
Assalamu'alaikum teman-teman readers. Semoga tidak bosan menunggu novelnya update. *Hug.
Satu titik,
Dua koma,
Yang Like 👍🏻
Pasti cakep semuaa đź’•
Happy Reading......
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Melihat Aura pingsan, Rizky menjadi lebih khawatir. Ia langsung menggendong Aura.
"Apa di sini ada dokter?" tanya Rizky pada Jihan.
"Ada, Tuan Muda." jawab Jihan.
"Ayo segera pergi ke sana sebelum bisanya menyebar kemana-mana." ajak Rizky.
Jihan pun mengangguk dan segera memimpin jalan. Sepeda mereka tinggalkan dan mereka berjalan kaki karena Rizky menggendong Aura.
Setelah desa kecil mulai terlihat, mereka mempercepat langkah kakinya. Jihan dan Rizky langsung menuju ke sebuah klinik kecil.
"Di sini tempatnya, Tuan Muda." ucap Jihan sesampainya mereka di klinik.
"Apa dokter di sini mampu mengeluarkan bisa ular?" tanya Rizky, ia sedikit meragukan keahlian dokter tersebut.
"In syaa Allah bisa, Tuan Muda. Sebelum Nyonya Muda, juga sudah ada beberapa orang yang pernah di gigit ular." jawab Jihan coba menjelaskan.
"Baiklah, ayo masuk." ajak Rizky.
Setelah mereka masuk ke dalam, Rizky membaringkan Aura di tempat tidur.
"Saya akan memeriksanya, Bapak dan Ibu silahkan tunggu di luar." pinta Dokter pada Jihan dan Rizky.
Mereka berdua mengangguk dan meninggalkan Aura di dalam ruangan itu bersama Dokter dan perawatnya.
Setelah menunggu lebih kurang setengah jam, akhirnya dokter keluar.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Rizky yang penuh rasa khawatir.
"Alhamdulillah dia sudah tidak apa-apa. Karena yang menggigitnya bukanlah ular berbisa. Tidak lama lagi pasien pasti akan segera siuman." ucap Dokter menjelaskan.
"Alhamdulillah. Terima kasih, Dok. Apakah saya sudah boleh masuk ke dalam dan menemani istri saya?" tanya Rizky.
"Iya, silahkan. Saya permisi dulu." ucap Dokter lalu pergi meninggalkan Jihan dan Rizky.
"Jihan kalau mau pulang, pulang saja duluan. Saya akan menemani Nyonya Muda di sini sampai dia siuman." ucap Rizky pada Jihan.
__ADS_1
"Baik, Tuan Muda. Saya permisi." ucap Jihan.
Rizky menganggukkan kepalanya, lalu Jihan pergi meninggalkan Rizky.
***
Aku buka kedua mataku perlahan-lahan. Aku lihat Bang Rizky tertidur di sebelahku.
Aku pegang bahunya, lalu ia pun tersadar dari tidurnya.
"Aura... Sayang...." ucapnya sambil mengelus kepalaku dengan penuh kasih.
"Ki...ta...di...mana?" tanyaku dengan terbata-bata.
"Kita berada di klinik, syukurlah Aura sudah siuman." jawab Bang Rizky dengan lembut.
"Jihan?" tanyaku lagi.
"Jihan sudah pulang duluan. Kalau salah satu dari kita tidak ada yang kembali ke Villa, Kakek pasti akan khawatir." jelas Bang Rizky.
Aku menganggukkan kepalaku perlahan tanda mengerti apa yang diucapkan Bang Rizky.
Tidak lama kemudian dokter masuk dan memeriksa keadaanku. Dokter mengatakan sudah tidak ada masalah serius, jadi aku sudah boleh pulang. Hanya saja masih perlu check up dalam beberapa hari agar luka bekas gigitan tidak infeksi.
"Hari sudah semakin sore, kita pulang sekarang ya." ajak Bang Rizky.
"Baik, Bang." jawabku.
Kesempatan buat manja-manja, hehehe.
"Besok pagi kita pulang, ya." ucap Bang Rizky sesampainya kami di Villa.
"Kenapa mendadak pulang?" tanyaku. Aku terkejut mendengar keputusan Bang Rizky yang sangat mendadak ini.
"Aura sayang. Abang takut Aura kenapa-kenapa lagi." ucapnya dengan penuh kasih.
"Tapi Aura masih ingin di sini, Aura betah di sini. Kita masih satu hari di sini, kenapa buru-buru pulang." ucapku pelan dan merasa sedih.
"Huurrmm..." Bang Rizky menarik nafas panjang dan menghembusnya perlahan.
"Aura baru kenal dengan Kakek dan Jihan. Aura masih ingin bersama mereka." lanjutku.
"Ya sudah, kalau Aura masih mau di sini." ucap Bang Rizky.
Aku tersenyum bahagia lalu memeluk suamiku yang sangat baik dan perhatian.
Sebelum pulang ke rumahnya, Jihan memasak makanan untukku dan Bang Rizky.
"Apa Jihan masih punya orang tua?" tanyaku pada Jihan saat menemaninya masak di dapur. Aku duduk di meja makan, sedangkan Jihan ke sana ke sini untuk menyelesaikan pekerjaannya.
"Alhamdulillah masih ada, Nyonya Muda." jawabnya dan tersenyum.
__ADS_1
"Jihan pasti masih muda, berapa usiamu?" tanyaku lagi.
"Usia saya tahun ini 19 tahun, Nyonya Muda." jawab Jihan.
"Oh, berarti Jihan sudah menyelesaikan pendidikan SMA tahun lalu."
"Benar. Nya." jawabnya sambil mengiiris-iris bumbu masakan. "Tapi sebenarnya saya ingin kuliah, Nya." lanjutnya.
"Wah, bagus itu." ucapku menyemangatinya.
"Tapi saya tidak punya biaya. Ayan dan Ibu saya hanya buruh di kebun teh. Gaji Ayah dan Ibu tidak akan cukup untuk membiayai kuliah. Apalagi saya masih punya dua orang Adik yang masih sekolah." ucapnya pelan.
"Oh, begitu. Saya juga tidak kuliah karena tidak ada biaya. Tapi tidak apa-apa, jangan berkecil hati." ucapku coba menghiburnya.
"Terkadang saya merasa Allah itu tidak adil. Di luar sana, ada banyak remaja yang mampu kuliah tapi main-main dan tidak serius belajar. Malah kadang ada yang mabuk-mabukan, tidak sholat lima waktu, tapi mereka selalu mendapatkan apa yang mereka mau. Sedangkan saya, saya sangat ingin kuliah tapi Allah tidak memberikan jalan. Padahal saya sudah berdo'a siang dan malam." ucapnya.
"Astaghfirullah, tidak boleh berfikir seperti itu. Ingatlah Jihan, Allah itu tergantung bagaimana prasangka hamba-Nya."
"Maaf, Nyonya Muda. Hikss.." aku mendengar suara isak tangisnya.
"Jihan, ayo duduk di sini sebentar. Ada hal yang ingin saya sampaikan, nanti saja lanjut memasaknya." pintaku dengan penuh kelembutan.
"Baik, Nyonya Muda." jawabnya lalu ia duduk disebelahku.
"Jihan, kalau seandainya ada seorang pengamen yang mendatangi kamu. Dia bernyanyi, tapi suaranya cempreng dan jauh dari kata merdu. Apa yang akan kamu lakukan?" tanyaku pada Jihan.
"Hurrmm..." ucapnya, lalu dia terlihat seperti sedang berfikir. "Pengamen bernyanyi untuk mendapatkan uang. Kalau suaranya tidak merdu, maka sebaiknya saya segera memberikannya uang agar ia cepat pergi. Betul tidak, Nyonya Muda?" lanjutnya kemudian.
"Betul." jawabku.
Dia tersenyum.
"Lalu jika seorang pengamen bernyanyi dan suaranya sangat merdu, apa yang akan kamu lakukan?" tanyaku lagi.
"Kalau suaranya merdu pasti saya akan mendengarkan dia sampai selesai bernyanyi, baru kemudian saya memberinya uang." jawabnya.
"Pinteeerrrr..." ucapku dan tersenyum padanya.
"Lalu hikmah apa yang bisa kamu petik?" tanyaku. Jihan hanya diam tidak menjawab.
"Jihan, kalau kita sebagai manusia saja bisa melakukan hal seperti di atas itu, apalagi Allah. Anggap saja Allah tidak menyukai orang-orang itu, makanya Allah langsung memberikan apa yang mereka inginkan. Sedangkan kamu, mungkin Allah masih ingin mendengar do-doamu di setiap sholat. Allah masih ingin medengar keluh kesahmu di sepertiga malam. Makanya kamu harus khusnudzon pada Allah." ucapku menjelaskan pada Jihan.
Dia terdiam.
"Dan satu lagi, sebagian nikmat yang Allah berikan bisa jadi adalah jebakan yang bernama Istidraj. Pernah dengar kan?" tanyaku.
"Iya, Nyonya Muda. Terima kasih atas nasihat yang Nyonya Muda berikan. Saya pasti akan selalu mengingatnya." ucap Jihan dengan lembut dan tersenyum.
Setelah itu Jihan beranjak dari tempat duduknya dan lanjut memasak. Aku hanya memperhatikan Jihan dari tempatku dudukku.
"Sepertinya aku harus minta bantuan Bang Rizky." gumamku di dalam hati.
__ADS_1