
Assalamu'alaikum teman-teman readers... Ayo dukung author dengan cara like, komen, rate, vote dan fav.
Terima kasih. *Hug.
Happy Reading....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari ini hari terakhirku dan Bang Rizky di Villa. Setelah dzuhur kami akan memulai perjalanan pulang ke kota.
"Jihan, apa semua yang akan kamu bawa sudah kamu siapkan?" tanyaku pada Jihan.
"Sudah, Nyonya Muda." jawabnya.
"Sudah yakin tidak akan ada yang ketinggalan?" tanyaku lagi untuk memastikan.
"In syaa Allah sudah tidak ada, Nya." jawabnya dengan mantap.
Aku menganggukkan kepalaku perlahan dan tersenyum padanya.
"Apa kamu sudah pamitan dengan kedua orantua dan juga Adik-adikmu?" tanyaku lagi.
"Sudah, Nyonya Muda. Hikss.." jawabnya lalu mengalirlah butiran-butiran bening di kedua pipinya.
"Apa kamu merasa sangat sedih karena akan berpisah dengan keluargamu?" tanyaku pelan sambil mengelus-elus bahunya lembut.
"Iya, Nyonya Muda. Saya merasa sangat sedih karena ini pertama kalinya saya pergi jauh dari orang tua dan tidak akan pulang dalam jangka waktu yang cukup lama." jawabnya sambil menghapus air matanya.
"Sabar, ya. Kalau begitu kamu harus buktikan bahwa pengorbanan kamu ini tidak akan sia-sia. Kamu harus semangat belajarnya supaya bisa meraih cita-cita dan bisa membuat kedua orang tuamu bangga di masa senjanya." aku menasehatinya panjang lebar.
"In syaa Allah, saya akan berusaha sekuat tenaga. Mohon bantuannya Nyonya Muda." ucapnya.
"In syaa Allah akan saya bantu sebisa saya." sahutku.
Setelah mengobrol dengan Jihan, aku pergi menemui Bang Rizky.
"Bang, nanti kita beli oleh-oleh apa untuk Ummi?" tanyaku saat aku berada di dekat Bang Rizky.
"Nanti kita singgah di toko kue saja." jawabnya.
"Apa Bi Sumi, Chaca, Mang Jaja dan Pak Ujang juga mendapat bagian?" tanyaku lagi.
"Kalau Aura mau membelikan sesuatu untuk mereka, Abang tidak keberatan." jawabnya.
"Asiiikkk.." sahutku sumringah.
Setelah selesai melaksanakan sholat dzuhur. Bang Rizky memasukkan semua barang-barang ke dalam garasi mobil.
Aku, Bang Rizky dan Jihan berpamitan dengan Kakek.
"Jaga diri baik-baik ya, Kek." ucapku lalu mencium punggung tangan Kakek.
"Begitu juga dengan Nyonya Muda." sahut Kakek.
"In syaa Allah kapan-kapan kami akan berkunjung ke sini lagi." ucap Bang Rizky lalu mencium punggung tangan Kakek.
__ADS_1
"Baik, Tuan Muda. Hati-hati mengemudi." sahut Kakek.
Dan yang terakhir adalah Jihan. Air matanya kini sudah tak terbendung lagi.
"Kakeeeekk... Hiks... Hiks.... Hikss.." ucap Jihan sambil memeluk Kakeknya.
"Jangan menangis, Nduk. Kalau Ibumu tau dia pasti akan merasa sedih juga." ucap Kakek yang juga ikut menangis. "Jaga dirimu baik-baik di sana. Jangan buat kedua orang tuamu malu. Janji." lanjut Kakek.
"In syaa Allah, Kek. Jihan janji." ucap Jihan sambil menghapus air matanya.
Setelah itu kami bertiga masuk mobil. Tak henti-henti Jihan melihat ke belakang memperhatikan Kakek yang melambai-lambaikan tangannya mengiringi kepergian kami. Hatinya mulai tenang saat bayangan Kakek sudah tak nampak lagi.
"Jihan, kamu baik-baik saja, kan?" tanyaku.
"Iya, Nyonya. Saya baik-baik saja." jawabnya.
Aku lihat dia tersenyum, senyumnya tersebut masih tetap saja manis meskipun pipinya lembab karena dibasahi oleh air matanya. Kedua matanya juga terlihat sembab dan sedikit merah.
Suasana menjadi hening, aku tidak tau hal apa lagi yang harus aku katakan untuk mengajak Jihan mengobrol. begitu terus hingga kami singgah di sebuah toko kue.
Bang Rizky memilih kue untuk Ummi. Aku memilih beberapa kue untuk aku berikan pada Pak Ujang, Bi Sumi, Chaca dan juga Mang Jaja.
Lalu aku teringat pada Jihan yang sedari tadi menemaniku memilih-milih kue.
"Jihan, ambillah sesuatu." ucapku.
"Apa saya boleh, Nyonya Muda?" tanyanya.
"Tentu saja boleh." ucapku lalu tersenyum.
Aku lihat dia juga tersenyum bahagia.
"Tentu saja boleh. Ambil satu lagi." jawabku.
"Dua saja sudah cukup, Nya." ucapnya.
"Ini saya ambil 3 untuk satu orang. Kamu juga harus ambil 3, supaya saya adil." ucapku.
"Owh, baik. Terima kasih banyak Nyonya Muda." ucapnya sumringah.
"iya, sama-sama." sahutku.
Setelah selesai membeli kue, kami melanjutkan perjalanan. Aku mulai memberanikan diri untuk mengajak Jihan mengobrol agar suasana tidak hening lagi seperti sebelumnya.
"Oh ya Jihan, kalau saya boleh tau kamu mau ambil jurusan apa?" tanyaku memulai obrolan.
"In syaa Allah saya akan mengambil jurusan Pendidilan Agama Islam, Nya." jawabnya.
"Wah, bagus sekali." ucapku. "Kapan daftar?" tanyaku lagi.
"Masih tiga bulan lagi baru buka pendaftaran mahasiswa baru, Nya." jawabnya.
"Owh, begitu." ucapku manggut-manggut.
"Iya, Nyonya Muda. Jadi dalam waktu tiga bulan kedepan saya bisa kerja full time dan mengumpulkan uang untuk membayar biaya semester." ucap Jihan.
__ADS_1
"Iya, kamu harus tetap semangat, ya." ucapku menyemangatinya.
"Baik, Nyonya Muda." sahut Jihan.
"Jika kamu kekurangan biaya, jangan sungkan untuk memintanya pada saya." ucap Bang Rizky.
"Baik, Tuan Muda. Terima kasih." jawab Jihan.
Setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam, akhirnya kami tiba di rumah.
"Assalamu'alaikum, Ummi." Bang Rizky langsung mencari Ummi begitu masuk ke dalam Rumah.
Mendengar suara Bang Rizky, Bi Sumi dan Chaca langsung menyambut kedatangan kami.
"Bi, tadi saya beli kue. Ini utuk Bibi, Chaca, Pak Ujang dan Mang Jaja. Masing-masing dapat tiga." ucapku sambil menyodorkan kantong plastik yang berisi kue.
"Terima kasih, Nyonya Muda." ucap Bi Sumi dan meraih kantong plastik tersebut.
"Rizky dan Aura sudah pulang." ucap Ummi dan menghampiri kami.
"Kami baru saja sampai, Mi." sahut Bang Rizky.
"Ini siapa?" tanya Ummi sambil menunjuk Jihan dengan ibu jarinya.
"Ini Jihan, Mi. Cucunya Kek Karta." jawab Bang Rizky.
"Owh begitu. Kenapa bisa ikut ke sini?" tanya Ummi lagi.
"Jihan akan menjadi ART kita. Dia ingin kuliah, makanya kami bawa ke sini untuk kerja sambil kuliah. Ummi tidak keberatan, Kan?" Bang Rizky menjelaskan dan meminta persetujuan Ummi.
"Bagus kalau ada kemauan untuk menunut ilmu. Ummi tidak keberatan." Jawab Ummi.
"Bi, Chaca bisa berbagi kamar dengan Jihan, nanti akan saya tambah lemari satu lagi untuk Jihan. Ayo bawa Jihan masuk ke dalam untuk istirahat." pinta Ummi pada Bi Sumi dan Chaca.
"Baik, Nyonya." sahut Bibi. "Ayo, Nduk." Bibi mengajak Jihan ke kamar.
"Oh ya, apa benar kalian membiarkan Dona dan Lucy kelaparan di Villa?" tanya Ummi setelah Bi Sumi, Jihan dan Chaca pergi.
"Siapa yang bilang begitu?" tanya Bang Rizky kaget.
"Ummi tau dari Dona." jawab Ummi.
"Dasar tukang ngadu." ucap BangRizky ketus.
"Berarti benar?" tanya Ummi.
"Mi, Rizky sudah mengusir mereka begitu mereka datang. Tapi mereka yang ngotot mau bermalam di Villa." jawab Bang Rizky.
"Kenapa di usir?" tanya Ummi lagi.
"Ummi sayang, bukankah Ummi juga tau kalau Lucy bertemu Aura bagaikan singa yang mendapat mangsa?" ucap Bang Rizky lembut dan membuat pengandaian. "Begitu Lucy sampai, dia langsung menerkam Aura." lanjutnya.
"Hurrm..." ucap Ummi menghela nafas panjang. "Iya, Ummi mengerti. Sekarang sebaiknya kalian berdua istirahat. Pasti sudah lelah, kan?" lanjutnya.
"Baik, Mi." sahut Bang Rizky. "Oh ya, Rizky hampir lupa. Itu ada kue buat Ummi."
__ADS_1
"Iya, nanti kita makan kuenya bersama-sama." ucap Ummi lalu tersenyum.
Aku dan Bang Rizky langsung naik ke atas, masuk ke dalam kamar dan langsung mandi untuk bersih-bersih.