Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Happy 1st Wedding Anniversary


__ADS_3

Assalamu'alaikum teman-teman readers... Terima kasih karena masih setia membaca novel ini.. Ayo dukung author dengan cara like, komen, rate, vote dan fav.


Thank you. *Hug.


Happy Reading.... 💕


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Waktu begitu cepat berlalu, hari ini genap sudah satu tahun usia pernikahanku dan Bang Rizky.


Meskipun kami belum memiliki keturunan, tapi aku harus tetap bersyukur karena memiliki suami yang baik, mertua yang baik dan ipar yang baik.


Iya, walaupun aku sangat menginginkan keturunan, tapi rezeki setiap orang berbeda. Mungkin saat ini aku masih harus bersabar menunggu, aku yakin suatu hari nanti Allah pasti akan membayar dengan cash. Karena buah dari kesabaran sangatlah manis.


"Assalamu'alaikum. Aura sayang, Abang pulang." ucap Bang Rizky saat membuka pintu kamar.


"Wa'alaikumussalam." jawabku.


Aku sambut kedatangannya dengan senyuman dan langsung mencium punggung tangannya. Setelah itu dia memeluk tubuhku dan mencium keningku.


"Happy 1st wedding anniversary my lovely wife." ucapnya lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam tas kerjanya.


"Apa ini?" tanyaku sumringah. Ah, senang sekali rasanya bisa mendapatkan hadiah dari Bang Rizky meskipun ini bukan yang pertama kalinya.


"Buka saja." jawabnya sambil senyum-senyum.


"Aura deg-degan, haha." aku tertawa kecil, karena terlalu senang.


Bang Rizky ikut tertawa dan mengacak-acak rambutku.


Aku pun mulai membuka bingkisan kecil yang ia berikan padaku.


"Ma syaa Allah, indahnyaaaaa." ucapku sumringah. Pertama kalinya aku punya liontin seindah ini.


"Suka?" tanyanya.


"Banget." jawabku secepat kilat.


"Alhamdulillah. Sini Abang pakaikan." ucapnya lalu meraih liontin yang ada ditanganku.


Aku putar badanku dan membelakangi Bang Rizky yang akan memakaikan liontin tersebut dileherku.


"Istri Abang jadi semakin cantik setelah memakai liontin ini." ucapnya.


"Terima kasih banyak, Bang."


"Sama-sama my angel." jawab Bang Rizky. "Abang pergi mandi dulu, ya." lanjutnya.


"Iya." sahutku.


Tidak sengaja aku memencet sebuah tombol yang ada ditengah-tengah liontin berbentuk hati ini, liontin itu pun terbuka.


"Wah, Bang Rizky sudah memasukkan foto kita berdua ke dalam sini." gumamku di dalam hati. Aku pun tersenyum bahagia.


Malam hari setelah aku dan Bang Rizky selesai sholat isya berjama'ah di dalam kamar.


"Aura sayang, ganti pakaiannya ya. Kita makan malam di luar." Bang Rizky mengajakku makan malam di luar.


"Tumben?" ucapku lalu mengerutkan dahi. "Dalam rangka apa?" lanjutku.


"Iya, dalam rangka makan-makan. Hahaha." jawabnya sambil tertawa. "Ayolah, lagi pula sudah lama kita tidak makan di restoran. Apa lagi hari ini usia pernikahan kita genap satu tahun." sambungnya.

__ADS_1


"Oh, baiklah kalau begitu." lalu aku mulai mengganti pakaianku.


Setelah selesai, kami pun pergi menuju sebuah restoran yang mewah. Semuanya masakan di sana terkenal sangat enak.


Begitu sampai di restoran, Bang Rizky mengajakku duduk di pojok agar tidak terlalu banyak orang yang lalu lalang di sekitar kami.


Bang Rizky langsung memesan beberapa menu makanan dan minuman. Dua puluh menit kemudian, pesanan kami datang.


"Masakannya enak, kan?" tanya Bang Rizky.


"Iya, walaupun ini restoran mewah tapi rasa makanannya tidak kalah enak dengan masakan Jihan di rumah." jawabku.


"Hahahaha." Bang Rizky tertawa mendengar jawabanku itu.


"Rizky." tiba-tiba ada seseorang yang datang menyapa Bang Rizky.


"Astaghfirullah." ucapku karena aku kaget dengan kedatangannya yang tiba-tiba.


"Aduh, kaget ya? Maaf." ucap Pria itu.


"Iya, tidak apa-apa." jawabku.


"Sidik. Long time no see. Apa kabar?" tanya Bang Rizky.


"Oh, ini yang namanya Sidik." gumamku di dalam hati.


"Alhamdulillah masih dalam lindungan Allah." jawab pria yang bernama Sidik.


"Ayo duduk di sini saja." Bang Rizky mengajak Bang Sidik untuk bergabung. "Ini istri kamu?" tanya Bang Rizky.


Bang Sidik dan istrinya pun menurut dan duduk satu meja dengan kami.


"Iya, ini istri saya. Namanya Alisya." jawab Bang Sidik.


"Ky, ini bukannya wanita yang suka nyari uang jatuh?" tanya Bang Sidik setelah mengamati wajahku.


"Hah? Nyari uang jatuh?" tanyaku. Aku merasa sangat heran dan tidak mengerti maksud ucapannya.


"Hahahahahaha." Bang Rizky malah tertawa mendengar pertanyaan Bang Sidik.


Aku jadi semakin heran. "What's going on?" Teriakku di dalam hati.


"Kamu masih saja mengatakan hal itu. Padahal saya sudah bilang kalau dia gadhul bashar. Haha." ucap Bang Rizky dan tertawa kecil.


"Mana mungkin saya lupa. Haha." ucap Bang Sidik yang ikut tertawa. "Ternyata kalian berdua berjodoh." lanjutnya.


"Permisi, Aura tidak mengerti dengan alur percakapan Abang-abang berdua." ucapku menimpali.


"Oh, nama kamu Aura." ucap Bang Sidik.


"Iya, namanya Aura. Asyifahani Aura." Bang Rizky yang menjawabnya.


"Oh ya, kenapa waktu itu kamu tidak menghadiri pesta pernikahan saya?" tanya Bang Sidik pada Bang Rizky.


"Oh, maaf. Waktu itu saya ada project penting." jawab Bang Rizky. "Afwan jiddan (saya mohon maaf yang sedalam-dalamnya)." lanjutnya.


"Laa ba'sa (tidak masalah)." jawab Bang Sidik.


"Kalian sudah makan?" tanya Bang Rizky.


"Alhamdulillah sudah tadi, di meja yang itu." jawab Bang Sidik sambil menunjuk sebuah meja.

__ADS_1


"Alisya, kenapa diam saja?" tanyaku coba untuk mengajaknya berbicara.


"Tidak ada apa-apa, hanya belum terbiasa." jawab Alisya.


"Berdua saja nih? Anggota mana?" tanya Bang Sidik.


"Anggota? Mungkin maksudnya anak." gumamku di dalam hati.


"In syaa Allah secepatnya satu persatu anggota akan hadir di keluarga kecil kami. Do'akan kami ya." jawab Bang Rizky.


"Oh begitu. Do'akan kami juga agar bisa segera memilikinya." pinta Bang Sidik.


"Oh, mereka juga sedang menunggu kehadiran si kecil." gumamku di dalam hati.


"Kalau begitu kita saling mendo'akan saja. Hehe." jawab Bang Rizky sambil cengengesan.


"Ternyata kita masih sama-sama menanti ya, Ky." ucap Sidik pelan.


"Yuppzz. Manfaatkan waktu ini sebaik mungkin untuk puas-puas pacaran berdua. Hahahh." ucap Bang Rizky coba menghibur temannya.


"Benar. Hehe." sahut Bang Sidik.


"Oh ya? Kalian berdua masih lama?" tanya Bang Rizky.


"Tidak juga. Kita sudah mau pulang." jawab Bang Sidik.


"Kalau begitu, kita berpisah di sini ya. Kami juga mau pulang." ucap Bang Rizky.


"Iya, sampai jumpa lagi." ucap Bang Sidik.


"In syaa Allah." sahut Bang Rizky.


"Senang bisa berkenalan denganmu Alisya." ucapku pada Alisya.


"Saya juga senang bisa mengenalmu Aura." jawab Alisya.


Setelah Bang Rizky selesai membayar bil, kami langsung pulang.


Sesampainya di rumah, aku langsung menginterogasi Bang Rizky.


"Bang, apa maksudnya suka nyari uang jatuh?" tanyaku dengan wajah polos.


"Ha? Hahahahahahahaha." Bang Rizky menatapku dan langsung tertawa terbahak-bahak.


"Jawab donk." pintaku.


"Bukan apa-apa. Sudah, lupakan saja."


"Tapi Aura tidak bisa melupakannya begitu saja."


"Jadi, ketika Aura sedang berbaris untuk melaksanakan kegiatan ospek.."


"Tunggu, Ospek kapan? Ospek di ponpes?" tanyaku memotong ucapan Bang Rizky.


"Iya." jawabnya.


"Oh, sudah lama banget itu." ucapku. "Lanjutkan ceritanya, Bang." pintaku.


"Sidik tidak sengaja melihat Aura, Aura selalu menunduk. Makanya dia bilang Aura suka nyari uang jatuh." lanjut Bang Rizky menjelaskan.


"Hah, hanya karena itu? Hanya karena Aura sering menunduk?" aku heran.

__ADS_1


"Iya. Hahaha." Bang Rizky tertawa kecil. "Ayo tidur." ajaknya. Aku menganggukkan kepalaku.


__ADS_2