
Lima tahun sudah berlalu, akan tetapi Angel masih belum bisa menerima Helda sebagai Ibunya. Angel juga belum bisa menerima Nana sebagai Kakaknya.
Awalnya Anton juga tidak ingin menikah lagi, ia ingin setia pada Almarhumah Lucy istrinya.
Tetapi ia sering melihat Angel menangis karena Rindu dengan Mamanya.
Saatu usianya masih lima tahun, ia juga sering mendapat ledekan dari teman-temannya karena ia tidak memiliki Mama. Tentu saja hal itu sering kali membuat Angel meneteskan air matanya.
Setiap kali ia melihat temannya bersama Mamanya, ia pasti akan merasa iri.
Hal itu juga menjadi pertimbangan Anton untuk menikah lagi. Walaupun istri barunya ini tidak akan mampu menggantikan posisi Lucy dihatinya dan hati Angel. Setidaknya Angel akan dapat merasakan kasih sayang seorang Ibu yang tidak mampu Anton berikan.
Tapi siapa sangka, niat baiknya malah menjadi bumerang didalam rumahnya. Angel tidak hanya tidak mendapatkan kasih sayang dari seorang Ibu seperti yang Anton harapkan, tetapi Angel malah menjadi semakin kasar. Angel bahkan tidak pernah bisa menerima kehadiran Helda dan Nana dirumah ini.
“Bang, ini aku buatkan kopi untukmu.” Ucap Helda dan membuyarkan lamunan Anton.
“Tumben kamu pulang jam segini?” Tanya Helda lagi.
“Terima kasih.” Ucap Anton lalu menyeruput kopinya. “Aku baru saja menjemput Angel dari hotel milik Rizky.” Lanjutnya.
“Angel menginap di hotel lagi?”
“Iya, kamu jangan berkecil hati terhadap sikapnya.”
“Tidak, Bang. Aku pasti akan memakluminya, sama seperti biasanya.” Ucap Helda lalu tersenyum.
“Aku mengucapkan banyak terima kasih karena kamu sudah mau bersabar selama ini.” Ucap Anton dengan lembut.
“Aku yang seharusnya mengucapkan terima kasih padamu, Bang. Jika bukan karena Abang mau menerimaku dan Nana, kehidupan kami berdua pasti tidak sebaik sekarang ini. Bahkan Nana bisa menjadi Dokter spesialis Jantung juga berkat bantuanmu.”
“Jangan bicara seperti itu. Semenjak kamu menikah denganku, Nana juga sudah menjadi putriku. Tentu saja pendidikannya adalah tanggung jawabku.”
Helda tersentuh mendengar ucapan Anton.
“Aku yakin suatu hari nanti Angel pasti akan bisa menerima kamu sebagai Ibunya. Tapi kita tidak tau kapan itu akan terjadi. Sekarang yang terpenting adalah, kamu harus bersabar dalam menghadapinya. Jangan membencinya.” Pinta Anton.
“Tentu saja. Aku tidak akan pernah membencinya. Aku sudah menganggapnya seperti putriku sendiri meskipun kami tidak begitu akrab.” Sahut Helda.
“Baiklah. Aku akan kembali ke kantor.” Anton beranjak dari tempat duduknya.
Helda juga beranjak dari tempat duduknya, ia hendak mengantarkan Anton hingga depan pintu.
“Oh ya, Nana sudah mulai bekerja?” Tanya Anton tiba-tiba.
“Sudah, Bang. Nana sudah mulai bekerja di rumah sakit.” Jawab Helda.
“Baguslah kalau begitu.” Anton tersenyum.
Helda membalas senyumannya.
Didalam kamar Angel.
__ADS_1
Ia menangis menatap photo Mamanya.
“Mama, kenapa kamu pergi sebelum aku berjumpa denganmu?”
“Lihatlah sekarang, Papa sudah memiliki keluarga baru. Papa, Tante Helda, Kak Nana. Mereka bertiga keluarga yang lengkap. Harusnya kita yang seperti itu. Tapi sekarang aku malah seperti orang ke-empat diantara mereka.”
“Mama, harusnya waktu itu Mama membawaku pergi ke alam sana. Hiks hiks hiks.”
Angel sering kali mengeluh didepan photo Lucy. Ia selalu merasa dirinya tidak ingin hidup lebih lama.
Kadang ia berfikir untuk bunuh diri, tapi ia tidak berani menyayat nadinya, melompat dari gedung, menabrakkan tubuhnya pada truk, dan hal-hal gila lainnya. Ia merasa ngeri melakukan semua itu.
Jadi, demi menenangkan hatinya ia sering menyendiri dan menginap di hotel secara acak agar Papanya tidak menemukannya dengan mudah.
***
Hotel.
Ruang kerja Rizky.
Saat Rizky memiliki waktu luang, ia menelepon Sidik.
“Assalamu’alaikum, Sid.”
“Wa’alaikumussalam, Ky. Akhirnya Kamu menghubungi aku. Apa sekarang kamu sudah memiliki waktu luang? Atau sekarang baru kamu mengingat saudaramu ini? Hahahaa.” Sidik bercanda sambil tertawa kecil.
“Hahahaa. Maafkan aku karena baru menghubungimu sekarang. Alhamdulillah Zara sudah membuat keputusan.”
“Ma syaa Allah, itulah berita yang aku tunggu-tunggu.” Sidik sumringah. “Apakah dia setuju?” Tanyanya.
“Zayn? Dari awal Zayn sudah setuju. Jika Aku belum bertanya padanya tidak mungkin aku membicarakan pernikahan denganmu.”
“Wah. Baguslah jika memang benar begitu. Aku senang mendengarnya.”
“Besok malam kami akan ke rumahmu untuk membicarakan tanggal pernikahan, bagaimana?” Tanya Sidik.
“Baik. Aku setuju.”
Setelah keduanya mengucapkan salam panggilan berakhir.
Malam hari dikediamam keluarga Rizky.
Bi Sumi bersama Rini menghidangkan makan malam.
Aura, Zara dan Rizky makan malam bersama.
Selesai menyantap makan malam, mereka kedatangan tamu.
Chacha datang berkunjung bersama dengan anak dan suaminya.
Bi Sumi menyambut kedatangan putrinya dengan isak tangis bahagia. Sudah lama ia tidak melihat sosok putrinya itu.
__ADS_1
Semenjak menikah, Chacha tinggal di desa bersama suami dan anaknya. Bi Sumi dan Pak Ujang yang sudah sepuh tidak sanggup pergi ke desa karena jarak tempuh yang lumayan jauh.
Mereka berdua hanya bisa menunggu dengan sabar putrinya yang datang mengunjungi mereka berdua.
“Bagaimana kabarmu, Ndok?” Tanya Bi Sumi setelah memeluk Chacha beberapa lama.
“Alhamdulillah baik, Bu. Kami semua baik-baik saja.” Jawab Chacha sambil mengusap air matanya.
“Alhamdulillah.” Ucap Bi Sumi.
Lalu ia menoleh ke arah cucunya.
“Wah, Azam sekarang sudah besar. Sudah kelas berapa, sayang?” Tanya Bi Sumi pada cucu laki-lakinya.
“Sudah kelas enam, Nek.” Jawab Azam.
“Anak pintar, anak sholeh.” Bi Sumi mengelus kepala Azam lalu mengecup keningnya.
Rizky, Aura dan Zara membiarkan Keluarga itu melepaskan rindu. Mereka pergi ke ruang tamu untuk mengobrol.
“Bagaimana kuliahmu hari ini?” Tanya Rizky pada Zara.
“Sama seperti biasa, Ayah.” Jawab Zara.
“Alhamdulillah. Oh ya, besok malam keluarga Zayn akan datang ke sini.” Ucap Rizky.
“Apa?” Zara kaget.”
“Kenapa kaget begitu?” Rizky heran.
“Aku belum siap bertemu dengan Bang Zayn, Ayah.” Jawab Zara dengan manja.
“Tidak perlu gugup. Hanya pertemuan dua keluarga saja. Tapi mungkin akan membahas tanggal pernikahan kalian.” Ucap Rizky.
“Tanggal pernikahan siapa?” Tanya Amir yang tiba-tiba muncul.
“Tanggal pernikahan Om Amir donk!” Sahut Zara.
“Apa?” Amir kaget.
“Oh ya. Mumpung kamu ada disini, ayo ikut ke ruang baca. Ada hal yang ingin Abang bicarakan denganmu.” Pinta Rizky.
“Baik, Bang.” Amir mengikuti Rizky dari belakang.
“Ibu, hal apa yang ingin dibicarakan Ayah dengan Om Amir? Kenapa harus pergi ke ruang baca?” Tanya Zara yang kepo.
“Hmm.. Sepertinya Ayahmu ingin membicarakan tentang calon istri Om kamu.” Jawab Aura sambil tersenyum.
“Waah, benarkah? Bagus kalau begitu. Jadi aku tidak akan melangkahi Om Amir, hehe.” Zara cengengesan.
“Kalau menurut Ibu, kamu pasti akan menikah lebih dulu.”
__ADS_1
“Kenapa Ibu bicara seperti itu?”
“Karena pasanganmu sudah ada. Sedangkan Om Amir pasangannya belum ada.” Jawab Aura.