuk. "Dari Lilian." ucapku di dalam hati.
"Ra, hari ini pergi ke pesta pernikahan Icha bareng aku, ya." tulisnya.
"In syaa Allah. Rencananya Aura akan pergi ke sana setelah sholat isya." balasku.
"Owh, kalau begitu jangan lupa memberi kabar, chat aku jika sudah mau berangkat." pinta Lilian padaku.
"Baik, Li." jawabku.
Sampai detik ini aku masih bingung akan memakai gamis yang mana. Tapi karena Icha adalah sahabatku, dia pasti tidak akan memperdulikan penampilanku, asalkan aku datang dan memenuhi undangannya.
"Bu, gamis yang ini bagus tidak jika di pakai undangan ke pesta pernikahan?" tanyaku pada Ibu.
Aku membawa sebuah gamis perpaduan antara warna hitam dan kuning. Atasannya berwarna hitam dan bawahannya berwarna kuning. Bawahannya memiliki kain 2 lapis memberikan kesan elegan dan tentunya tidak menerawang. Setiap kali memakainya, aku merasa menjadi seorang Princess di abad ke 21. Wkwkwkk.
"Bagus." jawab Ibu. "Anak Ibu yang cantik ini, memakai gamis manapun pasti akan tetap terlihat cantik." lanjutnya.
"Hehee, Ibu bisa saja." ucapku sambil cengengesan. "Ibu tidak pergi undangan ke rumah Icha, Bu." tanyaku.
"Tidak, nanti Ibu titip amplop saja dengan Adik ya." ucap Ibu.
"Iya, Bu."
"Dik, bagaimana kelanjutan hubungan Adik dan Rizky? Jadi dia datang bulan depan tanggal 5?" tanya Ibu tiba-tiba.
"Ouh, itu, Adik belum ada menghubungi Bang Rizky, Bu. Nanti malam setelah pulang dari tempat Icha, Adik akan tanya dengan dia." jawabku.
"Ya sudah kalau begitu. Ini sudah mau maghrib. Adik siap-siap saja. Ibu mau tutup kios."
"Tumben cepat, Bu. Ada apa?" tanyaku. Aku merasa heran karena biasanya Ibu akan menutup kios di atas pukul sepuluh malam.
"Ibu kurang enak badan. Ibu ingin istirahat." jawab Ibu.
"Ibu sakit? ayo ke puskesmas."
"Tidak perlu, Dik. Ibu hanya kelelahan, karena itu Ibu ingin tutup kios lebih awal, agar Ibu juga bisa istirahat lebih awal." ucap Ibu.
"Owh, baiklah, Bu. Aura bantu Ibu tutup kios dulu saja, baru kemudian siap-siap sholat maghrib."
Kami berdua bergegas untuk menutup kios, tidak lupa juga kami membaca bismillah agar makhluk-makhluk yang tidak bisa di lihat dengan kasat mata, tidak berani masuk ke dalam rumah kami.
Setelah selesai menutup kios, aku dan Ibu bergantian masuk kamar mandi untuk berwudhu'.
__ADS_1
Lalu aku menunaikan kewajibanku sebagai seorang hamba, sholat maghrib tiga rakaat dan membaca Al-qur'an beberapa halaman.
Setelah selesai, aku meraih gawaiku. Ternyata ada chat masuk dari Bang Rizky, calon suamiku. Wkwkwkk.
Aku tidak mendengar ponselku berbunyi. Mungkin saat aku sedang di kios berasama Ibu, chat Bang Rizky masuk.
"Assalamu'alaikum, Ra." tulisnya.
"Wa'alaikumussalam, Bang." Balasku.
"Apa kamu sudah selesai sholat istikharah? Ini sudah satu minggu, pasti kamu sudah mendapatkan petunjuk bukan?" tanya Bang Rizky.
"Alhamdulillah sudah, Bang. Tadinya Aura pikir akan cerita dengan Abang setelah pulang dari pesta pernikahan Icha." balasku coba menjelaskan.
"Owh, kapan Icha menikah?" tanya Bang Rizky lagi.
"Hari ini, Bang. Siang Ijab Qobul, malam resepsi. Nanti setelah sholat isya, Aura akan pergi ke sana." jawabku.
"Owh, hati-hati. Jangan lupa untuk chat Abang dan ceritakan tentang petunjuk yang Aura dapat setelah sholat istikharah." pintanya.
"In syaa Allah, Bang." jawabku.
"Ternyata Bang Rizky jauh lebih sabar dari pada Ryan." Batinku.
Tak terasa adzan isya sudahpun berkumandang, aku segera melaksanakan sholat isya. Kemudian aku siap-siap untuk pergi.
Tak berapa lama kemudian, dia membalas chatku.
"Baik, Ra. Aku tunggu di pintu masuk." tulisnya.
"Ok, sebentar lagi Aura sampai." balasku.
Sesampainya aku di depan pintu masuk, aku langsung menghampiri Lilian.
"Lilian." sapaku.
"Ma syaa Allah, kamu cantik banget. Aura ke arab-araban terpancar dari wajahmu. Hehehe." ucapnya saat melihatku.
"Bisa saja kamu, Li. Itu namanya berlebihan. Aura indonesia tulen loh." bantahku.
"Aura memang indonesia tulen. Tapi kulit Aura putih, hidung Aura mancung, raut wajah terlihat seperti orang Arab. Sedikit, hehe." ucap Lilian masih memujiku.
"Terima kasih, Li. Ayo kita langsung masuk saja." ajakku agar Lilian berhenti memujiku.
Saat kami masuk, kami mengisi buku tamu. Kami berdua meletakkan kado di tempat yang sudah disediakan. Lalu amplop yang dititipkan oleh Ibu aku berikan langsung pada Ibu Icha yang menyambut kedatangan para tamu.
"Terima kasih, Nak. Silahkan menikmati hidangannya, harus makan sebelum pulang." ucap Ibu Icha padaku dan Lilian.
__ADS_1
"Jangan khawatir, Buk. Kami pasti makan. Kami tidak sedang diet, hehe." ucap Lilian sambil cengengesan.
Ibu Icha membalasnya dengan tawa kecil dan menganggukkan kepalanya perlahan.
"Ra, ayo kita temui Icha." ajak Lilian.
"Ayo." jawabku singkat.
Lalu kami berdua berjalan ke arah pelaminan. Di sana ada Bang Abdul dan Icha yang sedang duduk berdua dan berbincang-bincang.
"Selamat yaaaaaa. Icha dan Bang Abdul." ucap Lilian. Sesampainya di atas pelaminan, dia langsung memeluk Icha dan mencium pipinya kiri dan kanan. "Semoga menjadi keluarga yang samawa." lanjutnya.
"Aamiin yamujibas saailiin." sahut Icha.
Setelah itu gantian aku yang memeluk dan mencium Icha.
"Selamat pengantin baru, Icha dan Bang Abdul. Semoga menjadi keluarga samawa, bahagia dunia dan akhirat. Menjadi pasangan yang sehidup dan sesyurga." ucapku.
"Aamiin yamujibas saailiin. Terima kasih banyak atas do'anya dan terima kasih juga sudah meluangkan wakunya untuk menghadiri pesta pernikahan kami." ucap Icha.
"Iya, terima kasih banyak atas do'anya." timpal Bang Abdul.
"Sama-sama." ucapku dan Lilian secara bersamaan.
"Silahkan dinikmati hidangannya, jangan sungkan-sungkan." ucap Icha.
"Iya, kalau begitu kami tinggal ya. Silahkan dilanjutkan mengobrolnya." ucap Lilian, lalu dia mengajakku untuk mengambil makanan.
Setelah selesai makan.
"Alhamdulillah sudah kenyang." ucap Lilian.
"Iya, Alhamdulillah." sahutku. "Icha cantik banget ya, Li. Aura sampai pangling tadi. Dia sangat cocok memakai gaun pengantin yang berwarna pink itu." sambungku.
"Iya, aku juga berfikir begitu. Dan sangat cocok bersanding dengan pria yang ada disebelahnya. Bang Abdul masih tetap tampan."
"Iya, Li. Yang kamu katakan itu benar."
"Ra, sudah pukul sepuluh. Aku mau pulang. Kamu mau pulang jam berapa?" tanya Lilian.
"Oh ya? Sekarang sudah pukul sepuluh? Aura juga mau pulang." ucapku dan merasa sedikit panik.
"Iya, ayo pulang." ajaknya.
Lalu kamipun berpisah setelah keluar dari pesta.
Aduuhh... Sudah selarut ini, aku lupa kalau aku janji akan menghubungi Bang Rizky.
__ADS_1
Sesampainya aku di rumah, sudah pukul setengah sebelas. "Tidak mungkin aku chat Bang Rizky sekarang. Lebih baik chat besok pagi saja." gumaku di dalam hati.