
“Mama sarankan mulai detik ini, kamu harus move on dari Zayn. Jangan mengejar sesuatu yang tidak bisa kamu raih.” Helda menasehati Nana.
Angel masuk dengan wajahnya yang berseri-seri.
“Tuh, dengerin apa yang Mama kamu sampaikan. Tidak baik jadi perusak rumah tangga orang. Alias pelakor. Hahahaha.” Angel tertawa.
“Kamu!!” Nana terlihat sangat murka. Ia bahkan langsung berdiri.
“Nana, tahan emosimu.” Pinta Helda.
“Uppsss!! Marah? I don’t care. Bye bye.” Angel melambaikan tangannya lalu pergi ke kamarnya.
“Maaa.. tuh anak makin lama makin kurang aj*r ya sama yang lebih tua.” Nana kesal.
“Sabar sayang, bertahanlah. Dia masih delapan belas tahun. Sedangkan kamu? Sudah dua puluh tujuh tahun. Kamu harus bisa mengalah.”
“Tapi sampai kapan kita harus mengalah terus padanya? Sudahlah, aku mau mandi.”
Nana pergi meninggalkan Helda sembari mengusap air matanya.
“Hmmmm.” Helda menghela nafas.
“Jujur, aku juga sudah tidak tahan dengan sikapnya yang semena-mena bahkan padaku yang sudah menjadi Mamanya. Tapi mau bagaimana lagi, aku sangat membutuhkan Papanya. Tanpa adanya Papanya disisiku, aku tidak bisa. Aku terlalu mencintainya.”
- Flashback-
“Tolong…!! tolong aku!” Helda berteriak meminta tolong.
“Teriaklah sekuat-kuatnya. Tidak akan ada yang bisa menolongmu. Hahahahaa.” Seorang preman mengikat tangan dan kaki Helda diatas katil.
“Jabingan, lepaskan aku. Cuihh.” Helda meludahi preman tersebut.
“Kurang aj*r!!” Preman tersebut menjadi kesal. “Aku tidak akan basa basi lagi.” Ucapnya.
Pada malam itu, kesuciannya telah ternoda. Di tengah hutan yang sepi, tidak ada siapapun yang bisa menolongnya. Ia berteriak hingga suaranya habis, namun tidak ada seorangpun yang mendengarnya.
Helda dilahap oleh Preman tersebut hingga ia pingsan.
Saat ia sadar, hari sudah pagi. Ikatan di kaki dan tangannya sudah dilepas sebelum si preman pergi meninggalkannya.
Pakaiannya berantakan dan dibadannya penuh dengan memar kekerasan karena ia berulang kali memberontak, hal itu membuat Preman tersebut emosi dan mendaratkan tinjunya berkali-kali ditubuh Helda.
Helda beranjak perlahan-lahan dari podok yang menjadi saksi dirusaknya kehormatannya.
Ia berjalan perlahan-lahan untuk mencari pertolongan. Saat ia sudah tidak mampu berjalan, ia istirahat sejenak.
Tiba-tiba ia mendengar suara mobil mendekat. Ia bergegas berlari-lari kecil menuju jalan besar.
__ADS_1
Saat itulah, pertama kalinya ia bertemu dengan Anton.
“Tolong aku, Tuan.” Ucapnya lirih.
“Tuan Muda. Ada seseorang yang minta tolong. Apa aku harus membawanya masuk ke dalam mobil?” Tanya supir Anton.
Anton tidak menjawab, ia membuka kaca mobilnya lalu memperhatikan wanita yang meminta tolong itu.
“Sepertinya korban pemerk*saan.” Pikir Anton.
“Bawa dia masuk.” Perintah Anton pada supirnya.
Supirnya menurut lalu membantu Helda masuk ke dalam mobil.
“Apa yang kamu lakukan di tengah hutan seperti ini?” Tanya Anton.
“A-aku. Hiks hiks hiks.” Helda malu menceritakannya pada Anton.
“Sudahlah, aku sudah bisa menebaknya.” Ucap Anton. “Setelah urusanku selesai, aku akan membawamu ke rumah sakit.” Lanjutnya.
“Terima kasih, Tuan.” Helda masih terisak.
Saat itu, Anton pergi ke tengah hutan untuk menemui Anak buahnya yang ia tempatkan dihutan tersebut. Karena Anton ingin memberikan misi.
Sesampainya disana, Helda kaget dan membelalakkan kedua bola matanya.
Tadinya ia mengira ia bertemu dengan penyelamatnya, tetapi ia justru di bawa ketempat preman itu berada.
“Kamu kenapa?” Tanya Anton yang tidak mengerti apa-apa.
“Dia. Hiks hiks hiks.” Helda menunjuk sembari sesunggukkan.
“Hmmm.” Anton mengerti apa yang ingin dikatakan Helda walaupun Helda tidak sanggup mengatakannya.
“Dia yang menodai kamu?” Tanya Anton.
Helda mengangguk.
Anton turun dari mobilnya dengan murka.
Lima belas anak buah Anton yang ada disana langsung berbaris menyambut kedatangan Anton.
“Hey, apa yang kamu lakukan malam tadi?” Anton bertanya pada anak buahnya yang ditunjuk oleh Helda.
“Tidak ada, Tuan Muda.” Jawabnya sambil menundukkan kepalanya.
“Jangan bohong. Katakan yang sejujurnya.” Pinta Anton dengan tegas.
__ADS_1
“Tidak ada….”
“Doorrr!!!!” Belum selesa anak buahnya berbicara, Anton langsung menemb*k kepalanya.
Anak buahnya yang lain kaget dan merasa takut. Semuanya bertanya-tanya didalam hatinya, apakah kesalahan yang telah orang itu perbuat?
“Kalian tau kenapa aku menemb*knya?” Tanya Anton pada anak buahnya.
“Tidak tahu, Tuan Muda.” Jawab mereka serentak.
“Karena dia sudah memperk**a seorang wanita bahkan meninggalkannya dalam keadaan terluka.” Anton menjelaskan. “Aku sudah pernah bilang, jangan pernah melakukan hal itu. Jika ingin, pergilan ke rumah bord*l dan lakukan hal itu dengan wanita yang dengan sukarela mau melakukannya. Jangan pernah mengambil keuntungan dari wanita yang bersih dan baik-baik. Mengerti!!!” Teriak Anton.
“Mengerti, Tuan.” Jawab mereka serentak.
Setelah itu Anton memberikan misi pada anak buahnya.
Lalu Anton kembali ke kota dan mengantarkan Helda ke rumah sakit.
“Tuan, terima kasih banyak atas pertolongan Tuan. Tapi aku tidak menyangka Tuan akan membun*hnya demi aku.” Ucap Helda setelah ia selesai diperiksa oleh dokter.
“Tidak masalah, aku juga tidak membutuhkan anak buah yang tidak mentaati peraturan yang aku buat. Sekarang kamu istirahatlah. Biaya rumah sakit ini aku yang akan menanggungnya.”
“Terima kasih, Tuan. Boleh aku tahu siapa nama Tuan?”
“Namaku Anton. Aku permisi.”
“Baik, Tuan.”
Setelah itu Anton meninggalkan Helda sendirian diruangannya di rumah sakit umum.
Satu bulan kemudian, Helda mencari-cari keberadaan Anton. Karena ia sudah mencintainya sejak pertama kali mereka bertemu. Meskipun Helda merasa tidak pantas untuk Anton karena dia sudah tidak suci lagi. Tapi ia tetap ingin mencoba.
Satu bulan Helda mencari keberadaan Anton, ia tidak mendapatkan hasil apapun. Karena Anton adalah seorang Mafia, identitasnya tidak mungkin bisa didapat dengan mudah.
Akhirnya Helda mulai merasakan tanda-tanda kehamilan, ia semakin merasa terpojok. Ingin rasanya ia menggugu*kan anak itu, tapi tidak tega. Ia terpaksa menahan malu dan membesarkan anaknya tanpa seorang Ayah.
Lima tahun kemudian, Helda tidak sengaja melihat Anton di taman. Betapa bahagianya dia karena bisa melihat Anton lagi.
Saat itu Anton sedang bersama dengan Lucy.
Anton terlihat sedang membujuk Lucy karena Lucy tidak suka Anton membawakan bunga untuknya.
“Mungkinkan Tuan Anton sedang berusaha mendapatkan hati wanita itu?” Pikir Helda.
“Aiiihh, apa yang aku pikirkan? Tuan Anton tidak mungkin mau menerimaku yang sudah tidak suci ini. Apalagi sekarang aku juga sudah memiliki seorang Putri melalui tragedi hari itu.” Akhirnya Helda menyerah. Ia tidak pernah mencari Anton lagi. Ia hanya bisa memendam rasanya untuk Anton.
“Sebaiknya sekarang aku fokus saja untuk membesarkan Nana. Berusaha untuk memberikan kehidupan yang layak baginya.” Ucap Helda.
__ADS_1