
Assalamu'alaikum teman-teman readers... Terima kasih karena masih setia membaca novel ini.. Ayo dukung author dengan cara like, komen, rate, vote dan fav.
Thank you. *Hug.
Happy Reading.... 💕
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari ini aku sangat tidak sabar menuggu kepulangan Bang Rizky. Aku ingin menyampaikan sesuatu yang sudah lama sekali ingin aku laksanakan.
Dulu tidak kesampaian karena terkendala oleh biaya. Tapi kali ini in syaa Allah aku bisa mewujudkan keinginaku itu.
Aku turun ke bawah dan duduk di teras rumah menunggu Bang Rizky pulang.
"Nyonya Muda, tumben duduk di luar. Mau saya ambilkan minum atau cemilan?" tanya Jihan saat melihatku duduk sendirian di teras.
"Erm...." ucapku lalu berfikir. "Saya mau cappuccino." jawabku dengan lembut dan tersenyum padanya.
"Baik, akan saya buatkan." ucap Jihan lalu pergi meninggalkanku.
Aku lihat Mang Jaja sedang berbicara dengan seseorang. Sepertinya orang itu ingin masuk, tapi tidak diizinkan oleh Mang Jaja.
Aku bangkit dari tempat dudukku dan pergi menghampiri Mang Jaja.
"Saya sudah bilang, anda tidak boleh masuk." ucap Mang Jaja.
"Mang, siapa?" tanyaku ketika aku menghampirinya.
"Ini, Nyonya. Ada seorang wanita yang ngotot mau masuk." jawabnya.
"Siapa?" tanyaku.
"Saya tidak tau, katanya dia ingin bertemu dengan Tuan Muda." jawab Mang Jaja.
Ingin bertemu dengan Bang Rizky? Aku jadi penasaran, siapakah yang ada di luar.
"Biarkan saja dia masuk, Mang." ucapku.
"Baik, Nyonya Muda." sahut Mang Jaja. Lalu dia membuka pagar.
"Oh, ternyata Ningrum." gumamku di dalam hati.
"Ningrum, kamu mencari Bang Rizky?" tanyaku pada teman lamaku itu.
"Iya." jawabnya singkat. Lirikan matanya membuatku merasa tidak nyaman. Dia seolah-olah sedang menatap musuhnya.
"Ayo kita duduk dulu." ajakku.
Ningrum mengikutiku dari belakang. Aku tidak mengajaknya masuk ke dalam. Tapi aku mengajaknya untuk duduk di teras.
"Kenapa tidak masuk?" tanya Ningrum.
"Kita duduk di sini saja. Sebentar lagi Bang Rizky pulang." jawabku.
"Oh." sahutnya.
Lalu Jihan datang membawa segelas cappuccino yang aku mau.
"Ningrum mau minum apa?" tanyaku.
"Jus jeruk." jawabnya. Dia terlihat begitu gelisah.
"Ada apa sebenarnya?" aku bertanya-tanya di dalam hatiku.
"Jihan tolong buatkan jus jeruk untuk teman saya ini." perintahku pada Jihan.
"Baik, Nyonya Muda." jawab Jihan.
__ADS_1
"Pakai es ya." pinta Ningrum.
"Baik." ucap Jihan lalu pergi meninggalkan kami.
"Kalau aku boleh tau, kenapa kamu ingin bertemu dengan Bang Rizky?" tanyaku dengan sopan.
"Bukan urusanmu." jawabnya ketus.
"Aneh sekali. Kenapa Ningrum tiba-tiba berubah. Padahal kemarin saat kami bertemu di warung bakso, dia bersikap sangat ramah padaku." gumamku di dalam hati.
Akhirnya Bang Rizky pun pulang. Aku lihat Ningrum langsung beranjak dari tempat duduknya. Dia langsung pergi menghampiri Bang Rizky.
Wait, apa yang ingin dia lakukan? Apa dia sedang menyambut kedatangan Bang Rizky? Seharunya aku yang melakukan hal itu. Bukan Ningrum.
"Kamu sudah pulang, Bang?" tanya Ningrum dengan manja begitu Bang Rizky keluar dari mobil.
Aku hanya terpaku, hatiku sakit melihat wanita lain bersikap seperti itu pada suamiku.
Sepertinya Bang Rizky tau kalau aku sedang cemburu. Dia tidak menjawab Ningrum, tapi langsung menghampiriku.
Ningrum pun mengikuti langkah kaki Bang Rizky.
"Bang." ucap Ningrum.
"Kenapa kamu datang ke sini?" tanya Bang Rizky pada Ningrum.
"Kalian sudah saling kenal?" tanyaku.
"Tidak. Abang tidak mengenalnya. Kemarin Abang tidak sengaja menabraknya ketika keluar dari hotel." jawab Bang Rizky.
"Owh, begitu." ucapku. Tiba-tiba Bang Rizky merangkulku. Aku lihat raut wajah Ningrum berubah, sepertinya dia merasa tidak senang.
"Oh ya, kamu belum menjawab pertanyaan saya. Kenapa kamu datang ke sini?" tanya Bang Rizky pada Ningrum.
"Namaku Ningrum. Aku datang ke sini ingin meminta uang ganti rugi." jawab Ningrum.
"Oh, maksudmu uang ke rumah sakit kemarin. Baiklah, aku akan memberikannya." ucap Bang Rizky lalu mengeluarkan dompetnya. "Ini uang satu juta. Pasti cukup kan." lanjutnya.
"Iya, terima kasih. Kapan-kapan aku datang lagi ke sini untuk bertemu denganmu, Bang." ucap Ningrum.
"Tidak perlu." sahut Bang Rizky.
"Tidak boleh menolak. Lagi pula aku adalah teman Aura ketika masih madrasah. Aku rasa Aura juga tidak merasa keberatan jika aku sering-sering datang berkunjung." ucap Ningrum dengan percaya diri.
Aku hanya tersenyum padanya.
Lalu Ningrum meminum jus jeruk yang tadi dibawakan Jihan.
"Aku pergi dulu ya." ucapnya sumringah.
Setelah Ningrum pergi melewati pagar. Bang Rizky memanggil Mang Jaja.
"Mang.... Sini...." teriak Bang Rizky.
"Saya, Tuan Muda." sahut Mang Jaja begitu ada di depan kami.
"Kalau wanita itu datang lagi, jangan izinkan dia masuk. Sepertinya dia sedang mencoba untuk memeras saya." pinta Bang Rizky.
"Baik, Tuan Muda." jawab Mang Jaja.
Setelah itu Mang Jaja kembali lagi ke pos sekuriti.
"Ayo masuk." ajak Bang Rizky.
"Sebentar, Aura habiskan dulu cappuccino Aura." jawabku.
Setelah menghabiskan cappuccinoku. Aku membawa dua gelas itu masuk ke dalam.
__ADS_1
"Abang naik saja duluan. Aura mau antar gelas-gelas ini ke dapur." ucapku.
"Iya." sahut Bang Rizky dan tersenyum.
Apakah benar yang dikatakan Bang Rizky barusan? Ningrum sedang mencoba memerasnya. Tapi kalau menurutku Ningrum bukan sedang memerasnya, tapi sedang berusaha untuk menggodanya. Ah, ntahlah, semoga aku salah.
Aku susul Bang Rizky naik ke atas dan masuk ke dalam kamar. Aku mendengar suara air, itu artinya Bang Rizky sedang mandi.
"Aura." ucap Bang Rizky begitu ia keluar dari kamar mandi.
"Iya, Bang." sahutku lembut.
"Apa benar dia itu teman sekolah Aura?" tanya Bang Rizky.
"Iya, Bang. Benar." jawabku.
"Lain kali Aura harus hati-hati dengannya." ucap Bang Rizky.
"Memangnya kenapa, Bang?" tanyaku penasaran.
"Saat tadi berada didekatnya, Abang merasa ada aura panas. Sepertinya dia memiliki teman yang tidak bisa di lihat oleh kasat mata." jawab Bang Rizky menjelaskan.
"Bukankah tadi di luar memang panas, Bang?" tanyaku lagi.
"Panasnya beda sayang." jawab Bang Rizky. "Kemarin saat Abang bertemu dengannya, jantung Abang berdebar sangat kencang." lanjutnya.
"Hah? Abang langsung jatuh cinta padanya?" tanyaku tidak percaya.
"Sepertinya begitu. Tapi setelah Abang baca ayat-ayat rukiah, Alhamdulillah perasaan aneh itu hilang." jawab Bang Rizky.
"Pantas saja tadi dia bersikap begitu manja dengan Abang. Pasti dia mengira Abang sudah terpengaruh oleh jampinya." ucapku.
“Benar sekali. Mulai sekarang Aura harus bisa membentengi diri Aura. Baca dzikir LAA ILAAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKALAH LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI’IN QODIR sebanyak seratus kali setiap pagi dan sore."
"In syaa Allah, Aura pasti akan mengamalkannya." jawabku.
"Abang takut nanti dia berbuat yang tidak baik pada Aura." ucapnya lalu mengecup keningku.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
"Barangsiapa mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI’IN QODIR (tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala kekuasaan dan bagi-Nya segala pujian, dan Dialah Yang Maha kuasa atas segala sesuatunya) dalam sehari seratus kali, itu sama pahalanya dengan membebaskan sepuluh hamba sahaya dan dituliskan untuknya seratus kebaikan, serta dihapuskan dari dirinya seratus kejelekan (dosa). Dzikir itu juga penjaga dirinya dari gangguan setan pada hari itu sampai sorenya. Dan tidak ada seorang pun yang datang membawa amal yang lebih baik daripada yang ia bawa, kecuali ada orang yang beramal lebih banyak daripada dirinya."
"Ada hal yang ingin Aura katakan." ucapku.
"Katakan saja." pinta Bang rizky.
"Minggu depan usia Aura akan bertambah." ucapku.
"Oh itu. Abang sudah tau." sahut Bang Rizky. "Apa Aura ingin merayakannya?" tanyanya.
"Tidak juga. Aura hanya ingin di hari itu kita pergi ke panti asuhan atau memberi makan anak yatim. Sebagai tanda syukur Aura karena Allah masih memberi kesempatan pada Aura untuk terus hidup." jawabku dengan lembut.
"Wah, ide yang sangat bagus."
"Sudah lama Aura ingin melakukannya, tapi dulu Aura tidak punya uang karena Aura tidak bekerja. Kalau minta dengan Ibu, Aura tidak berani karena Aura juga tau bagaimana keuangan keluarga kami." jelasku pada Bang Rizky.
"Iya, tidak apa-apa. In syaa Allah minggu depan kita akan pergi ke panti asuhan." ucap Bang Rizky.
"Boleh tidak kalau kita masak-masak di rumah dan membawakan mereka makanan?" tanyaku.
"Tentu saja boleh. Setelah itu Aura ingin memberikan apa lagi?"
"Aura ingin membelikan mereka peralatan menulis." jawabku.
"Ok, sehari sebelum pergi ke panti, kita akan pergi untuk membeli alat-alat tulis." ucapnya lalu memelukku.
"Terima kasih, Bang." ucapku.
__ADS_1
"Sama-sama." jawabnya.