
Sudah sebulan berlalu, rumah yang di bangun untuk kami tinggali akhirnya sudah hampir selesai.
Sudah 4 hari ini Bang Rafli sakit, sudah berobat ke rumah sakit tapi masih belum sembuh juga. Hingga akhirnya sakit Bang Rafli menulari anakku Farhan.
Dari awal Bang Rafli sakit sebenarnya aku ingin melarangnya dekat dengan Farhan, tapi rasanya tidak tega menjauhkan anak dari ayahnya.
Saat aku sedang menggendong Farhan di ruang tamu, Bang Rafli menonton TV sambil berbaring di atas sofa, lalu suara Ibu mengagetkan kami.
"Mama baru saja pulang dari rumah orang pintar, Li." ucapnya pada Bang Rafli.
"Untuk apa menjumpai orang pintar, Ma?" tanya Bang Rafli.
"Bertanya tentang penyakit kamu, kamu tau apa hasilnya?"
"Apa, Ma?" tanya Bang Rafli dengan wajah penasaran.
"Ibu mertuamu pelakunya, dia yang mengirim penyakit untuk kamu dan Farhan." jawab Mama.
"Astaghfirullah, jangan percaya, Ma. Tidak mungkin Ibu melakukan hal seperti itu." bantahku.
"Kamu tau apa? Orang pintar itu sudah terkenal kehebatannya." sahut Mama.
"Tapi setau Mea, yang Mama lakukan itu termasuk dosa syirik, Ma. Dosa besar." ucapku.
"Heh, kurang ajar kamu. Berani ceramahin Mama. Mama ini seorang Ibu, Mama tau apa yang terbaik untuk anak Mama." ucap Mama dengan nada marah. Wajahnya sudah mulai memerah, emosi karena mendengar ucapanku.
"Jaga mulut kamu Mea, kamu tidak boleh kurang ajar begitu sama Mama." bentak Bang Rafli.
Farhan yang sedari tadi tidur di pelukanku akhirnya terbangun dan menangis mendengar pertengkaran kami.
"Mama kenapa selalu memojokkan Ibu? Ibu adalah orang baik. Tau Agama, tidak mungkin pergi ke dukun." ucapku dengar air mata yang mengalir, lalu pergi meninggalkan mereka dan masuk ke dalam kamar untuk menenangkan Farhan.
***
"Kamu lihat itu istrimu, Ibunya yang salah masih saja di bela." ucap Mama padaku.
__ADS_1
"Tapi Ma, apa Mama benar-benar yakin kalau sakit Rafli ini adalah sakit kiriman Ibu Mea?" tanyaku masih tak percaya.
"Iya, untuk apa Mama bayar mahal orang pintar itu kalau cuma buat nuduh-nuduh saja."
"Tapi Rafli tidak percaya sama hal-hal seperti itu, Ma."
"Terserah kamu. Buktinya sampai sekarang kamu masih belum sembuh padahal sudah ke rumah sakit dan minum obat."
"Rafli cuma sakit biasa, Ma." ucapku coba menenangkan Mama.
"Sakit biasa apanya? Kalau kamu tidak percaya pada Mama, kamu tanya langsung sana sama ibu Mea."
"Tidak sopan nanya begitu, Ma."
"Mama mau kamu ceraikan saja si Mea, untuk apa kamu baik sama dia tapi Ibunya malah mau mencelakai kamu dan Farhan cucu Mama."
"Lantas apa dengan cerai Rafli bisa sembuh, Ma?"
"Sudahlah, kamu jangan banyak tanya, apa perlu Mama panggil orang pintarnya ke sini? Supaya bisa membuktikan omongan Mama benar apa tidak?"
"Gampang itu, Mama bisa minta tolong Om kamu untuk mengantarkan kalian."
***
Di dalam kamar, aku menangis sejadi-jadinya mendengar omongan Mama dan Bang Rafli. "Kenapa Bang Rafli mau di suruh menceraikan aku?" Tega sekali Mama merusak rumah tangga anaknya.
"Mea, ayo ikut Abang." ucap Bang Rafli saat masuk ke dalam kamar, ia langsung menarik tanganku, bahkan tidak peduli dengan tangisanku. Tapi aku menarik tanganku dari genggaman Bang Rafli untuk meraih Farhan.
"Tidak usah. Farhan tidak ikut." sambungnya.
Ia menarik tanganku hingga ke ruang depan, di sana ada Mama dan seorang laki-laki. Adik Mama yang tinggalnya tidak jauh dari rumah kami.
"Ayo, Om." ucap Bang Rafli.
Bang Rafli masih memegang tanganku, ia kembali menarikku hingg ke luar rumah, "Jangan-jangan ini beneran mau ke rumah Ibu." bathinku.
__ADS_1
Lalu kami masuk ke dalam mobil, aku duduk sendiri di belakang sedangkan Bang Rafli duduk di sebelah Om yang menjadi driver kami.
"Kita mau pergi kemana, Bang? Kenapa Mea tidak boleh membawa Farhan? Nanti kalau Farhan haus bagaimana?" ucapku dengan air mata yang masih mengalir.
"Kita mau ke rumah Ibumu. Urusan Farhan kamu tidak perlu khawatir, di rumah ada Mama. Farhan bisa minum susu formula." jawabnya ketus.
Aku diam dan tidak berani membantah titah suamiku. Saat ini aku akan diantarkan pulang ke rumah Ibuku, bagaimana nanti dengan perasaan Ibu saat mengetahui hal ini? Bagaimana kalau Ibu tau bahwa besannya memfitnahnya dengan sangat keji? Oh Allah, tolonglah hamba-Mu yang lemah lagi tak berdaya ini.
***
Saat di rumah Mama, Papa pulang.
"Assalamu'alaikum, Ma." ucap Papa.
"Wa'alaikumussalam, Papa sudah pulang." sahut Mama sambil menggendong Farhan.
"Iya, tumben rumah sepi? Rafli sama Mea mana?" tanya Papa.
"Rafli pergi sama Pandu (Adik Mama) mau mengantarkan Mea ke rumah Ibunya." jelas Mama.
"Mengantarkan Mea ke rumah Ibunya? Kenapa?" tanya Papa heran dan mengernyitkan dahinya.
"Tadi Mama habis ke tempatnya Burhan si orang pintar itu, Pa. Kata dia sakit Rafli sama Farhan ini kiriman dari Ibu Mea. Mama suruh saja Rafli pulangkan Mea ke rumah Ibunya sekalian menceraikan Mea."
"Astaghfirullah, Mama!" bentak papa. "Sejak kapan Mama mulai percaya sama orang pintar? Itu syirik, Ma. Syirik!" sambungnya.
"Mama tadi disaranin sama Ani tetangga kita, Pa. Lagipula tidak ada salahnya mencoba."
"Papa heran sama Mama, kenapa sekarang bisa berubah jadi seperti ini? Papa tidak habis fikir, Mama tega merusak rumah tangga Anak Mama sendiri. Coba Mama bayangkan, Mama yang berada di posisi Mea. Bagaimana perasaan Mama?"
"Ah Papa, selalu saja membela Mea." ucap Mama sambil memalingkan wajahnya dari Papa.
"Bagaimana mungkin Papa tidak membela Mea, Mama keterlaluan." sahut Papa. "Papa tidak mau tau, sekarang juga kita susul mereka ke kampung Ibu Mea." sambungnya.
"Malas ah, Pa. Tidak kasihan apa bawa-bawa Farhan, Farhan masih sakit." bantah Mama, memberi alasan agar tidak pergi ke kampung.
__ADS_1
"Jangan banyak alasan, ikut Papa." tegas Papa dan menarik tangan Mama agar ikut masuk kedalam mobil dan bisa segera menyusul Rafli dan Mea.