
Mungkin aku terlalu hanyut dalam lamunanku hingga aku tidak sadar bahwa sejak tadi Luna memanggilku dari atas pelaminan.
"Ra, kamu melamunin apa sih? Dari tadi tuh Luna manggil kamu." ucap Rina. Dia membuat aku kaget dan membuyarkan lamunanku.
"Iyakah?" tanyaku dengan mimik wajah heran.
"Iya, samperin gih." pintanya.
"Iya, makasih ya sudah memberi tahu Aura. Suara musiknya gede banget sih, jadi Aura tidak dengar kalau Luna memanggil." ucapku memberi alasan.
"Iya, sama-sama. Lain kali kalau malam gini melamunnya jangan terlalu dalam, nanti kamu kesambet loh. Hehehh, just kidding." ucapnya cengengesan lalu pergi meninggalkanku sebelum aku sempat menjawab candaannya itu.
"Yaelah." geruruku dalam hati. Aku kemudian pergi menghampiri Luna.
"Sini, Ra. Ayo foto bareng." ajak Luna sesampainya aku di atas pelaminan yang sangat indah ini.
Kamipun akhirnya foto bertiga. Aku berdiri di sebelah Luna.
"Semoga kamu lekas menyusul ya, Ra." ucap Luna.
"Aamiin ya Allah. Tapi calonnya masih di tangan Allah, Lun. Hehe." jawabku.
"In syaa Allah sudah on the way. Nanti aku bantu do'a supaya Allah segera memberikan kamu jodoh."
"Iya, terimakasih ya, Lun. Bay the way, kamu cantik banget, aku sampe pangling." ucapku.
"Benarkah?" tanyanya sambil menggenggam erat kedua tanganku.
"Iya, Aura belum pernah lihat kamu secantik ini, bahkan belum pernah lihat kamu sebahagia ini. Bidadari pasti cemburu."
"Aaaaaaaaaa aku tersandung dengernya, Ra." ucapnya dengan tawa yang sangat sangat bahagia.
"Tersandung?"
"Iya, maksudnya tersanjung, hehe."
"Owh gitu. Ya sudah deh kamu lanjutin lagi foto-fotonya. Kasihan pangeran kamu dari tadi di cuekin karna ada Aura." ucapku setengah berbisik pada Luna.
"Hahahh iya. Makasih ya, sudah mau datang."
"Iya, sama-sama." sahutku lalu pergi meninggalkan pasangan suami istri yang masih baru itu.
***
Hari ini aku masih teringat dengan ucapan Ryan kemarin, "Munafik kamu, Ra." Aku tidak menyangka dia berfikir seperti itu tentang diriku.
Mungkin itulah sebabnya mengapa Allah jauhkan aku dari Ryan, karena aku akan sakit hati bila bersamanya nanti.
__ADS_1
Setelah menikah nanti, mungkin kata-kata yang lebih parah dari itu yang akan ia lontarkan kepadaku. Ah sudahlah, aku tidak mau terbawa perasaan hingga membuatku juga su'udzon padanya.
"Assalamu'alaikum, Ra." sapa Luna saat aku sedang duduk manis di kios.
"Wa'alaikumussalam, eh ada pengantin baru." sahutku.
Luna berjalan menghampiriku yang masih duduk.
"Aku mau pamitan nih." ucapnya.
"Pamitan?" tanyaku, lalu mengernyitkan dahiku.
"Iya, aku mau ikut Mas Yusuf pulang ke Medan."
"Owh gitu. Wah, bakalan jadi orang kota donk kamu, hehe."
"Iya, hehe. Maaf nih, aku tidak bisa lama-lama. Mas Yusuf sudah menunggu."
"Owh iya, tidak apa-apa."
"Kamu baik-baik di sini ya, Ra. In syaa Allah kalau ada kesempatan kita pasti bisa berjumpa lagi." ucapnya lalu memelukku erat.
"Aamiin. Kamu juga baik-baik di sana, Lun. Aura yakin kamu pasti bisa menjadi istri yang baik dan juga menantu yang baik. Di sayang suami dan juga mertua."
"Aamiin ya Allah. Makasih ya do'anya." ucap Luna.
Lalu Luna berpamitan pada Ibu. Aku hantar Luna sampai depan rumahnya. Di sana suami dan mertuanya sudah menunggu.
Sesampainya Luna di depan rumahnya, ia berpamitan pada Ayah dan Ibunya. Begitu juga dengan suami dan mertuanya. Setelah selesai berpamitan, mereka masuk ke dalam mobil dan memulai perjalanan.
"Selamat menempuh hidup baru sahabatku." ucapku dalam hati. Sedih bercampur bahagia rasanya hatiku. Semoga Allah melindungi kamu dalam perjalanan dan di manapun, Luna. Aamiin ya Rabb.
***
Sejak kemarin ada saja nomor baru yang missedcall. Walaupun aku melihat nomor itu menelepon, aku tidak berniat untuk mengangkatnya. "Paling-paling penipuan yang mengatasnamakan Bank." fikirku.
Hingga akhirnya dia mengirim pesan dari aplikasi berwarna hijau.
"Assalamu'alaikum." tulisnya. Aku masih belum berniat untuk membalas pesan yang masuk. Masih sakit hati dengan ucapan Ryan membuatku malas untuk menggubris pesan dari orang asing.
"Kamu Aura kan? Saya Rizky." tulisnya lagi. Aku tetap hanya read chatnya.
"Kamu cuma buang-buang waktumu chat aku." ucapku dalam hati. Karena aku memang malas membalas chat, apa lagi dari laki-laki yang tidak aku kenal.
"Tolonglah balas chat saya, saya ingin mengenal kamu." sekali lagi ia mengirim pesan padaku melalui aplikasi berwarna hijau, setelah beberapa kali coba menelepon namun tidak aku jawab.
"Siapa yang nelpon, Dik? Kenapa tidak di jawab?" tanya Ibu tiba-tiba.
__ADS_1
"Erm, itu, nomor baru, Bu. Aura tidak kenal, makanya malas angkat." jawabku dengan sedikit gugup.
"Tidak apa-apa, di angkat saja, barang kali ada hal penting."
"Malas, Bu." jawabku pelan.
"Nanti kalau dia nelpon lagi kasi sama Ibu. Ibu yang akan menjawabnya." pinta Ibu.
"Iya, Bu." jawabku.
Benar saja, sepuluh menit kemudian dia pun menelepon lagi. Aku segera menyerahkan handphoneku pada Ibu.
"Halo." ucap Ibu setelah menekan tombol hijau.
Lalu aku lihat wajah Ibu seperti keheranan.
"Kenapa, Bu?" tanyaku.
"Dimatikan, Nak." jawab Ibu, masih dengan mimik wajah heran dan menatap ponselku.
"Tuh kan, paling-paling cuma mau ngerjain saja. Ibu sih ngotot mau jawab telponnya. Haha." ucapku sambil tertawa kecil.
"Iya ya. Nih HP Adik." ucap Ibu sambil menyerahkan gawaiku.
Aku raih gawaiku tersebut dari tangan Ibu, lalu masuk pesan wasap.
"Kenapa yang angkat telfon saya bukan kamu, Ra?" tulisnya.
"Anak ini sebenarnya siapa sih? Kenapa bisa tau itu tadi bukan suaraku?" tanyaku dalam hati. Kali ini biarkan saja dulu, besok kalau chat lagi baru di balas.
Setelah itu aku pergi carge HP dan mengerjakan pekerjakan sehari-hari.
Meskipun aku tidak mencari, tapi ada saja yang datang. Dan yang datang itu belum tentu jodohku yang sebenarnya. Bisa jadi sebenarnya mereka adalah ujian bagi hatiku.
Kuatkah hatiku? Atau malah terpeleset dalam perbuatan yang tidak disukai oleh Allah?
"Semoga Aura tetap kuat menahan diri dan hati dari cinta yang salah tempat ya Allah. Aura yakin jika Aura bisa melewati ujian ini, Engkau pasti akan menghadiahi Aura dengan jodoh yang paling baik menurut-Mu." ucapku dalam hati.
"Duarrr!!!!" suara pintu terbanting. "Astaghfirullah." ucapku spontan. "Iiihh. Angin bikin kaget saja." gerutuku sambil menyapu lantai.
"Apa itu, Dik?" tanya Ibu sedikit berteriak dari kios.
"Angin, Bu." sahutku juga sedikit berteriak. Mungkin Ibu mengira anak gadisnya ini mengamuk, haha.
Setelah selesai menyapu lantai, akupun lanjut pergi mandi. Habis mandi aku menunaikan Sholat Ashar.
Kupanjatkan Do'a pada-Nya:
__ADS_1
"Ya Rabb, yang hatiku ada dalam genggaman-Mu. Semoga Engkau menjaga hati ini agar tidak jatuh cinta pada orang yang salah. Jagalah hati ini agar tidak berharap pada orang yang salah, karena Engkaulah sebaik-baik tempat menggantungkan harapan. Semoga nanti, Aura hanya jatuh cinta pada seorang pria yang menjadi jodoh Aura. Aamiin yamujibas saailiin."