Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Mengenang Masa-masa Di Pesantren


__ADS_3

Dulu, ketika aku, Luna dan Icha masuk pesantren. Kami bertiga sangat akrab. Aku dan Luna satu kamar, sedangkan dengan Icha kamar kami berbeda. Hal itu membuat aku dan Luna menjadi lebih akrab.


Karena pesantren kami tergabung antara Tsanawiyah dan Aliyah, maka kami hanya memiliki satu Ketua OSIS, yaitu Bang Abdullah anak kelas dua Aliyah. Ketika kami OSPEK, Bang Abdul juga yang memimpin.


Setelah Empat hari berlalu, ospekpun selesai. Kami mulai akrab dengan lingkungan pesantren. Di tengah-tengah sekolah ada sebuah Masjid. Setiap kali Adzan berkumandang, maka semua santri dan santriwati harus sholat berjamaah di masjid tersebut, kecuali para santriwati yang sedang mens.


Setiap selesai sholat maghrib, maka kami akan mengadakan kegiatan kultum (kuliah tujuh menit). Setiap hari yang bertugas ada tiga orang akhwat dan tiga orang ikhwan yang selalu bergantian.


Hari itu giliranku tiba, aku membawakan kultum dengan tema "Berbuat baik pada tetangga."


Meskipun jantungku berdebar-debar bak genderang yang mau perang, aku tetap berjalan perlahan-lahan menuju mimbar.


Sesampainya di atas mimbar, aku mulai menyampaikan kultum yang sudah aku hafal dalam beberapa hari yang lalu.


Akhirnya aku berhasil menyampaikan kultum meskipun selama berdiri di atas mimbar jantungku deg deg ser.


"Aura, tadi suaranya kurang kuat. Akhwat tidak ada yang mendenger Aura bilang apa. Suara Aura pelan banget." ucap Kak Ana padaku saat aku duduk di antara akhwat.


"iyakah, Kak?" tanyaku tak percaya.


"Iya. Yang mendengar ceramah Aura tadi cuma ikhwannya saja." ucapnya.


"Yah, perasaan tadi Aura ngomongnya sudah kencang, Kak. Lancar pula." ucapku pelan dan menundukkan wajahku.


"Aura mana bisa ngomong kuat-kuat, hehe." ucap Icha.


"Betul tuh, Cha. Aura kan suaranya lembut banget. Kapas saja kalah, hehe." sahut Luna.


"Hehehe bisa saja." jawabku cengengesan.


"Iya. Tidak apa-apa, yang penting Aura sudah berani maju ke depan." ucap Kak Nana.


"Iya, Kak." sahutku dan melemparkan senyuman buat Kak Nana. Diapun membalas senyumanku dengan senyum yang tak kalah manis dengan madu.


Aku masih sangat ingat dengan kejadian itu. Hari itu pertama kalinya aku memberanikan diri untuk tampil dan membawakan kuliah tujuh menit.


Seingatku juga dulu Icha tidak pernah cerita suka sama seorang ikhwan di sana. Siapa sangka kalau ternyata sekarang dia malah berjodoh dengan Bang Abdullah.


Bang Abdul adalah salah satu siswa yang berprestasi di pondok. Dia juga terpilih menjadi ketua OSIS selama dua tahun berturut-turut.

__ADS_1


Pasti Icha bahagia deh bisa menjadi pendamping Bang Abdullah, meskipun usia mereka terpaut 5 tahun.


Kalau aku sih, pengennya punya pasangan yang seumuran. Supaya bisa menjadi teman akrab, meskipun kita nantinya akan menjadi suami.


Aku tidak mau rumah tangga yang aku jalani nantinya hanya sebatas dapur, kamar tidur dan kamar mandi saja. Aku tidak mau punya suami yang jauh lebih tua dariku karena aku takut nanti hanya akan menjadi istri yang harus patuh di suruh ini itu sama dia. Pasti tidak seru, aku takut nanti rumah tangga kami malah jadi kaku seperti rumah tangga Shah Rukh Khan di film Rab Ne Bana Di Jodi, haha.


Setelah selesai sholat isya biasanya kami akan lanjut belajar bahasa arab. Setelah itu lanjut belajar ilmu fiqh. Hampir setiap malam kami akan belajar dan tidur di atas jam dua belas.


Pagi bangun sebelum adzan subuh berkumandang. Jadi setiap malam kami hanya punya waktu tidur sekitar 4 atau 5 jam saja. Sungguh, waktu itu aku selalu merasa kurang tidur. Apalagi kalau tiba senin dan kamis, kami harus bangun pukul 4 pagi untuk sahur.


Pernah suatu malam, pondok putri di hebohkan oleh sosok laki-laki yang tidak kami kenali. Saat itu kak Yuna melihat ada seorang pria yang berdiri di sebrang pagar pondok putri.


Hal itu membuat kami takut, banyak prasangka yang timbul, apakah dia maling? Atau mau mengintip? Atau hanya sekedar menakut-nakuti?


Setelah Uti tiba (Uti adalah panggilan untuk ketua pondok putri), kami langsung di suruh masuk ke dalam pondok, jangan ada yang keluar lagi.


"Mungkin itu cuma orang iseng yang mau lihat-lihat para akhwat di pondok. Kalau masih takut, ajak teman saat keluar ya." ucap Uti pada kami.


"Baik, Uti." sahut kami semua secara bersamaan.


Di dalam pondok putri hanya ada kamar mandi. Sedangkan toilet berada di luar, tepatnya di belakang pondok. Semenjak kejadian itu, aku selalu mengajak Luna kalau mau pergi ke toilet.


Suara Ibu membuyarkan lamunanku. Aku bergegas pergi menghampiri Ibu yang berada di Kios.


"Iya, Bu." ucapku sesampainya di pintu kios.


"Adik ngapain?" tanya Ibu


"Mengenang masa-masa di pesantren, Bu. Hehehe." jawabku cengengesan.


"Dik, hari ini Ibu capek banget. Adik masak ya." pintanya.


"Apa, Bu? Masak?" tanyaku dengan nada kaget.


"Iya, Dik. Di suruh masak saja malah kagetnya seperti mau di suruh merakit bom."


"Hahahahahhh." aku langsung tertawa mendengar ucapan Ibu. "Masak apa, Bu?" lanjutku.


"Iya, masak apa saja deh, terserah Adik."

__ADS_1


"Tapi kalau nanti tidak enak bagaima, Bu?"


"Tidak apa-apa. Lagi pula yang makan cuma kita berdua."


"Kasih Adik ide, Bu. Masak apa?"


"Masak sambal ikan sama sayur sawi."


"Baik, Bu. Tapi nanti Ibu yang nyicipin garamnya ya, Bu." pintaku.


"Iya." sahut Ibu.


Setelah itu aku pergi mengambil semua bahan-bahan yang aku perlukan. Lalu membawanya ke dapur.


Tidak ada salahnya juga sih kalau Ibu meminta aku untuk masak, bukankah lebih baik belajar masak di rumah Ibu dari pada nanti belajar masak di rumah mertua, hehe.


Setelah selesai meracik bumbu, aku haluskan menggunakan blender. Aku goreng ikannya terlebih dahulu. Setelah semua ikan mateng, aku mulai memasak bumbunya menggunakan api kecil supaya tidak gosong.


Sedangkan sayur yang sudah aku rajang, aku cuci sampai bersih. Aku iris cabai, bawang merah, bawang putih, tomat dan jahe sebagai bumbunya. Bahan-bahan yang sudah di iris aku goreng sebentar, setelah itu tambah air dan masukkan sayurannya.


Nah ini dia bagian yang sangat sulit bagiku, yaitu mencicipi rasanya. Aku masukkan sedikit garam dan royco, setelah itu panggil Ibu untuk mencicipinya.


"Buuuu, cicipi dulu, Bu. Garamnya sudah pas atau belum ini." ucapku sedikit berteriak dari dapur.


Tak lama kemudian Ibu datang dan mengambil sendok untuk mencicipi sambal dan sayur yang aku masak.


"Rasanya mantap, tapi masih kurang garam." ucap Ibu. Lalu Ibu menambahkan sedikit garam pada sambal. Setelah mengaduk-aduk beberapa kali, Ibu mematikan kompornya. Lalu mencampurnya dengan ikan yang sudah aku goreng sebelumnya. Setelah itu Ibu mencicipi sayur.


"Astaghfirullah. Asin, Dik." ucap Ibu.


"Heee." aku hanya cengengesan melihat ekspresi wajah Ibu. "Lalu bagaimana itu, Bu?" tanyaku.


"Tidak apa-apa. Tambah air sedikit." jawab Ibu sambil menuangkan air masak kedalam belanga.


"Ooh." ucapku sambil manggut-manggut.


"Nah, kan sudah siap. Nanti lama-lama Adik pasti bisa masak." ucap Ibu.


"Aamiin, in syaa Allah, Bu." sahutku.

__ADS_1


Setelah itu, aku tuang sambal ikan dan sayur ke dalam wadahnya masing-masing dan menyimpannya di dalam lemari makan.


__ADS_2