
Dulu sebelum aku memakai cadar, aku sering merasa terganggu oleh orang-orang disekitarku, orang indonesia ataupun bukan, orang-orang yang tidak aku kenali dan orang-orang yang aku jumpai saat aku berada di luar rumah.
Tidak jarang mereka mengangguku, meskipun hanya sekedar mengatakan “Hai” bahkan ada juga yang mengatakan ”Assalamu’alaikum” tapi aku tau itu hanya dijadikan sebagai awal modus mereka saja, meskipun begitu aku tetap menjawab salam mereka tapi aku jawab dalam hati saja dan tidak aku ucapkan melalui lisanku.
Terkadang ada juga orang India atau Bangladesh yang buang kiss kehadapanku, mungkin bagi mereka itu adalah hal biasa tapi bagiku itu adalah hal yang sangat menjijikkan.
Setelah beberapa kali aku bepergian memakai cadar, aku merasakan perubahan yang sangat baik, orang-orang lebih respect terhadapku. Pernah waktu itu aku naik bas (bus) dan berdiri disebelah pintu, memang sudah jadi kebiasaanku lebih suka berdiri dari pada duduk ketika berada didalam bas. Kemudian masuklah dua orang Amerika, awalnya aku merasa takut, dan aku sendiri tidak tau kenapa aku merasa takut pada mereka, tapi ketakutanku itu salah besar, mereka berdua malah tersenyum manis padaku dan akupun membalas senyuman mereka berdua, grandmother and grandfather.
Tapi bukan berarti semua orang respect terhadapku, masih ada juga beberapa orang yang malah merasa terganggu dengan kehadiranku dan merasa takut denganku, masih ada juga beberapa orang yang memanggilku ghost, hantu dan begu (yang berarti hantu dalam bahasa batak). Tapi aku tidak menghiraukan hinaan mereka itu.
Pernah sekali itu aku pulang sekitar jam setengah dua belas malam, karena aku ada kegiatan di luar hingga akhirnya aku pulang hampir tengah malam, asramaku terletak di lantai 6. Aku menunggu lift sendirian, tiba-tiba datang seorang lelaki dari belakang, perasaanku saat itu benar- benar tidak karuan, aku takut kalau dia macam-macam denganku. Saat pintu lift terbuka aku buru-buru masuk, aku tahan pintu lift karena si laki-laki itu masih berdiri di luar pintu lift, setelah beberapa saat aku tahan pintu lift akhirnya dia masuk juga. Aku lihat dia bertingkah aneh dan sangat cemas, sepertinya dia merasa tidak nyaman. Saat pintu lift terbuka dia bergegas keluar dan meninggalkanku. Setelah dia keluar dari lift aku senyum-senyum sendiri.
“Aku takut sama dia, ternyata dia juga takut sama aku.” Ucapku dalam hati.
Ma syaa Allah, tanpa aku sadari pakaian ini telah melindungiku. Aku jadi berfikir, ada baiknya juga sih kalau dia takut denganku, jadi dia tidak akan menjahati aku.
Keesokan harinya aku janjian dengan Kak Fia bertemu di dalam KFC Bukit Jambul, karena kami masih cuti kerja. Hari ini adalah hari pertama dia melihatku memakai niqab. Ketika dia melihatku, ia kaget dan mundur selangkah karena merasa takut denganku.
aku kemudian menghampirinya.
“Ini Naura, Kak.” ucapku sambil tertawa.
“Benaran Naura?” Tanyanya dengan wajah yang masih merasa kebingungan.
“Iya, Kak. Ini Naura.” Jawabku dengan lembut.
“Aku takut kalau bertemu dengan orang seperti ini, jilbabnya besar, nampak matanya saja, aku takut kalau dia menyembunyikan sebuah pisau didalam jilbabnya lalu tiba-tiba dia menikamku.” Ucap Kak Fia to the point sambil duduk di kursi.
“Astaghfirullah, kenapa Kakak berfikir seperti itu, Kak?” Aku sangat terkejut mendengar ucapan Kak Fia. Sama sekali tidak pernah terfikirkan olehku apa yang diucapkan oleh kak fia itu.
“Memangnya kamu tidak tau? Sekarang sedang banyak kasus teorrist.” Jawabnya.
__ADS_1
“Iya, Kak. Saya tau kasus itu. Tapi bukan berarti Kakak juga harus takut dengan saya.” Ucapku.
Kak Fia ini adalah sahabat baikku, di tempat kerjaku hanya dia saja yang paling akrab denganku, bahkan kami sering dipanggil kembar oleh teman-teman yang lain karena kami selalu berdua. Aku sungguh tidak menduga bahwa tanggapannya seperti itu ketika ia melihat aku memakai niqab.
Keesokan harinya di tempat kerja, aku lihat dia biasa-biasa saja, sedikitpun tidak membahas tentang penampilanku kemarin. Sampai ketika jam istirahat, di kantin aku duduk bersebelahan dengan Kak Fia lalu aku memperlihatkan fotoku yang memakai cadar padanya.
“Kak, lihat foto Naura ini Kakk.” Ucapku sambil mengarahkan ponselku padanya.
Kemudian Kak Fia menoleh ke arah handphoneku.
“Kamu kenapa suka memakai pakaian seperti itu?” Tanya Kak Fia.
“Ini sunnah, Kak. Dan menjadi wajib jika dikhawatirkan menimbulkan fitnah.” Jawabku.
“Kamu, Ra. Jika main ke kampung Kakak pasti kamu akan langsung dibunuh di sana karena di kira teror*s.” Ucap Kak Fia.
Astaghfirullah, aku sangat kaget mendengar ucapan Kak Fia itu, rasanya hatiku sakit sekali mendengarnya, sampai aku merasa ada sesuatu yang menancap dihatiku saat itu.
Aku tetap sabar menghadapinya, dan mencoba membuat suasana biasa-biasa saja meskpun hatiku terluka mendengar ucapannya.
Kak Fia tidak menjawabku, dia hanya diam dan lanjut menyantap makan siangnya. Aku tau, dia bicara seperti itu pasti ada sebabnya, bukan ingin mencemooh kain cadarku melainkan karena dia takut aku dijahati oleh orang lain.
Aku tahu, di luar sana masih ada banyak lagi ujian hijrah yang lebih hebat dari apa yang aku alami ini, aku juga tahu ujian hijrah setiap muslimah tidaklah sama, semua tergantung pada kadar kesabaran masing-masing insan dan aku tahu semua muslimah memiliki tujuan yang sama, yaitu menggapai Ridho Allah.
“Katakanlah kepada wanita-wanita beriman: hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemal**n mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak daripadanya.” (Q.S. An-Nuur: 31).
Terkadang ada juga selisih paham tentang suara wanita, dan aku pun setuju bahwa suara wanita termasuk aurat. Tapi bukan berarti ketika kita berbicara, si ikhwan lawan berbicara itu tidak boleh mendengar suara kita. Aku justru merasa aneh dengan sikap akhwat yang seperti ini, karena suara wanita adalah aurat maka dia sengaja mengecilkan volume suaranya sehingga ketika dia berbicara dengan ikhwan, si ikhwan mendadak budeg karena tidak bisa mendengar apa yang disampaikan oleh si akhwat.
“Maka janganlah kamu melembutkan suara dalam berbicara, sehingga berkeinginanlah orang yang ada Penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (Q.S. Al-Ahzab : 32).
Padahal kalau menurutku, yang dimaksudkan ayat di atas adalah jangan berlemah lembut, itu berarti jangan sengaja melembutkan suara dihadapan ikhwan yang bukan mahram, jangan bermanja-manja dan jangan kecentilan pula, sehingga timbullah penyakit hati ikhwan tersebut.
__ADS_1
Pernah dalam satu pengajian, ada seorang akhwat yang bertanya pada Ustadz tentang suara wanita, lalu ustadz menjawab “Jangan sengaja melemah lembutkan suara hingga yang mendengarnya menjadi terlena dan timbul penyakit dalam hatinya.”
Tidak lama setelah aku memakai cadar, aku ada mendengar satu informasi tentang Universitas Terbuka di Penang ini. Adikku Dizu yang memeberitahukannya kepadaku.
Kemudian aku merasa sangat tertarik untuk Kuliah sambil Kerja di sini karena sistem kuliahnya juga tidak mengganggu waktu kerjaku. Bagaimanapun aku tetap harus menomor satukan kerja, karena kerja inilah yang membuat aku bisa berada di sini, aku juga terikat kontrak dan harus patuh pada setiap peraturan yang di buat oleh pihak atasanku.
Lalu aku teringat dengan cadarku, bolehkah aku kuliah memakai cadar?
“Oh ya, memangnya boleh pakai niqab kalau mau kuliah di Universitas Terbuka itu?” Tanyaku pada Dizu.
“Boleh, Kak. Ada juga yang kuliah pakai niqab disitu.” Jawab Dizu.
“Serius?” Tanyaku bersemangat.
“Serius, Kak. Tapi Dizu tidak tau namanya siapa.” Jawabnya.
“Iya, Alhamdulillah kalau boleh.” Ucapku.
Aku mulai mencari tau lebih jelas tentang Universitas Terbuka, kemudian aku menghubungi salah satu Mahasiswi UT dan bertanya padanya tentang persyaratan apa saja yang harus aku siapkan. Tapi sayang waktu itu aku tidak membawa foto copy Ijazah SMA ke Malaysia karena aku sama sekali tidak pernah kepikiran untuk kuliah sambil kerja.
Lalu aku meminta ibuku untuk mengirimkan fotocopy ijazah ke Malaysia agar aku bisa segera mendaftar kuliah.
Alhamdulillah setelah semua persyaratan yang aku butuhkan sudah lengkap, aku segera mendaftar dan aku memilih jurusan Sastra Inggris di Universitas Terbuka Pokjar (kelompok belajar) Penang.
Namun ternyata sistem belajar Online tidak semudah yang aku bayangkan, setelah aku bekerja selama 12 jam di kilang, sampai di rumah aku juga harus menyisihkan waktu untuk mengerjakan exercise dan task. Bagaimanapun aku harus bisa menjaga semangat belajarku, jangan sampai aku putus kuliah hanya karena aku kalah oleh rasa lelah.
Imam syafi’i berkata “Bila kamu tak tahan lelahnya belajar, maka kamu harus tahan menanggung perihnya kebodohan.”
Selama menjalani Tuton (Tutorial Online), aku pasti akan kekurangan waktu istirahat untuk tidur, aku jadi sering ngantuk di tempat kerja. Rindu itu memang berat, tapi ada lagi yang lebih berat yaitu menahan rasa ngantuk di tempat kerja.
Selama kerja aku harus bisa memastikan aku tidak membuat banyak barang yang reject, dan aku juga merasa tidak enak sekali ketika tanpa sengaja mataku terpejam dan aku terlelap, sedangkan teman- temanku yang lain masih melanjutkan kerja mereka. Suer! Rasanya tidak enak banget.
__ADS_1
Tapi Allah itu baik, “Hablum minallah wa hablum minannas.” Yang berarti jagalah hubungan kamu dengan Allah, pasti Allah akan menjaga hubungan kamu dengan manusia. Alhamdulillah, Allah selalu mengelilingi aku dengan orang-orang baik, teman-teman kerjaku semuanya sangat baik dan pengertian.
Mereka tau betul apa penyebab aku sampai mengantuk separah itu, bahkan terkadang dari mereka ada yang membantuku menyelesaikan pekerjaanku. Alhamdulillahilladzi bi ni‟matihi tatimmus shalihaat. Tetapi tidak semua orang sama, memang aku ada mendengar beberapa kali komen- komen yang buruk mengenai diriku tapi biarlah itu menjadi urusannya dengan Allah saja.