Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Lucy ke rumah Nenek


__ADS_3

Beberapa hari yang lalu Lucy sudah membujuk Papanya agar mengizinkan ia untuk tinggal di rumah Neneknya untuk sementara.


Meskipun Papanya berusaha menolak, tapi Lucy tetap kekeuh ingin pergi ke luar kota dan tinggal dengan Neneknya.


Hari ini dia berencana untuk hang out bareng Dona untuk yang terakhir kalinya.


Tutt... Tutt.. Tutt... Tutt... Lucy menghubungi Dona.


“Hallo, Cy.” Ucap Dona di seberang sana.


“Hallo, Na. Hari ini kita nonton yuk.” Ajak Lucy to the point.


“Boleh. Di mana?” Tanya Dona.


“Kamu siap-siap saja dulu. Lima menit lagi aku keluar dan langsung menjemput kamu.” Jawab Lucy.


“Oh, ok.” Sahut Dona lalu ia menutup teleponnya.


Lucy segera mengganti pakaian dan dandan seadanya. Kemudian dia langsung pergi ke garasi menyalakan mobil dan segera meluncur ke rumah Dona.


Lima belas menit kemudian dia tiba di depan rumah Dona.


Tinn.. Tinn.. Tinn.. Tinn.. Lucy membunyikan klakson mobilnya berkali-kali agar Dona tau bahwa ia sudah tiba.


Tidak berapa lama kemudian, Dona pun keluar dari rumahnya. Dona berlari-lari kecil menuju mobil Lucy.


“Sabar donk, Cy.” Gerutu Dona begitu ia masuk ke dalam mobil.


“Hahaha.” Lucy hanya membalasnya dengan tawa dan langsung menjalankan mobilnya.


“Bay the way, kita mau nonton film apa?” Tanya Dona.


“Apa saja, kamu boleh pilih film yang kamu suka. Hari ini aku yang traktir nonton dan makan.” Jawab Lucy sambil mengemudi.


“Asyiikkkk.. Sering-sering ya, hehe.” Ucap Dona sumringah.


“Sepertinya tidak bisa sering-sering. Hari ini terakhir aku ajak kamu jalan.” Jawab Lucy.


“Loh, kenapa begitu?” Tanya Dona kaget.


“Iya, nanti aku cerita kalau kita sudah sampai.” Jawab Lucy.


Setelah itu Lucy terus fokus mengemudi hingga mereka tiba di sebuah Mall yang cukup besar di kota M.


Lucy memarkirkan mobilnya lalu mereka berdua langsung masuk ke dalam Mall tersebut.


“Cy, kita pergi lihat-lihat film terlebih dulu ya. Setelah itu kita cari tempat yang enak buat makan dan ngobrol.” Ajak Dona.


“Ok, as you wish.” Sahut Lucy.

__ADS_1


Dona pun segera menarik tangan Lucy menaiki lift hingga lantai yang paling atas.


Saat pintu lift terbuka, yang pertama kali terlihat adalah arena bermain bowling.


Lucy jadi teringat saat pertama kali ia bertemu dengan Anton.


Ia sungguh tidak menyangka bahwa hari itu adalah hari di mana ia bertemu dengan seorang pria yang memaksanya untuk menikah.


Dona dan Lucy berjalan beriringan menuju bioskop. Sesampainya di sana, Dona langsung melihat daftar film yang tayang hari ini. Sedangkan Lucy masih merenungi nasibnya yang bagaikan berada di dalam neraka.


Setelah Dona selesai memilih film, ia langsung membeli dua tiket.


“Cy, aku sudah beli tiketnya. Aku sengaja ambil film yang tayang dua jam lagi, supaya kita bisa ngobrol lama.” Ucap Dona.


“Ok.” Sahut Lucy singkat.


Setelah Dona memilih film yang akan mereka tonton. Maka sekarang giliran Lucy yang memilih tempat untuk makan.


Mereka memasuki sebuah tempat makan yang termasuk mewah, tempat itu nyaman bagi Lucy untuk meluahkan isi hatinya.


Mereka mengambil tempat duduk yang paling pojok dan masih sepi pengunjung.


Begitu mereka berdua duduk, datang seorang pelayan yang membawakan buku menu. Pelayan tersebut menyerahkan buku menu pada Dona dan Lucy.


“Kamu mau cerita apa, Cy?” Tanya Dona begitu mereka sudah selesai memesan makanan.


“Lusa aku akan pergi keluar kota.” Jawab Lucy.


Meskipun selama bersama mereka sering melakukan perbuatan yang tidak baik, tapi bagaimanapun juga mereka berdua sudah seperti Kakak Adik.


“Aku minta maaf, Na. Aku terpaksa harus pergi ke rumah Nenek. Aku capek Papa maksa aku terus agar mau segera menikah dengan Anton.” Jawab Lucy. “Kamu tau kan? Aku tidak pernah suka dengan Anton, aku bahkan sangat membencinya.” Lanjutnya sambil mengepalkan tangannya.


“Oh, jadi itu sebabnya kamu memutuskan untuk pergi?” Tanya Dona.


Lucy mengangguk.


“Aku setress terus-terusan di paksa, aku takut nanti malah aku yang gila, bukan Aura.” Ucap Lucy.


“Jika memang itu yang terbaik, aku tidak masalah. Yang penting kamu jaga diri baik-baik di sana dan yang paling penting jangan lupa sama aku.” Ucap Dona sambil tersenyum.


“Mana mungkin aku lupa sama kamu. Kamu sudah seperti saudara perempuanku.” Sahut Lucy.


Lalu datanglah pelayan yang mengantarkan makanan yang mereka pesan.


“Tadi kamu sebut nama Aura, aku jadi kasihan sama Rizky.” Ucap Dona setelah pelayan itu pergi.


“Kasihan kenapa?” Tanya Lucy sambil menyantap makanannya.


“Karena hingga saat ini dia belum berhasil menangkap pelakunya. Orang yang sudah mebuat Aura keguguran.” Jawab Dona sambil memasukkan daging ke dalam mulutnya menggunakan garpu.

__ADS_1


“Oh itu. Aku juga turut prihatin.” Sahut Lucy.


Mereka berdua mulai sibuk dengan makanannya masing-masing. Sesakali mereka berdua mengobrol dan tertawa sambil menghabiskan hidangannya.


“Aku kenyang.” Ucap Dona setelah selesai makan.


“Aku juga.” Sahut Lucy.


“Tapi aku masih mau popcorn.” Ucap Dona memelas.


“Boleh, hehe.” Jawab Lucy sambil tertawa kecil melihat ekspresi wajah Dona.


Sambil menunggu jam tayang film yang di pilih Dona. Mereka lanjut mengobrol di tempat makan tersebut. Hingga mereka hanya memiliki waktu dua puluh menit lagi.


“Dua puluh menit lagi film kita tayang, ayo kita ke sana. Kita kan mau ngantri lagi beli popcorn.” Ajak Dona yang penuh semangat.


“Iya ayo.” Lucy menuruti Dona.


Mereka berdua meninggalkan tempat makan setelah membayar tagihan terlebih dahulu.


“Cy, kamu tunggu di sini saja. Aku mau ngantri dulu beli popcorn dan minum.” Ucap Dona.


Lucy hanya mengangguk lalu memainkan gawainya.


Tidak berapa lama kemudian, Dona datang.


“Ini, Cy. Tolong pegang sebentar. Aku mau nyari tiket kita di dalam tas.” Ucap Dona seraya menyerahkan popcorn dan minuman pada Lucy.


Dengan sigap Lucy meraihnya.


Setelah mendapatkan tiket, Dona dan Lucy langsung masuk ke dalam.


Mereka mencari nomor ruangan dan juga nomor kursi yang tertera di tiket.


Setelah menonton film yang berdurasi lebih kurang dua jam, mereka memutuskan untuk pulang ke rumah.


Saat diperjalanan pulang. Dona tiba-tiba merasa sedih karena akan berpisah dengan Lucy sahabatnya.


“Oh ya, Cy. Aku lupa nanya, rumah Nenek kamu di mana?” Tanya Dona.


“Nenek aku tinggal di kota B.” Jawab Lucy.


“Hah? Kebetulan banget. Dafa juga tinggal dan kerja di kota B.” Gumam Dona dalam hatinya.


“Memangnya kenapa tanya tentang itu, Na?” Tanya Lucy dan membuyarkan lamunan Dona.


“Tidak apa-apa, Cy. Mana tau nanti aku kangen sama kamu, aku bisa pergi ke sana mengunjungi kamu.” Jawab Dona sambil tersenyum.


“Oh, boleh juga.” Ucap Lucy. “Tapi lusa sebelum aku pergi ke bandara, kamu main kerumah aku ya.” Pintanya.

__ADS_1


“Ok sip.” Sahut Dona.


__ADS_2