
“Sudah satu minggu berlalu, Bang Arfa tidak pernah lagi mencarimu.” Ucap Nayla.
“Hmm, untuk apa memikirkannya? Kamu rindu?”
“Apa? Aku rindu? Becandanya tidak lucu tauk.” Sahut Nayla.
“Hahaa. Lalu untuk apa kamu membahasnya?” Zara tertawa kecil.
“Tidak ada, aku hanya teringat saja.” Ucap Nayla ketus.
“Maaf.” Ucap Zara lalu tersenyum.
“Bay the way, actually aku penasaran bagaimana kamu bisa kenal dengan Bang Arfa.” Ucap Nayla tiba-tiba. “Kamu keberatan atau tidak kalau menceritakannya padaku?” Nayla memohon pada Zara.
“Hmm, baiklah akan aku ceritakan.” Zara pasrah dan menuruti keinginan sahabatnya itu.
Nayla menanti cerita Zara dengan mata yang berbinar-binar.
“Sebenarnya aku tidak tau kenapa dia selalu mengatakan bahwa aku pernah menolongnya.”
“Oh ya?”
“Iya. Awal dia muncul saat aku akan pergi ke kampus, dua tahun yang lalu. Tiba-tiba dia menghampiri aku di depan gerbang rumah.
Aku turun dari mobil karena aku mengira dia orang tersesat yang ingin menanyakan alamat rumah.
Tapi ternyata tidak. Saat aku turun dari mobil, dia langsung memberiku bunga dan coklat.
Aku merasa dia orang aneh, lalu pergi meninggalkannya.
Siapa sangka, ternyata dia membuntutiku sampai ke kampus.
Dia memperkenalkan dirinya. Aku merasa itu bukanlah hal yang penting. Aku tidak menggubrisnya, bahkan aku tidak mengatakan sepatah katapun.
Lalu dia menghampiri salah seorang mahasiswi untuk menanyakan namaku. Saat itu barulah dia tau namaku.
Ia juga meminta Mahasiswi tersebut untuk menyerahkan bunga dan coklat yang ia bawa tadi. Ada sebuah surat juga yang tertulis ‘Terima kasih sudah pernah menolongku.’
Sampai sekarang aku tidak tau dan tidak ingat, kapan aku menolongnya.
Atau mungkin dia salah orang. Hmmm.” Zara bercerita panjang lebar.
Nayla mengangguk tanda mengerti.
“Mungkin dia salah orang.” Ucap Nayla sambil memikirkan sesuatu. “Tapi jika memang benar salah orang, tidak mungkin sudah selama ini dia masih tidak menyadarinya. Atau mungkin kamu yang lupa.” Lanjutnya.
“Sudahlah, tidak usah dipikirkan.” Ucap Zara.
Tiba-tiba ponsel Zara berdering. Pak Ujang menelepon dan memberitahunya bahwa Pak Ujang sudah menunggunya di pintu gerbang kampus.
“Nay, aku duluan ya. Kakek sudah menunggu.” Ucap Zara. Ia memanggil Pak Ujang dengan sebutan Kakek.
__ADS_1
“Baik, aku juga sekalian mau ke depan mencari taxi.” Sahut Nayla.
Mereka berdua berjalan beriringan menuju gerbang kampus.
Sesampainya di gerbang, Zara langsung masuk ke dalam mobil, sedangkan Nayla masih mencari taxi.
Didalam perjalanan pulang, zara masih memikirkan rencana pertemuan keluarga yang akan diadakan malam ini.
“Hmm, sebaiknya aku mengenakan pakaian apa ya? Yang mana yang paling bagus? Nanti setelah sampai di rumah, aku harus mencari yang paling bagus.” Gumamnya didalam hatinya.
Sesampainya di rumah, Zara langsung masuk ke dalam kamar. Dilihatnya sudah pukul empat.
Ia bergegas mengganti pakaian lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk berwudhu.
Ia kemudian menunaikan kewajibannya sebagai hamba, melaksanakan sholat ashar empat rakaat.
Selesai sholat, ia langsung membuka lemari pakaiannya dan memilih dress mana yang akan ia kenakan malam ini.
Setelah setengah jam berkutat dengan isi lemari, akhirnya ia sudah memutuskan. Ia akan mengenakan dress berwarna pink muda dipadukan dengan French khimar berwarna hitam.
Zara keluar dari dalam kamarnya dengan perasaan sedikit lega setelah berhasil memilih pakaian.
Ia mencari Ibunya, tidak ada di ruang baca, tidak ada di kamarnya, bahkan tidak ada dibalkon juga.
“Dimana Ibu?” Ia bertanya-tanya. “Oh, mungkin di dapur.” Lanjutnya menebak.
Kemudian ia bergegas menuju dapur. Mungkin ada hal yang bisa ia lakukan untuk membantu.
“Sebanyak ini?” Ucap Zara yang tidak sengaja mengagetkan Aura.
“Zara, sejak kapan berdiri disana?” Tanya Aura.
“Baru saja Ibu. Kenapa masak sebanyak ini Ibu?” Zara balik bertanya.
“Tentu saja. Malam nanti selain keluarga Zayn, ada keluarga Bibi Agatha juga.” Jawab Aura sambil tersenyum bahagia.
“Benarkah?”
“Iya, tentu saja.”
“Apa Bang Rasya dan Kak Bella juga akan datang?”
“Kalau itu, Ibu belum tau. Tapi Sepertinya Rasya dan istrinya akan datang. Hanya saja Ibu tidak tahu apa Bella dan suaminya akan datang juga.” Jawab Aura.
Zara mengangguk.
Karena Rasya masih tinggal bersama dengan Papa dan Mamanya. Sedangkan Bella dan suaminya sudah memiliki rumah sendiri.
“Lagi pula ini hanya makan malam keluarga, tidak datang semuanya juga tidak apa-apa. Yang terpenting saat hari H semuanya berkumpul.” Ucap Aura.
“Iya, Ibu. Termasuk Bibi Mea, hehe.” Sahut Zara. “Sudah lama sekali tidak bertemu dengan Bibi Mea.” Lanjutnya.
__ADS_1
“Iya, Ibu juga merindukannya.” Ucap Aura.
Lalu tiba-tiba tangannya berhenti bekerja.
“Jika saja Nenekmu juga ada.” Lanjutnya dengan pelan dan wajahnya bersedih.
Aura tiba-tiba teringat dengan Almarhumah Ibunya.
“Ibuu…” Zara menjadi tidak enak, kemudian ia memeluk Ibunya sambil mengelus-elus bahunya.
Zara sudah tidak memiliki Nenek. Baik dari Ayahnya ataupun Ibunya.
“Sudah, Ibu tidak apa-apa.” Ucap Aura lalu tersenyum manis.
Zara membalas senyuman Ibunya. Lalu ia teringat dengan Ayahnya.
“Pukul berapa Ayah akan pulang, Ibu?” Tanya Zara.
“In syaa Allah sebelum Maghrib. Sekarang Ayahmu pasti sedang berada di kantor Om Amir.” Jawab Aura.
“Di kantor Om Amir, untuk apa?”
“Tentu saja untuk bertemu dengan calon Bibimu, hehe.” Aura sumringah.
“Ma syaa Allah, jadi Om Amir sudah punya calon?” Zara tak kalah bahagia untuk Omnya.
“Masih belum termasuk calon sih. Hanya saja Om kamu sudah mengakui jika dia menyukai wanita itu. Sekarang tergantung wanita itu, mau atau tidak menikah dengan Om kamu.”
“Oh, begitu. Om Amir masih bertepuk sebelah tangan. Hmm.”
“Jangan berkecil hati. Kita harus khusnudzon, do’akan agar Om kamu dan wanita itu berjodoh.”
“Iya, Ibu. Aku pasti akan mendo’akan Om Amir. Semoga saja ia bisa menikah dengan orang yang ia sukai dan hidup bersama selamanya.” Ucap Zara lalu tersenyum manis.
Setelah mengobrol panjang lebar, akhirnya tak terasa pekerjaan dapur sudah selesai mereka kerjakan.
“Oh ya, Ibu. Aku sedari tadi tidak melihat Bibi Chacha. Apa mereka sudah pulang ke kampung?”
“Sudah. Satu jam yang lalu mereka pamit untuk pulang. Besok suaminya harus masuk kerja, begitu juga dengan anaknya yang harus sekolah.”
“Hmm, aku bahkan belum sempat mengobrol dengannya.”
“Tidak apa-apa, In syaa Allah kapan-kapan jika ada waktu mereka pasti akan datang lagi berkunjung ke sini. Saat kamu menikah nanti misalnya.”
Aura mencoba menghibur Zara.
“Iya, Ibu. Hehe.”
Zara langsung tersipu begitu mendengar kata ‘Menikah’ yang keluar dari mulut Ibunya.
Menikah, adalah hal yang ia nanti-nantikan. Meskipun ia sendiri tidak tahu seperti apa dunia pernikahan itu.
__ADS_1