Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Dia


__ADS_3

Saat aku sedang asik berselancar di dunia maya, tiba-tiba pandanganku terhenti pada sebuah status.


Statusnya Bang Rangga, orang yang pernah menemuiku dan memberikan sebuah surat padaku. Apa lagi isi surat itu kalau bukan lamaran.


Dia menyampaikan niatnya untuk melamarku melalui selembar surat. Tulisan di suratnya sangat rapi, karena ia mengetiknya di komputer lalu mengeprintnya. Wkwkk.


Usiaku dan usianya terpaut sepuluh tahun, sangat jauh bukan? Tapi bukan itu alasanku menolak lamarannya. Bukan juga karena dia seorang duda cerai.


Bagiku dia adalah orang yang humoris, tapi kurang dewasa. Aku bisa menilainya seperti itu karena dia sering update status di laman sosialnya dengan kata-kata yang menurutku sangat lebay dan alay.


Salah satunya ya postingannya yang barusan. Di statusnya itu dia tag seorang wanita, wanitanya yang baru.


Setelah sebulan ini lamarannya aku tolak, dia sudah pun mendapatkan wanita yang baru. Aku tidak terkejut karena memang mudah baginya untuk berganti-ganti wanita.


Aku tau hal itu bukanlah urusanku, hanya saja dia terlalu mengumbar segalanya di laman sosialnya. Hingga akhirnya aku mengetahui hal-hal yang tidak ingin aku ketahui.


Ting! bunyi pesan Whatsapp di ponselku. Aku langsung membuka aplikasi berwarna hijau.


"Assalamu'alaikum." hanya itu yang tertulis di sana. Nomor baru yang tidak aku ketahui siapa pemiliknya.


Karena aku tidak mengenal nomor tersebut, maka aku abaikan kolom chat itu. Aku tidak membalas chatnya.


Ting!! sekali lagi iPhoneku berbunyi.


"Saya Ryan." tulisnya di sana.


"Apa? Ryan?" batinku. Ryan adalah teman sekolahku ketika masih di pondok pesantren.


Sekolah pesantren kami memang bergabung antara Akhwat dan Ikhwan. Tapi kami tetap di tuntut untuk disiplin dan menjaga jarak antara satu dengan yang lain.


"Wa'alaikumussalam. Oh, Ryan. Dapat nomor Aura dari siapa?" aku membalas pesannya.


"Dapat dari teman. Saya mengganggu tidak?" tanyanya.


"Tidak tuh." jawabku singkat.


"Saya ada niat ingin mengenal kamu lebih jauh. Apakah boleh?" tanyanya lagi.


Aku terdiam dan hanya memandangi ponselku. "Apa aku coba buka hati ya? Lagi pula Ryan anaknya baik. Dulu di pesantren juga orangnya tertutup dan tidak pernah sekalipun aku lihat dia mengganggu akhwat." ucapku di dalam hati.


"Maksudnya mengenal lebih jauh itu seperti apa?" tanyaku.


"Saya ingin mencari istri, dan kamu adalah pilihan yang tepat menurut saya." jawabnya.


"Kenapa bisa begitu?"


"Karena saya merasa yakin."


"Sebenarnya kalau Aura lebih memilih pasangan yang tepat menurut Allah."


"Apa kamu sudah ada calon?"


"Not yet. Aura masih belum siap untuk menikah."

__ADS_1


"Apa? Belum siap? Umur kita sudah dua puluh empat tahun, Ra." ucapnya. Bisa aku tebak bahwa dia sedang kaget dan merasa sangat heran di sana.


"Memangnya kenapa kalau sudah dua puluh empat? Siap tidak siap itukan tergantung Aura. Lagi pula Aura belum ketemu orang yang tepat." balasku.


"Lalu apakah boleh saya mencobanya?"


"Coba apa maksudnya, Yan?" tanyaku. Kali ini aku yang merasa heran.


"Coba untuk menjadi teman hidup kamu."


"Kamu apa sudah sholat istikharah? Sudah minta petunjuk dari Allah?" tanyaku.


"Belum sih." jawabnya.


"Lalu kenapa bisa merasa yakin? Saran Aura sebaiknya kamu Sholat Istikharah terlebih dahulu sebelum memilih pasangan. Jika memang nanti jawaban Sholat Istikharah kamu mengarah ke Aura, kamu kabari Aura."


"Baik, Ra. In syaa Allah secepatnya akan saya lakukan." ucapnya.


Setelah itu komunikasi kami terputus, aku tidak lagi membalas pesannya.


Jika memang nanti hasil Sholat Istikharah Ryan baik, maka akupun akan melaksanakan Sholat Istikharah. Karena memang sudah seharusnya kedua belah pihak melakukannya.


***


Dua minggu sudah berlalu sejak Ryan menghubungiku, hingga kini masih belum ada kabar darinya. Apakah dia hanya mengujiku waktu itu? Ah ntahlah.


"Diikk...." panggilan Ibu membuyarkan lamunanku.


"Iya, Bu." sahutku lalu menghampiri Ibu.


"Baik, Bu. Ibu hati-hati ya, Bu." ucapku.


"In syaa Allah." sahut Ibu.


Lagi-lagi aku melirik handphoneku, masih tidak ada notification apa-apa di sana.


Aku meraih gawaiku dengan lesu dan mulai menelusuri dunia maya.


Ting!! tiba-tiba handphoneku berbunyi dan ada sebuah pesan masuk dari orang yang aku tunggu-tunggu selama dua minggu ini.


"Ryan" ucapku dalam hati, ntah mengapa hatiku begitu bahagia melihat notif wasap darinya.


"Assalamu'alaikum, Ra." tulisnya.


"Wa'alaikumussalam, Yan." sahutku.


"Bagaimana kabarnya?" tanyanya.


"Alhamdulillah baik, Ryan?"


"Alhamdulillah baik juga. Maaf ya baru wasap lagi."


"Iya, tidak apa-apa. Apa Ryan sudah melaksanakan Sholat Istikharah?" tanyaku, terus terang sebenarnya aku sudah tidak sabar ingin mengetahui hasilnya.

__ADS_1


"Alhamdulillah sudah, Ra." jawabnya.


"Benarkah? Berapa kali Sholat? Lalu hasilnya bagaimana? Baik atau buruk?" aku memberinya begitu banyak pertanyaan, aku yakin dia mengetahui betapa penasarannya aku saat ini.


"Hahahh. Udah tidak sabaran nih, Ra?" tanyanya. Dia pasti sedang tertawa lepas di sana.


"Ya begitulah." jawabku to the point.


"Alhamdulillah hasilnya baik."


"Ceritain donk, Yan." pintaku.


"Boleh saja sih, tapi saya mau bertanya terlebih dahulu, apakah boleh?"


"Iya silahkan, mau tanya apa?"


"Apa dalam dua miggu ini Aura sudah melaksanakan Sholat Istikharah juga?"


"Owh itu, belum, hehe."


"Kenapa? Bukannya kamu juga harus sholat, supaya kedua belah pihak merasa lebih mantap."


"Iya, Yan. Aura tahu itu. Tapi Aura mau sholat nanti kalau sudah tau hasil dari sholat istikharah yang Ryan laksanakan."


"Kenapa begitu?


"Tidak kenapa-kenapa. Ryan ceritakan donk gimana hasilnya?" pintaku lagi.


"Iya. Tapi nanti ya kalau saya sudah pulang ke rumah. Sekarang saya masih di luar."


"Owh begitu. Baik, Yan."


Setelah itu Ryan tidak membalas chatku lagi. Aku di tinggal dengan berjuta rasa penasaran.


Aku melihat motor Ibu terparkir di depan rumah.


"Assalamu'alaikum." ucap Ibu.


"Wa'alaikumussalam, Bu." sahutku lalu menghampiri Ibu. "Sudah selesai belanjanya, Bu?" sambungku.


"Sudah, Nak. Tinggal menunggu becak datang membawa belanjaannya."


"Banyak, Bu?"


"Lumayan banyak juga sih, Dik. Ibu masuk dulu ya, Ibu mau mandi badannya sudah gerah banget."


"Iya, Bu." jawabku, lalu Ibupun masuk ke dalam rumah.


Meskipun Ryan ada niat serius denganku, aku tidak langsung menceritakan hal itu pada Ibu. Karena menurutku prosesnya masih panjang, aku takut nanti tidak jadi menikah malah bikin diri sendiri malu di hadapan Ibu.


Melihat sikap Ryan seperti itu padaku, aku mulai menaruh hati padanya. Ntah ini perasaan cinta atau hanya perasaan kagum semata, biarlah rasa ini mengalir seperti air.


Aku yakin jika kita berdua berjodoh, Allah pasti akan memberikan jalan dan memudahkan segala urusan.

__ADS_1


Lagi asik-asik melamun, tiba-tiba perutku keroncongan. Aku beranjak dari tempat dudukku dan mengambil makanan ringan sebagai cemilan. Mau makan nasi tapi nanggung, nanti saja setelah Maghrib makan nasi.


Sambil ngemil aku duduk lagi di meja kios sambil memainkan HPku. Menunggu becak datang membawa barang belanjaan.


__ADS_2