Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Season 2: eps. 23.


__ADS_3

Zayn memasukkan semua barang-barang Zara ke dalam kamarnya.


Sidik, Alisya, Aura dan Rizky mengobrol dan bercengkrama.


Sedangkan Hulya dan Zara juga mengobrol di tempat yang berbeda.


Karena tidak ingin mengganggu obrolan para wanita, akhirnya Zayn bergabung dengan para orang tua.


“Kak Zara. Aku sangat bahagia karena Kakak yang menjadi Kakak Iparku.” Ucap Hulya.


“Oh ya? Kenapa begitu?” Tanya Zara.


“Karena sejak kecil kita sudah akrab. Seakrab Kakak dan Adik kandung.” Jawab Hulya. “Aku terkadang merasa khawatir kalau memiliki Kakak Ipar yang tidak menyukai aku. Tapi Alhamdulillah, Kakak Iparku ternyata Kak Zara yang sudah seperti Kakak kandungku.” Lanjutnya.


“Owh, begitu. Tapi, kita tidak tau bagaimana perasaan Abangmu.”


“Apakah Bang Zayn tidak menyukai Kakak?”


“Bukan seperti itu, jika dia tidak menyukai aku mana mungkin dia bersedia menikah denganku. Hanya saja…” Ucapan Zara terputus.


“Hanya saja apa kak?”


“Hanya saja kita tidak tau apakah ada wanita yang dia cintai? Pernikahan kami adalah karena perjodohan orang tua.” Jawab Zara pelan.


“Kak, aku yakin Bang Zayn bukanlah orang yang mudah ditaklukkan. Kakak lihat saja sendiri sifatnya begitu dingin. Aku yakin dia tidak pernah melirik wanita manapun.”


“Iya, dia memang tidak mudah ditaklukkan.”


“Aku yakin hanya istrinya saja yang dapat menaklukkannya. Yaitu Kakak.” Hulya menyemangati Zara.


“Tapi aku tidak yakin.”


“Kakak harus yakin.” Ucap Hulya. “Baiklah, kita ketepikan masalah dia belum mencintai Kakak, atau mungkin dia menganggap Kakak sebagai Adik. Lalu bagaimana dengan Kakak? Apa Kakak tidak memiliki rasa untuk Bang Zayn?” Tanya Hulya mencari tau.


Zara diam.


“Satu pertanyaan terakhir.” Ucap Hulya. “Apa Kakak rela jika suatu hari nanti dia meninggalkan Kakak lalu menikah dengan orang yang dia cintai?” Hulya berbisik ditelinga Zara.


Zara membelalakkan kedua bola matanya mendengar pertanyaan Hulya.


“Tidak, aku tidak rela.” Ucap Zara spontan.


“Kalau begitu aku sudah tahu jawabannya. Meskipun Kakak tidak menyadarinya, aku tahu Kakak memiliki rasa untuk Bang Zayn. Hehe.” Hulya sumringah.


“Apa kamu yakin? Anak kecil sepertimu kenapa bisa sedewasa ini?” Tanya Zara sembari menyentil hidung Hulya.


“Aku yang Kakak sebut anak kecil ini, sudah membaca puluhan buku novel cinta. Karena itu…..”


“Karena itu kamu lebih berwawasan dariku? Begitu?”


“Tentu saja. Hahaha.” Hulya merasa bangga.


“Hummm.” Zara menghela nafas.


Hulya terdiam dan menatap Zara.


“Maaf, Kak.” Ucap Hulya meskipun ia tidak tahu apa yang membuat Zara terlihat sedih.


“Sebenarnya kamu tidak salah.” Ucap Zara. “Aku hanya tidak ingin berharap. Aku takut jika suatu hari nanti harapanku itu akan menyakiti diriku sendiri jika apa yang aku harapkan tidak aku dapatkan.” Lanjutnya.


“Lalu, kenapa Kakak mau menikah dengan Bang Zayn jika Kakak takut akan kecewa?”


“Aku sudah sholat istikharah sebelum menerimanya. Walaupun hasilnya baik, tapi tidak mungkin kebaikan itu akan aku dapatkan dengan mudah, bukan? Pasti ada proses yang harus aku jalani terlebih dahulu.”

__ADS_1


“Kalau begitu Kakak harus optimis, jangan pesimis.”


“In syaa Allah.” Sahut Zara.


“Aduh, Zara dan Hulya sedang membahas apa? Kenapa kalian terlihat sangat serius?” Tanya Aura yang datang menghampiri mereka berdua.


“Ini adalah rahasia antara kami berdua, Ibu.” Jawab Zara.


“Iya, Bibi. Hehe.” Hulya cengengesan.


“Baiklah, Ibu tidak akan bertanya lagi. Sekarang sudah saatnya makan siang. Ayo.” Ajak Aura.


“Ok.” Sahut Zara dan Hulya serentak.


Mereka bertiga pergi ke dapur untuk makan siang bersama-sama.


Setelah selesai makan siang bersama, Sidik, Rizky dan Zayn pergi ke masjid terdekat untuk sholat Dzuhur.


Hulya dan Zara sholat bersama di dalam kamar Hulya.


Sementara Alisya dan Aura sholat bersama di ruang sholat.


Setelah selesai menunaikan kewajiban sebagai seorang hamba, mereka berkumpul lagi diruang tamu.


“Hulya, kapan akan kembali ke Arab?” Tanya Rizky.


“In syaa Allah dua hari lagi, Paman.” Jawab Hulya.


“Oh, baik-baik disana dan pandai-pandai menjaga diri. Pasti tidak mudah bagimu hidup dinegeri asing tanpa adanya orang tua yang melindungimu.”


“In syaa Allah, Paman. Memang awalnya tidak mudah. Tapi Alhamdulillah sekarang aku sudah mulai terbiasa. Lagi pula ada teman-teman yang menemaniku disana, hehe.” Ucap Hulya lalu tertawa kecil.


“Alhamdulillah kalau begitu. Tapi tetap harus hati-hati. Jangan sampai salah memilih teman.”


“Tidak terasa sudah pukul dua siang. Aku dan Aura sudah harus pulang.” Ucap Rizky.


“Hati-hati di jalan. Sering-seringlah datang berkunjung ke sini agar kalian berdua tidak merasa kesepian. Walaupun tidak ada Zara disini, tapi masih ada aku dan Alisya.” Ucap Sidik sembari tersenyum.


“In syaa Allah.” Sahut Rizky.


Setelah itu Aura dan Rizky pulang kerumah mereka.


Sesampainya di rumah, ternyata Amir sedari tadi sedang menunggu Rizky.


“Abang, boleh kita bicara.” Ucap Amir.


“Boleh, ayo ke ruang kerja Abang.” Ucap Rizky.


Mereka berdua pergi ke ruang kerja Rizky, sementara Aura masuk ke dalam kamar untuk mandi dan ganti pakaian.


“Ada apa?” Tanya Rizky pada Amir.


“Bang, aku sudah lama berpikir seperti ini, tapi aku tidak tau apakah yang aku pikirkan ini masuk akal atau tidak?”


“Memangnya apa yang kamu pikirkan?” Rizky mulai penasaran.


“Begini…” Amir menceritakan obrolannya dengan teman Arumi yaitu Nayya.


- Flashback-


Nayya menghampiri Amir saat sedang makan dikantin.


“Bang Amir, kenapa sekarang Arumi tidak bisa dihubungi? Aku sudah berkali-kali menelepon. Tapi tidak pernah terhubung.” Tanya Nayya.

__ADS_1


“Nomor Handphone Arumi sekarang sudah ganti.” Jawab Amir.


“Oh ya? Kenapa dia tidak memberitahu aku? Boleh aku minta nomornya yang baru?”


“Boleh.” Jawab Amir.


Kemudian Amir menyerahkan ponselnya dan menunjukkan nomor baru Arumi.


Nayya mencatat nomor tersebut lalu menyimpannya dikontak ponselnya.


“Aku akan langsung mengirim pesan padanya.” Ucap Nayya.


Amir mengangguk.


“Arumi, bagaimana kabarmu?” Tulis Nayya.


“Kamu siapa?” Balas Arumi.


“Aku Nayya.”


“Nayya siapa? Jangan sok akrab deh.” Balas Arumi.


“Hmmm.” Nayya menghela nafas.


Amir menoleh. Lalu Nayya bertanya.


“Bang Amir yakin ini nomor Arumi yang baru?” Tanya Nayya yang terlihat kesal.


“Iya.” Jawab Amir singkat.


“Kalau begitu coba Bang Amir telephone dia. Aku mau dengar.” Pinta Nayya.


“Ok.” Sahut Amir.


Anehnya Amir menurut saja pada Nayya.


Tutt.. Tutt.. Tutt.. Suara panggilan terhubung.


“Assalamu’alaikum, Arumi.” Ucap Amir. Ia sengaja mengaktifkan speaker phone agar Nayya mendengarnya.


“Wa’alaikumussalam, Bang Amir. Ada apa?”


“Emm, kamu sudah makan siang?” Tanya Amir basa basi.


“Belum, Bang. Sebentar lagi aku akan meminta Bi Jumi menyiapkan makanan untukku.” Jawab Arumi.


“Baiklah, kalau begitu. Jangan telat makan.”


“Baik, Bang.”


Setelah mengucapkan salam, Amir mengakhiri panggilan.


“Itu Arumi?” Tanya Nayya.


“Iya, bukankah tadi kamu mendengarku memanggil namanya Arumi?” Amir balik bertanya.


“Apa wajahnya seperti Arumi?” Tanya Nayya lagi.


“Iya. Kalau bukan bagaimana mungkin aku menikahinya? Kamu ini sebenarnya kenapa sih?”


“Tadi saat aku chat, dia tidak kenal denganku. Aku jadi curiga itu bukan Arumi.” Jawab Nayya.


“Apa? Bagaimana bisa?” Amir sangat kaget mendengarnya.

__ADS_1


__ADS_2