Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Season 2: eps. 26.


__ADS_3

Dua puluh menit kemudian makanan datang.


Zara membukakan pintu dan menerima pesanan online.


Dia langsung membawa semua bungkusan ke dapur dan menghidangkannya di meja makan.


Setelah itu dia menbuka cadarnya dan menunggu Zayn selesai mandi baru kemudian makan bersama.


“Makanan yang dibeli Bang Zayn semuanya sangat lezat. Aku jadi semakin lapar. Hmmm, berapa lama lagi Bang Zayn akan keluar dari kamarnya?” Zara menghela nafas sambil menopang dagu.


Tidak lama kemudian Zayn keluar dari kamarnya.


Dia menatap Zara yang sedang menopang dagu dan seperti sedang melamun.


“Kenapa dia tidak makan? Apa tidak suka dengan makanannya?” Pikirnya.


Dia berjalan menuju dapur dan duduk berhadapan dengan Zara.


“Kenapa tidak makan? Tidak suka?” Tanya Zayn dengan wajah datar.


“Dari tadi aku sudah menahan lapar, bagaimana mungkin tidak tertarik dengan makanan sebanyak dan seenak ini.” Jawab Zara.


“Lalu kenapa tidak langsung makan saja?” Tanya Zayn lagi sambil mengambil makanan dan menaruhnya diatas piringnya.


“Tentu saja karena aku menunggumu.” Jawab Zara yang manyun.


“Owh, maaf. Aku kira kamu tidak menyukai makanannya.” Ucap Zayn. “Ayo. Sekarang kita sudah bisa makan.” Ajaknya.


“Iya.” Sahut Zara yang langsung makan tanpa basa basi lagi.


Sesakali Zayn memperhatikan Zara yang makan dengan semangatnya.


“Anak ini, imut juga.” Pikirnya.


***


Hari senin tiba.


Zara memulai tahun ajaran baru. Ia merasa bahagia karena bisa bertemu lagi dengan Nayya sahabat baiknya.


“Wah, mahasiswa baru banyak juga ya.” Ucap Zara sambil memperhatikan para siswa yang sedang menjalankan Ospek Kuliah.


“Iya.” Sahut Nayla. “Bagaimana dengan liburan semestermu? Kamu pergi berlibur kemana?” Tanyanya.


“Aku tidak pergi kemana-mana. Bagaimana denganmu?”


“Aku beberapa hari yang lalu baru pulang dari luar kota bersama Papa dan Mama.” Jawab Nayla. “Ini, aku bawakan oleh-oleh untukmu.” Lanjutnya sambil menyerahkan goodiebag.


“Wah, terima kasih banyak bestie.” Ucap Zara lalu memeluk Nayya.


“Kamu memeluk Nayla seperti itu, membuatku iri saja.” Ucap seorang pria.


“Hah?” Zara dan Nayla kaget. Mereka menoleh dengan serentak.


“Urghh. Baru juga mulai ngampus, udah kedatangan tamu tak diundang.” Ucap Nayla dan membuat mimik wajah kesal.


“Kamu tidak perlu pura-pura kesal, kesal benaran juga aku tidak peduli.” Ucap Arfa dingin pada Nayla.


Nayla tertawa kecil.

__ADS_1


“Sudah dua minggu tidak bertemu, aku rindu dengamu.” Ucap Arfa pada Zara.


“Rindumu itu tidak halal, Bang. Jangan dipelihara.” Sahut Zara.


“Ayo, Nay. Kita masuk ke kelas saja.” Ajak Zara.


“Iya.” Sahut Nayla.


Arfa terdiam. Ia mengepal tangannya lalu memberanikan diri.


“Kalau begitu izinkan aku menghalalkanmu.” Ucapnya dengan lantang.


“Tidak bisa!” Zara langsung menolak.


“Kenapa?” Tanya Arfa.


Tetapi Zara tidak menjawab.


Karena suara Arfa yang begitu keras ingin menghalalkan Zara, menarik perhatian para mahasiswa yang sedang ospek. Tak terkecuali Angel.


“Eh, siapa pria itu? Tampan sekali.” Ucap Angel dan terus menerus memandang wajah Arfa.


Karena Zara tidak memperdulikannya lagi, Arfa memutuskan untuk pergi.


“Lain kali aku pasti akan datang lagi, sampai suatu hari nanti kamu mau menerimaku.” Ucapnya pelan.


Melihat Arfa yang berlalu pergi, Angel mengejar Arfa.


“Bang, boleh aku tau siapa namamu?” Tanya Angel dan tersenyum.


Arfa menoleh, tapi setelah melihat Angel beberapa detik. Ia memalingkan wajahnya dan pergi begitu saja.


“Minggir.” Ucap Arfa dengan wajahnya yang dingin.


Angel menyingkir. Lalu Arfa kembali berjalan.


“Aaah, cool banget.” Ucap Angel sumringah.


“Hey, anak baru. Ngapain centil disitu? Cepat selesaikan ospekmu.” Angel ditegur oleh panitia.


“Baik, Kak.” Jawab Angel lalu bergabung kembali dengan teman-temannya yang sesama mahasiswa baru.


Didalam kelas Zara.


“Nay, menurutmu bagaimana aku harus menolak Bang Arfa? Agar dia menyerah.” Tanya Zara pada Nayla.


“Mengenai hal itu aku juga tidak tahu. Aku tidak memiliki pengalaman seperti itu. Aku juga tidak memiliki pengagum yang tebal muka seperti Bang Arfa. Hahahaa.” Jawab Nayla sambil tertawa.


“Huffftt.” Zara menghela nafas. “Jika aku katakan aku sudah menikah, apa dia akan melepaskanku?” Tanyanya kemudian.


“Apa? Kamu sudah menikah?” Nayla jadi kaget.


“Aku bilang ‘jika’ Nayla…”


“Hmm, tidak ada salahnya jika mencoba.” Nayla berpendapat. “Tapi jika dia bertanya siapa suamimu? Bagaimana?”


“Akan aku pikirkan nanti. Aku bisa minta bantuan seseorang.” Jawab Zara.


Setelah itu kelas dimulai, Nayya dan Zara serius dalam pelajaran.

__ADS_1


Saat makan siang di kantin, Angel menghampiri Zara.


“Kak, boleh aku tau siapa pria yang bertemu denganmu pagi tadi?” Tanya Angel.


“Dia, Bang Arfa. Ada apa?”


“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin tau namanya.” Jawab Angel kemudian berlalu pergi.


“Wah, dia bahkan tidak berterima kasih padamu karena sudah memberitahu nama Bang Arfa.” Ucap Nayla.


“Sudahlah, biarkan saja. Ayo lanjut makan.” Ajak Zara.


“Iya.” Sahut Nayla.


Setelah selesai makan, Nayla tiba-tiba teringat lagi dengan Angel.


“Ra, mungkinkah mahasiswi baru itu tertarik dengan Bang Arfa?” Nayla membelalakkan kedua bola matanya.


“Hah? Kalau begitu bagus donk.” Sahu Zara.


“Bagus?” Nayla heran. “Apa bagusnya wanita sombong seperti itu?”


“Setidaknya ada pengalihan buat Bang Arfa. Jika dia sibuk meladeni gadis itu, dia jadi tidak punya waktu untuk menggangguku. Hehe.” Zara sumringah.


“Iya, betul juga.” Sahut Nayla. “Biar dia rasakan bagaimana rasanya diganggu dengan orang yang tidak dia sukai. Apa dia masih bisa bersabar sepertimu. Haha.” Nayla tertawa.


Setelah selesai makan siang, mereka kembali ke kelas lalu melanjutkan pelajaran hingga selesai. Setelah itu keduanya pulang ke rumah masing-masing.


Mereka berdua memesan taxi online.


“Kamu tidak dijemput?” Tanya Nayla.


“Tidak, mulai sekarang aku akan pulang sendiri. Tidak dijemput Kakek lagi.” Jawab Zara.


“Kenapa begitu?”


“Tidak apa-apa. Hehe.” Jawab Zara cengengesan.


***


Malam hari dikediaman Rizky.


Amir menghampiri Rizky dan mengajaknya berbicara di ruang baca.


“Bang, apa sudah ada informasi mengenai Arumi?” Tanya Amir yang sudah tak sabar.


“Arthur belum menghubungiku.” Jawab Rizky.


Amir tampak kecewa.


“Mir, sebelumnya Abang memiliki pengawal rahasia untuk melindungi Zara. Bagaimana kalau pengawal rahasia ini Abang tugaskan saja untuk memata-matai Arumi?” Rizky mengusulkan.


“Boleh juga, Bang. Aku sangat setuju. Lagi pula selama ini aku juga tidak terlalu tau dengan jelas kegiatannya.” Sahut Amir. “Dia pergi kemana saja aku tidak tau, dia berbuat apa saja aku tidak tahu, siapa saja temannya aku juga tidak tau. Dia tidak pernah menceritakan apapun padaku.” Lanjutnya sembari menggaruk kepalanya.


“Hmmm, seharusnya sejak awal kita sudah menaruh mata-mata disisinya.” Ucap Rizky.


“Maafkan aku, Bang. Ini semua salahku, aku yang terlalu lemah dan bod*h.” Amir menyalahkan dirinya sendiri.


“Sudahlah, yang terpenting saat ini adalah kita berusaha memperbaiki keadaan dan mencari kebenaran.”

__ADS_1


“Iya, Bang.” Sahut Amir.


__ADS_2