Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Season 2: eps 29.


__ADS_3

Amir pulang ke rumah untuk membereskan pakaian yang akan dia bawa pergi ke luar kota.


Amir membuka pintu lalu Arumi kaget.


“Eh, Abang sudah pulang? Tumben cepat.” Ucap Amir lalu tersenyum dan mencium punggung tangan Amir.


“Abang akan pergi ke luar kota selama satu minggu atau mungkin lebih, tergantung cepat atau lambatnya urusan Abang selesai disana.” Jawab Amir datar.


“Oh, begitu. Sini aku bantu mempersiapkan pakaian dan barang-barang lain yang Abang butuhkan.” Arumi menawarkan diri.


“Tidak. Terima kasih. Abang bisa menyiapkannya sendiri. Kamu istirahat saja.” Amir menolak.


“Baiklah.” Ucap Arumi yang tampak kecewa.


“Bang Amir aneh deh. Apa mungkin karena terlalu sibuk bekerja membuat temperamennya berubah jadi cuek seperti ini? Hmmm.” Gumam Arumi didalam hatinya.


Arumi hanya diam sambil memperhatikan setiap gerak gerik Amir.


Di hotel.


Anak buah Rizky yang bertugas mengawasi Arumi datang melapor pada Rizky.


“Tuan.” Ucapnya.


“Kamu sudah mendapatkan informasi wanita itu?”


“Sudah, Tuan.”


“Good. Ceritakan.” Pinta Rizky.


“Selama satu minggu ini aku mengawasinya, dia hanya pernah keluar dari rumah satu kali, Tuan.” Ucapnya.


Rizky mengangguk.


“Dia pergi ke sebuah hotel. Setelah aku menyelidikinya, ternyata dia sudah memesan satu kamar VIP. Saat aku lihat dia keluar dari kamar, dia sudah berganti pakaian. Dia tidak memakai gamis dan jilbab lagi. Dia memakai celana jeans, baju dalam dan jaket kulit. Rambutnya juga terurai dan memakai kaca mata.”


Rizky menganggukkan kepalanya lagi.


“Aku lihat dia masuk ke dalam bar dan berbaur dengan beberapa gadis disana.”


“Bar?” Tanya Rizky.


“Benar, Tuan.”


“Bagus, kamu terus awasi dia. Jika ada apa-apa lagi langsung beritahu padaku.”


“Baik, Tuan.”


Setelah itu anak buah Rizky undur diri.


Rizky termenung dan memikirkan Amir.

__ADS_1


“Hari ini Amir akan pergi untuk urusan bisnis ke luar kota. Sebaiknya aku rahasiakan saja hal ini darinya agar dia bisa fokus pada pekerjaannya.” Pikir Rizky.


***


Dua hari kemudian.


Zara pergi ke kampus seperti biasanya.


Setelah selesai semua mata kuliah, Zara dan Nayla. mengobrol di taman kampus.


“Zara, kenapa kamu dua hari tidak masuk? Sakit kah?” Tanya Nayla.


“Iya, tiba-tiba saja aku demam.” Jawab Zara.


“Lalu sekarang bagaimana?” Nayla spontan menyentuh dahi Zara.


“Alhamdulillah aku sudah sembuh. Tidak perlu khawatir seperti itu. Hehe.” Zara cengengesan.


“Oh ya, apa kamu tau? Kemarin Bang Arfa datang mencarimu.”


“Untuk apa dibahas, abaikan saja.” Zara cuek.


Nayla melihat ada seseorang yang datang menghampiri mereka.


“Eh.” Nayla terperanjat.


“Ada apa?” Tanya Zara lalu memalingkan wajahnya ke arah Nayla.


“Hah?” Zara menoleh lagi ke arah Arfa.” “Ada apa?” Tanya Zara dingin lalu memalingkan wajahnya ke arah lain.


“Kemarin kamu kemana?” Tanya Arfa.


“Bang, apa tidak sebaiknya kamu pergi mengurus masalah dikantormu saja dari pada memperhatikanku?” Zara kesal.


“Masalah dikantor memang penting dan harus segera diselesaikan. Tapi kamu juga tidak kalah pentingnya dan juga harus segera dihalalkan.”


“Maaf, Bang. Aku tidak ingin mendengar kalimat itu lagi. Kita tidak berjodoh. Tanam itu dalam benakmu!” Ucap Zara dengan tegas.


“Iya, kalian memang tidak berjodoh. Haha.” Angel tertawa kecil.


“Dari mana lagi datangnya pengganggu ini?” Arfa jadi kesal. Bahkan akan melampiaskan amarahnya pada Angel.


“Yang aku katakan memang benar. Kalian tidak berjodoh karena jodohmu adalah aku.” Ucap Angel pada Arfa sembari tersenyum centil.


“Lalat yang mengganggu harus tau diri, segera pergi dari sini sebelum aku memanggil anak buahku.” Ucap Arfa dingin.


“Panggil saja, aku tidak takut. Disekitar sini juga ada anak buah Papaku yang melindungi aku.” Ucap Angel dengan bangganya.


“Oh, begitu. Pantas saja anak kecil sepertimu ini memiliki kesombongan yang begitu besar.” Ucap Arfa. “Kamu lihat dia.” Arfa menunjuk Zara. “Aku sudah menyukainya sejak aku masih kecil. Rasa sukaku itu sudah mendarah daging. Tidak akan bisa goyah hanya karena satu atau dua penolakan darinya. Dan juga tidak akan goyah hanya karena ada godaan datang dari anak manja nan centil seperti dirimu ini.” Lanjutnya.


“Kamu berani merendahkan aku? Aku justru heran padamu, kenapa seleramu begitu aneh? Malah menyukainya yang berpenampilan seperti ini. Hmp!” Angel berkacak pinggang.”

__ADS_1


“Jangan pernah mengkritik penampilannya. Pergi dari sini! Sekarang!” Arfa mengusir Angel.


“Aku tidak mau!” Angel menentangnya. “Dengar baik-baik. Jika aku menginginkan sesuatu Papaku pasti akan mengabulkannya, bahkan jika aku meminta bulan dilangit…”


“Jangan mengancamku, aku tidak takut.” Arfa memotong ucapn Angel.


“Sudahlah jangan berdebat lagi, biar aku saja yang pergi.” Ucap Zara lalu beranjak dari kursi taman.


“Aku juga.” Sahut Nayla.


“Kalau begitu aku juga.” Ucap Arfa. Dia kemudian pergi meninggalkan Angel sendirian.


Angel menjadi kesal. Ingin sekali ia mengeluarkan semua unek-uneknya.


Karena sudah tak tahan seperti ingin meledak. Ia pun mengejar Zara.


“Apa kamu tau siapa Papaku?” Angel melotot pada Zara.


“Tidak.” Jawab Zara singkat.


“Papaku adalah Anton. Ketua Mafia di kota ini. Sekarang kalian pasti tau kan?” Ucap Angel dengan bangganya.


“Iya, iya, kami tau.” Ucap Nayla jutek.


“Apa hebatnya mengandalkan orang tua? Hmm.” Ucap Zara.


Setelah itu Zara dan Nayla melanjutkan langkah kaki mereka pergi meninggalkan Angel.


Angel menjadi semakin kesal.


“Padahal inginku tidak muluk-muluk. Aku hanya ingin merebut hati Bang Arfa dari wanita aneh itu. Tapi mereka malah tidak menghiraukan aku.”


Angel pulang ke rumah dan tanpa sengaja mendengar perbincangan Kak Nana dan Mamanya Helda.


“Ternyata Zayn sudah menikah, Ma. Hikss.” Nana terisak.


“Benarkah?” Helda terperanjat.


“Iya, dia menikah dengan seorang wanita bernama Zara.” Jawab Nana. “Apa Mama tau? Wanita yang dia nikahi itu tidak lebih baik dari aku. Dia bahkan berpenampilan aneh. Tertutup dan bahkan memakai cadar. Apa bagusnya wanita seperti itu. Sama sekali tidak menarik. Hikss.” Nana berbicara panjang lebar menceritakan penampilan istri Zayn.


“Hmmm.” Helda menghela nafas. “Dia memang tidak menarik bagi kita. Tapi mungkin saja dia menarik bagi Zayn. Bukankah saat dialam rumah dan didepan suaminya dia membuka cadarnya?”


“Apa?” Nana kaget. “Benar juga yang Mama katakan. Mungkinkah wajahnya sangat cantik? Tapi mereka dijodohkan oleh orangtuanya.”


“Walaupun mereka dijodohkan, tapi dia pasti pernah melihat wajah istrinya.”


“Lalu aku harus bagaimana? Apa aku harus menunggu mereka bercerai?”


“Sayang, tidak baik mendo’akan orang lain bercerai.” Helda menasehati Nana sembari membelai kepala putrinya.


“Hmmm. Zara, tertutup dan memakai cadar. Mungkinkah Zara yang satu kampus denganku? Kalau dia sudah menikah, bukankah lebih mudah bagiku untuk menjauhkannya dari Bang Arfa.” Ucap Angel pelan. “Biar bagaimanapun juga pada akhirnya mereka tidak akan bisa bersama. Dengan begitu aku memiliki kesempatan yang lebih besar untuk mendapatkan Bang Arfa. Hahaa.” Angel tertawa kecil karena merasa bahagia.

__ADS_1


__ADS_2