Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Advice


__ADS_3

Assalamu'alaikum teman-teman readers... Terima kasih karena masih setia membaca novel ini.. Ayo dukung author dengan cara like, komen, rate, vote dan fav.


Thank you. *Hug.


Happy Reading... 💕


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


UAS akan dilaksanakan di KJRI Penang dan setiap kali UAS aku harus ambil off sebanyak dua hari. Alhamdulillah, supervisorku tidak pernah mempersulit aku untuk mendapatkan izin cuti darinya asalkan aku menunjukkan surat permohonan cuti untuk ujian yang dibuat oleh pihak KJRI Penang.


Supervisor ku ini juga sering menyemangati aku untuk terus belajar hingga lulus. Berbeda dengan beberapa temanku yang sangat susah sekali untuk mendapatkan izin cuti dari atasannya, bahkan setelah menunjukkan surat permohonan izin dari KJRI, supervisornya tetap tidak membenarkan dia untuk cuti. Bahkan ada beberapa Mahasiswa yang berani mengambil resiko untuk absen kerja demi mengikuti UAS.


Saat UAS, ada seorang Mahasiswi yang mencariku, dia memakai niqab juga. Mungkin dia pernah mendengar sebuah cerita tentang diriku dari mulut orang lain. Dan aku pun mengenalnya dari orang lain meskipun hanya tau namanya saja karena kami tidak pernah bertemu dan kenalan secara langsung.


“Nah, yang ini namanya Naura.” ucap kak tasya. “Naura, ini Aisyah.” Lanjutnya.


“Iya, Kak. Salam kenal.” Ucapku sambil mengulurkan tangan pada kak Aisyah.


“Salam kenal juga.” Ucap Kak Aisyah.


Saat ISOMA ( Istirahat, Sholat dan Makan ), Kak Aisyah meminta izin padaku untuk duduk disebelahku. Aku mengizinkannya karena memang kursi itu kosong.


“Kakak kalau UAS ke penang ya?” tanyaku. Karena setauku Kak Aisyah ini sudah bukan buruh lagi dan sudah menikah juga di indonesia.


“Iya, semester ini Alhamdulillah bisa datang ke penang bersama suami Kakak.” Jawabnya.


Lalu kami mengobrol sambil menyantap makan siang kami. Kak Aisyah kemudian menceritakan pengalaman hijrahnya padaku.


“Kakak sudah lama pakai niqab?” tanyaku.


“Belum lama, Naura sudah lebih dulu memakainya dari pada Kakak.” jawabnya.


“Bagaimana Kakak bisa tau?” tanyaku lagi dengan wajah heran.

__ADS_1


“Tau saja, hehe.” jawabnya sambil tertawa kecil.


Lalu aku pun ikut tertawa bersamanya.


“Kakak awal-awal pakai niqab ini, kalau keluar Kakak selalu bawa niqab dua.” Ucap Kak Aisyah.


“Kenapa begitu, Kak?” tanyaku penasaran.


“Karena Kakak belum pandai makan sambil pakai niqab, kalau Kakak makan pasti niqab Kakak kotor, hahaha.” ucapnya sambil tertawa lagi.


“Iya ya, Kak?” Sahutku.


“Iya.” Jawabnya.


“Saya dulu juga awal-awal pakai, niqabnya selalu kotor kalau makan, tapi tidak kepikiran untuk bawa niqab cadangan, hehe.” Ucapku sambil cengengesan.


“Kakak juga tidak kepikiran, tapi suami Kakak yang memberi saran agar Kakak bawa dua. Karena waktu itu pernah kotor banget kena kuah gulai. Jadi kata suami Kakak besok cadarnya bawa dua saja kalau kemana-mana, kalau kotor nanti bisa ganti di toilet. Jadi mulai saat itu Kakak selalu bawa cadar dua kalau bepergian.” Jelas Kak Aisyah.


“Brilliant banget ide nya, Kak.” ucapku.


“Tidak juga, Kak. Tapi karena saya tidak pernah membawa stock, saya makannya jadi lebih hati-hati karena takut kotor.” Jawabku.


“Makannya juga jadi lebih lambat ya?” Tanya Kak Aisya.


“Iya, Kak. Lebih lambat dari biasanya, tapi Alhamdulillah setelah terbiasa lama-kelamaan makannya juga bisa balik normal, hehe.” Jawabku sambil cengengesan.


“Alhamdulillah, pantesan sekarang makannya sudah bisa balap. Hahaha.” Ucap Kak Aisyah sambil tertawa lepas.


Lalu kami berdua tertawa bersama-sama. Ini pertama kalinya kami kenal secara langsung. Tapi sudah seperti kenal bertahun-tahun.


Setelah UAS selesai, terkadang aku dan teman- temanku pergi makan bareng ataupun nonton bareng. Pada masa itulah, aku bisa release tention. Bisa melupakan masalah kerja dan pelajaran biarpun hanya dalam waktu singkat. Kadang aku pergi dengan Rini. Dan terkadang aku pergi dengan Nita dan Devi.


Perjalanan hijrah itu tidak selalu berjalan mulus dan mudah, terkadang aku juga tersinggung ketika mendengar ada yang mengatakan “Tidak perlu memakai cadar supaya terlihat lebih baik”. Padahal alasan wanita muslimah memakai cadar karna ingin memperbaiki diri agar bisa membentuk pribadi yang lebih baik, menutupi diri agar ajnabi tidak bisa memandangnya dengan bebas, ingin lebih dekat pada-Nya dan masih banyak lagi. Dan aku yakin, setiap muslimah yang bercadar pasti memiliki alasan tersendiri yang bersifat pribadi. Bukan supaya “Terlihat” lebih baik.

__ADS_1


Tak bisakah menghargai pilihannya, biarkan ia menjadi dirinya sendiri, biarkan ia menjadi seperti apa yang ia mau, selama pilihannya itu masih mengikuti Syari’at Islam. Coba renungi Hadits dibawah ini:


“Dan dari Ummu Salamah Radhiallahu’anha ketika itu ia bercelak disisi Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassalam bersama Maimunah Radhiallahu’anha tiba-tiba muncullah Abdullah bin Ummi Maktum yang buta dihadapan mereka, kemudian ia datang kepada Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassalam (karena ia buta tidak dapat melihat, maka kami berdua tidak segera menghijab diri. Kami tetap duduk disisi Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassalam). Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassalam bersabda: “Bercadarlah kamu darinya.” Saya berkata “Ya Rasulullah, bukankah ia buta? Ia tentu tidak melihat kami.” Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassalam bersabda: “Bukankah kamu berdua tidak buta darinya? Apakah kamu tidak melihatnya?” (H.R. Ahmad, Tirmidzi dan Abu Dawud).


Bahkan dihadapan seseorang yang butapun Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassalam memerintahkan istrinya untuk bercadar. Lalu apa kita masih berani mengatakan “Tidak perlu memakai cadar?”


Siapa diri kita hingga berani mengatakan demikian? Aku tidak pernah berharap dan meminta orang lain untuk merasa nyaman dengan cadarku. karena jika aku bertemu dengan orang yang faham tentang cadar, tanpa dipinta pun mereka pasti tidak akan merasa terganggu dengan penampilanku.


Aku hanya berharap agar orang lain tidak membuatku merasa tidak nyaman dengan sikap dan perkataan mereka.


“Orang muslim adalah orang yang orang-orang muslim lainnya selamat dari (keusilan) lidah dan tangannya.” (H.R. Bukhari).


Hadits ini yang selalu menjadi pengingat untuk tidak membalas dan berusaha menjadi seseorang yang orang lain merasa bersyukur atas kehadirannya. Tapi aku adalah manusia biasa yang bisa khilaf, jika aku menahan diri please never turn on the fire of hatred.


Namun aku tidak mau tenggelam dalam duka dan berlama-lama memikirkan perkataan orang lain. This is my life, I making my own way, aku hanya memiliki dua tangan dan ini tidak cukup untuk menutupi mulut-mulut mereka, lebih baik kedua tangan ini digunakan untuk berdo’a agar Allah melembutkan hati ini dan bisa mendidik hati untuk lebih bersabar dengan semuanya.


Rasulullah Shalallahu‟alaihi Wassalam bersabda : “Manla yarham wa layurham.” Artinya “Barang siapa tidak menyayangi maka tidak disayangi.” (H.R. Al Bukhari).


Sebaik apapun kita kepada orang lain, pasti tetap ada yang tidak suka kepada kita. Begitu juga sebaliknya, sejahat apapun kita pada orang lain, tetap ada yang suka. Jadi, lebih baik kita menjadi seperti apa yang Allah suka. Jika kita membenci orang yang menyakiti kita, maka kita lah yang rugi karena dalam Hadits Bukhari di atas disebutkan, “Siapa yg tidak menyayangi maka tidak disayangi.” Jika kita tidak menyayangi orang lain, maka Allah pun tidak menyayangi kita.


Just imagine, jika ada seseorang yang membuat sebuah gambar bunga kemudian ada yang kurang suka dengan hasil karyanya itu, lalu dia berkata “Bunganya jelek.” Orang yang paling sakit hati adalah orang yang menggambar bunga itu. Begitu juga ketika menghina dan mencemooh manusia, hakikatnya telah menghina Allah karena Allah yang telah menciptakan manusia. Astahgfirullah.


Dan ada satu lagi nasehat yang berbunyi “Kama tadiinu tudaanu.” Artinya “Sebagaimana kamu memperlakukan maka begitu juga kamu akan diperlakukan.” Apa yang kita tanam, itulah yang akan kita tuai. Jika kita baik pada orang lain, in syaa Allah orang lain juga akan baik kepada kita. Begitu juga sebaliknya, jika kita jahat pada orang lain maka orang lain pun akan jahat pada kita.


Selagi masih mampu , selagi masih sanggup, selagi masih kuat, selama itu teruslah berbuat baik. Karena apapun yang kita lakukan tidak akan ada yang sia-sia, semua pasti akan ada balasannya. Seperti yang Allah janjikan dalam Al-Qur‟an Surat Al-Jaljalah ayat 7 dan 8.


“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya (7).


Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat dzarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula (8).


Tau Boomerangkan? Boomerang adalah senjata lempar khas suku Aborigin dari Australia yang digunakan untuk berburu. Bukan boom untuk perang ya, hehe. Boomerang itu mau dilempar kedepan, kebelakang, ke kiri ataupun ke kanan, dia pasti akan kembali kepada orang yang melemparkannya.


Seperti itu jugalah Amalan kita, yang baik maupun yang buruk. Dan jangan pernah mengumpamakan diri sendiri seperti lilin, yang hancur dan binasa hanya demi orang lain. Hidup kita tidak seperti itu, setiap kebaikan yang kita berikan kepada orang lain, ianya bukan semata-mata untuk mereka saja, tetapi juga untuk kita. Nih buktinya:

__ADS_1


“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri.” (Q.S. Al- Isra: 7).


Dari Abu Hurairah Radiallahu Anhu, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah memudahkannya di dunia dan akhirat. Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba- Nya itu suka menolong saudaranya.” (H.R. Muslim).


__ADS_2