
Satu minggu sudah berlalu sejak Aura mengalami keguguran. Satu minggu pula setiap hari Rizky pulang kerja selalu melihat Aura menangis sendirian di dalam kamarnya.
“Assalamu’alaikum, Aura sayang. Abang pulang.” Ucap Rizky begitu ia membuka pintu kamar dan masuk.
Mendengar suara Rizky, secepat kilat Aura menghapus air mata yang mengalir di kedua pipinya.
“Wa’alaikumussalam. Alhamdulillah Abang sudah pulang.” Sahut Aura. Ia langsung menghampiri Rizky dan mencium punggung tangan kanannya.
Rizky tidak menyahut, matanya fokus pada mata Aura yang terlihat sembab.
“Aura sayang, menangis lagi?” Tanya Rizky seraya memegang pipi Aura dan merasakan bahwa pipinya masih basah.
“Tidak, Aura hanya kelilipan. Hehe.” Jawab Aura sambil cengengesan.
“Hmm.” Rizky melepas nafas berat. “Oh ya, ada sesuatu yang ketinggalan di dalam mobil. Abang turun sebentar ya, Aura di sini saja. Jangan kemana-mana.” Lanjutnya memberi sebuah alasan.
Rizky ingin pergi menemui ARTnya dan tidak ingin Aura mengetahui hal itu.
“Baik, Bang.” Sahut Aura sambil menganggukkan kepalanya perlahan.
Setelah meletakkan tas kerjanya, Rizky bergegas turun dan pergi ke dapur untuk menemui para ARTnya.
Sesampainya di dapur, ia melihat ada Bi Sumi yang sedang merapikan isi kulkas.
“Bi, panggil Jihan dan Chaca. Saya ingin bicara!” Ucap Rizky dengan tegas.
“Baik, Tuan Muda.” Sahut Bi Sumi. Ia langsung menutup pintu kulkas dan pergi mencari Jihan dan Chaca.
Tidak berapa lama kemudian, Bi Sumi kembali bersama Jihan dan Chaca.
“Satu minggu yang lalu saat kami pulang dari rumah sakit, saya sudah berpesan agar jangan membiarkan Nyonya Muda sendirian. Tolong bantu hibur dia agar dia tidak merasa kesepian dan tidak sedih terus-terusan. Apa kalian sudah lupa?” Tanya Rizky dengan sorot mata yang tajam.
“Maaf, Tuan Muda. Nyonya Muda yang tidak mengizinkan kami untuk menemaninya.” Jawab Chaca.
“Kamu harus bisa mencari alasan agar bisa terus berada disisinya!” Ucap Rizky dengan tegas.
“Bukankah kalian berdua sudah di anggap seperti adik oleh Nyonya Muda? Lalu apa kalian tega melihat kakak kalian bersedih terus seperti itu?” Tanya Rizky sedikit menengking.
“Maafkan kami, Tuan Muda.” Ucap Bi Sumi.
Bi Sumi, Chaca dan Jihan menundukkan kepala. Tidak berani menatap wajah Rizky yang terlihat sedang marah.
“Saya minta maaf jika saya kasar.” Ucap Rizky, lalu ia menangkupkan kedua tangannya di dada. “Tapi tolong bantu saya agar Aura bisa terlepas dari segala dukanya.” Lanjutnya dan memohon.
“Tuan Muda jangan seperti itu.” Ucap Bi Sumi, ia memberanikan diri untuk melangkah maju mendekati Rizky dan menurunkan tangan Rizky. “Kami pasti akan berusaha agar bisa mendekati Nyonya Muda.” Lanjut Bi Sumi.
“Iya, Tuan Muda. Sebenarnya kami juga merasa kehilangan ketika Nyonya Muda mengurung diri di dalam kamar. Kami juga merasa rindu dengan Nyonya Muda yang selalu riang dan ceria.” Sahut Jihan.
“Kami janji, kami pasti akan berusaha agar bisa dekat dengan Nyonya Muda.” Ucap Chaca menimpali.
“Baiklah. Sekarang kalian boleh lanjutkan pekerjaan kalian.” Sahut Rizky.
“Baik, Tuan Muda.” Sahut Bi Sumi. Jihan dan Chaca serentak.
__ADS_1
Setelah itu, Rizky pergi menemui Ummi. Air matanya akan tumpah, dia tidak ingin Aura tau bahwa Rizky menangis karenanya. Jadi dia memutuskan untuk pergi ke kamar Ummi dan menenangkan dirinya di sana.
Tokk.. Tokk.. Tokk... Rizky mengetuk pintu kamar Ummi.
“Ummi. Rizky boleh masuk, Mi?” Rizky meminta izin pada Ummi sebelum masuk ke dalam kamarnya Ummi.
“Boleh, Nak. Masuk saja.” Jawab Ummi dari dalam.
Saat Rizky masuk ke dalam kamar, Ummi terlihat sedang duduk di pinggir tempat tidurnya.
Rizky bersimpuh di hadapan Ummi, ia menaruh kepalanya dipangkuan Ummi dan menangis.
“Ummi, hiks hiks hiks.” Ucap Rizky terisak.
“Ada apa ini? Kenapa menangis?” Tanya Ummi kebingungan.
Ummi sudah tidak ingat kapan terakhir kali ia melihat putranya menangis.
“Aura, Mi. Hiks.” Jawab Rizky.
“Aura? Aura kenapa?” Tanya ummi.
“Sudah seminggu berlalu sejak ia mengalami keguguran. Selama seminggu ini pula Rizky selalu memergokinya menangis sendirian di dalam kamar.” Jawab Rizky. “Hati Rizky sakit melihatnya seperti itu, Mi. Tapi sayangnya Rizky selalu tidak tau apa yang harus Rizky lakukan untuk membuatnya tersenyum.” Lanjutnya.
Ummi diam, Ummi hanya memberi respon dengan mengelus-elus kepala Rizky dengan sangat lembut.
“Apa Ibu Aura sudah mengetahui hal ini?” Tanya Ummi.
“Sepertinya belum, Mi. Waktu itu Aura mengatakan bahwa dia tidak ingin memberitahukan hal ini pada siapapun, termasuk pada Ibunya. Dia belum siap.” Jawab Rizky.
Rizky menghapus air matanya dan mengangkat kepalanya. Ia menatap wajah Ummi.
“Ummi benar. Jika Bu Ayu ada di sini, Aura pasti tidak akan menyendiri lagi.” Ucap Rizky sumringah. Ia bagaikan menemukan setitik cahaya harapan.
“Iya. Ummi juga pasti akan bantu mendo’akan Aura agar dia bisa kembali ceria seperti dulu lagi.” Ucap Ummi dan tersenyum.
Rizky membalas senyum Ummi dengan perasaan yang bahagia. Tiba-tiba saja semangatnya sudah kembali full.
“Kalau begitu Rizky minta Bi Sumi untuk membersihkan kamar tamu terlebih dulu.” Ucap Rizky.
“Iya.” Sahut Ummi. “Sudah sangat lama Ummi tidak melihat Rizky menangis. Kalau Ummi tidak salah ingat, mungkin terakhir kali kamu menangis saat masih TK. Waktu itu Ummi lupa membawa botol minum kesayanganmu, hehe. Tidak di sangka ini untuk pertama kalinya Ummi melihat kamu menangis setelah dewasa, dan kamu menangis karena seorang wanita.” Lanjut Ummi sambil tertawa kecil.
“Ummi salah, Rizky menangis bukan karena seorang wanita. Tapi Rizky menangis karena orang yang sangat Rizky sayangi sedang terluka. Bukan hanya Aura, jika Ummi dan Kak Agatha terluka juga pasti Rizky akan menangis.” Jawab Rizky dengan serius.
“Iya iya, Ummi mengerti. Ya sudah sana pergi temui Bi Sumi.” Ucap Ummi.
“Iya, Mi. Terima kasih atas nasehat Ummi tadi.” Ucap Rizky.
“Iya. Tidak perlu mengucapkan terima kasih pada Ummi, hehe.” Sahut Ummi sambil cengengesan.
Rizky pun keluar dari kamar Ummi dan segera mencari keberadaan Bi Sumi dibelakang.
“Bi Sumi, tolong bersihkan kamar tamu.” Ucap Rizky begitu ia menghampiri Bi Sumi dibelakang.
__ADS_1
“Baik, Tuan Muda.” Sahut Bi Sumi.
Setelah itu Rizky menelepon anak buahnya dan menyuruhnya menjemput Bu Ayu. Rizky mengirimkan alamat lengkap rumah Ibu Aura kepada anak buahnya tersebut.
Lalu Rizky menelepon Bu Ayu agar nanti Bu Ayu tidak takut saat anak buah Rizky sudah sampai di sana.
Tutt.. Tutt.. Tutt.. Panggilan tersambung.
“Assalamu’alaikum.” Ucap Ibu Aura dari kejauhan sana.
“Wa’alaikumussalam. Ini saya Rizky, Bu.” Sahut Rizky.
“Owh, Nak Rizky.” Ucap Ibu Aura.
“Iya, Bu. Bu, saya ingin menyampaikan sesuatu, tapi tolong Ibu jangan kaget dan jangan marah.” Ucap Rizky.
“Tentang hal apa itu?” Tanya Ibu Aura.
“Sebenarnya sudah satu minggu Aura mengalami keguguran, Bu.” Ucap Rizky pelan.
“Astaghfirullah!!!” Dari suaranya terdengar bahwa Bu Ayu sangat kaget. “Kenapa baru sekarang mengabari Ibu? Lalau bagaimana keadaan Aura saat ini?” Tanya Bu Ayu yang sangat khawatir dengan keadaan putri bungsunya.
“Maafkan kami, Bu. Aura sangat terpukul dengan kejadian ini, jadi dia selalu merasa belum siap untuk memberitahukannya pada Ibu. Tapi Ibu jangan khawatir, Alhamdulillah Aura sudah sembuh. Hanya saja....” kalimat Rizky terputus.
“Hanya saja apa?” Tanya Bu Ayu yang sudah tidak sabar ingin mendengar kelanjutan cerita menantunya.
Rasanya Rizky tidak tega ingin menyampaikan tentang keadaan Aura pada Ibunya. Rizky bisa menduga bahwa Ibu Aura pasti akan sangat sedih jika mengetahui hal itu.
“Hanya saja sejak saat itu, Aura seperti kehilangan semangat hidupnya. Ia selalu bersedih dan menangis setiap hari. Ia selalu menyendiri dan mengurung dirinya di dalam kamar.” Ucap Rizky memberanikan diri menceritakannya pada Ibu Aura.
“Astaghfirullah.” Ucap ibu Aura pelan. Ia merasa sangat sedih.
“Bu, saya sudah menyuruh anak buah saya untuk menjemput Ibu. Ibu maukan tinggal di rumah kami untuk sementara waktu?” Tanya Rizky.
“In syaa Allah Ibu mau. Ibu juga ingin menemani Aura di sana.” Jawab Ibu Aura.
“Alhamdulillah.” Sahut Rizky.
“Kalau begitu Ibu mau beresin pakaian Ibu dulu sebelum yang menjemput Ibu sampai. Assalamu’alaikum.” Ucap Bu Ayu.
“Iya, Bu. Wa’alaikumussalam.” Sahut Rizky. Hatinya lega karena sudah memberitahukan hal tersebut pada Ibu mertuanya.
Setelah itu ia naik ke atas dan masuk ke dalam kamarnya.
Saat Rizky masuk ke dalam kamar, Aura melihat Rizky datang dengan tangan kosong.
“Barang apa yang ketinggalan, Bang?” Tanya Aura.
“Oh, itu, sepertinya ketinggalan di kantor Abang.” Jawab Rizky memberi alasan.
“Oh begitu.” Aura menganggukkan kepalanya perlahan-lahan.
Rizky pergi menghampiri Aura dan memeluknya. Sudah beberapa menit berlalu Rizky masih belum melepaskan Aura dari pelukannya.
__ADS_1
“Abang kenapa?” Tanya Aura karena tidak biasanya Rizky memeluknya begitu lama.
“Tidak apa-apa, Abang hanya ingin memeluk Aura dan menenangkan diri.” Jawab Rizky berbisik ditelinga Aura.