Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Season 2: eps 45.


__ADS_3

Setelah mengurung Arini, Amir kembali ke ruang tamu.


Suasana hening.


Amir duduk disebelah Zayn.


“Arumi.” Amir mulai bersuara. “Aku minta maaf karena tidak bisa membedakan dirimu dan Kakakmu.” Lanjutnya.


Arumi hanya diam. Dia sendiri tidak tau harus mengucapkan apa.


“Aku juga minta maaf karena telah menikahinya. Tapi percayalah padaku, aku tidak pernah menyentuhnya. Dia bahkan tidak mengizinkan aku melakukannya.” Ucap Amir lagi.


Arumi mengangkat wajahnya lalu membelalakkan kedua bola matanya.


“Sungguh??” Tanya Arumi yang masih kaget dan tidak percaya.


“Sungguh, aku tidak berbohong.” Amir meyakinkan.


“Hmm.” Arumi menghela nafas lega. “Jadi, Abang tidak menyalahkanku karena memaksa kalian bercerai?” Tanyanya.


“Tentu saja tidak. Aku tidak pernah menganggap serius pernikahan ini semenjak aku tau bahwa dia bukan dirimu.” Jawab Amir.


Arumi hanya mengangguk.


Zayn menatap jam yang melingkar dipergelangan tangannya.


“Sudah pukul 09:30.” Ucap Zayn pada Zara.


Zara menoleh.


Aura dan Rizky juga menoleh dan menatap Zayn.


“Apakah kalian berdua mau pulang?” Tanya Aura dengan lembut.


“Iya, Ibu.” Jawab Zara. “Bibi, ingin tinggal disini atau ikut kami kembali ke apartment?” Tanya Zara pada Arumi:


“Emm.. Bolehkah aku menginap disini saja? Aku juga ingin mengawasi Kakakku.”


“Boleh.” Sahut Aura. “Nanti kamu bisa menempati kamar Zara.” Lanjutnya.


“Bolehkah?” Arumi meminta izin Zara.


“Tentu saja boleh, Bibi.” Jawab Zara.

__ADS_1


“Kalau begitu, kami permisi untuk pulang.” Ucap Zayn.


“Ayah, Ibu. Jangan lupa untuk memberi kabar padaku, hehe.” Zara cengengesan.


“Iya, sayang.” Aura mengecup kening Zara. Lalu Zara mencium punggung tangan Ayah dan Ibunya.


Setelah selesai berpamitan, Zara dan Zayn kembali ke apartment.


Sementara itu Arumi, Amir, Aura dan Rizky masih mengobrol di ruang tamu.


“Arumi, boleh ceritakan kepada kami apa yang telah kamu alami selama ini?” Tanya Amir.


“Boleh.” Jawab Arumi pelan.


Kemudian Arumi menceritakan semua kejadian dari awal hingga akhirnya ia sadar dari koma.


“Ma syaa Allah, ternyata kamu ada si pesantren Ustadz Ridwan.” Amir manggut-manggut.


“Iya. Abang kenal dengan beliau?” Tanya Arumi.


“Tentu saja kenal. Abang juga pernah mondok dipesantrennya.” Jawab Amir sembari melemparkan senyumannya pada Arumi.


Amir merasa sangat bahagia karena cintanya sudah kembali ke sisinya.


“Hmm. Saat ini aku tidak memiliki ponsel, jadi aku tidak bisa menghubunginya.” Ucap Arumi pelan.


“Besok aku akan membelikanmu ponsel yang baru.”


“Terima kasih.” Ucap Arumi sumringah.


“Sama-sama.” Sahut Amir.


“Arumi, sebelum tanggal pernikahan ditetapkan apakah Arini tidak menunjukkan sikap yang mencurigakan?” Tanya Rizky.


“Hmm, aku tidak ingat. Aku tidak terlalu memperhatikan gerak gerik Kak Arin karena menurutku dia tulus bahagia atas pernikahanku.” Jawab Arumi. “Aku hanya ingat sepertinya Kak Arin sering berkomunikasi melalui ponsel dengan seseorang. Tapi setiap kali aku melihatnya dia langsung mematikan ponselnya. Aku kira dia sedang malu, malu karena ketahuan sedang teleponan..” Lanjutnya.


“Hmmm.” Rizky menghela nafas lalu tampak seperti sedang berfikir. “Sepertinya kita harus memeriksa ponselnya untuk mengetahui siapa pembun*h yang ia sewa untuk membun*h Arumi.” Ucap Rizky kemudian kepada Amir.


“Tapi kalau misalnya dia sudah menghilangkan bukti-bukti yang ada diponselnya bagaimana?” Tanya Amir.


“Kita coba lihat saja dahulu.” Jawab Rizky.


“Baik, Bang.” Sahut Amir.

__ADS_1


“Bang, apa tidak apa-apa jika kita tidak memenjarakan Arini? Aura takut dia akan membalas dendam.” Aura mengutarakan kekhawatirannya.


“Abang juga berpikir demikian. Jadi demi keselamatan kita. Abang tetap akan meminta pengawal rahasia untuk terus mengawasinya.” Rizky mengelus bahu Aura.


“Sekarang sudah malam, sebaiknya kita semua beristirahat.” Ajak Rizky.


Amir, Arumi dan Aura mengangguk.


Amir memilih untuk tidur di ruang tamu untuk berjaga, dia khawatir jika nanti Arini mencoba untuk melarikan diri lagi. Tapi dia juga tidak ingin tinggal didalam ruangan yang sama dengan Arini.


Sementara itu, Aura membawa Arumi ke kamar Zara.


“Jangan sungkan untuk memakai barang-barang milik Zara.” Aura berpesan pada Arumi.


“Terima kasih, Kak Aura.” Ucap Arumi sembari tersenyum manis.


“Iya, sama-sama.” Sahut Aura dan membalas senyuman Arumi.


Setelah itu Aura menyusul Rizky lalu bersama-sama naik ke atas dan masuk ke dalam kamar untuk beristirahat.


“Bang, sifat mereka berdua benar-benar bagaikan langit dan bumi.” Ucap Aura yang membandingkan Arini dan Arumi.


“Iya. Rasa iri dan dengki yang ada didalam hati Arini membuatnya menjadi orang yang kej*m, bahkan dengan Adik kandungnya sendiri, ia tidak memiliki rasa kekeluargaan dan kasih sayang.” Sahut Rizky.


Aura mengangguk, ia merasa kasihan pada Arumi karena memiliki saudara seperti Arini.


Sesampainya Zara dan Zayn di apartment, mereka berdua masuk ke dalam kamarnya masing-masing.


Sudah lima belas menit Zara berbaring diatas kasurnya, tapi ia belum bisa terlelap. Anehnya, ia malah merasa kesal.


“Kenapa aku merasa kesal seperti ini? Apa yang salah dengan diriku?”


Zara menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan. Setelah itu ia lanjut Istighfar.


Sementara itu di dalam kamar Zayn.


Zayn duduk diatas katil lalu memikirkan Zara.


“Kenapa aku merasa kesal karena malam ini tidak jadi tidur didalam kamar yang sama dengan Zara? Aiiihhh.” Zayn menggaruk kepalanya berkali-kali padahal tidak gatal.


Zayn pergi kekamar mandi untuk berwudhu’ agar hatinya kembali tenang.


Setelah selesai wudhu’ Zayn berbaring diatas katil lalu Istighfar hingga terlelap.

__ADS_1


__ADS_2