Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Mencoba Lagi


__ADS_3

"Oh iya, memangnya ada apa dengan Rizky, Cha?" tanyaku pada Icha.


"Katanya, sudah boleh atau belum mau chat Aura?" ucap Icha.


"Terserah dia saja, Cha. Kalau mau chat ya tafadhol." jawabku.


"Ok deh, kalau begitu nanti Icha sampaikan sama Rizky."


"Baik, Cha. Ayo tidur, Aura sudah ngantuk berat nih." ajakku.


"Ok cantik. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam, Cha." ucapku.


Setelah selesai chatting dengan Icha, akupun memejamkan kedua mataku.


Adzan subuh berkumandang membangunkanku dari tidur. Tak terasa sudah pagi, aku kucek-kucek mataku agar kantukku berkurang.


Aku beranjak dari ribaanku menuju kamar mandi untuk berwudhu' dan menunaikan sholat subuh dua rakaat.


Tapi ternyata Ibu sudah lebih dulu bangun dari pada aku. Ibu sedang berada di dalam kamar mandi mengambil wudhu'.


Aku duduk sejenak dan bersandar pada dinding, menunggu Ibu keluar dari dalam kamar mandi.


"Lho, Adik. Kenapa tiduran di situ?" ucap Ibu dan menyadarkanku, ternyata tadi aku ketiduran beberapa saat di sini.


"Hah? Tidur? Tidak, Bu. Adik nunggu Ibu keluar dari kamar mandi. Adik mau wudhu'." jelasku pada Ibu.


"Oh, ya sudah. Cepetan bangun, nanti Adik masuk angin lama-lama duduk di lantai."


"Baik, Bu." sahutku, lalu aku masuk kamar mandi.


Setelah selesai melaksanakan sholat sunah rawatib dan sholat subuh dua rakaat, akupun mulai bermunajat pada-Nya.


"Ya Allah, apa yang harus Aura lakukan? Sikap seperti apa yang harus Aura berikan agar nanti tidak terjadi salah faham lagi? Aura tidak mau menyakiti dan di sakiti. Tolong cabut rasa berharapnya jika dia bukan jodoh Aura ya Allah. Aamiin Allahumma Aamiin."


Aku tidak mau ada orang lain lagi yang mengharapkan aku menjadi istrinya sebelum kita benar-benar berjodoh.


"Bu, tidak terasa usia Aura sudah 25 tahun. Apa Aura sudah terlalu tua Bu?" tanyaku pada Ibu.


"Tua? Belum tua. Memangnya ada apa, Nduk?" tanya Ibu.


"Kemarin Aura ada mendenger tetangga kita yang bilang Aura gadis tua, Bu."


"Astaghfirullah, ucapan yang tidak bagus jangan di dengarkan dan jangan di masukkan ke dalam hati." ucap Ibu menasehati aku.


"Tapi ada benernya juga sih, Bu. Dulu Ibu menikah saat usia Ibu 18 tahun, Kak Mea menikah saat usianya 23 tahun. Lalu Aura sekarang sudah berusia 25 tahun masih belum mau menikah.”

__ADS_1


"Lalu masalahnya di mana? Menikah bukan tentang umur, tapi tentang kesiapan. Kalau sekarang Aura belum menikah, berarti Aura belum siap. Karena Allah akan memberikan Aura jodoh ketika Aura sudah benar-benar siap untuk menikah, bukan karna umur yang sudah sekian." ucap Ibu lembut. "Ibu tidak percaya tidak ada yang mau sama anak Ibu yang cantik, pintar dan solehah ini." lanjutnya.


"Yang mau ada, Bu. Tapi Aura belum ketemu yang cocok, belum ketemu sama yang klop."


"Iya tidak apa-apa. Lebih baik menikah terlambat dari pada salah memilih pasangan hidup, Nak."


"Iya, Bu. Ibu benar." ucapku.


Sesungguhnya yang aku khawatirkan bukanlah usia yang sudah semakin tua, tapi siapa pria yang tepat untuk aku pilih menjadi imamku.


Memang ada banyak pilihan di depan mataku, tapi aku masih takut untuk menentukan. Menentukan suatu hal untuk masa depan bukanlah main-main. Apa lagi nanti aku harus menghabiskan sisa umurku bersamanya dan mengabdi padanya.


Dalam hidupku, aku hanya ingin menikah satu kali. Sebab itulah aku harus bisa memilih seseorang yang tepat, bukan asal-asalan.


Dalam memilih pakaianpun aku sangat berhati-hati dan teliti. Apa lagi memilih teman hidup semati dan sesyurga.


"Ting!!" gawaiku berbunyi. "Rizky." batinku. Aku buka kolom chat yang masih baru itu.


"Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh." tulisnya.


"Wa'alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh." balasku.


"Terima kasih Aura sudah mau membalas chat saya." ucapnya.


“Biasa saja, Ky. Tidak perlu mengucapkan terima kasih."


"Apakah Aura tidak mengenali saya?" tanyanya.


"Kita kan satu pesantren. Saya bahkan kenal sama Icha dari sekolah pesantren."


"Iyakah? Maaf ya saya sama sekali tidak ingat."


"Kamu pernah mendengar nama Rizky Mahesa Putra?" tanyanya padaku. Barulah aku tau siapa dia.


Dia adalah seniorku dan Icha, hanya beda satu tingkatan saja. Ketika kami masuk kelas satu Tsanawiyah, Rizky kelas dua.


Rizky memiliki suara yang sangat merdu. Dia sering memenangkan lomba MTQ dan lomba Adzan. Karena terlalu sering menang, aku bahkan sudah lupa berapa banyak medali dan piala yang dia peroleh.


Dia membaca Al-Qur'an dengan tartil, bahkan jago taranum. Siapalah aku baginya, hanya remahan rengginang.


"Oh iya. Pernah. Maaf ya Bang, Aura tadi nyebut nama."


"Tidak apa-apa. Kenapa kamu baru ingat sekarang sama saya?"


"Aura cuma tau nama Abang, tapi tidak pernah kenal sama orangnya. Lagi pula sudah beberapa tahun berlalu, Aura sudah lupa." ucapku terus terang.


"Oh begitu. Tapi saya tidak pernah lupa sama kamu." ucapnya.

__ADS_1


"Kenapa bisa begitu?" tanyaku penasaran. Agak aneh juga sih, kenapa juga tidak pernah lupa, padahal belum pernah kenal.


"Karena saya ngefans sama kamu. Secret admirer gitu deh." jelasnya.


Kyaaa?? Orang sehebat dia ngefans sama remahan rengginang seperti Aura? Rasanya mau pingsan ya Allah.


"Abang becanda ya. Mana mungkin Abang ngefans sama wanita seperti Aura."


"Loh, memangnya ada yang salah sama Aura?" tanyanya.


"Aura mah cuma remahan rengginang jika dibandingkan dengan Abang." jawabku.


"Memangnya siapa yang bilang Aura mau dibandingkan dengan Abang? Kalau Abang maunya malah disandingkan sama Aura, hehe."


Astagaaaaa!!! Dia gombalin Aura ya Allah. Jangan pingsan, jangan pingsan, jangan pingsan, please jangan pingsan.


"Aduh Bang, tiba-tiba mata Aura rabun. Itu kalimat yang terakhir tidak terbaca." ucapku.


"Hahahahahahahahahahh." balasnya.


Panjang ya amat hahahanya. Dia malah ketawa di sana. Aku jadi tidak tau mau balas apa lagi. Biarkan saja deh.


"Ternayata kamu lucu juga ya, Ra. Asik juga di ajak ngobrol." setelah sepuluh menit berlalu, dia mengirim chat lagi padaku.


"Terima kasih, Bang." jawabku singkat.


"Ra, boleh saya tanya sesuatu?"


"Boleh Bang, tafadhol."


"Tipe suami idaman Aura seperti apa?"


"Bagaimana ya? Hurmm, Aura tidak milih-milih Bang, kalau memang Allah berikan rasa suka dalam hati Aura yang mengarah pada orang itu, maka Aura akan menerima orang itu." jelasku.


"Sudah ada yang Aura sukai?"


"Balum, Bang."


Abang ini, baru juga kenal tapi pertanyaannya sudah sebanyak itu, padahal tadi katanya cuma mau nanya sesuatu, eh malah keterusan.


"Saya termasuk kriteria yang Aura inginkan atau tidak?" tanyanya lagi.


"Waduh, Aura belum bisa menjawabnya, Bang." jawabku.


"Iya tidak apa-apa. Ini pertanyaan yang terakhir dari saya."


"Apa itu, bang?"

__ADS_1


"Boleh kita bertemu?"


Whaaaatttt??? Dia mau kita ketemu.


__ADS_2